Senin, 28 Desember 2009

Membangun Anak Berprestasi

Membangun Anak Berprestasi

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (QS. An-Nisa’[4]: 9).
Mendidik anak di zaman serba kompleks nilai macam sekarang memang gampang-gampang susah. Ditangani secara keras, bisa-bisa ngambek. Kalau serba boleh, anak jadi manja dan semau sendiri. Solusinya? Pola asuh otoritatif sangat efektif untuk menunjang anak berprestasi tinggi. Apa kelebihan pola asuh ini?
Sejak menikah, Farida (bukan nama sebenarnya) punya obsesi mempunyai anak yang cerdas. Maka, ketika hamil, ia sangat memanjakan janin dalam kandungannya. Setiap hari ia mengkonsumsi makanan bergizi, bervariasi, dan seimbang plus melahap berbagai makanan tambahan.
Sementara itu Ibu Zubaidah merasa cemas, anak perempuannya yang duduk di kelas I SD sering kedodoran dan selalu mendapat angka merah untuk setiap mata pelajaran ilmu pasti yang banyak dihantui murid itu. Maka ia pun mendatangkan guru di rumah untuk memberikan pelajaran tambahan demi mendongkrak nilai-nilai ilmu pasti anaknya yang hampir selalu jeblok.
Kedua ibu itu hanya sedikit contoh dari hampir setiap orang tua yang memiliki harapan yang besar agar anak-anaknya tumbuh menjadi anak cerdas dan berprestasi tinggi di sekolah. Dalam contoh, ibu yang satu melakukan kendekatan dengan menekankan asupan gizi yang baik sejak dini. Sedangkan ibu yang lain dengan menambah porsi belajar melalui pemberian pelajaran tambahan.
Namun, hal yang juga patut dicatat, prestasi di sekolah, juga yang lebih penting nantinya prestasi dalam karier ataupun dalam kehidupan bermasyarakat, sangat tergantung pada bagaimana orang tua menerapkan pola asuh yang tepat buat anak-anaknya.
Atas dasar hasil studi yang pernah dilakukan oleh D. Baumrind, staf pengajar pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menggolongkan pola asuh anak menjadi tiga: pola asuh otoriter, permisif, dan otoritatif .
Secara umum dalam pola asuh otoriter orang tua sangat menanamkan disiplin dan menuntut prestasi tinggi pada anaknya. Hanya sayangnya, orang tua tidak memberikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pendapat, .sekaligus menomorduakan kebutuhan anak.
Kebalikan dari pola. asuh otoriter adalah permisif. Dalam golongan ini orang tua bersikap demokratis dan penuh kasih sayang. Namun, di sisi lain kendali orang tua dan tuntutan berprestasi terhadap anak itu rendah. Anak dibiarkan berbuat sesukanya tanpa beban kewajiban atau target apa pun.
Sementara itu pola asuh otoritatif muncul bila orang tua menerapkan kendali yang tinggi pada anak. Ia pun menuntut prestasi tinggi, tapi dibarengi sikap demokratis dan kasih sayang yang tinggi pula. Pola asuh model ini kuat dalam kontrol dan pengawasan, tetapi tetap memberi tempat pada bagi pendapat anak. Dengan kata lain, pola asuh ini berada pada posisi, tawasuth, midle dan moderat.
Untuk sampai pada kesimpulan akhir pola asuh, mana yang paling efektif, Enoch pernah mengumpulkan subjek penelitian dan membaginya ke dalam dua kategori. Kelompok pertama adalah mahasiswa berprestasi tinggi. Golongan ini adalah mahasiswa yang dinyataakan sebagai juara I dan atau juara II dalam pemilihan mahasiswa berprestasi utama tingkat nasional tahun 1996 dan 1997. Mahasiswa itu paling tidak duduk di semester VI dengan minimal indeks prestasi kumulatif 2,75.
Kelompok kedua adalah mahasiswa berprestasi rendah. Di dalam kategori ini adalah mahasiswa yang tercatat tidak mengikuti pemilihan mahasiswa berprestasi utama. tingkat perguruan tinggi, karena indeks prestasi kumulatif mereka pada semester VI kurang atau sama dengan 2,00. Hasil penelitian itu akhirnya ia tuangkan dalam disertasinya "Sifat Sumberdaya Manusia Indonesia Penunjang Pembangunan; Suatu Studi Tentang Prasyarat Sifat, Latar Belakang Keluarga dan Sekolah dari Individu Berprestasi Tinggi.
Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan, pola asuh otoritatif yang diterapkan di rumah dan di sekolah merupakan lahan subur bagi munculnya individu berprestasi.
Disertasi yang ia pertahankan dengan predikat cum laude di hadapan Senat Guru Besar Universitas Indonesia pada Desember 1998 lalu itu juga menyimpulkan, pola asuh otoritatif akan mendorong pembentukan .sifat kerja keras, disiplin, komitmen, prestatif, mandiri, dan, realistis pada individu. Sementara sifat yang paling besar kontribusinya bagi tinggi-rendahnya prestasi adalah sifat disiplin.

v Memberikan Peluang
Lalu, bagaimana menerapkan pola asuh yang prospektif itu? Pola asuh otoritatif bisa dilakukan sejak dini. Misalnya saja dengan memberi target belajar. Taruhlah dua atau tiga jam setiap hari. Kalau ini sudah disepakati antara orang tua dan anak, maka penerapannya terserah pada anak. Mau dihabiskan dua jam sekaligus atau dibagi dua menjadi sejam-sejam, atau barangkali anak mau menonton dulu acara TV kesukaannya. Bisa juga anak ingin pergi berenang sore hari dan baru mengerjakan PR malam harinya. Dalam hal ini orang tua pun bisa memenuhi keinginannya asalkan janji anak untuk belajar dan mengerjakan PR tetap dilakukan.
Dalam ilustrasi itu tampak bahwa pola otoritatif memberi ruang tawar-menawar antara orang tua dan anak. Orang tua bersedia mendengarkan keinginan anak, sementaca anak tetap diberi suatu target yaitu belajar. Pada praktiknya, pola asuh ini juga memberikan "pendidikan" pada orang tua, misalnya mereka yang mendidik secara otoriter. Soalnya, ia harus belajar mengendalikan diri untuk tidak memaksakan .kehendak dan siap bertukar pikiran dengan anak. Begitu pun orang tua.yang selama ini permisif, ia harus berani memberi batasan dan target yang realistis.
Cuma perlu diingat, penerapan berbagai aturan itu tidak bisa disamaratakan Maka segala aturan yang akan diberlakukan sebaiknya dibicarakan dan disepakati lebih dulu antara orang tua dan anak. Kepekaan orang tua terhadap kebutuhan dan perasaan anak menjadi salah satu unsur sentral dalam pola asuh otoritatif. Jangan sampai terjadi semua orang ada di rumah, tetapi tak ada komunikasi dan sibuk dengan dunianya sendiri. Ayah baca koran, ibu sibuk di dapur, sementara anak diam menonton televisi.
Karena itu, kegiatan bersama menjadi teramat penting. Misalnya, makan malam bersama atau nonton TV bareng. Di situlah orang tua bisa menyerap keinginan si anak.
Untuk melatih kepekaan terhadap kebutuhan orang lain, hendaklah para orangtua mengikuti pelatihan kepekaan (sensitiveness training) seperti yang kini tengah digalakkan di New York. Di banyak kota besar di Amerika orang merasa hanya berupa "robot", tanpa sentuhan kemanusiaan yang memadai.
Untuk bisa menerapkan pola asuh ini idealnya orang tua memiliki latar belakang pendidikan yang memadai.. Pasalnya, pola asuh, model ini membutuhkan penalaran tertentu. Tidak bisa asal larang. Orang tua harus bisa menjelaskan mengapa ia melarang sesuatu atau memberi target tertentu secara rasional. Ini untuk menghindarkan debat kusir atau anggapan anak bahwa orang tuanya cerewet lantaran asal larang. Perlu ditepis pula anggapan bahwa anak belum bisa menerima penjelasan yang masuk akal. Justru itu persepsi orang tua yang salah lantaran selalu menganggap anak masih kecil sehingga tidak perlu diajak berembug soal apa pun.
Keberhasilan pola asuh otoritatif harus pula ditunjang oleh peranan para guru di sekolah. Idealnya, pola asuh di rumah dan pembinaan para guru di sekolah tidak jauh berbeda. Sebab, sekolah merupakan lingkungan kedua setelah rumah, yang dapat membentuk sifat seseorang.
Sebagai contoh, seorang guru harus tahu persis siapa muridnya. Misalnya jika tahu si A, suka dijemput ibunya sepulang sekolah. Ketika dilihatnya si A belum pulang, ia akan. bertanya, "Belum dijemput ibu, ya?" Atau si B yang pernah mengeluh kesulitan dalam matematika. Saat bertemu, ia akan bertanya, Bagaimana dengan masalah matematikanya?"

v Peran Penting Seorang Ibu
Agaknya, bila pola asuh otoritatif ini dilakukan, peranan ibu sangatlah besar dalam menanamkan kebiasaan yang baik. Bukannya ayah tidak berperanan tetapi peran ibu lebih nyata.
Coba perhatikan saja, betapa ibu lebih peduli dengan tetek-bengek sehari-hari. Mulai dari soal gosok gigi, ganti baju, menaruh sepatu di rak, kemudian makan sepulang sekolah. Jadi, ibulah yang lebih banyak peranannya dalam menanamkan segala tindakan yang nyata sehari-hari, termasuk juga cuci tangan sebelum makan, cuci kaki sebelum tidur, dan kebiasaan lain. Hal inilah yang pernah disinyalir Rasulullah Saw bahwa semua perhatian ibu tersebut tersebab kasih sayangnya kepada anak yang melebihi kasih sayang seorang ayah.
Kalau kebiasaan-kebiasaan yang baik seperti gosok gigi, cuci tangan sebelum makan, cuci kaki sebelum tidur terus-menerus ditanamkan lama-kelamaan akan terbentuk sifat bersih. Sifat ini akan melekat, bahkan bisa menjadi aktif dalam bentuk mengoreksi atau paling tidak mempertanyakan mengapa orang lain tidak melakukan hal seperti dia dalam soal kebersihan. Bisa karena biasa, kata orang.
Lewat penanaman kebiasaan ini pun kedisiplinan bisa ditanamkan karena kedisiplinan juga merupakan produk kebiasaan. Misalnya, kebiasaan menyeberang jalan pada tempatnya, tepat waktu dalam berjanji, atau antre ketika membeli karcis di loket.
Berhubung pembentukan sifat itu merupakan proses yang memerlukan waktu, kebiasaan-kebiasaan baik itu idealnya mulai ditanamkan Dengan bertambahnya umur dan penalaran, anak akan semakin menyadari, misalnya manfaat gosok gigi pada waktunya, mencuci kaki sebelum tidur, mencuci tangan lebelum makan.
Bagaimana besarnya peranan ibu, contoh kesuksesannya adalah negara Jepang. Sukses Negeri Sakura itu adalah sukses anak-anak di bawah didikan ibu Jepang yang amat peduli pada pendidikan anak. Kaum ibu di Jepang bukan hanya sibuk di dapur, tetapi mereka juga aktif terlibat dalam proses pendidikan anak-anaknya, Demikian besar pelibatan diri ibu di Jepang sampai-sampai mereka rela tidak menonton TV. Tetapi justru ikut bersekolah pada "sekolah untuk ibu", membantu pekerjaan rumah anaknya, dan bila diperlukan mencari pekerjaan paruh waktu untuk membiayai les tambahan anaknya. Ibu yang seperti ini di sana dijuluki sebagai kayoiku mama, ibu pendidik.
Ibu yang bekerja atau berkarier, pun tidak ada masalah. Yang penting harus ada komunikasi. Ibu bisa saja mencek kebutuhan anak lewat telepon. Bukankah sekarang eranya komunikasi canggih, ada hand-phone?
Memang perlu diakui beratnya tantangan yang harus dihadapi para orang tua di zaman sekarang. Karena itu tak ada salahnya bila orang tua juga ikut "belajar" dan mengembangkan diri secara informal dengan bertukar pikiran dan pengalaman antarsesama orang tua, atau secara formal mengikuti Parent Effectiveness Training.

v Manajemen Waktu yang Bagus
Disadari atau tidak, banyak keluarga yang menerapkan pola asuh otoritatif sehingga "menghasilkan" anak-anak yang berprestasi tinggi. Mereka berhasil membawa putra-putrinya ke tingkat pendidikan dan kehidupan yang prestatif.
Bagaimana orang tua menerapkan pola asuh itu? Dalam mendidik putra-putri, sang ayah memang harus berlaku disiplin. Ada jam belajar, ada jam terima tamu alias bermain. Untuk mengingatkan pentingnya kedisiplinan, perlu dipasang papan tulis di samping rumah atau di tempat belajar ditulisi "Don't Waste Your Time". Anak-anak sudah harus berada di rumah saat hari sudah gelap.
Pukul 16.00 - 17.00 keluarga hendaknya berkumpul sambil minum teh atau kegiatan kecil lainnya Pada kesempatan itulah hendaknya sang ayah menekankan manfaat gemar membaca bagi anak-anaknya. Ia juga menjelaskan pentingnya belajar bahasa asing (sesuai minat), baik Inggris, Jepang atau pun Arab, untuk membuka wawasan.
Biarpun terkenal streng di mata anak-anak, hendaklah sang ayahnya memberi kebebasan dalam memilih bidang studi yang disukai anak. "Saya pernah masuk Institut Pertanian Bogor, tapi setiap kali mau ujian, saya jatuh sakit. Beliau tahu kalau saya kurang suka. Saya pun akhirnya berhenti kuliah di IPB dan masuk ke jurusan bahasa," tutur Rashid (63). "Dengan kebebasan yang diberikan, kami berusaha semaksimal mungkin mencapai yang kami inginkan dan merasa bahagia dengan apa yang kita capai, apa pun bidang yang kita geluti."
Bahkan secara kreatif, ayahnya memanfaatkan kesukaan Rashid menonton film. Sebelum tidur ia harus bercerita tentang film yang habis ditonton. Ketika saudara perempuan Rashid tinggal kelas, ayahnya tidak menjatuhkan vonis dengan keras. "Setiap orang pernah gagal. Nanti toh orang tidak ingat kalau kamu pernah tidak naik kelas," hibur sang ayah seperti dituturkan Rashid.
Acara makan siang bersama dijadikan ajang.tukar cerita. Ayah dan ibunya mendengarkan cerita tentang kegiatan anak-anak di sekolah. "Makan bersama juga ada manfaat lain, semua anak kebagian lauk. Kami bukan keluarga yang berlebih," kenang Rashid. Dalam menghadapi ulangan umum, ayahnya menerapkan strategi hitung mundur. Satu bulan sebelum ulangan berlangsung, anak-anak sudah harus belajar. Pada hari H, anak-anak justru dilarang belajar. Ini yang barangkali mencambuk mereka untuk harus belajar mati-matian. Menurut Rashid, akibatnya bisa fatal jika waktu sebulan itu tidak dimanfaatkan baik-baik.
Setelah belajar sekuat tenaga itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, hasilnya pun jelas akan lebih signifikan, di samping akan menunjukkan prestasi studi yang gemilang dari hasil sebuah usaha yang maksimal. Sesuai firman Allah:
Dan bersungguh-sungguhlah kamu memperjuangkan agama Allah dengan usaha yang sebenar-benarnya. (Pada akhirnya) Dia memilih kamu (QS. Al-Hajj [22]: 78).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar