Kamis, 24 Desember 2009

Bugar dengan Buah Merah

Bugar dengan Buah Merah


Pengalaman empiris penduduk Papua memberikan bukti kuat bahwa buah merah sangat baik untuk meningkatkan stamina tubuh. Itu peran aktif antioksida berkat karoten, tokoferol, dan vitamin C yang terkandung dalam Pandanus conoideus. Sumber antioksidan memang tak melulu monopoli buah merah. Antioksidan dapat pula diperoleh melalui konsumsi harian buah dan sayuran. Namun, kandungan antioksidan buah merah lebih unggul dibanding buah dan sayuran lain.
Buah merah mengandung beta-karoten 3 kali lebih tinggi dibanding wortel. Padahal, wortel merupakan sayuran dengan kadar beta-karoten tertinggi. Angota famili Pandanaceae itu juga mengandung alfatokoferol sekitar 12-25 kali lebih tinggi daripada alpukat dan bayam yang kandungan alfa-tokoferolnya tertinggi dalam kelompok buah dan sayuran. Selain itu vitamin dalam buah merah 100% dapat diserap tubuh. Bandingkan dengan vitamin dari buah dan sayuran yang hanya 40%.

v Radikal bebas
Itu kabar baik bagi Arsyad, peneliti di instansi pemerintah yang menderita batuk menahun. Intensitas batuknya bertambah parah kala malam hari sehingga mengganggu waktu istirahat. Pria berusia 34 tahun yang selalu bersinggungan dengan bahan kimia itu didiagnosis dokter menderita gangguan paru-paru akibat paparan bahanbahan senobiotik (asing) berbahaya. Oleh dokter ia diberi obat batuk yang langsung meredakannya. Namun, begitu obatnya habis, batuknya kembali kambuh.

Arsyad akhirnya mencoba mengkonsumsi beberapa jenis jamu yang ia beli dari sinse. Setali uang, batuk tetap membandel. Saat itulah ada sang kawan yang menganjurkan mengkonsumsi buah merah. Setelah mengkonsumsi, berangsur-angsur ia bebas dari derita menjengkelkan itu.
Buah ini juga amat bagus dikonsumsi pekerja pegawai rumah sakit, penambang, montir, dan mereka yang berkutat di jalan raya. Mereka akrab beragam bentuk zat senobiotik yang berbahaya, pemicu beragam penyakit degeneratif seperti kanker, jantung dan diabetes. zat-zat asing dapat bahan kimia berbahaya, polusi dari paparan mikroorganisme patogen, cendawan, dan virus.

Zat-zat senobiotik berbahaya terakumulasi dan bersarang dalam membuat sel-sel tubuh mengalami oksidatif. Alhasil, sistem kekebalan menurun dan rentan serangan pe nyakit. Upaya meminimalkan risiko radikal bebas bukannya tidak dilakukan. Mulai dari penggunaan masker pelindung yang bisa mengurangi dan menghindari polusi, hingga konsumsi susu segar. Namun, upaya tersebut masih kurang efekti£ Buktinya, kasus pekerja yang sakit akibat lingkungan kerja yang buruk masih terns bermunculan. Pada 2006 Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan 12-juta orang per tahun meninggal akibat penyakit paru-paru kronis. Fakta itu sekaligus mendudukkan penyakit paruparu kronis sebagai peringkat ke-6 kematian akibat faktor lingkungan.
Radikal bebas adalah senyawa-senyawa oksigen reaktif yang dapat menyerang dan merusak protein, dan DNA. Banyak riset ilmiah menunjukkan kerusakan oksidatif akibat radikal bebas memiliki peranan dalam patogenesis penyakit-penyakit degenerati£ Di antaranya kanker, diabetes, gangguan jantung, darah tinggi, stroke, paru-paru, periodontitis (radang aringan ikat penyangga akar gigi), percepatan proses penuaan, Parkinson, dan alzheimer (kelainan degeneratif saraf progresif) membayang-bayangi pekerja.
v Antioksidan
Organ tertentu dalam tubuh kita lebih rentan mengalami kerusakan oksidatif dibandingkan dengan dibanding organ lainnya Misalnya otak yang sangat sensitif terhadap kerusakan oksidatif karena kandungan asam-asam lemak yang mudah teroksidasi sangat tinggi, penggunaan oksigen dalam jumlah banyak, dan rendahnya kadar antioksidan. Banyak pula riset ilmiah yang mengindikasikan penyakit-penyakit tersebut dapat dicegah bahkan diobati dengan antioksidan. Hal itu menjelaskan mengapa buah merah yang kaya antioksidan tokoferol (vitamin E), herbal adalah salah satu alternatif untuk menjaga tubuh tetap bugar dan sehat.
Cara penyajian yang lebih mudah, praktis, dan citarasa segar menjadikannya lebih populer ketimbang jamu.Walau selintas lebih "ringan”, tetapi khasiatnya tetap terjaga. Selain itu, meski dinamai teh, tetapi bahan baku tetap diambil dari daun, rimpang, buah, bunga, sampai kulit botany yang mengandung beta-karoten (pro-vitamin A, dan vitamin C) dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh.

Hasil penelitian pada 2006 memperkuat bukti khasiat buah merah untuk meningkatkan daya tahan tubuh secara efektif. Mereka membuktikan ekstrak buah merah mengandung senyawa yang berfungsi sebagai macrofag activating factor (MAF). Yang merupakan senyawa untuk mengaktifkan fungsi makrofag sebagai sel pertahan tubuh. Macrofay memakan antigen berupa bakteri, virus, atau toksin.
Para ahli gizi memperkirakan kebutuhan harian vitamin A melalui asupan beta-karoten sebesar 4,5 mg, sedangkan kebutuhan harian alfa-tokoferol berkisar 2,6-15,4 mg, serta vitamin C berkisar 500-2.000 mg/hari. Kebutuhan tersebut dapat terpenuhi melalui konsumsi harian buah dan sayuran serta konsumsi buah merah sebanyak 1-2 sendok makan per hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar