Kamis, 24 Desember 2009

Cente Manis, Bunga Penolak Nyamuk

Cente Manis, Bunga Penolak Nyamuk

Nama tanaman sering menimbulkan keingintahuan. Begitu juga cente manis. Anda tidak akan mengira, cente itu nama lain yang lebih sedap dari taik ayam atau kembang telekan.
Sebagai perdu asal Amerika Tengah, ia dimasukkan ke Indonesia dari Singapura. Tidak sebagai cente manis, tetapi lantana. Itu terjadi tahun 1860 dulu, ketika negeri pulau itu mulai mekar sebagai negeri transito barang eksotik.
Tanaman itu disukai orang sebagai pagar hidup. Juga oleh orang daerah Bogor dan Bandung,yang menyebutnya pagar cente. Batangnya yang tegak setinggi 1,5 m memang bercabang banyak, sampai sebentar saja sudah rimbun. Cocok untuk dijadikan penghalang yang tak tertembuskan.
Tetapi, cente kemudian naik pangkat menjadi penghias taman karena bunganya manis sekali. Kecil mungil dan berkumpul di ujung tangkai, dengan warna yang berubah-ubah. Bunga yang mula-mula merah muda, makin berumur berubah menjadi merah, dan yang kuning menjadi jingga. Ada pula yang berwarna saffron, yang menjadi lebih saffron (kuning jingga) seperti bunga safron. Tetapi, yang putih hanya menjadi putih mangkak saja.
Karena bunganya yang manis itulah, ia kemudian beredar dalam buku-buku tentang bunga sebagai cente manis. Dalam perjalanan sejarah tercipta hibrida dan varietas lantana yang lebih bermacam-macam warna bunganya. Lantana camara "Cloth of Gold" misalnya, berwarna kuning emas terus, tidak berubah seperti moyangnya yang liar. Varietas Snow Queen putih salju, tidak mau berubah mangkak.
Sesudah perang kemerdekaan, dimasukkan pula Lantana selloviana ke Indonesia. Lantana kerdil ini lebih mungil. Daunnya, bunganya, batangnya! Batang ini malah tidak mau tumbuh meninggi, tetapi merayap tetap rendah di atas permukaan tanah serendah 20 cm.
Sebagai tanaman hias, ia paling senang disuruh membentuk karpet di taman berbatu-batu. Meskipun begitu, bagi yang tidak mungkin menyusun rock garden, ia juga manis ditanam dalam bak yang dibangun sepanjang pagar. Atau bak panjang di tepi teras rumah bertingkat.
Bunganya yang sedang mekar ikut merayap beramai-ramai. Merah ungu warnanya, tetapi ada juga varietasnya yang kuning. Karena berasal dari Montevideo, Uruguay, ia juga diedarkan sebagai Lippia montevidensis.

v Penolak serangga
Kalau di kota dipakai sebagai tanaman hias, di pedesaan cente manis yang asli dikerahkan untuk memberantas alang-alang. Naungan yang diciptakannya membuat alang-alang merana dan mati konyol. Hanya sayang, kalau cente manisnya tidak dikendalikan, justru dia yang merajalela, lalu makan waktu (dan hati) untuk memusnahkannya, sebelum lahan bisa dibebaskan.
Daun cente manis mengandung minyak asiri lantanin yang berbau busuk seperti kotoran ayam (kalau diremas-remas dan keluar cairannya). Kupu-kupu yang mencari daun untuk bertelur tidak suka mendekat, tetapi menghindar. Bau daun itu tidak bisa dibilang mampu menumpas serangga, tetapi cuma menolak saja.

Wah! Kalau tidak ada serangga yang mau mendekat, apakah bunganya bisa diserbuki? Bisa! Di dunia serangga ini ada saja yang suka pada bau busuk. Misalnya lalat buah. Sampai sekarang belum ada yang mau mencoba memanfaatkan daun busuk itu sebagai pemberantas serangga, melainkan hanya sebagai penolak serangga. Karena bisanya hanya menolak, ia baru sampai taraf diperbincangkan saja!
Buah cente manis berupa buah batu bulat kecil yang berdesak-desakan. Warnanya hijau kalau masih mentah dan berubah biru kehitam-hitaman kalau sudah matang. Buah berbiji tunggal ini sangat beracun dan anak-anak sebaiknya dilarang bermain-main dengan buah itu.

v Piretrum bunga krisan
Bunga yang lebih bertindak sebagai penumpas serangga ialah krisan. Tetapi tidak sembarang krisan. Dulu kita hanya mengenal Chrysanthemum indicum di Indonesia. Bunga asal Cina ini masuk ke Indonesia karena dibawa oleh orang Cina dari Tiongkok zarnan Rumphiusnya VOC tahun 1660 dulu. Orangorang Cina Jawa pada zarnan itu agak menaruh hormat pada seruni ini. Selain menarik, juga karena terus-menerus ada di pasar bunga, walaupun bunga lain sudah menghilang.
Di Jepang, bunga itu dipakai sebagai lencana pribadi oleh Kaisar Mikado, tahun 797. Ada suatu masa, rakyat biasa dilarang menanam bunga itu. Hak bertanam dimonopoli oleh keluarga kaisar dan kalangan istana, yang meraih keuntungan besar dari praktek monopoli itu. Baru sesudah pemerintah makin dewasa, bunga itu boleh ditanam oleh rakyat jelata.
Sebagai anggota famili Compositae, bunga seruni terdiri dari sejumlah bunga kecil yang berkumpul begitu padat di bagian tengah, sampai sepintas lalu seperti satu bunga tunggal. Efek ini diperkuat oleh berkumpulnya kelopak bunga di sekeliling kumpulan bunga utama di tengah itu. Kelopak bunga yang mengelilinginya berbeda warnanya dengan bunga tengah. Komposisi warna dan bentuk yang bervariasi ini membuat bunga itu menarik.
Kemudian pernah beredar bunga margrit Chrysanthemum leucanthem di Indonesia. Ia begitu populer, sampai setelah PD II ada majalah wanita yang memakai nama Margriet. Kini, setelah makin banyak muncul berbagai varietas hasil kultur, kultivar baru ini tidak mungkin diberi nama seruni iagi, tapi krisan.
Di antara jenis, varietas, dan hibrida yang makin lama makin banyak ini ada beberapa jenis yang tetap dibiarkan bertahan sebagai jenis. Tidak direkayasa gennya menjadi kultivar sesuai permintaan pasar bunga. Memang ia ditanam bukan untuk dinikmati bunganya, tetapi diambil piretrumnya yang ampuh menumpas serangga. Piretrum dipakai untuk membuat obat nyamuk bakar pada zaman sebelum ada obat semprot sintetik dulu.
Setelah dikeringkan dan dijadikan serbuk, bunga itu dicampur dengan tahi gergaji yang halus, lalu dicetak menjadi pelet melingkar yang dikeringkan. Kalau disulut, ujung yang terbakar mengeluarkan asap yang mematikan bagi nyamuk. Biang keladi pembunuhan ialah pyrethrin dan pyrethrosin. Kepekatan zat-zat ini sengaja dibuat rendah agar tidak berbahaya bagi orang yang menghirup asap semalam suntuk sambil tidur, tetapi sudah ampuh membunuh nyamuk.

Mula-mula dipakai jenis Chrysanthemum coccineum yang karena diambil piretrumnya, dulu dipandang sebagai jenis Pyrethrum dan beredar sebagai Pyrethrum roseum. Ia diperkebunkan di daerah Pegunungan Montenegro dan Dalmatia. Tetapi kemudian ternyata ia masih termasuk marga krisan Chrysanthemum.
Baru kemudian ditemukan Chrysanthemum cinerariaefolium yang lebih banyak menghasilkan piretrum. Jenis ini diperkebunkan secara besar-besaran di daerah Pegunungan Kenya, untuk diekspor ke Eropa dan Amerika.
Setelah ditemukan pyrethrin sintetik, tahun 1969, bunga krisan itu tidak begitu menggebu-gebu diperkebunkan lagi. Meskipun demikian, di beberapa media massa ia diperbincangkan lagi banyak-banyak, agar dipakai kembali dalam gerakan "kembali ke alam".

v Bunga Insektisida
Di Persia dan Yugoslavia dulu digunakan Pyrethrum untuk membasmi hama serangga sejak tahun 1800-an. Karena melihat sendiri keampuhannya, masyarakat mereka makin meningkat meminta tanaman itu, dan sejak 1828, Pyiethium diproduksi secara komersial di sana. Masyarakat Amerika Serikat pun pernah mempercayakan pengendalian hama serangganya pada tanaman ini, dan karena tidak dapat memenuhi permintaan dalam negeri, mereka terpaksa mengimpor piretrum. Pernah sampai sebanyak 13 juta ton (setahun).
Animo masyarakat untuk memakai insektisida dari tanaman mulai menurun seiring dengan ditemukannya insektisida sintetik DDT pada tahun 1940-an. Insektisida baru ini meskipun kecil, tetapi hebat, Selain murah, juga sangat tokcer membasmi hama, seperti kutu busuk di kursi-kursi bioskop, ulat berbulu, dan belalang perusak ladang. Umat manusia waktu itu merasa menang perang melawan hama serangga.
Tapi ternyata, keyakinan itu tidak berumur panjang. Muncul persoalan baru yang tidak kalah peliknya, yaitu resistensi serangga terhadap insektisida. Dosis yang harus disemprotkan makin lama makin tinggi, agar serangga tumpas, tetapi itu pun tidak menjamin bahwa oknum serangganya bakal KO. Rasa-rasanya makin banyak saja mereka itu!
Diduga bahwa setelah tahu ada rekannya menjadi korban, serangga yang tersisa menyusun pertahanan dengan kode-kode genetis baru, untuk menghasilkan enzim yang bisa menetralkan racun insektisida. Mula-mula memang hanya seekor dua yang mampu begitu, tapi karena yang segelintir ini menurunkan kemampuannya ke anak cucu, maka tidak mengherankan kalau pada akhirnya makin banyak yang tahan terhadap insektisida, sampai umat manusia terpaksa menciptakan jenis insektisida baru yang lebih tokcer.


Akan tetapi, usaha resistensi serangga juga berulang lagi. Beberapa petani menjadi judek, sampai akhirnya kembali ke cara penumpasan seperti nenek moyang lagi, yang memanfaatkan insektisida alami. Para pakar proteksi tanaman pun setuju untuk kembali ke alam ini, lalu mencari dan menelusuri tanaman apa saja yang berpotensi dan segera dapat dipakai. Ribuan dolar dihabiskan untuk riset dan berbagai seminar digelar!
Untuk memahami bagaimana duduknya perkara sampai ada insektisida berada dalam tanaman itu, kita perlu menengok sejarah hubungan antara serangga dan tanaman. Mereka sudah hidup bersama sejak jutaan tahun yang lalu. Para serangga menganggap tanaman sebagai sumber makanan, tetapi tanaman tidak rela kalau digigit tubuhnya, atau diisap sarinya. Ada yang mengadakan perlawanan. Celakanya, tanaman tidak bisa lari. Jadi, ia melawan dengan diam.
Diam-diam ia mengalokasikan sebagian energi yang dihasilkannya untuk diubah menjadi senyawaan yang tidak enak agar tidak disukai oleh serangga. Serangga yang kecewa berusaha menetralkan senyawaan perusak selera itu dengan enzim tertentu, sehingga yang terasa tidak enak masih bisa dinikmati lagi. Tetapi, tanaman pun membuat senyawaan baru lagi yang lebih canggih dan lebih tidak enak lagi; dan serangga pun mencoba menetralkannya lagi. Demikianlah, pertempuran dengan senjata kimia itu berlanjut, sampai akhirnya dalam tubuh tanaman terdapat senyawaan ampuh, yang siap ditangguk oleh manusia sebagai insektisida.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar