Selasa, 29 Desember 2009

Diet Telivisi bagi Anak

Diet Telivisi bagi Anak


Ini bukan paket makanan dengan berbagai resep, tapi rencana penggunaan TV yang Anda buat sendiri bersama keluarga. Suatu pendekatan terhadap TV yang bisa dijalankan oleh segenap anggota keluarga tanpa harus membuang TV sebagai perkakas rumah yang tak berharga, tapi juga tidak menikmatinya berjam-jam nonstop dan tanpa tujuan jelas.
Menurut Milton, direktur riset CTW (Children's Television Workshop) New York, pengembang program-program televisi pendidikan semisal Sesame Street, Square One TV, The Electric Company dan sebagainya, pemanfaatan TV secara pintar ini menuntut kita mengendalikan pesawatnya sebagaimana kita mengatur menu makan anak-anak, mengendalikan jam tidur, serta memilih mainan yang mereka geluti. Analogi ini cocok dan efektif dalam memanfaatkan TV.
Kebanyakan orang tua takkan membiarkan anak-anaknya makan sembarangan. Kita tentu akan memilih makanan terbaik hagi anak-anak. Meningkatnya kesadaran akan kesehatan keluarga, membuat kita berusaha keras menerapkan pola makan yang lebih seimbang dengan mengurangi konsumsi daging, lemak, dan menambah dengan biji-bijian, buah-buahan, dan sayur mayur. Kalau perlu malah menghindari makan terlalu banyak dari "lima sempurna"nya televisi semisal, burger, pizza, dan makanan cepat siap lain.
Mengelola diet keluarga dan menyusun menu memerlukan waktu, perhatian, dan pengetahuan mengenai kandungan gizi setiap makanan. Begitu pula dengan televisi. Paralelkan setiap keprihatinan kita tentang makanan, dengan televisi. Kita melewatkan banyak waktu untuk memikirkan dan mengkonsumsi dua-duanya. Bahkan tak jarang kita melakukan keduanya pada saat yang bersamaan. Menonton sambil makan.
Langkah pertama menciptakan diet televisi adalah dengan membuat daftar perbekalan, sebagaimana kalau Anda menyiapkan menu harian dan jenis makanan. Untuk itu mulailah dengan mendaftar bagaimana Anda dan anak-anak menggunakan televisi. Buatlah kalender mingguan di selembar kertas besar, dengan kolom HARI di bagian atas, dan kolom JAM di samping kiri. Dalam kolom HARI tuliskan nama masing-masing anggota keluarga. Tempelkan kalender itu di tempat-tempat yang mudah terlihat. Setiap hari, kegiatan anggota keluarga menonton TV dicatat. Kalender ini tak perlu harus bagus. Fungsinya hanyalah mencari tahu seberapa banyak para anggota keluarga menonton televisi dalarn periode satu minggu.
Setelah berhasil mengisi kalender seminggu, jumlahkan seluruh waktu yang telah di luangkan masing-masing anggota keluarga untuk nonton TV Dari sini akan ketahuan siapa menonton program apa, jumlah total waktu masing-masing anggota keluarga untuk menonton TV
Kemudian adakan evaluasi dan diskusi atas acara-acara yang sudah ditonton. Apa yang mereka ingat? Apa yang mereka sukai? Maukah mereka melihatnya kembali? Adakah acara yang ditonton oleh seluruh keluarga secara bersama-sama? Tanyakan kepada anak-anak yang sudah besar apakah mereka menonton secara terencana atau tidak? Jika tidak, kegiatan-kegiatan lain apakah yang seharusnya bisa dilakukan?
Telitilah kapan anak-anak menonton televisi. Pagi sebelum ke sekolah, atau setelah pulang dari sekolah? Sore hari sebelum makan? Atau malam menjelang tidur? Diskusikan dengan mereka tugas-tugas rutin harian dan mingguannya, serta saat-saat mereka harus melakukan hal-hal lain selain menonton TV setiap harinya.
Jangan lupa, evaluasilah waktu tonton Anda sendiri. Berapa total waktu yang Anda lewatkan untuk menonton TV Karena diet yang bertujuan mengurangi jumlah waktu menonton ini berlaku untuk semua anggota keluarga, tak terkecuali para orang tua. Jangan sampai Anda menuntut anak-anak mengurangi waktu menonton sementara Anda sendiri justru tidak. Lagi pula semakin sedikit waktu yang Anda pergunakan untuk menonton televisi, semakin banyak waktu Anda untuk mengawasi anak-anak.

v Pekan tanpa TV
Diet televisi ini dimaksudkan untuk membantu anak-anak mengurangi kandungan kalori TV dan melatih otot-otot intelektual mereka. Selain tentu saja memberi lebih banyak waktu untuk kegiatan fisik. Untuk mengoptimalkan perlu 3 prinsip pokok.
Pertama, mengendalikan konsumsi menonton televisi. Diet ini harus dimulai dengan mengurangi jumlah total konsumsi kalori TV mereka. Menurut perhitungan normal, 4 jam sehari sudah terlalu banyak, karena bisa mengakibatkan anak-anak terasing dari kegiatan memupuk hobi, atau minat-minat lain yang berharga.
Pada keluarga dengan jam tonton banyak, misalnya 4 jam ke atas, menerapkan diet TV berarti memotong waktu total mereka setengahnya, yakni rata-rata 2 jam/hari atau total 15 jam/minggu. Untuk anakanak kecil potongannya bisa lebih besar lagi.
Setengah sampai satu jam itu sudah cukup bagi anak-anak untuk nonton TV. Karena yang harus lebih diperhatikan adalah waktu mereka untuk bermain. Dengan bermain bersama teman, kakak, atau ibu, si anak tidak pasif tapi menjadi partisipan, dan bisa berkomunikasi. Nah, dalam hal ini yang paling sulit adalah mengubah kebiasaan. Memangkas waktu yang dilewatkan anak-anak menonton TV bisa menjadi sumber pertengkaran antara Anda, pasangan, dan anak-anak. Walaupun demikian disarankan untuk mengadakan eksperimen dengan mengubah kebiasaan mereka supaya memenuhi kebutuhan dan jadwal. Kalau memungkinkan; buatlah acara "pekan tanpa 'I'V" atau "bulan tanpa TV": Itu ide bagus. Kalau tidak bisa, ya cukup dengan mengurangi kegiatan menonton secara bertahap dengan satu dua jam setiap minggu. Selama puasa TV itu keluarga melakukan kegiatan-kegiatan lain yang lebih bermanfaat.
Kedua, siapkan hidangan TV yang seimbang. Caranya, bisa dengan menyeleksi acara TV sebagaimana Anda memilih makanan di pasar swalayan. Pilihlah acara yang cocok untuk konsumsi anak-anak. Terutama program-program bernilai pengetahuan dan memiliki keterkaitan dengan khasanah kehidupan anak-anak. Sebagaimana snack dan pencuci mulut akan baik bila dikonsumsi dalam jumlah moderat, begitu pula acara TV. Sekali-sekali biarkan mereka menonton program-program hiburan sebagai selingan. Bisa film seri, serial, atau kuis dan games.
Mungkin sebagian Anda ragu, apakah nantinya anak-anak menyukai "TV Bergizi" ini? Apalagi selera bocah dalam menonton amat bhinneka. Bisa jadi, anak-anak yang menyukai acara aksi seperti Viper atau Jalan Makin Membara, ternyata juga memiliki rasa ingin tahu dan bergairah menonton acara bernilai pendidikan dan kreatif lain. Persis seperti tubuh mereka menyukai makanan yang bervariasi dan seimbang, anak-anak juga menyukai program-program yang memberikan gizi bagus pada pikiran mereka.
Diet TV keluarga menuntut kita menjadi konsumen berwawasan luas. Lakukan kiat "belanja" acara-acara yang perlu dicantumkan dalam Diet TV Keluarga, seperti kalau kita belanja makanan. Ceklah label-labelnya. Pertimbangkan kualitas acara yang akan ditonton anak-anak. Di sini Anda perlu mengetahui lebih banyak tentang acara-acara TV yang ada. Dalam sudut pandang ini program televisi anak-anak juga harus menjadi program orang tua. Cara terbaik untuk mengetahui apa yang selayaknya boleh ditonton oleh anak-anak adalah dengan menonton acara bersama mereka. Dengan demikian Anda akan lebih siap untuk mendiskusikan acara itu. Ketiga, setelah makan jangan hanya duduk-duduk. Orang bijaksana mengatakan, pencernaan bisa dibantu dengan tetap aktif setelah makan. Hal terburuk adalah tidur setelah makan. Begitu pula setelah nonton sehuah program televisi bermutu, jangan lantas duduk-duduk saja. Secara alami, acara-acara TV yang bermutu bisa dengan mudah dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan lanjutan yang bisa dilakukan anak-anak, baik sendirian maupun bersama keluarga setelah TV dimatikan.
Nah, biasanya orang tua sering melakukan pendekatan lepas tangan alias kelewat liberal. Tegakah kita membiarkan orang-orang tak dikenal memutuskan apa yang akan diengar, dilihat, dan dilakukan anak-anak kita? Kegiatan menonton TV seharusnya tidak berbeda dengan kegiatan lain mana pun. Gunakan hak prerogatif Anda sebagai orang tua, meski tak berarti harus semenamena dan selalu mendikte. Ketika anak memasuki usia sekolah, disarankan Anda melibatkannya dalam pengambilan keputusan yang menyangkut hal-hal ini, sebagaimana mengemukakan pendapatnya mengenai apa yang ingin ia makan.
Jika Diet TV Keluarga Anda dipersiapkan dengan diskusi dan perundingan bersama, anak-anak pasti akan lebih patuh pada rencana jadwal menonton. Diet ini harus memberi mereka saham pendapat dalam menonton TV, serta pemahaman bahwa menonton TV adalah kegiatan yang bisa ia kendalikan. Bukan sebaliknya, ia dikendalikan oleh TV. Bertindaklah secara tegas dan bijak, dengan melibatkan anak-anak dalam usaha mengembangkan peraturan yang harus mereka taati. Walaupun Diet TV, keluarga didasarkan pada otoritas dan kepemimpinan orang tua, seyogianya juga merupakan bentuk mekanisme partisipatoris. Berilah anak-anak hak suara dan hak pilih. Bantulah mereka bertanggung jawab secara sehat atas tindakan dan keputusan mereka sendiri. Yang terpenting, gunakan Diet TV sebagai kesempatan untuk mendiskusikan apa yang Anda tonton dan peroleh dari tontonan tersebut.

v Sejenak tanpa TV
Televisi memercikkan rasa ingin tahu pada anak-anak dan membuka mata terhadap dunia yang jauh. Lewat pesonanya mereka bisa terbawa ke dunia khayal, entah itu angkasa luar atau-pun dasar samudera. Beragam cara dilakukan orang untuk "berdamai" dengan tabung gelas ini. Ada yang dengan tegas mematikan TV pada jam tertentu, tapi ada pula yang memanfaatkannya secara jeli. Meski tidak bermaksud apriori terhadap tayangan televisi, Yogyakarta dengan cara yang unik mulai menyiasati dampak gangguan siaran TV ini terhadap pendidikan anak-anak. Caranya dengan menyapih sejenak paparan TV, melalui program Jam Belajar Masyarakat (JBM). Selain untuk mewujudkan lingkungan. yang mendukung proses belajar, program ini secara langsung mengajak orang tua ikut peduli terhadap pendidikan anak-anak.
JBM dimulai sejak pukul 18.00 - 20.00. Walau tak diwajibkan, selama waktu itu yang namanya televisi/radio, maupun bentuk-bentuk hiburan lainnya di rumah dimatikan. Pada jam itu anak-anak semua masuk rumah dan mulai belajar setelah lampu hijau di depan pintu rumah mereka menyala. Sementara di beberapa ruas jalan petugas pokja baik tingkat RT maupun RW setempat berkeliling memonitor. Petugas inilah yang akan mengingatkan jika ada keluarga yang lupa terhadap kesepakatan bersama mematikan TV/radio untuk kepentingan belajar.
Ide JBM ini sebenarnya muncul dari Wasis Siswanto (58) kepala STM Budya Wacana, Yogyakarta, gara-gara salah seorang anaknya tidak naik kelas lantaran kebanyakan nonton TV. Ide yang semula diterapkan di kampung Wasis, Karangwaru Lor, Kec. Tegal Rejo, Yogya pada tahun 1980, kini sudah diadaptasikan ke wilayah DIY.
Mulai tanggal 25 Maret 1996, setelah melalui uji coba selama 3 tahun, pemda Yogya mencanangkan Jam Belajar Masyarakat (JBM) lewat SK Gubernur DIY No. 307/Kpts/95 tertanggal 2 November 1995. Sedangkan petunjuk teknis pelaksanaannya diatur melalui surat kepala Dinas P dan K setempat dengan SK 119/KPTS/PK/96 tanggal 7 Februari 1996. Tahun ini JBM bahkan sudah dilombakan antar kelurahan se-DIY dengan pemenangnya Kelurahan Warungboto, Kec. Umbulhardjo.

v Belajar dari TV
Ada pula cara kompromi yang bisa menjadikan TV sebagai batu loncatan pengalaman pendidikan seorang anak dengan menjalinnya dalam kegiatan belajar. Pengalaman Rahma di bawah ini bisa dijadikan contoh. Pagi itu Rahma (9), sedang bersiap ke sekolah. Sementara menunggu ibunya, ia memasuki ruang tengah dan menghidupkan pesawat TV yang sedang menayangkan acara dunia fauna tentang pesona ikan lumba-lumba yang bisa diajak berakrobat. Rahma amat tertarik pada kecerdikan ikan ini dan terus memikirkannya selama perjalanan ke sekolah. Kebetulan, minggu berikutnya gurunya memberi tugas kepada murid-rnurid untuk membuat karangan mengenai lingkungan hidup yang berkaitan dengan kehidupan hewan
Dengan bantuan sang ayah, Rahma mengirim surat kepada stasiun televisi setempat meminta informasi lebih lanjut tentang lumba-lumba. Stasiun TV tersebut membalasnya dengan mengirim berbagai brosur tentang hewan itu dan memberi saran agar Rahma mengunjungi akuarium laut di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, yang setiap akhir minggu mengadakan pertunjukan lumba-lumba.
Di akhir bulan, bersama ayah, ibu, dan pamannya, Rahma berkesempatan pergi ke Ancol. Di sana mereka nonton atraksi lumba-lumba, bahkan sempat berbincang-bincang dengan pelatih ikan tersebut. Banyak hal dicatat Rahma dalam buku kecilnya, seperti bagaimana perilaku lumba-lumba, pola pakan, cara berkembang biaknya, penentuan jenis kelamin, dan metode pelatihannya.
Sampai di rumah, segala informasi tentang lumba-lumba yang sudah didapat kemudian dituangkan dalam sebuah karangan yang membahas soal lingkungan hidup, dan pelestarian hewan. Ini sekaligus salah satu bukti, dengan menonton secara selektif televisi bisa memberi sumbangan besar bagi kesiapan anak untuk mengalami pendidikan secara langsung.

v TV Harus lebih Rendah dari Mata
Mempunyai mata yang baik sangat penting, tapi banyak orang tidak memelihara matanya dengan baik. Suatu badan penyantun mata di Inggris memberi petunjuk-petunjuk berikut:
§ Periksalah mata anak-anak Anda sebelum mereka masuk sekolah Pada umur dua setengah tahun, mata juling yang hampir tak kentara dapat diketahui dan diperbaiki.
§ Periksalah mata Anda sendiri secara teratur. Kerjakanlah semua pekerjaan halus seperti membaca, menjahit dengan penerangan yang cukup terang. Yang ideal apabila cahaya yang datang dari sebelah atas bahu kita, ditambah dengan lampu ruangan yang biasa.
§ Jangan duduk terlalu dekat dengan pesawat TV, letakkan TV selalu lebih rendah dan kita, atau mata sejajar dengan layar TV.
§ Jangan memakai kacamata hitam di dalam rumah pada malam hari, atau bila mengendarai mobil di tempat gelap, sebab mata akan menjadi peka sekali terhadap cahaya biasa..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar