Selasa, 29 Desember 2009

Diet TV Keluarga

Diet TV Keluarga


Berbagai perdebatan seputar kekerasan di televisi belakangan ini, sepertinya tak dii.kuti adanya perubahan nyata. Alhasil, seminar, usulan, dan pengkajian riset, belum menghasilkan perbaikan berarti pada apa yang disaksikan anak-anak di televisi. Nah, sebelum terlambat mari kita siasati sendiri dampak televisi bagi anak-anak.
Sebagai orang tua kita perlu menyadari bahwa di rumah ada orang asing. Tak percaya? Coba bayangkan, suatu hari ketika Anda pulang ke rumah, mendapati ada seorang pria tak dikenal sedang mengajari anak-anak Anda untuk saling menempeleng atau baku tembak. Kali lain ada seorang wanita yang berusaha membujuk mereka agar membeli berbagai jajanan. Bisakah Anda langsung mengusir orang-orang" asing itu? Tentu tidak! Karena yang Anda saksikan cuma anak-anak sedang memelototi tabung gelas yang bernama televisi.
Tak bisa disangkal, munculnya teknologi dengar-pandang ini melahirkan fenomena luar biasa terhadap kehidupan manusia. Sebagai ilustrasi, dalam bukunya Anak-anak dan Televisi.
Milton Chen, Ph.D., ktisi dan pengamat televisi dari AS, mengatakan betapa menakutkan melihat bagaimana tabung gelas ini menguasai waktu anak-anak Amerika. Rata-rata mereka menonton televisi 4 jam/hari, 28 jam seminggu, 1.400 jam sampai 1.800 jam setahun. Bandingkan angka itu dengan 13.000 jam yang dilewatkan anak-anak di sekolah mulai dari TK sampai kelas 3 SMTA. Boleh dibilang, anak-anak meluangkan lebih banyak waktu di depan televisi daripada melakukan kegiatan positif lainnya. Itu baru soal waktu, belum dampak buruk yang ditimbulkan.
Belakangan ini perkelahian remaja kembali marak di Jakarta dan sekitarnya. Dalam sebulan, April 1996, 3 orang pelajar tewas di tangan sebayanya. Rachmat Hidayat, siswa SMTA Bekasi tewas dianiaya oleh sekelompok pelajar sekolah lain yang sebelumnya terlibat tawuran dengan siswa sekolah korban. Sedangkan Hery Haryansyah (13), siswa SMTP di Jakarta Barat, meninggal ditikam pelajar SMTP lain di Grogol. Sementara Raimon Sitepu (18) juga roboh karena tikaman belati remaja lain di Menteng, Jakarta Pusat.
Di belahan bumi lain, Jacob Gonzales (10) dan rekannya sesama pelajar, Damien Dorris (14), membunuh Elizabeth Alvarez, seorang ibu yang tengah hamil, di dekat sebuah mesin ATM di kawasan New York. Lantas, apa hubungan antara televisi dan tindak kekerasan? Bukankah kejahatan sudah ada jauh sebelum tabung gelas ini ditemukan? Memang benar. Tapi sebelum menjawab pertanyaan itu rasanya kita tidak bisa menyangkal sekarang ini tindak kekerasan, baik di dalam maupun di luar negeri, terus meningkat.
Pelajar yang memiliki energi berlebih tidak punya sarana untuk melampiaskan energinya. Apalagi katup pengaman seperti lapangan bola, serta taman rekreasi lain sudah semakin menghilang di Jakarta. "TV ikut memberi andil dalam hal ini, meski sulit diukur. Proses imitatif pelajar merbuat khayalan tentang kekerasan dalam diri mereeka. Jika ditambah dengan kondisi frustrasi, sifat agresivitas mudah menjalar.
Dr. George Gerbner, dekan Annenberg School of Communication, Universitas Pennsylvania dan Dr. Nancy Signorielli dari Universitas Delaware, AS, mencoba mengungkap hubungan kausal antara meningkatnya tindak kekerasan dengan tontonan TV. Dalam Profil Kekerasan TV yang disajikan tahun 1994, mereka menjelaskan bahwa paparan televisi yang teratur dalam jangka panjang akan memperparah perasaan kerentanan, ketergantungan, dan ketidakpekaan terhadap kekerasan. Dampak nyata acara kekerasan di televisi adalah meningkatnya persepsi pemirsa bahwa dunia ini memang tempat yang kejam dan berbahaya. Akibatnya, para pecandu televisi cenderung percaya bahwa lingkungan mereka tinggal tidak aman, kejahatan adalah masalah pribadi yang serius, dan kemungkinan besar mereka akan terlibat di dalam tindak kekerasan. Oleh sebab itu mereka gampang tergoda melengkapi dirinya dengan alat pengaman dan seniata untuk melindungi.
Pernyataan ini tak lagi sekadar asumsi, apalagi didukung hasil penelitian dan data dari pihak lain. Seperti misalnya Yankelovich Youth Monitor tahun 1993 mewawancarai secara acak 1100 responden berusia 6 - 17 tahun dam selumh AS. Hasilnya, 2/3 dari responden berusia 9 ke atas mengganggap TV menyajikan terlalu banyak acara kekerasan. jajak pendapat yang dilakukan Los Angeles Times tahun 1993 mengungkapkan, 4 dari 5 orang AS menganggap kekerasan di televisi berpengaruh terhadap kekerasan di dunia nyata. Bahkan, lebih dari separuh respondennya bersedia mendukung peraturan pemerintah untuk membatasi tingkat kekerasan di televisi.
Hasil survai Times Mirror pada tahun yang sama menyebutkan 80% dari orang dewasa AS mengakui, kekerasan di televisi sangat merugikan masyarakat. Padahal tahun 1983, hanya 64% yang berpandangan demikian.
Jauh sebelumnya, sinyalemen tersebut sudah dicium oleh Dr. Leonard Eron dan Dr. Rowell Huesmann, psikolog dari UniversRas Michigan. Hasil penelitiannya yang dilakukan tahun 1960 terhadap 800 anak sekolah berusia 8 tahun cukup mengagetkan. Anak-anak yang terlalu lama menonton acara kekerasan di TV cenderung berperilaku agresif di ruang kelas maupun di tempat bermain.
Sebelas dan 22 tahun kemudian Eron dan Huesmann mengecek kembali anak-anak ini dan mendapati mereka jauh lebih agresif ketika berusia 19 dan 30 tahun, serta membuat masalah-masalah yang lebih besar termasuk kekerasan da-lam rumah tangga, pelang-garan lalu lintas, dibandingkan dengan rekan mereka yang kurang agresif karena tak sebanyak mereka dalam menonton kekerasan di TV. Mereka juga mendapati, sekalipun seorang anak tidak agresif pada usia 8 tahun, tapi menonton acara kekerasan di TV dalam jumlah cukup banyak, akan menjadi lebih agresif pada usia 19 tahun dibandingkan dengan rekan-rekan sebaya yang tidak menyaksikan kekerasan di TV. Bahkan dalam kesaksian di depan Kongres tahun 1992, Eron dan Huesmann mengatakan," Kekerasan televisi mempengaruhi remaja dari segala usia, pada semua tingkat sosio-ekonomi dan inteligensi. Tak terhatas pada anak-anak yang memang sudah berwatak agresif, dan terjadi di negara mana pun.

v Meluruskan Mitos
Dr. Reginald Clark, pengajar dan konsultan California State University di Fullerton, yang selama sepuluh tahun mengamati perilaku anak-anak berprestasi di sekolah menyimpulkan bahwa rata-rata bocah-bocah ini menghabiskan waktu 25 - 35 jam untuk apa yang disebut home centered learning atau kegiatan belaiar yang terpusat pada rumah semisal mengerjakan pekerjaan rumah, membaca, bermain, olahraga, tugas-tugas rumah, atau acara di luar rumah bersama seluruh keluarga. Dari ilustrasi di atas, selayaknya dikembalikan kepada kondisi kita, bagaimana anak-anak bisa melakukan kegiatan home centered learning yang efektif kalau sebagian besar waktunya dihabiskan di depan TV? Jelaslah, bahwa dalam seminggu seorang anak tidak dapat menonton TV, belajar, sekolah, rekreasi dan tidur sekaligus dalam porsi waktu yang sama. Mau tak mau, harus ada yang dikorbankan. Tapi, apakah kita harus membuang TV untuk menggantikan waktu nonton itu dengan kegiatan-kegiatan yang positif? Tentu tidak perlu seekstrem itu.
Televisi yang pernah dijuluki si Tabung Tolol dan Candu Elektronik ini rupanya telanjur dijadikan kambing hitam. Padahal mestinya bisa berperan positif terutama hagi anak-anak. Tetapi untuk mewujudkannya, kita harus mengamati dari dekat apa yang hisa ia lakukan dan apa yang tidak. Menerapkan ini dalam tindakan nyata, menuntut komitmen serius dari orang tua maupun anak-anak.
Sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dulu kita perlu meluruskan mitos-mitos yang telanjur terbentuk di seputar televisi dan pengaruhnya terhadap anak-anak. Pasalnya, mitos-mitos ini kebanyakan hanya berakar pada pandangan simplistis kaku bahwa TV, sebagai medium, mempunyai pengaruh-pengaruh tersendiri yang terlepas dari isinya. Padahal sekali lagi, kita bisa menyiasatinya. Perhatikan berbagai mitos di bawah ini.
- TV adalah medium pasif sehingga anak akan jadi boneka mati.
Mitos ini perlu dibetulkan. Karena, acara-acara pendidikan di TV bisa secara aktif melibatkan anak-anak, baik fisik maupun intelektual. Kegiatan ini bisa dan mestinya berkelanjutan bahkan setelah acaranya sendiri usai.
- TV mengganggu gelombang dan menghambat pertumbuhan otak yang sehat.
Mitos ini pun keliru. Falkanya, pola gelombang otak selama menonton TV serupa dengan kegiatan selama si anak melakukan kegiatan jenis lain.
- Jika kecanduan TV, anak akan jadi murid yang bodoh.
Itu tergantung pada apa dan seberapa banyak yang ditonton si anak. Pelajar yang menonton TV secara moderat, khususnya acara-acara yang mengandung pendidikan justru bisa menjadi murid unggulan.
- Menonton TV tidak menjadikan anak pembaca yang baik.
Anggapan bahwa televisi adalah musuh bebuyutan bagi kegiatan membaca, tak seluruhnya benar. Mitos ini akan jadi kenyataan kalau memang seorang anak menghabiskan waktu. 40 jam/minggu di depan televisi sehingga tak lagi punya waktu untuk melakukan kegiatan lain. Tetapi tak sedikit program-program anak yang bermutu justru akan memotivasi anak-anak untuk membaca dan mencintai kegiatan membaca.

v Hindari Kebiasaan
Kekerasan di televisi mempunyai banyak bentuk. Sebaiknyalah kalau kita memutuskan bentuk-bentuk mana yang layak ditonton anak dan pada usia berapa. Memang, bila anak Anda penggemar serial kartun, akan sulit menghapuskan gerakan Popeye menjebol tembok atau Ksatria Baja Hitam menebas musuhnya dengan pedang. Walaupun demikian, kekerasan yang lebih "realistis" pada film, atau drama bisa benar-benar mengganggu anak kecil, sekaligus seperti membenarkan terjadinya tembak-menembak, tusuk-menusuk, atau kejar-kejaran mobil bagi anak Anda yang lebih besar. Peranan orang tua sebagai jembatan dalam hubungan TV - Anak ini menjadi amat penting. Dampingilah anak-anak dalam menonton, kalau hal ini betul-betul dilaksanakan, hasilnya sangat positif. Keberadaan orang tua di samping anak waktu nonton TV, akan bisa menjelaskan langsung kalau ada adegan kekerasan. Si anak bisa disadarkan, “bagaimana rasanya kena pukul.”
Bila anak-anak menonton TV, pastikan mereka memahami pendapat Anda mengenai kekerasan. Bahaslah cara-cara lain untuk mengatasi sebuah pertikaian tanpa harus dengan kekerasan. Caranya? Pakailah contoh-contoh kejadian yang bisa terjadi sehari-hari. Bila Anda yakin si anak sudah siap, beberkan pengalaman hidup nyata yang berkaitan dengan kekerasan yang mungkin per-nah dialami keluarga Anda. Jelaskan bahwa kekerasan di TV itu hanya rekayasa dan tidak sungguh-sungguh. Bagaimana para pemain atau stuntman itu berpura-pura berkelahi atau tembak-menembak. Bantulah mereka agar bersikap lebih kritis tentang bagaimana kekerasan TV sengaja direkayasa untuk ditonton.
Bukan hanya adegan kekerasan, sekarang ini tak sedikit tayangan seperti lawakan di televisi yang sepintas nampaknya lucu dan menghibur, tapi kalau diteliti mendalam akan berdampak negatif. "Kebanyakan materi lawakannya tak murni humor lagi, tapi mengandung unsur-unsur demeaning atau pelecehan, mengecilkan arti seseorang. Misalnya, Bego Lu! atau Dasar Goblok! Lantas Gerrr. Belum lagi skenario misalnya si A berhasil membohongi si B, lantas tertawa puas. Nah, kalau ini ditiru anak-anak bisa berakibat buruk lagi bagi pendidikan mereka.
Kebanyakan kegiatan menonton TV cenderung tidak terencana dan bersifat tak sadar. Tiap kali mempunyai waktu luang, dengan enaknya kita langsung merebahkan diri di sofa dan menyambar pengendali jarak jauh. Sebuah pengkajian yang dilakukan Dr. Howard Taras dan ahli anak-anak di Universitas Kalifornia menyatakan bahwa 85% orang tua dari anak-anak usia 3 - 8 tahun, tidak memandu pemilihan program anak-anaknya. Mereka bahkan jarang mendiskusikan program televisi dengan anak-anak mereka dan hanya menggunakan TV sekadar untuk memberi hiburan.
Dengan berbagai pertimbangan di atas, Kni kita bisa mulai mengubah cara pemakaian TV, antara lain dengan:
- Mengubah pola nonton.
Bila anak ingin nonton TV, suruhlah mereka minta pendapat Anda terlebih dahulu. Sebagaimana mereka menanyakan apakah boleh bermain di luar rumah.
- Jawablah dengan pertanyaan.
Jangan hanya dengan ''Ya'' atau "Tidak". Sebaiknya tanyailah mereka, "Apa yang ingin kalian tonton?" Acara apa yang ditayangkan? Tanyakanlah apa ada kegiatan lain yang mereka inginkan, misalnya membaca atau bermain di luar.
- Ajukan pertanyaan pada diri Anda sendiri.
Adakah kegiatan lain yang lebih pantas dilakukan anak-anak saat itu daripada menonton TV? Bisakah kita memotivasi mereka agar tidak nonton TV dan melibatkan mereka pada kegiatan keluarga yang lebih bermanfaat?
- Doronglah mereka agar mulai dengan kegiatan lain.
Luangkan waktu, kesampingkan apa yang sedang Anda kerjakan dan libatkanlah din Anda. Misalnya, menunggui mereka ketika mengawali kegiatan lain semisal memilih buku bersama, menyiapkan bahan-bahan masakan untuk makan nanti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar