Minggu, 27 Desember 2009

Sang Bidadari menunggu Sa’id bin Al-Harits.

Menjelang terjadinya pertempuran antara tentara Islam dan bangsa Romawi terjadilah peristiwa yang aneh, begitu kata Rafi’ bin Abdullah
“ Bagaimana kisah itu, ya Abal Walid.”. tanya Hisyam bin Yahya Al-Kattani sebagai pimpinan devisi. Kemudian Rafi’ bertutur mengenai keajaiban itu :
“ Ketika tentara Islam berangkat ke Romawi, maka dalam devisi itu terdapat seorang lelaki yang rajin sekali beribadah, siang selalu berpuasa, dan malam memperbanyak shalat sunnah, malah ketika diperjalanan, dia tidak henti-hentinya mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dan ketika berhenti, dia pun berzikir kepada Allah, Sa’id bin Al-Harits namanya.
Pada suatu malam terjadilah pengepungan pada suatu benteng Romawi yang begitu kokoh hingga kami kesulitan untuk menguasainya. Sebagian kami berencana untuk mengawasi saja benteng itu, Sa’id juga menyertai kelompok kami.
Malam itu kami melihat Sa’id begitu tabah dalam menghadapi berbagai rintangan yang sangat berbahaya, namun tidak ketinggalan memperbanyak berbagai ibadah yang menakjubkan hingga aku katakan kepadanya :
“ Pada dirimu itu ada kewajiban yang harus kau penuhi. Wahai Sa’id, hendaklah kau menyempatkan diri untuk beristirahat.”
Mendengar anjuranku ini dia malah menangis seraya menjawab :
“ Wahai saudaraku, hidup ini hanya beberapa saat, dapat dihitung dengan hari. Umur ini hanya berlangsung sebentar saja dimana saat ini aku sedang menyongsong maut dan perpindahan jiwa.”
Ucapannya begitu menyentuh perasaan hingga air mataku menetes. Ketika itu aku mengatakan :
“ Demi Allah, sebaiknya kau masuk kedalam tenda dan beristirahat disana.”
Setelah dia kusumpahi serupa itu, dia pun masuk dan segera tidur. Sedangkan aku sendiri hanya duduk-duduk diluar, namun tiba-tiba aku mendengar ucapan dari dalam tenda itu, padahal tidak ada seorang pun didalamnya kecuali dia. Segera saja aku masuk kedalam tenda, maka terlihat dia tertawa dan berkata sendiri dimana sebagaian ucapannya ada yang kuhapal.
“ Aku sudah tidak mau lagi untuk kembali.” begitu dia mengigau.
Kemudian tangan kanannya dijulurkan seakan menggapai sesuatu lantas ditarik lagi pelan-pelan seraya tertawa. Ketika itu pula dia meloncat seraya mengibas-ngibaskan pakaian. Demi melihat keganjilan itu, dia segera kupeluk erat, tampaklah dia menoleh kekiri dan kekanan kemudian baru menyadari apa yang terjadi seraya membaca takbir dan tahlil.
Seterusnya kami berdua malam itu tidak bisa memicingkan mata barang sebentar. Kesempatan ini aku pergunakan untuk menanyakan mimpi yang baru dialaminya.
“ Bagaimana cerita mimpimu itu.” tanyaku.
“ Akan lebih baik jikalau kau lekas menceritakan padaku, dimana dalam tidurmu tadi tampak kau mengigau “Aku tidak mau kembali lagi,” tampak pula tanganmu menggapai kemudian kau tarik pelan-pelan.” sambungku.
“ Aku tidak akan bercerita.” jawabnya ketus.
“ Adakah kau pelit mengenai kisah mimpi itu, ingatlah siapa yang mengetahui kisah mimpi ini jika kita mati bersama.” desakku lagi.
“ Em ..kalau begitu aku bersedia.” jawabnya.
Ia pun mulai bercerita. Ketika itu dia merasakan seakan kiamat telah tiba dimana seluruh makhluk keluar dari kubur dan semuanya mendongak keatas mendengar apa yang akan diperintahkan Tuhan. Disaat itulah ada dua orang yang begitu tampan datang kepadaku seraya mengucapkan salam. Maka segera kubalas salam itu, kemudian berkata :
“ Wahai Sa’id ! , dosamu telah diampuni, usahamu akan terbalas semuanya, amal-amal mu juga diterima, do’amu pun diperkenankan dan kau akan segera mendapat kabar gembira. Sekarang segeralah kau berangkat bersama kami untuk melihat kenikmatan yang dipersiapkan Allah untukmu.” begitu ucap dua orang tadi.
Aku pun segera diajak pada suatu tempat dimana terdapat seekor kuda yang begitu bagus, tidak menyerupai kuda dunia ini, larinya begitu kencang. Kuda itulah yang kami tunggangi bersama menuju sebuah istana yang menjulang tinggi, dimana pandanganku tidak bisa menembus batas ketinggiannya, seakan dibangun dari bahan perak yang gemerlapan. Selanjutnya kami memasuki dari sebuah pintu yang telah terbuka sebelum kami datang. Dan pandanganku langsung menatap kesegala penjuru, seluruhnya begitu cantik. Namun tiba-tiba datang seorang bidadari beserta inang-inang dan anak-anak kecil yang terlihat sangat menakjubkan. Begitu mereka melihat kedatanganku, segera saja seluruhnya mendendangkan lagu yang indah sekali. Disela-sela lagu ini ada yang mengatakan :
“ Selamat datang wahai kekasih Allah, betapa bahagia engkau.”
Selanjutnya kami meneruskan perjalanan lagi hingga sampai pada berbagai tempat tidur dari intan permata yang tertata dengan rapi yang dilengkapi dengan kursi-kursi cantik. Pada setiap kursi itu duduklah setiap gadis, dimana seseorang tidak akan mampu untuk mengulas kecantikannya. Ditengah-tengah para gadis itu ada seorang gadis lagi yang agak tinggi, namun lebih cantik dari pada yang lain, tampaknya dialah sang primadona. Dalam kondisi seperti ini aku sempat bertanya pada kedua kawanku tadi : “ Istana dan keluarga siapa ini ?.”
“ Seluruhnya ini merupakan keluargamu.” jawab dua lelaki kawanku itu.
Sejenak kemudian dua lelaki itu menjauh dariku kemudian seluruh gadis-gadis cantik itu mendekatiku seraya menyambut kedatanganku dengan mengucapkan selamat datang, seakan menyambut kedatangan seseorang yang baru pergi jauh. Aku pun diajak pada suatu kastil yang ditengahnya telah duduk seorang gadis jelita melebihi yang lain. Mereka mengatakan :
“ Gadis ini yang akan menjadi isterimu, jangan khawatir, masih ada gadis lain yang setara ini untukmu.
“ Sebenarnya dinda telah merasakan betapa lama menunggu kedatangan kanda.” begitu kata si cantik dengan manja.
Pada kersempatan itu aku sempat pula berbincang-bincang cukup lama hingga aku tanyakan padanya :
“ Dimana kita sekarang ini ?.”
“ Di Jannatul Ma’wa.” jawabnya.
“ Siapa nama dinda.” tanyaku nyinyir.
“ Aku Khalidah kanda, nanti aku akan menjadi isterimu.” jawabnya bertambah manja.
“ Dimana yang lain ?.” tanyaku lagi.
“ Masih diistana kanda yang lain.” jawabnya lagi.
“ Aku menghendaki untuk menginap barang semalam saja denganmu dan besok pagi aku akan segera pergi keistana isteri yang lain.” pintaku.
Ketika itulah tanganku ini kutaruh dipundaknya, namun segera saja dia menepis dengan halus seraya mengatakan :
“ Adapun sekarang, kanda masih harus kembali kedunia, tunggulah tiga hari lagi.” begitu jawabnya.
“ Aku tidak mau kembali lagi.” sergahku.
: “ Proses ini mesti kau lewati kanda, dimana setelah tiga hari, kau akan mereguk bulan madu sepuas-puasnya.” sahutnya lagi.
Setelah itu aku terpaksa bangkit untuk berpamitan padanya. Dan ketika itulah aku bangun dari tidur. Demikian kata Sa’id.
Mendengar kisah yang begitu menyentuh kalbu ini, air mataku (Rafi’) seakan tumpah ruah, kemudian aku katakan kepadanya :
“ Betapa kau akan bahagia wahai Sa’id, sekarang perbanyaklah syukurmu kepada Allah yang telah memperlihatkan pahalamu itu.” begitu kata Rafi’.
“ Adakah yang mengetahui cerita ini selain dirimu, hai Rafi’ !.” tanya Sa’id.
“ Tidak ada.” jawab Rafi’ singkat.
“ Simpan saja kisah ini selama saya masih hidup.” sambung Sa’id lagi.
Kemudian kulihat dia mengambil air wudhu dan mempersiapkan senjata untuk berangkat ke medan perang, padahal ketika itu dia sedang berpuasa. Dan malam itu pula aku berkunjung ke tenda-tenda prajurit lainnya. Dalam kesempatan itu aku ceritakan mengenai kepahlawanan Sa’id dan kejeliannya dalam mempergunakan waktu sebagai ibadah. Terbukti hal ini menambah semangat tempur mereka.
Dimalam itu pula Sa’id menyerbu ditengah hujan panah dan lemparan batu musuh, namun hal ini telah kusadari, sebab jika saja mereka mengalami sebagaimana apa yang telah di alami Sa’id, mereka jelas akan menyabung nyawa sekuat kemampuannya sebagaimana apa yang dilakukan Sa'’d. Sekembalinya dari penyerbuan itu, Sa’id langsung mengerjakan shalat sunnah sampai malam berakhir. Dan ketika pagi, dia telah berpuasa lagi dan berangkat kemedan perang. Kali ini semangat tempurnya lebih membara lagi dari pada kemarin. Betapa dia memposisikan dirinya pada kawasan-kawasan yang sangat berbahaya sampai hari menjelang petang. Namun begitu matahari tenggelam, dia terkena bencana, sebuah panah tepat mengenai lehernya dan dengan jelas aku sendiri melihatnya.
Melihat musibah itu kawan-kawan yang lain segera berteriak untuk mengusung Sa’id dengan tandu. Dan setelah sampai pada tempat yang aman, aku segera berbisik kepadanya :
“ Kau betul-betul bahagia petang ini. Sekarang kau akan berbuka dengan berbagai kelezatan yang tiada tara. Alangkah indahnya jika aku bisa bersamamu”. begitu kata Rafi’.
Ketika mendengar ucapanku itu dia mengatupkan bibirnya lantas tertawa lebar seraya mengatakan :
“ Alhamdulillah, Dia telah menunaikan janjiNya padaku.”
Dan setelah itu dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Ketika itulah, Hisyam selaku pimpinan devisi berkhutbah membakar semangat prajurit dengan berapi-api dengan menaruh jenazah Sa’id didepan mereka:
“ Wahai saudara sekalian ! hendaklah kalian meniru kepahlawanan Sa’id.”
Dan dengan panjang lebar dia menceritakan kisah ini. Ternyata setelah mendengar kisah ini, para prajurit banyak yang meneteskan air mata, tampak pula mereka sangat merindukan maut, tangis mereka pun membahana, tangis merindukan surga. Dalam kesempatan ini, panglima perangnya yaitu Maslamah, dia menyempatkan diri untuk memberi penghormatan terakhir terhadap Sa’id. Ketika itulah dia langsung saya tarik kedepan untuk memimpin shalat jenazah, namun dia malah mengatakan :
“ Orang yang menyaksiakan sendiri terhadap peristiwa ini, dialah yang berhak memimpin shalat.”
Dengan terpaksa, aku lantas maju memimpin shalat jenazah itu
Ketika paginya seluruh prajurit telah memperbincangkan kisah ini hingga semangat mereka berkobar sejadi-jadinya. Segera saja setelah ada komando penyerbuan, mereka serempak menyerang musuh dengan dahsyat hingga musuh melarikan diri dengan lintang pukang meninggalkan seluruh benteng yang menjadi kebanggaan mereka. Dan dihari itu juga seluruh benteng dapat ditaklukkan dengan gema takbir yang gegap gempita. Allahu Akbar !.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar