Minggu, 27 Desember 2009

Syam’un Seorang Pahlawan.

Syam’un Seorang Pahlawan.


Pada masa dahulu tersebutlah seorang pahlawan yang gagah berani dimana selama hidupnya dicurahkan untuk meninggikan kalimat Allah dengan memerangi orang-orang kafir dengan sebuah senjata yang unik sekali – tulang dari rahang onta – hanya itu senjata pamungkasnya.
Karunia Allah yang diberikan padanya begitu besar, hingga jika dia lapar, dari rahang bagian tempat tumbuhnya gigi itu akan keluar daging yang sangat lezat, dia cukup makan dari situ. Dan jika dahaga menyerangnya, dari situ pula akan keluar air segar yang memancar sebagai minumannya.
Hari berganti bulan dan bulan memasuki tahun, dia terus berperang dan tidak pernah terkalahkan. Senjata lawan akan tumpul dan mandul berhadapan dengannya, apapun jenisnya dan bagaimanapun upayanya. Ketika dihitung, peperangan itu sudah berlangsung tidak kurang dari seribu bulan, dimana jikalau dihitung dengan tahun sama dengan 80 tahun lebih 4 bulan. Suatu rekor peperangan yang spektakular.
Namun sayang, isterinya itu lebih berpihak pada orang kafir, dan dia sendiri juga kafir. Maka pada suatu hari orang-orang kafir membujuk rayu isterinya itu dengan berbagai harta benda yang gemerlapan. Harta itu akan menjadi miliknya jika saja si suami itu berhasil dibunuh.
“ Aku tidak akan mampu membunuh suamiku.” begitu jawab sang isteri kepada seorang pimpinan dari orang kafir.
“ Bukan, bukan itu yang kami maksud, namun ibu akan kami beri tali yang begitu kuat, dimana jika suami ibu sedang tidur, maka tugas ibu cukuplah mengikat kaki dan tangannya kuat-kuat dan seterusnya kami yang akan membereskan.” sergah pimpinan kafir itu.
Pada malam berikutnya, Syam’un pun tidur lelap, nyenyak sekali hingga ketika sang isteri mengikatnya, dia merasa tidak terusik. Namun ketika bangun, dengan garangnya dia berkata :
“ Siapa yang mengikatku sedemikian rupa.” bentaknya.
“ Aku kanda, hanya untuk mencoba kekuatanmu.” jawab sang isteri berbohong.
Segera saja Syam’un menggeliat maka dengan seketika seluruh tali terputus beberapa bagian dan dia pun segera berangkat lagi untuk berperang sebagaimana biasa.
Beberapa hari kemudian, rombongan orang-orang kafir pun datang menemui isteri yang celaka itu seraya menyerahkan rantai besi dengan maksud agar Syam’un dirantai ketika tidur lelap. Isteri itupun menuruti saja kehendak mereka, seorang isteri yang tidak tahu diuntung. Maka ketika Syam’un tidur pulas, dia pun dirantainya begitu rupa dimana jika yang dirantai itu orang wajar, sudah barang tentu akan bisa ditangkap hidup-hidup. Namun ketika Syam’un terbangun, dengan garang lagi dia membentak :
“ Siapa yang berbuat biadab ini ?.”
“ Saya kanda, hanya untuk mengetahui seberapa keistimewaan kekuatan kanda.” jawab si celaka itu dengan berdusta lagi.
Segera saja Syam’un menggeliat hingga memutuskan rantai itu seketika. Sebenarnya Syam’un tahu persis maksud isteri itu. Namun pada suatu hari, entah lupa atau memang telah datang suratan takdir kesialannya, dimana ketika itu Syam’un sempat melontarkan ucapan :
“ Wahai isteriku tercinta, ketahuilah aku merupakan kekasih Allah. Dengan demikian kau tidak akan bisa mengalahkanku dengan segala upaya apa pun yang ada didunia ini kecuali hanya dengan rambutku yang panjang ini.” begitu Syam’un membocorkan rahasianya.
Betapa girang isteri celaka ini mendengar ucapan Syam’un yang seakan tidak disadari.
Syam’un merupakan sosok yang berbadan tegap, rambutnya begitu lebat dan panjang sekali hingga bila diurai akan menyentuh tanah. Pada biasanya rambut itu disanggul delapan tempat agar memudahkan gerakannya. Namun berhubung si isteri tadi telah mengetahui kelemahannya, maka dia merencanakan untuk mengikat Syam’un dengan rambutnya itu. Sehingga pada suatu kesempatan, isterinya itu dengan hati-hati sekali mendekati Syam’un yang sedang tidur pulas dengan membawa sebilah gobang tajam. Akhirnya rambut Syam’un yang disanggul delapan itu berhasil dipangkas semua dengan sigap tanpa mengganggu tidurnya. Selanjutnya wanita durhaka itu mengikat kedua belah tangannya dengan empat kepang, kakinya diikat pula dengan empat kepang yang lain. Maka ketika bangun, Syam’un pun terkejut alang kepalang seraya menggertak :
“ Siapa yang berbuat biadab ini ?.” ucapnya dengan geram.
“ Saya kanda, hanya untuk mencoba kedigdayaan kanda.” jawab isterinya yang biasa berbohong.
Kali ini kekuatan Syam’un berakhir sudah. Sebenarnya dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, namun dengan berbagai upaya ternyata tidak berhasil. Sang isteri malah terkekeh-kekeh seraya pergi secepatnya memberi tahu terhadap orang-orang kafir atas keberhasilan usahanya. Maka segera saja mereka itu berdatangan dan menyeret Syam’un untuk dieksekusi didalam sebuah balai yang telah disediakan. Dan setelah sampai disana, dia diikatkan pada sebuah tiang balai itu lantas disiksa sedemikian rupa, kedua telinganya dipotong dan kedua matanya dicongkel, bibirnya dipangkas, lidahnya dijulurkan kemudian dipotong dan kakinya dihilangkan laksana kepiting yang dihilangkan seluruh kaki dan supitnya. Namun ketika itu Allah memberi ilham kepadanya :
“ Dalam keadaanmu yang seperti ini, apa yang kau kehendaki wahai Syam’un.” begitu ilham itu membisiki hatinya.
“ Aku mengharapkan agar Engkau mengembalikan kekuatanku lagi, dimana tiang balai ini akan aku robohkan agar seluruh bagiannya runtuh menimpa orang-orang kafir yang menyiksaku ini ya Allah.” begitu Syam’un menjawab.
Maka seketika itu pula Syam’un bagaikan raksasa yang sedang murka. Seluruh tiang balai itu ditendangnya hingga atap dan temboknya runtuh bersamaamn dimana orang-orang kafir tidak sempat lagi untuk menghindar, maka mampuslah mereka, dan wanita pendurhaka itu juga ikut menjadi bangkai. Kejadian ini bagaikan gedung World Trade Centre yang dihantam pesawat, mengerikan. Namun dengan suatu keajaiban pula Syam’un masih bisa selamat dan seluruh anggauta badan yang telah terpotong itu kembali seperti semula. Maka pulanglah dia kerumah seraya mengatakan :
“ Demi untuk mensyukuri nikmat Allah yang begitu besar padaku, sisa hidupku akan kupergunakan untuk beribadah sepenuhnya sampai aku dipanggil olehNya.”
Setelah rangkaian peristiwa dalam hidupnya itu, Syam’un masih sempat beribadah selama seribu bulan lagi, dimana dia selalu berpuasa disiang hari dan shalat sunnah sebanyak-banyaknya dimalam hari.
Namun beberapa tahun kemudian, timbul lagi gerombolan-gerombolah orang kafir yang mengintai nyawanya hingga terpaksa dia berlaga lagi dengan tubuh yang hampir renta itu. Kali ini dia menemui syahid dijalan Allah, Inna lil”Lahi wa inna ilaihi raji’un.
Demi mendengar penuturan Jibril mengenai cerita ini, para shahabat Rasulullah berlinang air mata, takjub dan terbayang betapa besar pahala yang diperoleh Syam’un dimana rasa-rasanya mereka itu tidak akan bisa memperoleh pahala sebesar itu. Akhirnya semua itu hanya ditumpahkan berupa keluh kesah yang tiada habis-habisnya.
Melihat ratapan dan keinginan para shahabat yang demikian itu, segera saja Allah mengutus Jibril As. untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah sebagai pengobat hati yang duka, itulah surah Al-Qadar. Selanjutnya Allah mengatakan bahwa ibadah ummatmu dimalam Qadar itu masih lebih utama dari pada ibadah tuju puluh ribu bulan pada bulan-bulan selain malam Qadar. Alhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar