Minggu, 27 Desember 2009

Hasan Bashri dan Bola Mata yang Lepas

Hasan Bashri dan Bola Mata yang Lepas

Hasan Bashri merupakan seorang ulama yang cukup masyhur dan diberi umur yang begitu panjang hingga hampir 90 tahun. Beliau wafat pada tahun 110 Hijriyah. Bahkan sebagian para ulama mengatakan sebagai figur yang utama diantara para tabi’in. Namun ketika mudanya dia merupakan seorang yang sangat tampan dan sering kelayapan dikeremangan malam, mengobrol tanpa diketahui ujung pangkalnya.
Pada suatu hari dia berdandan begitu keren lalu keluar rumah berputar-putar dikota Basrah, namun tiba-tiba saja penglihatannya terantuk pada seorang gadis yang begitu jelita. Sifat nakal lelakinya pun kambuh seketika. Dibuntutinya gadis itu dengan godaan dan rayuan gombalnya hingga gadis itu sewot dibuatnya seraya mengatakan :
“Adakah kau tidak punya rasa malu ?.”
“ Pada siapa ?.” tanya balik Hasan Basri.
“ Pada Yang Maha Mengetahi mata jalang, Allah Subhanahu wa Ta’ala.” jawab gadis itu dengan sengitnya.
Sebenarnya hati Hasan Bashri mulai memperhatikan nasehat itu, namun demi melihat gadis itu begitu cantik, akhirnya sifat nakalnya tidak mampu dibendung lagi, terus saja dia mengikuti sampai didekat rumah gadis pujaannya. Dan ketika akan memasuki rumah itulah Hasan Bashri disemprot lagi :
“ Untuk apa kau membuntutiku sampai disini, bagaimana kalau tetangga kiri kananku melihat kelakuanmu ini. Sudahkah kau pikirkan mengenai dampak negatif yang harus aku sandang terhadap ucapan para tetangga yang kental dengan nilai religius.” hardik si gadis itu.
“ Oh, matamu begitu indah, bagaikan bintang kejora yang berkedip dimalam yang sunyi, sesunyi hatiku.” begitu Hasan Bashri malah menggombal.
“ Kalau begitu tunggu disini, kau akan mendapatkan semuanya.” tukas sang gadis pujaan.
Akhirnya Hasan Bashri pun menunggu dengan perasaan yang menggelora, kadang tersenyum sendiri dan kadang berjingkrak kegirangan bagaikan kuda ditarik ekornya. Ia menyangka bahwa gadis itu telah tergila-gila dengan ketampanannya sebagaimana dia telah tergendeng-gendeng dengannya.
Setelah beberapa lama, maka datanglah seorang anak perempuan dengan membawa nampan yang ditutupi dengan sehelai kain seraya mengatakan :
“ Kakakku tidak suka memiliki mata yang menjadikan seseorang tergila-gila, terimalah ini !.”
Nampan itu pun diterima dengan senang hati dan tidak menyadari apa yang terjadi. Namun setelah dibukanya, kuduknya bergidik dibuatnya dan tidak mengerti lagi harus berbuat apa.Dua bola mata yang berlumuran darah telah berada didepannya. Hatinya menyesal begitu dalam, seluruh sendi anggauta badannya seakan lumpuh tiada daya dan air matanya bercucuran dengan tanpa disadari. Langit seakan runtuh dan bumi akan lebih baik bila menelannya. Ia pun bertaubat dan merasa berdosa besar yang tidak akan terampuni. Maka pulanglah dia dengan kehancuran harapan yang takkan terobati. Semalaman dia menangis tanpa henti, kemudian hari-hari dilalui tanpa gairah hidup.
Setelah matahari menyingsing, dia pun kembali kerumah gadis itu untuk mencari tahu kabar lebih lanjut, terutama akan minta maaf. Namun kali ini langkahnya begitu gontai. Dan hatinya menyerah bulat-bulat jika saja keluarganya menuntut lebih jauh untuk menghakiminya. Setelah dekat, pintu rumah itu tampak tertutup rapat dan didengarnya banyak wanita yang menangis dan meratap. Sesaat kemudian ada orang yang melintas didekatnya, maka segeralah Hasan Bashri bertanya:
“ Wahai saudaraku, ada apa dirumah ini ?.”
“ Oh, anda belum mengerti !, penghuni rumah ini telah wafat tadi malam.” jawabnya.
Tersentak Hasan Bashri mendengar kalimat ini. Kali ini hatinya betul-betul hancur, lebih hancur dari pada yang pertama. Terbayang sudah siksa neraka yang bakal diterimanya, seakan lebih baik dia tidak dilahirkan kedunia ini. Pengalaman pertama yang betul-betul membuat hatinya trauma begitu dalam. Ia pun pulang dengan selalu menyeka air matanya. Dan setelah sampai dirumah, ditumpahkan air matanya sampai tiga hari tiga malam tanpa mau makan atau minum. Namun dimalam yang terakhir dia bermimpi melihat wanita itu telah berada disurga dalam keadaan duduk begitu mempesona, segera saja dia minta maaf kepadanya, namun tanpa diduga, gadis itu malah mengatakan :
“ Aku telah memaafkan seluruh dosamu, sebab kenikmatan yang aku peroleh sekarang ini tersebab ulahmu itu.” jawab si gadis itu.
“ Kalau begitu nasehatilah aku.” sambung Hasan Bashri.
“ Jika kau dalam keadaan sendiri, maka perbanyaklah ingat kepada Allah. Dan jika kau bangun pagi atau hari telah senja, maka perbanyaklah memohon ampunanNya.” begitu si gadis itu menasehati.
Nasehat dalam mimpi itu yang telah mengilhaminya untuk memutar haluan hidupnya, dari seorang yang bermental berandal menjadi figur yang begitu zuhud dan rajin beribadah hingga terkenal sebagai seorang auliya’ – kekasih Allah. Betapa indahnya hati ini bila bisa dekat dengan Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar