Senin, 28 Desember 2009

Hati Seorang Sufi

Hati Seorang Sufi


Seseorang yang telah mencapai martabat begitu tinggi di sisi Allah maka ketika bangun pagi hatinya akan mengatakan : “Apa yang akan diperbuat Allah terhadapku hari ini.” Dalam arti dia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada ketentuan Allah. Akan lain dengan hati orang kebanyakan, dimana ketika bangun pagi, dia akan mengatakan : “ Apa yang saya perbuat hari ini.” Sikap seperti ini tiada lain karena merasa dirinyalah yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan. Berlawanan sekali dengan hati seorang sufi yang begitu bersih dari segala keruwetan hidup dan akan selalu menurut kepada kehendak Allah, terserah Dia, baik dimuliakan atau dihinakan, sebagaimana apa yang dituturkan oleh Abdur Rahmnan Ash-Shaqli yang terkenal dengan sebutan Abul Qasim.
Pada suatu hari aku berjumpa dengan seorang lelaki di padang pasir Maraj Ad-Dibaji dengan tidak membawa bekal apapun. Lantas dia kudekati seraya kuucapkan salam padanya lalu kutanya :
“ Tuan, bolehkah saya bertanya, hendak kemana kiranya tuan pergi ?.”
“ Aku tidak tahu.” jawab lelaki itu membingungkan.
“ Aneh, kenapa masih ada seseorang yang pergi menuju suatu tempat, namun ketika ditanya, jawabannya “ tidak tahu”. sergah Abul Qasim.
:” Begini, skeptis itu karena pengalamanku sendiri, dimana pada suatu saat aku mau pergi ke Makah, namun tiba-tiba saja aku terdampar sampai di Tharsus. Dan pernah juga aku bermaksud ke Tharsus namun terbukti aku terdampar sampai Abadan. Sekarang ini aku berniat ke Makah, namun tidak yakin apakah aku bisa sampai disana.” jawab lelaki itu panjang lebar.
“ Mengapa tuan bersikap paserah seperti ini ?.” tanya Abul Qasim meminta keterangan lebih lanjut.
“ Itu semua memang telah berdasar pengalamanku yang jelas-jelas kurasakan selama ini, dan masih banyak lagi pengalaman-pengalaman yang lain.” sambung si sufi.
“ Bagaimana tuan mendapatkan makanan ?.” tanya Abul Qasim lagi.
“ Aku tidak mengerti pula.” jawab si sufi seraya menggelengkan kepala.
“ Ceritakanlah sedikit pengalaman tuan kepadaku mengenai hal ini.” pinta Abul Qasim.
“ Aku hanya memperturutkan kehendak Allah dimana sekali waktu Dia menjadikan aku lapar dan sekali waktu aku diberi makan sampai kenyang. Kadang dimuliakan dan kadang dihinakan. Acapkali seolah-olah Dia mengatakan :
“ Tidak ada dimuka bumi ini orang yang lebih zuhud dari pada dirimu, namun sering pula mengatakan : “ Kamu itu pencuri.” Sering pula Dia memberi tempat tidur yang mewah, rambutku pun mengkilap tersapu minyak dan mataku begitu berbinar dengan celak. Namun sering pula aku harus terusir dengan keras hingga hanya tidur di pekuburan.” tutur si sufi lagi.
“ Semoga tuan bercucuran rahmat Allah. Siapa gerangan yang berbuat seperti itu ?.” tanya Abul Qasim.
“ Allah Azza wa Jalla.” jawabnya singkat.
“ Aku memerlukan penjelasan lebih lanjut.” desak Abul Qasim.
“ Aku merupakan orang yang gemar mengembara disiang hari, dan jika malam telah tiba, perjalanan itu segera aku hentikan untuk bersiap-siap mencari tempat menginap dimanapun ada tempat yang layak untuk maksudku itu. Ketika itulah kadang aku memasuki sebuah perkampungan dimana penduduknya begitu curiga melihat tampangku dan banyak pula yang menuduhku sebagai pencuri yang harus segera diusir. Pernah pula aku memasuki masjid, namun segera saja pengurus masjid itu mengusirku seraya mengatakan :
“ Pergi dari sini, ini bukan tempat untuk tidur.”
Dalam menanggapi ucapan seperti itu segera ku jawab :
“ Ya, terima kasih.”
Selanjutnya aku harus pergi terbuang di pekuburan. Ketika esoknya aku pun singgah di suatu desa. Disaat penduduknya melihatku, mereka berbisik-bisik :
“ Betapa mulia kita, sekarang ini desa kita dimasuki oleh seorang yang begitu terhormat, ahli zuhud dan banyak kebajikannya pula hingga mereka berebut menawarkan tempat singgah untukku. Biasanya setelah shalat ‘isya’ akan ada beberapa orang yang mengajakku pergi kerumahnya untuk memberiku jamuan dengan berbagai makanan yang lezat, minyak rambut dipersiapkan dan diriku betul-betul diperhatikan hingga tempat tidurku disiapkan begitu rupa. Pendeknya apa saja kebajikan yang mampu diperbuat, seakan dicurahkan seluruhnya padaku. Itulah sikap dan kondisiku menghadapi kehendak Allah.
“ Kapan tuan kembali ke Baghdad ?.” tanya Abul Qasim dengan menjelaskan bahwa dirinya juga penduduk Baghdad seraya menjelaskan alamatnya.
“ Aku tidak bisa memastikan.” jawab lelaki sufi itu.
Namun ketika Abul Qasim telah kembali ke Baghdad, pada suatu hari pintu rumahnya diketuk seseorang, dan setelah dibuka ternyata lelaki sufi itu. Dalam kesempatan ini keduanya berbincang-bincang panjang lebar lagi.
“ Bagaimana tindakan Allah terhadap tuan sekarang ini.” tanya Abul Qasim.
“ Akhir-akhir ini aku sering dipukuli dengan parah. Aku dituduh pula olehNya sebagai pencuri, lihat inilah punggungku memar bekas pukulan dan deraan cemeti.” Kata lelaki itu.
“ Bagaimana hal itu bisa terjadi ?.” tanya Abul Qasim.
“ Pada suatu hari aku dibuat lapar yang dahsyat olehNya. Ketika itu perjalananku telah sampai di pasar Abyar disana berjajar keranjang mentimun yang disampingnya berserakan mentimun busuk sebagian atau yang pahit terbuang begitu saja. Aku pun memunguti yang terbuang itu untuk kumakan dengan cara membuang yang busuk. Namun sialnya ketika itu si pemilik datang seraya mengatakan :
“ Ini malingnya, tertangkap kamu sekarang. Sebenarnya telah lama kau kuintai namun baru kali ini kau tertangkap basah, rasakan ini.”
Pemiklik itu pun memukuli pinggang saya dengan cemeti sampai puas. Anehnya ketika itu tiba-tiba saja datang seorang penunggang kuda. Begitu turun, dia langsung memukuli pemilik mentimun itu seraya mengatakan :
“ Ngawur kau, itu seorang sufi, ahli zuhud pula.”
Menyaksikan peristiwa itu aku hanya terbengong-bengong, betapa begitu cepat antara tuduhan sebagai pencuri dan penghormatan terhadap ahli sufi. Lucunya lagi si pemilik mentimun itu akhirnya mengajakku kerumahnya. Dan setelah sampai disana, aku dimuliakan begitu rupa kemudian dia meminta maaf sebesar-besarnya atas kekeliruan sikapnya itu. Setelah itu aku pun pergi menemui dirimu sekarang ini.


Dihyah Al-Kilabi Masuk Islam


Dihyah Al-Kilabi merupakan seorang raja suku-suku Arab yang begitu tampan. Seringkali jika Jibril As. turun menemui Rasulullah menyerupaui Dihyah itu, namun ketika itu Dihyah masih kafir. Dizaman jahiliah itu jika saja Dihyah pergi ke Madinah maka seluruh gadis-gadis pingitan akan keluar menikmati ketampanannya. Ia sendiri masuk Islam ketika agama itu masih berkembang dalam tahap permulaan dan hadir pula dalam berbagai peperangan yang terjadi setelah perang Badar. Umurnya cukup panjang dimana dia wafat ketika Mu’awiyah bin Abu Sufyan memegang tampuk khalifah. Jenazahnya dimakamkan didekat Mizah yaitu sebuah kawasan dikota Damaskus.
Sebagaimana praktek Wali Songo dalam mengembangkan Islam di pulau jawa ini, dimana yang perlu didekati lebih dahulu adalah raja atau bupati. Pola pengislaman Rasulullah juga seperti ini, seperti terhadap Dihyah sendiri. Ia mengepalai tiga ratus kepasla keluarga sukunya, dimana jika Dihyah masuk Islam, maka segera akan diikuti oleh seluruh rakyatnya. Maka berdo’alah Rasulullah ketika itu :
“ Ya Allah , berilah Dihyah cahaya Islam hingga agamaMu akan menjadi kuat.”
Ternyata Allah memperkenankan do’a itu.
Pagi-pagi setelah Rasulullah shalat shubuh, Allah memberi tahu bahwa Dihyah akan menyatakan keislamannya dihadapan Rasulullah. “Sekarang dia masih diperjalanan.” begitu bunyi wahyu.
Maka ketika Dihyah datang, segera saja Rasulullah menyambutnya dengan menaruhkan rida’ dan menggelarnya agar menjadi tempat duduk Dihyah. Demi melihat penghormatan Rasulullah yang tinggi itu, dia langsung meneteskan air mata dimana rida’ itu malah diangkat dan diciumi begitu rupa lalu ditaruhkan diatas kepala seraya mengatakan :
“Wahai Rasulullah, apa saja syarat menjadi seorang Muslim ?.”
“ Mudah saja, ucapkan la ilaha illal’Lah Muhammadur Rasulullah.” jawab Rasulullah.
Mendengar jawaban ini Dihyah meneteskan air matanya lagi, air mata yang menimbulkan tanda tanya, apakah dia berbahagia mengenai jawaban itu ataukah menyesali kedatangannya dari jarak yang dirasakannya cukup jauh, lantas seakan terperangkap mengakui seseorang sebagai utusan Allah. Untuk menjawab keraguan ini maka Rasulullah bertanya :
“ Adakah kedatangan anda kesini untuk memeluk Islam atau ada keperluan yang lain ?.”
“ Wahai Rasulullah, sebenarnya aku ingin memeluk Islam, namun aku telah melakukan dosa-dosa yang begitu besar. Untuk itu aku mohon ditanyakan kepada Allah, apakah kafarat dosa itu. Aku akan siap menanggung segala resikonya hingga jika saja aku disuruh bunuh diri atau harus mengeluarkan harta sebagai sedekah atau infak, semuanya akan kusanggupi.” begitu jawab Dihyah.
“ Hendaknya anda jelaskan apakah dosa-dosa itu ?.” tanya Rasulullah.
“ Wahai Rasulullah, aku merupakan seorang raja yang cukup terkenal dan disegani. Entah pandangan hidup bagaimana yang telah meracuni diriku. Dimasa-masa yang telah silam aku memiliki tujuh puluh anak perempuan yang cukup cantik-cantik, namun seluruhnya aku tanam hidup-hidup lantaran ketika itu aku sangat malu jika puteriku nanti dewasa dan kawin. Konsekuensinya, masyarakat akan mengatakan :
“ Dihyah yang begitu berpengaruh ternyata mempunyai menantu dan besan dari rakyat biasa-biasa saja.”
Inilah yang aku khawatirkan akan menjatuhkan martabatku.
Mendengar jawaban itu Rasulullah tersentak kaget, namun ketika itu pula Jibril As. turun menemui Rasulullah seraya mengatakan :
“Wahai Rasulullah, Allah telah berfirman untuk melipur Dihyah : “Demi keagunganKu, dikala kau Dihyah, itu telah mengucapkan La ilaha Illal’Lah Muhammadur Rasulullah maka kafirmu dan segala perilakumu dalam memperolokKu selama enam puluh tahun itu telah Kuampuni, apalagi mengenai pembunuhan anakmu sendiri itu.”
Mendengar wahyu yang disampaikan Jibril ini Rasulullah beserta para shahabatnya meneteskan air mata dan menyadari betapa murah ampunan Allah itu. Dikala itulah Rasulullah berdo’a :
“ Ya Allah Tuhanku, Engkau telah mengampuni Dihyah yang telah membunuh tujuh puluh putrinya dengan hanya mengucapkan syahadat sekali saja, maka ampunilah dosa-dosa kecil orang Mukmin yang setiap hari telah mengucapkan syahadat berkali-kali.
Dalam hadits yang lain juga disebutkan. “ Demi Dia yang tubuhku berada pada kekuasanNya, jika saja kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan menghapus kalian (dari muka bumi) Kemudian Dia akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa kemudian memohon ampunan kepada Allah dimana Allah berkenan mengampuni dosa mereka pula..”
Demikian hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah Ra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar