Senin, 28 Desember 2009

Keimanan Para Shahabat Rasulullah.

Keimanan Para Shahabat Rasulullah.


Disaat turun sebuah ayat :
Dan sesnungguhnya jahanam itu benar-benar sebagai tempat yang diancamkan kepada mereka seluruhnya.( 15 : 43 ).

Maka Rasulullah tiada henti-hentinya bercucuran air mata. Demi mengetahui Rasulullah selaku pimpinan mereka yang dirundung duka ini, para shahabat juga banyak yang menangis. Namun mereka belum mengerti, gerangan apa yang menyebabkan Rasulullah terlihat bermuram durja. Kebanyakan mereka hanya menerka-nerka saja, mungkin saja Jibril As. telah menyampaikan berita yang menyebabkan beliau bersusah hati.
Para shahabat telah mengerti bahwa jika Rasulullah Saw. berduka maka segera akan terobati dengan hadirnya putri kesayangannya – Fathimah Az-Zahra’ Ra. Maka ketika itulah shahabat Abdur Rahman bin’Auf berkunjung kerumah Fathimah untuk memanggilnya supaya menghibur Rasulullah Saw. Dan setelah sampai dipintu, Abdur Rahman segera menyampaikan salam : “ Assalamu ‘alaiki wahai putri Rasulullah.”
“ Wa ‘alaikas salam.” jawab Fathimah seraya bertanya :
“ Siapakah anda.”
“ Aku, Abdur Rahman bin ‘Auf.,” jawabnya.
“ Gerangan apa yang menyebabkan anda berpayah-payah berkunjung kerumahku ini ?. sambung Fathimah.
“ Aku tinggalkan Rasulullah seorang diri dalam keadaan berduka yang begitu dalam, dan tidak seorangpun yang mampu menghiburnya.” tukas Abdur Rahman.
Selanjutnya Fathimah segera mengatakan :
“ Sebaiknya anda segera kembali, aku akan secepatnya mengumpulkan pakaian yang mungkin diperlukan dan akan langsung menemui Rasulullah, semoga beliau berkenan memberi tahu terhadap berita yang dibawa oleh Jibril As.”
Maka Fathimah pun berangkat dengan mengenakan pakaian yang ditambal dua belas tempat dengan serat pelepah kurma. Kertika keluar rumah itulah dia berpapasan dengan Umar bin Khathab. Betapa terperanjat Umar ketika melihat putri Rasulullah Saw. berpakaian seperti ini. Dengan menaruhkan tangan diatas kepala dia bergumam :
“ Alangkah memprihatinkan melihat putri Rasulullah dalam kondisi compang camping, sementara putra-putri Kaisar Romawi dan Kisra Persia mengenakan beraneka gaun sutera.”
Dengan tidak menghiraukan lagi ucapan Umar, Fathimah terus memantapkan langkahnya memasuki rumah Rasulullah Saw. seraya mengatakan :
“ Mengherankan sekali wahai Rasulullah, lihatlah Umar begitu tercengang melihatku berpakaian seperti ini, padahal kondisi begini ini biasa-biasa saja bagiku. Demi Allah, aku dan Ali suamiku selama ini tikarpun tak punya terkecuali hanya kulit kambing, dimana kalau siang hari kami buat sebagai alas makanan onta. Dan ketika malam datang, aku pakai sebagai alas tidur. Bantal kami pun cukup kulit domba yang diisi dengan daun kurma. ” begitu Fathimah menjelaskan.
Rasulullah segera mengatakan : “ Biarkanlah dia wahai Umar, dibelakang hari dia akan berpacu menunggang kuda menuju surga.”
Setelah keadaan dirasakan kondusif, maka Fathimah memberanikan diri untuk bertanya :
“ Wahai Rasulullah, diri ini kurelakan menjadi tebusan engkau. Adakah Jibril membawa berita duka ?.”
“ Wahai Fathimah, bagaimana air mata ini bisa kutahan, dimana Jibril telah turun membacakan ayat : “Dan sesunguhnya Jahanam itu benar-benar sebagai tempat yang diancamkan kepada mereka seluruhnya.”
Ketika itulah Fathimah tersentak secara reflek, kemudian bertanya :
“ Wahai Rasulullah ayahanda, sudilah kiranya ayah memberi penjelasan satu sisi saja mengenai neraka itu.” pinta Fathimah.
Dengan menghela nafas dan membetulkan tempat duduknya, Rasulullah bersabda :
“Wahai Fathimah putriku, sesungguhnya neraka yang paling ringan itu mempunyai tujuh puluh ribu gunung api, dan setiap gunung mempunyai tujuh puluh ribu lembah api membara, dan disetiap lembah terdapat tujuh juta jalan api, dan setiap jalan api ada tujuh juta kota api, dan setiap kota terdapat tuju juta istana api, dan pada setiap istana terdapat satu juta rumah, dan pada setiap rumah terdapat tujuh juta kamar, dan pada setiap kamar ada tujuh juta peti dari api neraka, dan pada setiap peti terdapat tujuh juta macam siksa, dimana setiap siksa tidak akan menyerupai dengan jenis lainnya.”
Demi mendengar keterangan ini maka pingsanlah Fathimah Ra. sehingga jatuh tertelungkup. Begitu siuman dia langsung mengatakan :
“ Betapa celakan mereka yang memasuki neraka.”
Perkataan ini didengar pula oleh Umar Ra. Sehingga dia mengiba dengan berkata :
“ Alangkah baiknya jika aku menjadi kambing saja dimana orang yang memeliharaku akan menyembelih kapan mereka suka. Kemudian mereka memakan dagingku, memisah-misahkan anggauta badanku dan memecah belulangku. Dengan demikian aku tidak perlu mengenal dan mendengar apa yang namanya Jahanam.”
Dengan tergopoh-gopoh pula Abu Bakar menukas : “ Alangkah baiknya jika saya berupa seekor burung dihutan, aku cukup makan buah-buahan dan minum dari sungai dan sekali-kali hinggap didahan dan ranting pepohonan. Dengan demikian aku tidak menghadapi hisab diakherat nanti, tidak terkena siksa dan tidak pula pernah mendengar yang namanya Jahanam.
Dari dalam rumah, Ali bin Abi Thalib Ra. Segera keluar dengan mengatakan :
“ Alangkah baiknya jika ibuku dulu tidak pernah melahirkanku kedunia fana ini. Dan alangkah indahnya jika saja aku mati ketika masih kecil. Alangkah baiknya jika aku berupa rumput yang menjadi makanan ternak. Akan lebih baik pula jika saja beberapa binatang buas menerkamku dan merobek seluruh badanku sehingga aku tidak pernah mendengar Jahanam.
Salman Al-farisiy akhirnya tidak tahan lagi memikul beban batin. Iapun keluar berlari menuju pemakaman Baqi’ Al-Gharqad dengan menaruhkan tangan diatas kepala sebagai pertanda kegundahan hati yang tak tertanggung lagi, kemudian berteriak sekuat tenaga :
“ Aduhai, betapa perjalanan hidup ini begitu jauh, namun serba kekurangan bekal untuk menuju kawasan kiamat yang begitu ganas.”
Ditengah perjalan itulah dia disusul oleh Bilal. Dengan terbengong-bengong Bilal bertanya :
“ Wahai saudaraku, Salman Al-farisiy, mengapa hari ini aku lihat engkau berserdih hati ?.”
“ Wahai Bilal, betapa celaka kita, dimana setelah kita berpakaian rapi dan halus ini kita dipaksa memakai baju api neraka. Celaka betul kita wahai Bilal, jika setelah kita berpelukan dengan isteri ternyata disana kita nanti dirantai bersama dengan syetan. Betapa celaka wahai Bilal jika kita nanti menenggak minuman air mendidih yang bernama hamim atau harus dijejali makanan neraka yang disebut zaqqum.
Begitulah kondisi hati kebanyakan pengikut Rasulullah dikala mendengar sebuah ayat Al-Qur’an. Hati mereka masih bersih dan utuh, bukannya hati yang telah remuk dan penuh kotoran. Dari itu Rasulullah mensinyalir bahwa para shahabat beliau itu memang sebuah generasi yang paling baik, generasi dimana setiap individunya merupakan ahli-ahli ibadah, begitu rajin mentelaah Al-Qur’an sekaligus para tentara yang tidak pernah surut dalam memperjuangkan al-haq disamping setiap hari harus menghidupi anak bini mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar