Senin, 28 Desember 2009

Ibnul Mubarak dan Seorang Budak

Ibnul Mubarak dan Seorang Budak


Pada suatu hari Ibnul Mubarak berada di Makah, kebetulan sekali saat itu Makah terlanda paceklik hebat, hujan tidak pernah turun, udara betul-betul terasa memanggang bumi, padahal penduduk kawasan itu telah beberapa kali mengadakan shalat istisqa’ dan berdo’a memohon hujan turun.
Syahdan pada kali yang terakhir ini seluruh penduduk berbondong-bondong menuju Arafah untuk memohon hujan selama satu minggu penuh. Kami pun ikut kesana dengan pakaian seadanya dan membawa serta anak-anak yang masih balita dan ternak sebagaimana anjuran dalam agama.
Namun yang mengherankan ada seorang hitam yang sudah tidak bertenaga lagi. Aku perhatikan dia baik-baik, tampaklah dia melakukan shalat dua raka’at dimana aku pun ikut shalat didekatnya. Maka ketika sujud itu aku merangkak lebih dekat lagi. Ketika itulah aku mendengar dia berdo’a dengan jelas :
“ Wahai Tuhan !, akan tidak kuangkat kepalaku sebelum Engkau menurunkan hujan kepada hamba-hambaMU”. demikian dia bermohon.
Sejenak kemudian, awan yang menyeruak dilangit itu bergulung-gulung dan menyatu kemudian kilat bersahut-sahutan dan turunlah hujan dengan lebatnya. Demi menyaksikan peristiwa ini, dia segera beringsut dan beranjak pergi. Namun hatiku penasaran sekali, ingin rasanya mengetahui keberadaannya lebih dekat. Maka aku ikuti saja dia dalam jarak yang tidak begitu jauh, dimana akhirnya kulihat dia memasuki sebuah rumah yang menjadi agen penjualan budak. Hati ini tambah penasaran dan perasaanku seakan diaduk-aduk, sudah barang tentu dia seorang budak belian. Selanjutnya aku ingin sekali memberi pertolongan terhadapnya dengan apa saja yang aku perkirakan akan meringankan beban hidupnya, terutama dia akan kubeli kemudian kumerdekakan.
Pada hari yang baik, aku sengaja berkunjung kerumah agen budak itu. Setelah salam aku ucapkan kepada empunya rumah, aku dipersilahkan duduk dan ditanya maksud kedatanganku. Maka aku utarakan tujuanku itu.
“ Sesungguhnya aku ingin membeli seorang budak saja agar dia membantu kesibukanku dirumah.” begitu alasanku.
Dengan segera tuan rumah itu menunjukkan tiga puluh budak yang kekar-kekar dimana aku lihat si hitam tadi tidak ada dalam kumpulan itu. Lantas aku tanyakan :
“ Masih adakah yang lain ?.”
Maka tuan rumah itu segera mengatakan :
“ Ya, masih ada satu lagi, namun tampaknya dia tidak bisa dimanfaatkan tenaganya, apalagi dia sangat pelit bicara.”
Segera saja aku ingin ditunjukkan kepadanya, maka dia mengeluarkan budak yang aku maksudkan itu, ternyata memang dia yang aku cari.
“ Berapa harganya yang satu ini ?.” tanyaku.
“ Dua puluh tujuh dinar.” jawabnya.
“ Namun khusus untuk anda akan kupotong harganya menjadi sepuluh dinar saja.” sambungnya lagi.
“ Tidak, budak ini harus aku beli dengan harga layak, aku tidak ingin ada pemotongan harga.” sergahku.
Setelah uang pembayaran aku serahkan kepada tuan rumah itu, hamba itu segera kutarik tangannya kubawa pulang. Dan ketika telah sampai dirumah, dia bertanya kepadaku :
“ Wahai tuan, mengapa tuan membeliku, padahal sebagaimana tuan saksikan sendiri, aku sudah tidak mampu lagi melayani segala keperluan tuan dengan sebaik-baiknya ?.”
Dengan mengatur napas sedemikian rupa dan dengan rendah hati aku mengatakan :
“ Maksudku membeli anda itu tiada lain agar anda tidak menjadi hamba lagi bahkan anda kuangkat menjadi tuan diri saya sendiri.” begitu kataku.
Tampak dia terperangah seraya bertanya :
“ Mengapa tuan bermaksud dan berbuat sedemikian itu ?.”
“ Aku telah mengetahui siapa anda, terutama dalam peristiwa istisqa’ kemarin dimana Allah telah memperkenankan permohonan anda, begitu tinggi kemuliaan anda di sisiNya.” sambung Ibnul Mubarak.
“ Setelah semuanya menjadi jelas, adakah anda ingin memerdekakanku ?.” tanya budak itu lagi.
“ Anda sekarang merdeka dengan ikhlas karena Allah.” sambungku.
Dalam kesempatan inilah aku mendengar suara tanpa rupa yang mengatakan :
“ Wahai Ibnul Mubarak !, berbahagialah anda, Allah telah berkenan mengampuni dosa-dosa anda..” suara itu terdengar jelas sekali.
Namun setelah itu aku lihat hamba tadi mengambil air wudhu diteruskan dengan shalat dua raka’at. Dalam do’anya itu aku dengar dia mengatakan :
“ Alhamdulillah. Ya Allah, Engkau telah memerdekakan diriku dari perbudakan dunia yang kecil ini, semoga Engkau merdekakan pula diri ini dari dari perbudakan neraka yang dahsyat dihari pembalasan nanti.”
Selanjutnya kulihat dia berwudhu dan shalat lagi dua raka’at kemudian menengadahkan tangan seraya berdo’a :
“ Ya Allah. Engkau telah mengetahui bahwa diriku ini telah kupayahkan untuk beribadah kepadaMu selama tiga puluh tahun secara intensif. Padahal Engkau dan aku telah terikat janji bahwa ibadah itu akan terus aku lanjutkan sampai matiku selama Engkau selalu menutupi keadaanku dari penglihatan orang-orang disekitarku. Karena rahasia ini telah terkuak, aku bermohon kepadaMU agar segera saja Engkau mengambil ruhku.”
Belum sampai do’a itu berakhir, dia langsung pingsan. Dalam keadaan seperti itu aku telah berusaha agar dia siuman, namun ternyata dia telah mati. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selanjutnya aku menyibukkan diri untuk merawat jenazahnya hingga selesai pemakaman. Namun karena kondisi tidak memungkinkan, kafan yang aku pergunakan tidak begitu layak. Dan ketika hari mulai larut malam, aku segera tidur pulas. Ketika itulah aku bermimpi melihat seseorang yang sangat tampan dengan pakaian yang begitu bagus, didampingi seseorang yang agak besar dan tampan pula sebagaimana lelaki pertama. Orang itu mengatakan :
“ Adakah anda tidak malu kepada Allah !.”
Setelah itu dia berlalu begitu saja, namun untunglah aku sempat bertanya :
“ Siapa anda ?.”
“ Saya Muhammad Rasulullah dan ini Nabi Ibrahim moyangku.” jawabnya.
Dengan gemetaran aku mengatakan :
“ Bagaimana aku tidak mempunyai rasa malu, dari konsekuensi rasa malu itu telah banyak sekali shalat sunnah yang aku kerjakan wahai Rasulullah.” jawabku berusaha membela diri.
“ Telah mati seorang kekasih Allah dimana kamu tidak memberi kafan sebaik-baiknya.” jawab Rasulullah.
Setelah keesokan harinya, segera saja kuburnya itu aku gali kembali dan aku tambah kafan yang lebih baik dan aku shalatkan lagi kemudian aku kuburkan sebagaimana semula.
Abul Qasim Al-Hakim ditanya :
“ Lebih baik mana antara orang yang berbuat maksiat kemudian bertaubat dari segala kemaksiatannya, ataukah orang kafir yang masuk Islam dengan melepaskan segala bentuk budaya kafirnya ?.”
Beliau menjawab : “ Orang yang bertaubat dari segala bentuk kemaksiatan akan tetap lebih utama, karena orang kafir itu sebelum memeluk Islam akan merupakan orang lain, dia tidak pernah mengenal Tuhan Yang Esa. Sebaliknya orang yang berbuat maksiat itu tetap mengenal Tuhan sebagai sesembahannya. Dengan demikian orang kafir yang memeluk Islam itu hanya berpindah dari orang lain kepada orang arif yaitu mereka yang mengenal Tuhan. Namun orang yang berlaku maksiat itu ketika telah bertaubat akan berpindah dari orang arif kepada sang kekasih atau dapat disebut ahbab sebagaimana firman Allah :
“ Allah sangat menyintai mereka yang bertaubat.”

Rafiq di Bulan Dzil Hijjah

Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf mengatakan bahwa dirinya pernah hidup dengan seorang kawan yang terkenal dengan zuhud dan takwanya, namun dia selalu saja berkamuflase hingga selalu menampakkan diri sebagai orang fasik dan pelaku berbagai kejahatan. Pakaiannya pun disesuaikan dengan aktingnya itu, seringkali dia hanya memakai kaus singlet dengan celana komprangnya hingga terkenal dengan sebutan si penyapu jagad atau dewa pengibas angin. Rambut belakangnya pun di kuncir, sementara yang depan dibentuk jambul jegrak seakan menantang langit. Namun ibadahnya jangan ditanya, dia begitu rajin mengerjakan thawaf hingga aku hitung sudah selama sepuluh tahun ini. Siang hari dia berpuasa memakai methode Nabi Daud As. sehari berpuasa dan sehari berbuka, sementara saya sendiri mengerjakan puasa secara intensif, tiap hari aku berpuasa. Pada suatu kesempatan dia memperolokku :
“ Kawan !, puasamu itu tidak berpahala, sebab nafsumu telah terbiasa dengan puasamu itu hingga tidak ada beban sama sekali dalam menahan haus dan lapar.”
Diperolok demikian itu aku hanya terdiam, memang rasional juga ucapannya itu. Namun jika telah masuk bulan Dzil Hijjah, dia akan berpuasa sepenuhnya dan mencari tempat yang sepi, biasanya dia akan menuju ke hutan.
Pada suatu hari aku diajak ke Tharsus. Demi rasa setia kawanku, aku mengikuti saja ajakan itu kendati perjalanan itu ditempuh dengan berjalan kaki melintasi padang sahara yang betul-betul sulit. Dalam perjalanan itu tiba-tiba saja dia jatuh sakit, ini betul-betul suatu penderitaan yang tak terbayangkan lagi kesulitannya, siapa yang akan dimintai bantuan, bekal pun telah menipis dan tidak ada persiapan obat-obatan sama sekali. Dalam beberapa jam saja akhirnya dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Hal ini menambah kebingunganku lagi. Akhirnya aku terpaksa menuju suatu desa yang aku perkirakan paling dekat untuk mendapatkan kafan serta meminta bantuan menandu agar sempat kumadikan dan kukafani.
Setelah aku mamasuki sebuah desa, betapa takjubku, masyarakat disitu telah mebicarakan kematiannya bahkan kepala suku telah memerintahkan seluruh penduduk mempersiapkan keranda untuk mengusung kawanku itu.
“ Saudara-saudaraku, ditengah padang pasir sana telah wafat seorang kekasih Allah, figur yang ahli zuhud dan ahli beribadah, segeralah kalian kesana.”
demikian himbauan kepala suku itu.
Ketika itulah aku berhasil mendapatkan kafan dan minyak wangi secukupnya di sebuah toko perkampungan, kemudian aku segera kembali ke tempat kawan yang kutinggalkan itu. Namun betapa mengherankan, disitu telah banyak orang berdatangan dan berkumpul disekitar jenazah itu hingga aku sendiri kesulitan untuk menyibakkan mereka. Setelah bersusah payah akhirnya aku sampai juga didekatnya. Lebih takjub lagi, disekitar jenazah itu banyak orang bersedu sedan menangisi kepergiannya.
“ Siapa yang memberi tahu mereka !”. gumamku.
Yang mengherankan lagi, disitu telah tersedia kafan hijau yang sangat indah, tidak pernah kulihat kain seindah itu dan kedua belah tepinya bertuliskan :
“ Inilah balasan mereka yang selalu memilih ridha Allah dari pada memperturutkan kehendak nafsunya sehingga Allah sangat mengharapkan bertemu dengannya.”
Setelah prosesi jenazah dilakukan seluruhnya sampai penguburannya, aku merasa penat sekali dan terpaksa merebahkan diri disebuah mushalla kecil hingga tertidur pulas. Dalam tidur itulah aku bermimpi melihat dia sedang menunggang kuda berwarna hijau, dia pun dengan gagahnya mengenakan pakaian hijau, sedangkan ditangan kanannya berkibar panji-panji dan dibelakangnya berdiri seorang pemuda yang begitu tampan dan semerbak baunya. Dibelakangnya lagi terdapat dua orang lelaki yang sudah berumur. Maka segera saja kawanku itu kutanya :
“ Siapa mereka ?.”
“ Pemuda yang paling depan itu Nabi Muhammad Saw. sedangkan dua orang tua dibelakangnya itu Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab Ra. Dan dibelakangnya lagi shahabat beliau Utsman dan Ali Ra. Aku sendiri sebagai pemegang panji-panji mereka kemana pun mereka pergi.” begitu jawab kawanku tadi.
“ Kemana mereka pergi ?.” tanyaku lagi.
“ Untuk berziarah ketempatku.” jawabnya singkat.
“ Mengapa kau begitu terhormat, amal apa yang menjadikan dirimu semulia itu ?. cecarku lagi.
“ Wahai kawan, hanya ada dua amal yang begitu intensif saya lakukan. Pertama, aku selalu memilih jalan hidup yang diridhai Allah kendati harus mengorbankan kepentinganku sendiri. Kedua, aku selalu berpuasa sepuluh hari bulan Dzil Hijjah.” tukas kawanku mempesona.
Setelah itu aku terjaga dengan perasaan yang amat kagum. Dan sejak kejadian itu, tidak pernah lagi aku tinggalkan puasa bulan Dzil Hijjah, dan semaksimal mungkin telah kuusahakan agar hidupku selalu meniti pada jalan yang diridhai Allah sampai aku menghadap diharibaanNya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar