Minggu, 27 Desember 2009

Jamur Merah Bertuah

Jamur Merah Bertuah



Obat bertuah selalu dicari orang. Namun, apakah manfaatnya juga disertai risiko atau bahaya? Konsep pengobatan yang berbeda ternyata menuntut pemahaman yang berbeda pula. Bagaimana dengan jamur ganoderma atau ling zhi ini?
Di tahun 1980-an, sudah menjadi kebiasaan orang-orang kampung di Negeri Kedah, Malaysia bagian utara, untuk berburu jamur di hutan. Di tempat lembap dan batang pohon yang tumbang, pasti ada jamur jenis itu. Setelah dipetik, lalu dijemur dan dibakar. Abunya dicampur dengan minyak kelapa untuk obat oles luka atau penyakit kulit. Bisa juga diaduk dengan madu untuk diminum bagi penderita asma, juga mengusir penat. Setelah diteliti Lim Siow Jin, jejaka anak sinshe, insinyur teknik sipil dari Institut Teknoogi India, ternyata jamur itu dari marga ganoderma.
Bagi orang awam, ling zhi (demikian jamur kayu itu disebut sejak abad XI, atau reishi di Jepang, atau ganoderma) barangkali tak terlalu bergaung. Jamur panjang umur ini dalam sejarah pengobatan dan budaya Cina disebut juga jamur spiritual karena khasiatnya dipandang melampaui batas-batas kesejahteraan fisik.
Sinshe mana pun tahu jamur ini, karena dalam buku pegangan medik setiap dinasti di negeri itu, ling zhi selalu disebut. Catatan terlengkap dibuat oleh Li Shih chen di masa dinasti Ming, yang menghabiskan 26 tahun hidupnya untuk menyusun Ben Cao Gang Mu, kamus besar ilmu pengobatan Cina.
Oleh Siow Jin jamur ini diteliti lebih lanjut, meskipun untuk membiayainya dia rela hidup sederhana sampai-sampai VW kodoknya ikut amblas dijual. Setelah, sekitar 10 tahun, barulah bisa disimpulkan ganoderma tidak mengandung racun bila dikonsumsi.

v Di Jepang untuk Obat Kanker
Keampuhan jamur ini sampai di telinga ahli herbal Kanada, Dr. Terry Willard. Dibantu Kenneth Jones dalam melakukan penelitian ilmiah. Willard pun bekerja bagai detektif meneliti dan mencari kesinkronan antara khasiat ganoderma seperti didengarnya di alam mitos dan fakta di dunia ilmu pengetahuan, yang kemudian dituangkan dalam sebuah buku menarik berjudul Reishi Mushroom (Sylvan Press, 1990).
Di dalam jamur itu ternyata ditemukan kandungan polisakarida amat tinggi yang dapat mendongkrak daya tahan tubuh, sampai-sampai beberapa klinik di San Francisco menggunakannya untuk merawat penderita AIDS.
Pada 1979, secara tidak sengaja peneliti di Polandia menemukan manfaat ganoderma dalam riset tentang antivirus. Di Institut Mikrobiologi dan Biokimia Universitas M. Curie-Sklodowska, ditemukan bahwa injeksi intravena berkali-kali ribonucleic acid (RNA) dari G. applanatum pada tikus percobaan sebelum diberi dosis mematikan virus ensefalitis, ternyata memperpanjang usia binatang tersebut. Itu terjadi karena RNA mendorong produksi interferon di tubuh tikus. Interferon adalah zat yang dikeluarkan oleh tubuh untuk melindungi diri terhadap serangan virus. RNA ini juga ditemukan dalam tubuh buah G. lucidum, bahkan dalam tingkat lebih tinggi di miseliumnya, yaitu struktur berbentuk benang yang menjadi cikal bakal pertumbuhan jamur.
Peneliti dari OHAI (Oriental Healing Arts Institute) di Taiwan menemukan, tikus percobaan yang diberi saripati air ganoderma 48 jam sebelum diinjeksi bakteri E. coli yang mematikan, ternyata 60 - 85%-nya tetap hidup, sementara kelompok kontrol 100% tewas. Menurut mereka, ini berkat polisakarida. Mengapa bisa demikian? Ternyata, menurut hasil penelitian di Beijing, polisakarida meningkatkan RNA dan DNA di sumsum tulang belakang, pabrik sel B (limfosit) yang akan memproduksi antibodi.
Peneliti di Beijing menyimpulkan, polisakarida dari ganoderma, yang sebagian besar terdiri atas asam amino dan polisakarida dengan bobot molekul rendah, menyebabkan semakin aktifnya macrophagus menelan sel-sel asing, dalam percobaan pada tikus. Bahkan peneliti di Institut Penelitian Obat di Toyama, Jepang, menemukan, saripati G. applanatum memperkuat respons yang dikeluarkan antibodi, khususnya immunoglobulin G (IgG) dengan cara memperkuat "memori" sel T.
Seperti diketahui, IgG terdiri atas antibodi-antibodi di dalam serum manusia yang memperluas terjadinya phagocytosis (aksi menelan sel oleh sel-sel kekebalan tertentu) dan menetralkan racun. Defisiensi IgG dikaitkan dengan infeksi berulang-ulang pada saluran pernapasan. Ini cocok dengan kenyataan di lapangan, di bidang pengobatan tradisional Cina, di mana ganoderma paling umum dimanfaatkan untuk mengobati penyakit yang berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan. Berkaitan dengan pengobatan kanker, di Jepang, si jamur merah ini diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai salah satu zat untuk mengatasi kanker.

v Peringatan Dari POM
PUKO (Pusat Uji Klinik Obat) memang lembaga yang bertugas meneliti efek-tivitas dan ada-tidaknya efek sampingan pada obat. Namun, perintah untuk ditelitinya produk tertentu harus turun dari Depkes, dalam hal ini POM. Berkaitan dengan kasus ini, Januari lalu Dirjen POM Drs. Sampurno, MBA dalam suatu konferensi pers menyatakan pihaknya sedang dalam tahap pengumpulan data. Diakuinya, ada tiga pengaduan langsung via telepon mengenai produk ganoderma Daxen (atau DXN), di samping ada pula yang lewat laporan dokter, yang semuanya sedang dalam pengawasan tim pemantau.
Pihak Dirjen POM juga mengeluarkan public warning bagi masyarakat umum. Khasiat kapsul RG dan GL DXN yang terdaftar di bawah kategori Obat Tradisional Asing ini (sesuai dengan klaim pihak produsen yang disetujui pihak POM saat mendaftarkan kedua produk itu) adalah "melancarkan peredaran darah untuk menyeimbangkan metabolisme tubuh" (bagi kapsul RG) dan "melancarkan peredaran darah sampai ke cerebraf (bagi kapsul GL). Maka pihaknya menyesalkan bila produsen mengklaim khasiat produknya melebihi dari yang sudah disetujui saat pemberian nomor registrasi oleh POM.
Nomor telepon, hotline dan faks bahkan disediakan bagi yang merasa dirugikan oleh penggunaan produk ganoderma DXN. Tentu laporan itu harus disertai bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan berikut jatidiri pelapor.
Lebih jauh lagi, untuk melindungi masyarakat dari produk-produk berbahaya, POM sedang mengkaji untuk mempersiapkan peraturan perundang-undangan yang melarang obat, obat tradisional, dan makanan kesehatan dipasarkan dengan sistem Multi Level Marketing (MLM). Ini karena, sistem pemasaran MLM dilakukan door to door, tidak melalui jalur distribusi yang lazim (sehingga menyulitkan pengawasan dan info yang disampaikan kepada pihak konsumen cenderung berlebihan.

v Kapsul yang Berpasangan
Untuk membudidayakannya, Siow Jin memilih sistem penanaman organik dengan teknologi kultur jaringan dengan media tanam bernutrisi tinggi, seperti sekam atau beras, Pupuk kimia sama sekali dijauhi apalagi insektisida, karena dipandang membawa pengaruh negatif bagi kesehatan.
Awam biasanya mengkonsumsi ganoderma dengan cara merebus. Namun, Siow Jin yakin, pamanasan mengurangi khasiat jamur ini. Dipilihnya sistem pengeringan dalam suhu rendah. Setelah kering, ganoderma dihancurkan, lalu dimasukkan dalam mesin pemisah spora dari daging jamur. Spora diambil, daging jamur dibuang. Dinding spora kemudian dipecahkan karena yang diambil hanya inti spora supaya lebih mudah diserap ketika dikonsumsi manusia. Teknik pemecahan dinding spora itu, menurut pengakuan Siow Jin, asli temuannya bersama tim penelitinya.
Diakuinya, penyemaian spora sampai menjadi jamur menuntut tingkat sterilitas tinggi. Kamar persemaian harus steril, dengan cahaya dan kelembapan terkontrol. Sporanya pun diekstraksikan tanpa air dan alkohol. Dengan teknik demikian, dari 20 kg ganoderma segar dihasilkan 1 kg serbuk kering, yang menjadi 3.000 - 3.500 kapsul. Dari saat .meletakkan benih sampai jamur siap dipetik, dibutuhkan waktu 2,5 - 3 bulan,
Tahun 1993 kapsul ganoderma mulai dipasarkqn insinyur yang dua tahun lalu meraih gelar doktor dalam bidang pengobatan holistik dari Dewan Pengobatan Alternatif India ini di bawah bendera DXN (singkatan dari Daxen). Pemasarannya, yang menggunakan sistem MLM, dengan cepat berkembang dari Kedah ke seluruh Malaysia, kemudian Singapura, Brunei, Thailand, dan Indonesia. Tidak mengherankan bila keanggotaan distributor mereka telah mencapai 400.000 orang dengan omzet per bulan lebih dari RM 10 juta dan di Malaysia termasuk nomor tiga terbesar.
Kapsul ganoderma DXN dikonsumsi berpasangan: 1 kapsul RG (Reishi Gano) merupakan saripati jamur G. Jucidum usia 18 hari matang, dan 1 kapsul GL (Ganocelium), yang berbahan miselium dari jamur sama. Fungsi keduanya, menurut Siow Jin, bersifat komplementer. RG mendeteksi penyakit, membersihkan racun, menyeimbangkan fungsi tubuh, memulihkan kesehatan yang pada gilirannya akan mem-bantu membuat konsumennya awet muda. Sedangkan GL lebih bersifat mendukung ka-rena kandungan vitamin dan zat aktifnya lebih pekat.
Untuk memahami cara ker-janya, mungkin perlu dipa-hami dulu konsep pengobatan yang melatarbelakanginya. "Ada tiga macam pengobatan: modern atau Barat, herbal (macam pengobatan menurut cara tradisional Cina), dan holistik. Bidang keahlian saya adalah pengobatan holistik," tutur Slow Jin.
Jangan tinggalkan dokter
Pada pengobatan modern dan herbal, dokter atau tabib meneliti - adanya gejala penyakit. Gejala A diterapi dengan obat A, gejala B dengan obat B, dan seterusnya. Namun, praktisi holistik melihat, hanya dua hal yang menyebabkan orang sakit: kalau bukan ra-cun, tentu ketidakseimbangan di dalam tubuh, sehingga organ-organ tubuh tidak dapat berfungsi dengan sempurna. Fungsi paru-paru, pertama untuk bernapas, kedua untuk menyimpan air. Bila fungsi kedua ini terlampau kuat, orang yang bersangkutan akan terserang batuk dengan banyak dahak. Sebaliknya, bila seseorang kekurangan air, ia akan menderita sakit tenggorokan, tenggorokan menjadi merah karena radang.
Maka tabib holistik tidak mencari gejala penyakit seca-ra spesifik. Yang dilakukannya hanya membuang racun dan menyeimbangkan kembali sistem tubuh penderita. Oleh Siow Jin, fungsi pertama itu dilaksanakan oleh kapsul RG, fungsi kedua oleh kapsul GL.
Sesuai dengan yang tersi-rat dari istilah holistik, para pelgku pendekatan holistik percaya, pendekatan terpadu-lah yang terbaik. Jadi kita tak dapat bilang I mau berobat dengan cara holistik saja, tak mau cara herbal atau modern. Bila ia mempunyai tumor, bukankah tumor itu perlu dioperasi? Jadi bila karena mengkonsumsi RG dan GL, obat dokter ditinggalkan, itu salah," jelasnya lebih lanjut.
Sayang sekali, pada praktiknya sulit memantau apa yang diutarakan para distributor MLM kepada para colon pembeli. Apakah pihak manajemen perusahaan DXN dapat menjamin, pesan-pesan yang mereka sampaikan me-lalui pelatihan bagi para distributor, diterima dengan sama baiknya seperti yang diharapkan, mengingat tingkat pendidikan dan keluasan wawasan yang amat berbeda-beda di antara para distributornya?
Dr. H. Moh. Nasrun, M.A.R.S, Medical Adviser & Consultant Dept. Manager pada DXN Indonesia menuturkan perkenalannya dengan ganoderma DXN sebagai sebuah testimoni. "Waktu itu sudah 12 tahun saya diganggu migren, sampai harus minum tiga macam obat secara rutin. Kalau kena, saya bisa menderita selama 2 - 3 hari. Setelah dua minggu minum kapsul RG & GL, saya mulai merasakan bedanya. Satu tahun berlalu, saya tidak pernah lagi kena serangan migren. Tindak balas yang saya alami: bibir kering dan pecah-pecah."
Namun, sebagai dokter ia tetap menekankan perlunya ditanamkan pada konsumen dan distributor bahwa orang tidak boleh meninggalkan pengawasan dokter.
Banyak konsumen ganoderma yang lupa kepada dokter, padahal perjalanan penyakit mereka tak dapat diketahui tanpa pengawasan dokter. Misalkan penderita hipertensi, akibat mengkonsumsi ganoderma mungkin merasa lebih segar karena oksigenisasinya lebih baik. Namun, sejauh mana hipertensinya telah membaik, yang tahu dokter. Saya khawatir, karena terlampau percaya diri, penderita lalu mengkonsumsi makanan yang terlarang bagi penderita hipertensi, seperti sate kambing atau diet tinggi garam. Padahal tekanan darahnya masih tinggi. Maka hipertensinya tidak kunjung sembuh, malah bisa kena stroke.
Terus terang diakuinya, kecenderungan fanatisme para distributor DXN harus diluruskan. Dikhawatirkan, fanatisme itu dapat berakibat fatal bila terkait dengan kasus penyakit yang berbahaya. Konsumen pun tak boleh lupa bahwa ganoderma hanya salah satu faktor yang membuat kesehatan lebih baik. Konsumen tetap perlu berolahraga dan menjalankan pola hidup yang baik.

v Efek Sampingan
Apakah kekhawatiran dr. Nasrun itu terjadi di depan Prof. Iwan Darmansjah, D.S.F.K, yang kebetulan juga kepala Pusat Uji Klinik Obat (PUKO) Departemen Kesehatan RI?
"Memang, saya menjumpai seorang pasien saya yang menderita kebutaan akibat niftum ganoderma DXN. Ia minum tiga pasang. Kebutaannya itu sembuh setelah empat minggu," kata Iwan. "Selain itu, ada lagi dua pasien dokter lain yang terserang stroke, yang saya curigai juga akibat minum produk ini."
Ketika ditanya apakah ia telah melakukan penelitian, Iwan menjawab, "Belum. Justru hasil observasi ini merupakan awal dari kerja saya. Memang menjadi tugas saya untuk melaporkan temuan saya kepada Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan dan mengusulkan untuk melakukan pengujian terhadap produk ini. This is a potent drug dan obat yang kuat biasanya mempunyai efek sampingan."
Di satu sisi ia tak menampik kemungkinan produk ini mempunyai kebaikan, namun ia pun berharap pihak produsen tidak mengabaikan begitu saja efek sampingan yang telah ia observasi. "Kalau benar produk ini bekerja dengan membuang racun, barangkali pada kasus tertentu bisa saja ia merontokkan trombus (bekuan darah), lalu trombus ini merontokkan embolus (bekuan. darah atau sumbatan lain). Kemudian terjadi penyumbatan dan loss of function. Ini perlu diteliti," ujarnya.
Siow Jin sendiri, yang menyebut produk kapsul ganoderma-nya sebagai makanan kesehatan, berpendapat produknya sama sekali tak menimbulkan efek sampingan. Yang ada hanyalah "tindak balas" yang sebenarnya adallah proses pengaktifan sistem kekebalan tubuh penderita.
Penderita gangguan lever yang minum ganoderma DXN akan merasa pening karena sistem kekebalan tubuhnya sedang melakukan penyeimbangan fungsi levernya. "Pening ini tak dapat disebut efek sampingan,” kilahnya, "karena yang merasakannya hanya penderita gangguan lever. Sedangkan penderita asma akan batuk-batuk samipai muntah dan di dalam muntahnya ada dahak."
Terry Willard sendiri mengklaim bahwa berdasarkan telaah klinis, efek sampingan yang berat tidak pernah ditemukan. Yang umum terjadi adalah ruam kulit, diare, mulut terasa kering, atau perut sedikit mual. Menurut pengamatannya, semua efek sampingan lenyap dalam waktu satu minggu. Tak heran bila ia lebih melihatnya sebagai reaksi pembersihan.
Kendati demikian, pandangan dr. Nasrun sebagai praktisi medis dan peringatan Dr. Lim Siow Jin sebagai produsen tetap patut diketengahkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar