Senin, 28 Desember 2009

Jin Gununng Thursina Bertemu Rasulullah Saw.

Jin Gununng Thursina Bertemu Rasulullah Saw.


Ketika Islam masih dalam tahap permulaan, pada suatu hari Rasulullah berkumpul bersama Ali bin Abi Thalib serta para shahabat yang lain. Namun tiba-tiba datanglah seseorang, kemudian dia bertanya :
“ Mana yang bernama Muhammad ?.”
Kami segera menunjuk ke arah Rasulullah Saw.
“ Wahai Muhammad, apakah anda yang memberi tahu terlebih dahulu mengenai apa yang diperintahkan Allah Tuhanmu, atau aku yang memberitakan apa yang diperintahkan berhalaku ?. tawar lelaki itu.
“ Bahkan saya yang mengabarkan lebih dahulu.” sergah Rasulullah Saw.
Kemudian Rasulullah Saw. menerangkan bahwa Islam itu berdiri tegak diatas lima landasan, disebutnya satu persatu sampai akhirnya.
“ Wahai Muhammad, saya bernama Ghisan bin Malik Al-‘Amiri. Suku kami memiliki sebuah berhala dimana setiap bulan Rajab pasti menyembelih binatang dihadapannya sebagai rasa bakti kami kepadanya. Namun beberapa hari yang lalu seorang lelaki yang bernama ‘Isham menyembelih kurban pula. Dan tiba-tiba saja terdengar suara dari dalam berhala itu yang mengatakan :
“ Wahai ‘Isham, Islam telah datang dan seluruh berhala akan hancur, kehidupan akan tertata lebih baik, tali persaudaraan akan menjadi lebih erat kembali dan kebenaran yang hakiki akan menang, wassalam.” begitu berhala itu bersuara.
Setelah mendengar suara itu, dengan girang ‘Isham pergi menuju kaumnya mengabarkan apa yang terjadi hingga berita itu meluas kesegala penjuru, wahai Rasulullah.
Setelah peristiwa pertama itu berlalu, maka seorang yang bernama Thariq juga menyembelih kurban didekat berhala itu. Sebagaimana kejadian yang pertama, berhala itupun bersuara lagi dengan mengatakan :
“ Wahai Thariq, Nabi yang benar telah diutus, wahyu yang terang telah diterimakan dari Dia Yang Maha Mulia.”
Setelah kejadian itu, Thariq juga segera memberi tahu kepada seluruh anggota suku kami hingga kabar mengenai keberadaanmu itu menjadi kuat, wahai Rasulullah. Namun sebagian orang masih banyak yang meragukan disamping banyak pula yang membenarkan bahkan ada pula yang mendustakan.
Kemudian tiga hari yang lalu aku sendiri menyembelih kurban didekat berhala itu pula dimana setelah pedang kuangkat, aku dikejutkan oleh suara berhala itu. Dengan lantang sekali dia mengatakan :
“ Wahai Ghisan, kebenaran telah datang dibawa oleh seorang Nabi dari Bani Hasyim dikawasan Tihamah. Bagi yang memperkuat akan terjamin keselamatannya, dan bagi yang menghinakan akan menuai penyesalan.. Seorang Nabi yang selalu mengajak kepada kebajikan dan kebenaran. Agamanya tidak akan terganti sampai hari kiamat tiba. Setelah ucapan itu selesai, berhala itu terangkat keatas lalu jatuh berserakan ketanah, wahai Rasulullah !.”
Ketika mendengar penuturan Ghisan ini para shahabat bertakbir serentak “ Allahu Akbar ”. Begitu Ghisan melihat sambutan yang begitu baik, segera saja dia bersyair dan berdendang menumpahkan suka citanya.
Assabiqunal Awwalun atau orang-orang yang memeluk Islam pada tahap permulaan yaitu Khadijah, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Qamariyah, Hamzah, Utsman bin Affan, Zuhair, Abu Ubaidah bin Jarrah, Thalhah dan Zubair bin Awwam, namun mereka belum berani menampakkan ke Islamannya. Barulah setelah Jibril turun menyuruh Rasulullah untuk menyiarkan Islam, maka beliau naik ke gunung Abi Qubais seraya menyeru :
” Wahai orang-orang Quraisy, ucapkanlah la ilaha illal’Lah Muhammadur Rasulullah.” Ketika itu baru timbul reaksi dimana mereka berkumpul di Darun Nadwah sebuah balai pertemuan mereka untuk bermusyawarah mengenai tindakan apa yang patut dilaksanakan dalam menyiasati ajaran Rasulullah itu. Mereka pun mengatakan :
“ Sekarang Muhammad telah berani memperolok tuhan-tuhan kita yang berjumlah 360 itu.”
Para pemimpin Quraisy diantaranya Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin Al-Harits, Shafwan bin Umayah, Ka’ab bin Asyraf, Aswad bin Abdi Yaghuts, Shakhr bin Al-Harits, Kinanah bin Rabi’, dimana salah seorang diantara mereka mengatakan :
“ Mungkin Muhammad menginginkan harta benda dalam menyebarkan pengaruhnya itu.”
Persepsi seperti ini tidak ditanggapi mereka. Dan diarah yang lain malah melontarkan tuduan bahwa Rasulullah itu termasuk ahli sihir, penghipnotis ulung, pendusta dan penyair berbobot.
Setelah itu mereka meminta pendapat Walid :
“ Bagaimana pandangan anda untuk menghandel gerak Muhammad itu ?.”
“ Aku belum memiliki suatu siasat yang jitu untuk mematikan langkahnya.” begitu jawab Walid.
Dengan serta merta mereka itu menuduh Walid berkomplot dengan Rasulullah, hingga dia tampak benar-benar marah diprediksi sedemikian rupa. Selanjutnya dia segera bangkit seraya mengatakan :
“ Tunggu tiga hari lagi, akan kalian temukan jawabannya.” sergah Walid dengan mendongkol dan keluar daeri balai itu. Dan secepatnya pula dia kembali kerumah bersimpuh dihadapan dua berhalanya. Berhala yang begitu artistik terbuat dari pernik-pernik mutiara, emas, perak dan berbagai macam permata. Kemudian berhala itu dia beri pakaian indah lantas disembah dengan begitu khidmat selama tiga hari tiga malam hingga tidak sempat makan dan minum. Dibiarkannya anak bininya ketika itu. Dan setelah genap tiga hari, dia mengatakan :
“ Demi penyembahanku kepadamu selama tiga hari berturut-turut ini, hendaklah kalian berdua mengatakan suatu pendapat mengenai ajaran Muhammad, wahai berhala !.”
Disaat itulah seorang jin memasuki rongga berhala seraya mengatakan :
“ Muhammad itu bukan seorang Nabi, jangan kau benarkan dia.” begitu berhala itu berucap.
Mendengar jawaban ini Walid kegirangan bukan kepalang. Maka dengan segera dia menyebarkan fatwa berhala itu keseluruh penjuru hingga banyak orang yang mengelu-elukan Walid.
Demi mendengar berita itu, Rasulullah bertambah sedih menanggung penderitaan batin yang tak terperikan. Ketika itulah Jibril turun dengan mengatakan :
“ Celaka benar orang yang menyebarkan berita bohong itu.”
Perkataan Jibril ini oleh seorang shahabat disampaikan pada Walid, namun dia malah terkekeh-kekeh seraya mengatakan :
“ Peduli amat, persetan dengan ucapan itu.” jawabnya ketus.
Dilain hari banyak lagi orang kafir yang berkumpul dirumah Walid untuk menyembah berhala. Kali ini mereka mengagungkan Hubal. Mereka pun bersimpuh, bersujud dan menaruhkan berbagai pakaian indah. Dengan pongahnya mereka juga mengundang Rasulullah Saw. untuk mendengarkan fatwa tuhan mereka. Maka Rasulullah pun datang bersama Abdullah Ibnu Mas’ud hingga duduk diantara mereka. Setelah beberapa saat, masuklah jin yang bernama Musfir kedalam berhala itu kemudian memperolok Rasulullah sejadi-jadinya.
Ketuka mendengar suara berhala itu, Ibnu Mas’ud terbengong-bengong seraya mengadu kepada Rasulullah :
“ Bagaimana upaya kita wahai Rasulullah ?.”
“ Biarkan saja, janganlah kau berkecil hati, yang berkata itu syetan yang memasuki rongga berhala. “ jawab Rasulullah.
Dengan hati yang tercabik-cabik, Rasulullah pun pulang. Namun ditengah perjalanan beliau bertemu dengan seorang yang menunggang kuda dan mengenakan pakaian serba hijau. Setelah mengucapkan salam, dia pun turun dari kudanya kemudian ditanya Rasulullah :
“ Siapa anda wahai penunggang kuda, ucapan salam anda bertul-betul menakjubkan ?.”
“ Saya dari golongan jin, dimana saya telah masuk Islam sejak zaman Nabiyullah Nuh As. Saat ini perkenankanlah saya untuk mengajukan permasalahan saya.” pinta bangsa jin itu.
“ Oh, silahkan, mungkin saya bisa membantu.” begitu hjawab Rasulullah.
“ Pada suatu hari aku mengadakan perjalanan yang cukup jauh, namun ketika pulang, kudapati isteriku tiada henti-hentinya menangis. Kutanya dia apa yang menjadi pangkal kesedihannya itu, padahal selama ini tidak ada persoalan denganku.” begitu tanyaku.
“ Wahai suamiku, tidakkah engkau lihat, Musfir telah memperolok Rasulullah sejadi-jadinya melalui berhala Walid.” begitu isteriku mengadukan.
Sejenak kemudian, Musfir kukejar hingga kutemukan dia berada diantara Shafa dan Marwah. Maka langsung saja dia aku lumpuhkan dan kuhajar sampai babak belur, sebagai bukti, ini darahnya masih melekat dipedangku, sekarang dia sekarat disana dengan badan menyerupai anjing.
Rasulullah tampak berseri-seri mendenga kabar ini hingga sempat mendo’akannya dengan kebaikan, kemudian beliau bertanya :
“ Siapa nama anda ?.”
“ Muhair bin ‘Abhar, aku bertempat digunung Thursina.” begitu jawab bangsa jin.
“ Izinkanlah aku untuk memasuki badan berhala dan memperolok orang-orang kafir sebagaimana Musfir berbuat seperti itu kepada engkau, wahai Rasulullah !.”
“ Silahkan, silahkan saja.” sahut Rasulullah.
Pada hari yang lain, orang-orang kafir pun berkumpul lagi menyembah berhala Hubal, tidak lupa pula Rasulullah diundang untuk menyaksikan fatwa berhala mereka itu. Mereka pun memberikan pakaian yang begitu indah dan tidak lupa menyapukan minyak wangi paling mahal lantas dengan serentak bersujud sedemikian rupa. Dan setelah prosesi itu selesai, mereka mengatakan :
“ Wahai Hubal, gembirakan hati kami dihari yang bahagia ini dengan cara memperolok dan menghujat Muhammad.” begitu pinta Walid.
Seketika itu pula Hubal mengatakan :
“ Wahai penduduk Makkah, ketahuilah bahwa Muhammad merupakan seorang Nabi yang membawa kebenaran, agamanya juga benar, dia mengajak kalian kepada kebenaran. Sedangkan kalian dan berhala-berhala kalian ini merupakan perkara batil. Jika saja kalian tidak mau beriman, tidak pula membenarkan ajarannya, kalian jelas akan kekal dalam Jahanam selama-lamanya. Segeralah kalian beriman kepada Muhammad, dia merupakan Nabi Allah dan makhluk yang terbaik.”
Demi mendengar ucapan ini, betapa geram Abu Jahal, mukanya merah padam, dia segera bangkit mendepak berhala itu hingga jatuh berantakan ditanah. Tampaknya belum puas jua, kemudian puing-puing itu dibakar hingga menjadi abu.
Dengan langkah tenang dan wajah yang berseri-seri, Rasulullah kembali kerumah dengan tanpa adanya gangguan seorangpun. Kemudian beliau mengganti nama Muhair si bangsa jin itu dengan nama yang lebih baik – Abdullah bin’Abhar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar