Selasa, 29 Desember 2009

Keluarga, Tanggung Jawab Siapa?

Tanggung Jawab Siapa?


Seringkali kita dengar orang-orang yang membangun karir bertahun-tahun akhirnya terpuruk oleh kelakuan keluarganya. Ada yang dimuliakan di kantornya tapi dilumuri aib oleh anak-anaknya sendiri, ada yang cemerlang karirnya di perusahaan tapi akhirnya pudar oleh perilaku istrinya dan anaknya. Ada juga yang populer di kalangan masyarakat tetapi tidak populer di hadapan keluarganya. Ada yang disegani dan dihormati di lingkungannya tapi oleh anak istrinya sendiri malah dicaci, sehingga kita butuh sekali keseriusan untuk menata strategi yang tepat, guna meraih kesuksesan yang benar-benar hakiki. Jangan sampai kesuksesan kita semu. Merasa sukses padahal gagal, merasa mulia padahal hina, merasa terpuji padahal buruk, merasa cerdas padahal bodoh, ini tertipu!
Penyebab kegagalan seseorang diantaranya, karena dia tidak pernah punya waktu yang memadai untuk mengoreksi dirinya. Sebagian orang terlalu sibuk dengan kantor, urusan luar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh. Karena orang tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan.
Sebagian orang hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya.
Oleh karena itulah, jikalau kita ingin sukses, mutlak bagi kita untuk sangat serius membangun keluarga sebagai basis (base), Kita harus jadikan keluarga kita menjadi basis ketentraman jiwa. Bapak pulang kantor begitu lelahnya harus rindu rumahnya menjadi oase ketenangan. Anak pulang dari sekolah harus merindukan suasana aman di rumah. Istri demikian juga. Jadikan rumah kita menjadi oase ketenangan, ketentraman, kenyamanan sehingga bapak, ibu dan anak sama-sama senang dan betah tinggal dirumah.
Agar rumah kita menjadi sumber ketenangan, maka perlu diupayakan:
§ Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur'an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah, dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.
§ Seisi rumah Bapak, Ibu dan anak harus punya kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.
§ Rumah kita harus menjadi "Rumah Ilmu" Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.
§ Rumah harus menjadi "Rumah pembersih diri" karena tidak ada orang yang paling aman mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebarkan tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain.Oleh karena itu,barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluar banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.
§ Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik. Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya.
Kalau saran-saran semacam itu masih diabaikan, bisa jadi dunia di sekitar kita makin ancur-ancuran, full maksiat. Bahkan perilaku double stereo - shalat yes, maksiat juga bablas - akan jadi fenomena baru yang bikin geleng kepala. Siapa yang harus bertanggungjawab mengatasinya?

v Tanggungjawab diri
Allah telah mengilhamkan dalam setiap jiwa manusia potensi negatif (fujur) dan potensi positif (taqwa). Adalah menjadi tanggungjawab setiap diri untuk menyelamatkan akar ilahiyah (fitrah kesucian) tersebut dari pengaruh buruk, baik faktor ekstrinsik (luar) mau pun faktor intrinsik (dalam).
Kita bertanggungjawab atas amanah Allah swt berupa akal, pendengaran, penglihatan, usia, harta, ilmu dan sebagainya. Di hadapan Allah kelak di Padang Masyar, kita sendirian menghitung semua amal baik dan amal buruk yang kita perbuat di dunia. Kita tidak bisa menimpakan kesalahan kita pada siapa pun.
Ashabul Kahfi bersembunyi dan kemudian Allah tidurkan selama 309 th di dalam gua karena ingin menyelamatkan akidah mereka dari penguasa yang zalim dan kondisi masyarakat yang bergelimang maksiat. Asiah, istri Firaun, dan Masyitah, tukang sisirnya, tetap teguh dengan keimanannya meski berada di pusat kemaksiatan.

v Tanggungjawab kepala keluarga
Allah swt telah perintahkan orangorang beriman agar menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Dalam konteks umum, peran ini dijalankan oleh laki-laki. Sebagai bapak, ia bertanggungjawab atas penjagaan fitrah anak-anaknya dan sebagai suami, ia bertanggungjawab membimbing, membina dan mengarahkan istrinya pada jalan surga. Tanggungjawabnya meliputi tanggungjawab pemenuhan kebutuhan fisik, emosional, intelektual dan spiritual untuk anak-anak dan istrinya.

v Tanggungjawab Istri
Dalam praktiknya, keshalihan kolektif dalam keluargaakan terwujud manakala terdapat keseimbangan tanggungjawab suami-istri dalam mengelola rumahtangga. Tanggungjawab suami bersifat global dan umum, menyangkut pemberian arah dan tujuan 'mau dibawa kemana' rumah tangga ini: surga atau neraka? Sementara istri lebih pada hal-hal detail, semisal masalah pengaturan keuangan dan belanja keluarga, menu makan, interior rumah, keperluan anak sehari-hari dan sebagainya yang secara prinsip harus sejalan dengan arah dan tujuan akhir keluarga. Tentu saja bukan berarti suami boleh abai dan tidak peduli terhadap hal-hal detail. Kuncinya adalah saling asah, saling asuh dan saling asih.

v Tanggungjawab Da'i
Saat toleransi langit terhadap kemaksiatan yang merebak di bumi mencapai ambangnya, maka saat itulah manusia tak peduli, beriman atau kafir, akan merasakan dasyatnya azab Allah. Sejarah telah bercerita tentang kebinasaan kaum 'Aad, tsamud, kaum nabi Nuh, kaum bani Israil dan sebagainya saat Allah menunjukkan kekuasaan-Nya.
Oleh sebab itu, adalah menjadi tanggungjawab para da’i, penyeru jalan dakwah untuk mengingatkan manusia menjauhi maksiat. Kita tidak bisa berlepas tangan dan tidak peduli, apalagi merasa “yang penting saya tidak melakukan,” terhadap segala bentuk kemaksiatan yang terjadi di lingkungan. Adalah menjadi tanggungjawab kolektif kita semua untuk mengubah kemungkaran dengan menggunakan kekuatan kekuasaan, lisan, atau minimal melalui doa.

v Tanggungjawab pemimpin
Secara struktural, seharusnya para pemimpin dalam setiap level mengambil peran yang lebih besar dalam menahan laju kemaksiatan dan melindungi masyarakat dari bahayanya. Melalui perangkat undang-undang, peraturan dan kebijakan, para pemimpin negar a diharapkan mampu menghadirkan suasana sejuk, nyaman dan kondusif bagi berkembangnya potensi kebaikan rakyatnya. Tanggungjawab kepemimpinan berbanding lurus dengan ruanglingkup amanah kepemimpinan tersebut. Semakin besar wewenang dan kekuasaan seorang pemimpin semakin berat tanggungjawab yang harus dipikulnya.
أَنَّ عَبْدَاللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Berkata Abdullah bin Umar: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Seorang imam (pemimpin) adalah penggembala, ia akan ditanya mengenai gembalanya. Seorang lelaki juga penggembala dalam keluarganya, ia akan ditanya mengenai gembalanya. Seorang wanita juga sebagai penggembala di rumah suaminya, ia akan ditanya mengenai gembalanya. Pelayan juga penggembala mengenai harta majikannya, dan akan ditanya mengenai gembalanya.
Ibnu Umar memprediksi bahwa Rasulullah juga mengatakan: Seorang lelaki adalah penggembala mengenai harta ayahnya, ia akan ditanya mengenai gembalanya. Setiap kalian adalah penggembala, dan akan ditanya mengenai gembalanya.
(HR. Bukhari dalam Kutubut Tis’ah, hadits nomor, 844).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar