Sabtu, 26 Desember 2009

Kenaikan Kadar Homosistein


Homosistein juga merupakan "oknum biologis" yang dicurigai berkaitan erat dengan PJK. Ia merupakan senyawa hasil metabolisme metionin, yaitu salah satu asam amino esensial yang cuma bisa diperoleh manusia dari makanan. Peranannya sebagai penyebab penyakit koroner, khususnya pada usia muda, dikemukakan pertama kali oleh McCully pada tahun 1969. Bersama-sama dengan Wilson, peneliti ini mengajukan teori homosistein pada aterosklerosis yang disusun berdasarkan penelitian terhadap anak-anak penderita homosisteinuria.
Peningkatan angka kejadian penyakit koroner pada kadar homosistein tinggi disebabkan oleh sifat homosistein yang mudah mengalami oksidasi untuk membentuk radikal bebas seperti superoksid dan oksigen reaktif. Radikal bebas ini akan merusak dinding dalam pembuluh darah. Di samping itu, kadar homosistein yang tinggi juga meningkatkan penjendalan darah (trombosis).
Kadar homosistein dalam, darah dapat meningkat jika seseorang mengkonsumsi protein secara berlebihan. Asupan protein berlebih tadi akan meningkatkan pula asupan metionin (daging dan ikan mengandung 2,7 g metionin/100 g, telur 3,2 g/100 g, dan susu 2,9 g/100 g). Orang yang memakan lebih dari 2 porsi makanan sumber protein per hari misalnya, akan mengonsumsi lebih dari 2 g metionin/hari. Padahal, asupan metionin yang dianjurkan cuma 0,9 g per hari. Yang celaka kalau metionin tadi dimetabolisasi jadi homosistein. Kenaikan kadar homosistein ini lebih lanjut akan meningkatkan risiko serangan jantung koroner. Wajar bila risiko penyakit koroner pada usia muda tampak lebih besar pada kelompok masyarakat dari tingkat sosioekonomi menengah ke atas, yang umumnya mengonsumsi makanan tinggi protein.
Sebenarnya, homosistein dapat dimetabolisasi oleh tubuh menjadi senyawa tidak berbahaya, seperti sistem atau diubah kembali menjadi metionin. Syaratnya, ada sejumlah enzim yang bekerja dengan bantuan beberapa anggota vitamin B-kompleks. Vitamin B misalnya, diperlukan untuk kerja enzim yang mengubah homosistein menjadi sistein. Asam folat dan vitamin B12 untuk kerja enzim yang mengubah kembali homosistein menjadi metionin. Kekurangan ketiga jenis vitamin, yang banyak terdapat dalam biji-bijian dan sereal utuh, ini dapat menaikkan kadar homosistein. Selanjutnya, akan membawa risiko penyakit koroner.
Dengan demikian, pencegahan PJK akibat kenaikan kadar homosistein sebenarnya dapat dilakukan dengan mengkonsumsi benih (germ) biji-bijian dan sereal utuh. Hanya sayangnya, sereal dan biji-bijian yang dikonsumsi masyarakat modern ini sudah tidak utuh lagi. Umpamanya, beras digiling berkali-kali. Beras macam ini lebih disukai ketimbang beras tumbuk karena penampilannya lebih baik, cita rasanya lebih enak, dan awet. Gaya hidup kurang sehat dalam masyarakat modern, minum minuman keras atau kopi secara berlebihan, dan kurang berolahraga juga turut menaikkan kadar homosistein. Merokok pun sebaiknya dihindari guna mengusir mendekatnya risiko PJK. Nikotin dalam asap rokok dapat merangsang membanjirnya hormon adrenalin, yang akan mengganggu metabolisme lemak hingga darah menjadi lebih kental. Selain itu, karbon dioksida dalam asap rokok juga dapat menurunkan persediaan oksigen dalam jantung dan tubuh kita.

D. Batas Normal Trigliserida
Berbicara soal trigliserida tidak terlepas dari soal kolesterol, sebab keduanya saling menunjang penyakit. Sedangkan kadar kolesterol yang bagus di bawah 200 mg. Kadar antara 200 - 239. mg berarti 'lampu kuning', waspada. Selanjutnya di atas 240 mg sebaiknya berhati-hati.
Efek makanan yang masuk tubuh kita sangat berpengaruh terhadap kadar trigliserida. Misalnya sehabis kita makan lemak kambing, pasti kadar trigliseridanya langsung naik. Sebab itu bila kita ingin memeriksakan kadar trigliserida di laboratorium, dianjurkan untuk berpuasa minimal 12 - 24 jam agar hasilnya murni. Sebaliknya, bila memeriksa kadar kolesterol, kita tidak perlu berpuasa terlebih dahulu. Sebaiknya orang di atas usia 40 tahun mengurangi makanan bergizi tinggi seperti daging-dagingan, jeroan, santan, susu, keju, gula atau makanan berlemak jenuh lain. Makanan tersebut akan mempermudah meninggikan kadar trigliserida maupun kolesterol. Zat yang pertama kali habis dalam tubuh kita adalah karbohidrat, setelah itu protein dan yang paling lama ditabung adalah lemak. Orang berbadan gemuk atau berpenyakit diabetes cenderung berkolesterol lebih tinggi Pria berisiko lebih tinggi dibandingkan dengan wanita di bawah usia menopause. Makanan berserat tinggi seperti sayuran dan kedelai adalah makanan yang baik untuk usia ini. Serat yang bersifat mudah larut, dalam tubuh tidak akan diserap oleh usus, sehingga ia akan menekan nutrien dalam darah serta mengikat asam empedu yang banyak mengandung kolesterol.
Dianjurkan pula meningkatkan konsumsi zat gizi antioksidan, seperti vitamin E, vitamin C, dan karoten (provitamin A), guna mengurangi risiko PJK. Lantaran zat gizi ini dapat mencegah terjadinya oksidasi lemak. Beberapa bahan makanan yang banyak mengandung ketiga vitamin tersebut di antaranya buah-buahan merah seperti papaya, wortel, tomat. Perlu ditingkatkan pula konsumsi antioksidan non-gizi, khususnya isoflavonoid, yang sifatnya meningkatkan kesehatan dan banyak terdapat dalam tempe, bawang merah, kunyit, buah-buahan, sayuran, dan teh. Indonesia kaya akan tempe, apa salahnya kita makan tempe setiap hari. Tempe selain berserat tinggi, juga mengandung lesitin untuk menurunkan kolesterol.
Pemberian ASI - sebaiknya sampai anak berusia 2 tahun - ternyata juga mempunyai rantai panjang terhadap pencegahan datangnya PJK. ASI mengandung asam lemak omega3. Selain itu, baik sekali kalau sejak kecil anak dibiasakan makan makanan seimbang. Makanan berlemak harus diimbangi dengan makanan berserat tinggi, seperti buah-buahan, sayuran, dan polong-polongan.

v Kegemukan dan Darah Tinggi
Peningkatan kadar fibrinogen pun diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko serangan koroner. Dalam penelitian pada tahun 1986 sejumlah ilmuwan di Inggris menemukan, kelompok dengan kadar fibrinogen tinggi berisiko penyakit jantung iskemik (gangguan aliran darah) lebih tinggi, yakni sebesar 84%, dibandingkan dengan kelompok yang kadar fibrinogennya rendah. Kaitan ini dicoba dijelaskan dengan teori yang menyatakan bahwa semakin banyak fibrinogen dalam darah, semakin besar bekuan darah yang akan terbentuk ketika sebuah plak ateroma pecah.
Kadar fibrinogen tinggi sering dijumpai pada penderita kegemukan dan tekanan darah tinggi. Karena itu, Dr. Daniel Rader, Direktur Program Kardiologi Pencegahan pada Universitas Kalifornia mengatakan, "Pengendalian bobot badan dan tekanan darah dapat menurunkan kadar fibrinogen." Di samping itu, latihan jasmani yang tepat dan dilakukan secara teratur dapat pula mengurangi kadar fibrinogen. Selanjutnya, tentu saja risiko PJK diharapkan menurun.
Terakhir, endapan kalsium juga dianggap sebagai biang keladi tampilnya PJK. Endapan bisa terlihat dengan menggunakan alat CT scan mutakhir, yang bisa membuat foto pembuluh darah di antara detak jantung. Dari hasil kerja alat tersebut terlihat bayangan kalsium lebih tajam.
Dr. Brundage, seorang spesialis kardiologi pada Bend Memorial Clinic di Oregon, AS, mengatakan, "Jika alat scanning ultra cepat ini menunjukkan kalsium dengan jumlah besar dalam pembuluh nadi, maka pasien tersebut menghadapi peningkatan risiko untuk mengalami penyumbatan yang berbahaya." Scanner ini memiliki kemampuan untuk mendeteksi sumbatan pembuluh nadi jauh sebelum pemeriksaan angiografi dapat membuktikannya.
Dengan deteksi endapan kalsium lebih dini, pencegahan infark jantung dapat dilakukan melalui tindakan bedah pembuluh darah (angioplastik) dan pemasangan stent - yaitu, semacam pipa yang disisipkan ke dalam pembuluh nadi yang akan tersumbat - di samping pengobatan dan diet untuk menurunkan kadar kolesterol.
Meskipun kelima "oknum biologis" di atas sudah dapat dilacak lewat tes laboratorium, biaya masih relatif mahal. Karenanya, tes laboratorium tersebut jarang dimintakan oleh dokter.

v Waspadai virus
Di samping mereka, masih ada faktor lain yang membawa risiko pada diri seseorang untuk terkena penyakit koroner. Beberapa jenis virus, seperti cytomegalovirus dan virus Herpes simplex, ternyata dalam sejumlah penelitian juga memiliki kaitan dengan risiko aterosklerosis. Salah satu buktinya adalah ditemukannya antigen virus herpes dan rangkaian asam nukleat virus tersebut dalam plak ateroma.
Di samping itu, radikal bebas seperti superoksid yang dihasilkan oleh sel darah putih untuk menghancurkan virus mungkin juga mengakibatkan cedera sel pada dinding pembuluh darah yang selanjutnya akan menimbulkan plak dan endapan kalsium.
Pemeriksaan terhadap TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus and Herpes simplex) kini sudah dapat dilakukan. Namun, untuk membuktikan korelasi antara aterosklerosis dan infeksi virus tetap diperlukan penelitian lebih lanjut. Sementara itu, tes canggih untuk mendeteksi faktor genetik, sebagai salah satu faktor risiko PJK, kini sudah dapat dilakukan di negara maju Iewat pemeriksaan DNA. Dr. Roger Williams dari University of Utah School of Medicine mengatakan, "Dengan mengenali gen yang meningkatkan risiko penyakit koroner, kita akan dapat melakukan DNA scanning untuk menentukan apakah kita memerlukan terapi pencegahan serangan jantung." Semua tes di atas tentunya sangat mahal sehingga tidak semua orang - bahkan di negara maju sekalipun - mampu menjalaninya, kendati beberapa rumah sakit di negara maju sudah memiliki fasilitas pemeriksaan. Namun, bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial berlebih dan ingin mengecek kondisi jantung serta pembuluh darahnya secara dini dengan cara-cara yang lebih teliti dan canggih, fasilitas tersebut mungkin dapat dimanfaatkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar