Minggu, 27 Desember 2009

Mimba, sang Insektisida

Mimba, sang Insektisida


Sudah sejak dulu, orang India memanfaatkan minyak margosa dari biji nim sebagai obat kudis Belakangan biji itu makin digalakkan pemanfaatannya sebagai insektisida yang tidak hanya mencegah kudis, tapi juga serangga yang mengganggu keselamatan hidup kita.
Keampuhan minyak kudis itu gara-gara ia mengandung nimbidin yang berisi belerang. Belerang terkenal antikuman dan antiserangga, seperti kutu gatal Sarcoptes scabiei. Kutu mini ini suka membuat terowongan untuk main sepur-sepuran dalam kulit, sampai menyebabkan gatal-gatal. Penderitanya tak tahan lagi untuk menggaruk-garuk, sehingga penyakitnya pun disebut scabies (dari scabere Latin) yang jelas sekali menggaruk-garuk.

v Dari Mebel sampai Kayu Bakar
Pada tahun 1913, India pernah mengekspor minyak itu ke Inggris sebagai minyak margosa, untuk membuat sabun antikudis. Tapi setelah diteliti dan dicoba oleh pabrik sabun di sana, ternyata hasilya tidak bermutu. Lebih runyam lagi, proses unfuk memeras minyak itu dari biji berbau busuk seperti bawang putih. Pabrik yang akan mengolahnya tidak diberi izin, karena mengganggu lingkungan pemukiman di sekitarnya.
Kini, minyak gayuk-garuk itu sudah tidak di pakai lagi, tapi biji penghasil minyak itu makin banyak dimanfaatkan sebagai obat anti serangga dalam bentuk lain. Di samping nimbidin yang dilaporkan Shiddiqi tahun 1942, biji itu juga mengandung azadirachtin yang baru ditemukan kemudian. Biji itu diambil dari pohon nim atau neem.
Azadirachta indica, dari suku Meliaceae. Kalau dibiarkan hidup menua, pohon asli India ini membulat bagus tajuknya, sampai mampu memberi naungan yang teduh di bawahnya. Tingginya bisa sampai 25 m, dengan gemang (garis tengah batang) 1 m. Di Pulau Jawa ia disebut mimba, karena masuknya pertama kali dari India dulu dibawa dengan nama Sansakerta nimba yang disalahlafalkan oleh lidah Jawa. Batangnya yang pendek dan bercabang rendah, membuatnya tidak memenuhi syarat untuk dijadikan penghasil kayu yang panjang lurus seperti jati dan sengon. Tapi walaupun begitu, di daerah gersang yang tidak ada pohon lain yang lebih baik, sampai di gurun gersang padang Arafah, Arab Saudi pun mulai rimbun dihijaukan dengan neeb. Kayu mimba dimanfaatkan juga sebagai bahan pembuat perabot rumah tangga seperti dingklik, peti penyimpan pakaian, dan balai-balai.
Di India, kayu pohon neem dihargai kayu yang baik dan awet, asal ditebang dari pohon yang sudah tua bangka. Mutunya sama bagus dengan kayu mahoni yang memang masih sesuku. Gubalnya (bagian. batang yang lunak di luar terasnya) berwarna kelabu, sedangkan terasnya sendiri merah. Agak kurang sedap memang, tapi semuanya dapat diampelas dengan baik.
Karena rimbunnya daun, pohon yang di Arab Saudi disebut neeb itu akhir-akhir ini dimanfaatkan secara besar-besaran sebagai pohon peneduh yang menghijaukan padang Arafah, tempat para jemaah haji menunaikan wukuf yang merupakan salah satu di antara beberapa kewajiban orang naik haji, dengan berada di gunung itu ketika matahari mulai terbenam pada tanggal 9 Zulhijah, sampai matahari terbit pada tanggal 10 Zulhijah esok harinya. Daerah yang semula kering kerontang kini hijau sejuk.
Di beberapa perkebunan tebu Jawa Timur, mimba juga pernah ditanam besar-besaran untuk menghijaukan tanah kritis yang berisi rumput liar melulu. Ini baik sekali kalau ditiru oleh perkebunan-perkebunan dataran rendah lain yang kewalahan berperang melawan rumput di tanah kritis. Kayu mimba (meskipun tidak bagus) dapat dipanen untuk bahan bakar bagi dapur rumah tangga pekerja perkebunan dan penduduk desa sekitarnya. Panen kayu masih lebih mending daripada panen rumput.

v Kesasar ke Mindri
Daun mimba juga sudah sejak dulu dimanfaatkan sebagai jamu pembangkit selera makan nenek moyang. Nimbiol yang dikandung dalam daun (ditemukan Sengupta tahun 1958) dianggap bersifat tonik dan antibilious. Bilious ialah kondisi badan yang rasanya ingin muntah seperti kalau sedang mabuk laut. Karena ingin muntah (tapi tidak jadi terus), penderitanya jadi kurang nafsu makan, dan lemah badan. Minum daun mimba dipercaya dapat mengatasi kondisi kurang nafsu makan ini.
Tidak jelas, siapa yang pertama kali member! nama mindri di daerah pantai utara Jawa Barat. Tapi nama itu beredar cukup lama bagi pohon nimba Sansekerta, dan mimba Jawa. Pada tahun 1985 ada yang memandang mindi sebagai mindri. Dikiranya kedua tanaman itu sama, dan hanya lafal namanya yang berbeda. Persis seperti nimba dan mimba.
Tapi akibatnya, daun mindi juga diedarkan sebagai jamu penambah nafsu makan seperti mimba. Tahun 1986 berikutnya, niasyarakat Jabotabek, Cirebon, dan Semarang dibanjiri daun mindi dalam kemasan plastik kaki lima. Di antara indikasi (alasan kuat untuk percaya bahwa minum jamu yang bersangkutan itu perlu) yang disertakan dalam kemasan, terdapat tekanan darah tinggi dan tekanan darah rendah. Yang tinggi bisa turun, dan yang rendah bisa naik. Ini jelas indikasi yang dilebih-lebihkan, sehingga banyak yang tidak percaya. Tapi sebelum tidak dipercaya, daun itu sudah sempat merenggut korban jiwa.
Supaya tidak timbul salah paham lagi di kemudian hari, sebaiknya mimba yang berkhasiat antibilious sehingga menyegarkan badan itu tidak disebut mindri lagi, tapi mimba saja.
Sepintas lalu pohon mindi yang Melia azedarach memang mirip dengan mimba yang Azadirachta indica. Daunnya sama-sama lonjong bergerigi dan sama-sama bersirip. Tapi kalau daun mindi yang lebih kecil itu bersirip ganjil, daun mimba yang lebih besar bersirip genap.

v Insektisida Rumahan
Menanam pohon mimba kini digalakkan di mana-mana. Tapi ada masyarakat yang ikut galak, dan ada yang tidak. Para pakar botani dan pertanian, mulai dari Barat sampai ke Timur, yakin setelah sekian banyak penelitian dan percobaan, bahwa ekstrak biji mimba akan menjadi juara pestisida harapan di kemudian hari. Ia tidak beracun bagi binatang berdarah panas (seperti kambing, sapi, anjing, kucing) dan manusia, sehingga pemakaiannya tidak sengeri insektisida sintetis yang kita kenal sejauh ini.
Insektisida mimba tidak meninggalkan residu pada tanaman yang disemprot, sehingga tidak meracuni tanah, air, dan udara sekeliling tanaman. Ini suatu keuntungan yang sangat berarti, kalau kita memelihara tanaman hias dalam ruangan, serambi, dan taman pekarangan rumah dekat kamar tidur bayi.
Kedengarannya tidak ada orang yang menyanggah pendapat itu. Tidak ada yang keberatan kalau kita beralih memakai azadirachtin dari biji mimba sebagai pengganti insektisida sintetis. Tapi siapa yang mau menghasilkan biji itu yang cukup besar-besaran untuk memasok kebutuhan dunia? Belum ada.
Sementara menunggu adanya perkebunan besar yang menanam pohon mimba secara besar-besaran (untuk menghasilkan insektisida azadirachtin yang bisa dibeli di warung-warung kaki lima), bagaimana kalau kita sendiri sudah mulai menanam pohon itu di halaman rumah masing-masing?
Pohon ini dapat diperbanyak dengan mudah, baik dengan biji maupun okulasi, cangkokan, dan steknya. Biji dapat dibeli pada perusahaan penyedia bibit tanaman. Sementara menunggu pohon itu berbuah, kita dapat mengekstrakkan insektisida azadirachtin dari biji pembelian, untuk memberantas ulat, kutu daun, semut ireng, dan hama lain yang menyerang tanaman hias kesayangan kita. Itu tidak mengganggu pernapasan kita, dan tidak meracuni hewan piaraan. Juga tidak mungkin dipakai untuk bunuh diri anak-anak yang sedang patah hati.

v Membuat Pestisida Sendiri
Untuk membuat larutan insektisida mimba sebanyak 5 liter diperlukan 250 g biji mimba. Setelah ditumbuk (atau digiling dengan penggiling kopi) biji dilarutkan dalam air 5 liter, dan dikocok yang cukup kuat.
Semuanya dibiarkan mengendap (ampasnya) dan larut (sarinya) selama satu malam. Esok harinya cairan disaring dengan kain mori, dan air saringannya ditampung dalam botol sebagai persediaan. Larutan inilah yang sewaktu-waktu dipakai untuk menyemprot hama serangga dengan penyemprot nyamuk.

v Mimbanisasi Gurun
Dewasa ini pemerintah Arab Saudi telah berhasil merimbunkan daerah sekitar Riyadh dan kota besar lainnya, seperti Mekah, Medinah, Jedah, yang semula kering gersang menjadi daerah hijau sejuk menyenangkan. Kerimbunan daun pohon mimba benar-benar memenuhi syarat sebagai pohon peneduh di tepi jalan kota dan daerah pemukiman.
Juga padang Arafah, tempat para jemaah haji menunai-kan salah satu tugasnya dalam rangka naik haji, kini mulai rimbun dipenuhi pohon mimba sebagai peneduh setinggi 3 meteran. Kelak kalau sudah dewasa, pohon itu dapat setinggi 25 m. Keistimewaan pohon ini sebagai tanaman penghijauan ialah daunnya yang jatuh di tanah kalau sudah mati masih ampuh menumpas serangga. Kalau membusuk dan meresap ke dalam tanah, senyawaan anti serangga yang dikandungnya dapat dimanfaatkan untuk sanitasi tanah dan penyehatan lingkungan yang bebas dari hama serangga. Azadirachtin yang dikandung dalam daun dan buah (termasuk bijinya) membuat pohon itu dijauhi oleh kaum serangga hama tanaman.
Pohon yang di India disebut neem ini memang sudah lama dimanfaatkan penduduk sebagai obat antiserangga, baik serangga pembawa penyakit, seperti nyamuk malaria dan demam berdarah, maupun yang menjadi hama tanaman pangan.
Daun mimba kering dibakar oleh penduduk desa, untuk mencegah nyamuk jangan sampai mendekati pemukiman orang. Petani kapas di Sudan menaruh daun mimba di antara barisan tanaman kapas, agar batang bagian bawah dan tanah sekelilingnya tidak didatangi serangga.
Ini perlu kita catat, karena dapat kita tiru untuk melindungi tanaman budidaya kita. Daun mimba yang kita jadikan mulsa penutup tanah yang terbuka di antara barisan tanaman pangan, seperti umbi-umbian dan buah-buahan, niscaya akan terhindar dari hama serangga dan cendawan tanah penyebab busuk batang.
Nama mimba yang beredar di Pulau Jawa, berasal dari istilah Sansekerta nimba. Di Jawa, Madura dan Bali, pohon mimba sudah lama ditanam sebagai pohon peneduh tepi jalan daerah dataran rendah, seperti Cikampek, Subang, dan Indramayu. Baru sesudah PD II, ada yang ditanam secara terbatas di kota dataran tinggi seperti Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar