Kamis, 24 Desember 2009

Lumut, Makhluk Tanpa Identitas


Suka tumbuh di bangunan tua, menghuni barang rongsokan, atau menempel di kamar mandi yang jarang dibersihkan, lumut kerap dianggap pengganggu atau perusak pemandangan. Padahal lumut punya banyak manfaat Bisa sebagai obat, bahan campuran parfum hingga sebagai indikator polusi udara.
Suku-suku Indian Amerika pada ribuan tahun lalu punya kebiasaan menyeduh sejenis lumut janggut (Usnea) dengan air panas, lalu digosokkan ke tubuh sebagai obat penyakit kulit. Mereka juga memanfaatkan lumut untuk mewarnai selimut dan. mantel yang dikenakan dalam upacara adat. Lumut lebih dulu menghuni puncak gunung berapi dan savana, lalu mengumpulkan tanah, sebelum digusur tumbuhan lain.
Ribuan tahun kemudian, di benua lain, rupanya masih ada orang yang memanfaatkan lumut janggut sebagai ramuan obat tradisional. Jika sempat berjalan-jalan di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, misalnya, Anda akan dengan mudah menjumpai lumut jenis ini dikenas dalam plastik bercampur ramuan tradisional lain, lumut janggut dimanfaatkan sebagai jamu melawan penyakit paru-paru dan sesak napas.
Itulah beberapa dari sekian hanyak kegunaan lumut. Sayangnya, masih banyak orang mengabaikannya. Mungkin karena lumut identik dengan jalan setapak yang hijau dan licin, lantai kamar mandi yang jorok, atau timbunan sampah dan barang rongsokan.

v Tumbuhan bukan, hewan pun tidak
Lumut sulit digolongkan sebagai tumhuhan atau hewan. Sebab, ia tersusun dari dua atau tiga organisme yang berbeda. Ada jamur, ganggang, dan terkadang hakteri. Mereka hidup saling menguntungkan dan masing-masing meni punyai peran. Jamur bertugas mengumpulkan air, mineral, dan menciptakan kelemhapan. Ganggang dan bakteri (biasanya golongan cyano bakteri) melakukan fotosintesis. Jadi, tak heran jika lumut bisa hidup di sembarang tempat ketika tak ada tumbuhan lain yang hidup. Di kutub, puncak gunung es, gurun pasir, bebatuan, hingga puncak pegunungan tinggi sekalipun. Bahkan ada yang hidup di poros batuan yang masih terjangkau sinar Matahari. Lumut juga tumbuh subur pada bangunan tak berpenghuni, rongsokan mobil bekas, besi tua, hardware komputer, dan barang elektronik. Tidak salah kalau lumut disebut "tumhuhan" perintis (meski bukan tumbuhan sejati). Dijuluki demikian karena ia mempunyai kemampuan melepas asam untuk memecah batuan yang dituffibuhinya, lalu mengumpulkan tanah di bawahnya, selanjutnya ternpat itu dihuni oleh tumbuhan lain (rumput dan pepohonan).

. Sebanyak 18 rihu - 20 ribu jenis lumut di seluruh dunia sudah dikenali. Berdasarkan cara tumhuhnya, mereka dibedakan menjadi tiga. Pertama, lumut jenis crustose yang tumbuh melekat dan meluas pada permukaan lantai, batuan, dan kulit pohon. Kedua, jenis foliose yang menyerupai daun dan melekat pada kulit pohon, meninggalkan noda meluas berupa selaput tipis. Ketiga, jenis fruticose yang bentuknya seperti rambut dan menggantung di cabang-cabang pohon. Usnea termasuk jenis ketiga ini.
Lumut tumbuh amat lambat, tergantung pada lingkungan sekitarnya. Di tempat kering seperti di gurun, pertumbuhannya 1 mm per tahun. Di daerah basah dan lembap, pertumbuhannya bisa mencapai 30 mm per tahun. Namun, lumut dikenal panjang umur. Di Greenland, Kutub Utara, ditemukan lumut yang berumur lebih dari 4.500 tahun. Dengan cara menghitung panjang lumut, para ilmuwan dapat memperkirakan sejak kapan lapisan es menutupi Kutub Utara dan pegunungan di sekitarnya. Arkeolog dapat menduga umur benda yang ditemukan tersembunyi di bawah lumut dengan cara yang sama.

v Sari Lumut Ajaib
Tak diketahui secara pasti kapan manusia mulai mengonsumsi lumut. Yang jelas binatang macam serangga dan bekicot memakannya. Bahkan di Kutub Utara menjadi sarapan utama rusa kutub dan menjangan saat musim dingin. Adakalanya rusa kutub akan menggali lubang dengan kakinya hingga kedalaman 1 m untuk mendapatkan lumut menjangan (Cladonia stellaris) yang tersemhunyi di sana.
Suku Indian terbiasa memanfaatkan lumut. Mereka mengonsumsi rusa kutub dan merasakan betapa lezatnya: lumut yang telah meragi di dalam perut rusa. Mereka juga mencampur lumut dengan lumpur untuk menutupi celah-celah pintu dan jendela pondok kayu mereka. Juga memanfaatkan sari lumut beraneka warna untuk mewarnai mantel, keranjang, dan tubuh mereka. Bahkan Hariis tweed, kain wol asli Skotlandia menggunakan pewarna dari lumut.
"Keajaiban" itu tidak lepas dari 800-an bahan kimia yang terkandung dalam sari lumut. Salah satunya yang paling dikenal adalah asam usnat yang dihasilkan lumut jenis Usnea dan digunakan sebagai krim atau salep untuk penyakit kulit. Beberapa suku bangsa di Indonesia juga tak asing dengan penggunaan lumut sebagai obat. Masyarakat di sekitar Rawa Aopa, Sulawesi Tenggara, misalnya, menggunakan lumut yang melekat pada akar ikan (sejenis tumbuhan di rawa) untuk mencegah gigitan nyamuk malaria. Lumut itu diseduh dengan air panas sebelum diminum.

Meskipun sejak dulu berkhasiat sebagai obat sakit kepala, sakit gigi, TBC, diabetes dan asma, penggunaan lumut dalam pengobatan modern amat terbatas. Yang terbaru adalah membuat antibiotik dari lumut untuk melawan TB dan aneka penyakit kulit.
Industri sabun dan parfum pun baru memanfaatkan sari lumut belakangan ini. Sebut saja Eau Savage-nya Dior, Ysatis-nya Givenchy atau Ferure-nya Guerlain. Umumnya, mengambil lumut yang hidup di pohon pinus (Parmelia furfuracea) dan pohon oteng (Evernia prunastri). Parfum yang mengandung lumut, biasanya dari jenis chypres dan fougeres, memberi kesan kesejukan dan kesegaran yang tahan lama.
Indikator polusi udara Negara maju di Amerika Utara dan Eropa menggunakan lumut sebagai indikator polusi udara. Pasalnya, lumut sangat peka terhadap perubahan atmosfer Bumi. Meski dikenal mampu bertahan hidup dalam kondisi ekstrem, hanyak yang rusak kemudian mati gara-gara bahan kimia dalam udara tercemar. Hujan asam akibat pembakaran minyak, batubara, gas atau proses industri dengan cepat membunuh lumut di kawasan perkotaan dan industri.
Sebagai contoh, dulu permadani hutan di Kolombia dan Inggris dipenuhi lumut jenis Peltigera aphrotosa yang mampu mengikat nitrogen dan memberi unsur hara pada tanah. Namun, akibat perkembangan industri, perlahan-lahan lumut itu menghilang. Sebuah penelitian terbatas yang dilakukan Kelompok Studi Adidesa di Yogyakarta menyebutkan, ada perbedaan yang berarti antara lumut yang menghuni pepohonan di jalan-jalan besar padat lalu lintas dengan lumut pepohonan di kawasan sepi. Semakin ramai jalan dilalui kendaraan, semakin jarang ditemukan lumut crustose maupun foliose pada pohon. Seandainya ada, bentuknya akan mengecil dan pertumbuhannya amat lambat. Sebaliknya, lumut tumbuh subur di kawasan sepi dan tak tercemar.

Cara mengukur tingkat polusi udara: inenggunakan indikator lumut memang belum lazim bagi kita. Namun, cara ini sebetulnya menawarkan beberapa keuntungan. Selain murah dan mudah, juga menyadarkan manusia akan pentingnya kehidupan lingkungan di sekitarnya. jangan sampai kelak, gara-gara buruknyu ekosistem, lumut tak lagi hidup. Lalu, siapa lagi yang akan “menghancurkan" gedung-gedung tua dan barang-barang rongsokan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar