Selasa, 29 Desember 2009

Makanan Selingan untuk Anak

Makanan Selingan untuk Anak

Saat ini, banyak sekali jenis makanan untuk anak-anak yang dijual di sekolah, warung, toko, maupun yang dijajakan pedagang keliling. Ia dapat berupa kue atau makanan basah, atau makanan kering yang awet.
Kue atau makanan basah biasanya dibuat oleh industri rumah tangga. Jenis makanan ini umumnya tidak awet, masa simpannya hanya satu hari. Sementara makanan kering dibuat oleh industri kecil dan besar, biasanya dikemas menarik, relatif awet, dan dapat disimpan sampai beberapa bulan.
Bahan baku dan proses pengolahannya juga bervariasi. Bahan baku untuk makanan anak kebanyakan tepung-tepungan, misalnya tepung beras, tapioka, terigu, atau biji-bijian, misalnya jagung, beras, kedelai. Bahan ini dipilih karena harganya yang relatif murah sehingga harga jualnya pun tidak mahal. Pengolahannya, antara lain dengan pemanggangan, penggorengan, pengukusan, dan ekstrusi (seperti pembuatan produk berondong).
Bagi produsen, anak-anak merupakan konsumen besar. Jenis konsumen ini juga mampu mendorong orangtua membeli. Produsen berusaha membuat produknya menarik dan disukai. Maka, makanan anakbiasanya ditandai dengan bentuk yang lucu, berwarna-warni, rasa yang kuat (terutama rasa manis dan gurih), dan kemasan yang cerah dan bergambar lucu, serta harga yang murah. Tidak jarang pula disertai hadiah untuk membuat anak-anak lebih tergoda.
Beredarnya berbagai jenis makanan untuk anak membuat banyak orangtua khawatir. Apakah makanan itu cukup bergizi? Apakah makanan tersebut aman mengingat penggunaan pewarna, pengawet, MSG (vetsin), dan sebagainya? Berapa banyak anak diperbolehkan mengonsumsinya?

v Aspek Gizi
Komposisi gizi tentu bergantung pada jenis atau bahan baku yang digunakan. Namun, umumnya makanan untuk anak banyak mengandung karbohidrat, karena bahan bakunya yang terutama dari tepung-tepungan atau biji-bijian. Produk yang berasa manis, kadar karbohidratnya bertambah menurut gula yang ditambahkan. Sebaliknya, makanan yang dibuat dari tepung-tepungan atau biji-bijian biasanya kadar proteinnya rendah.
Produk makanan untuk anak yang dibuat dengan cara digoreng banyak mengandung minyak. Sebagai contoh, makanan ringan dari jagung yang digoreng akan mengandung karbohidrat 55%, protein 5%, lemak 35%, jumlah energi 110 kalori/20 gram.
Berdasarkan komposisinya yang rendah protein itu, makanan anak sebaiknya jangan dijadikan sebagai pengganti makan utama. Jadikanlah ia makanan selingan (snack) saja.

v Aspek Keamanan
Yang terutama menjadi perhatian orangtua adalah aspek keamanannya. Aspek ini sangat ditentukan oleh bagaimana makanan dibuat, bahan yang digunakan, bagaimana ia dijual (dijajakan), dan sudah berapa lama dibuat. Oleh karena itu, sebenarnya tidaklah mudah menyatakan makanan tertentu aman atau tidak untuk dikonsumsi anak.
Kondisi sanitasi yang kurang baik pada saat makanan dibuat atau dijajakan dapat menyebabkan makanan tercemar mikroba atau kotoran yang selanjutnya membuat makanan tidak aman. Penggunaan bahan baku yang kurang baik juga demikian. Contoh, minuman es yang dibuat dari air yang tidak dididihkan terlebih dahulu bisa menyebabkan sakit perut. Masalahnya, kita tidak mengetahui bagaimana kondisi pembuatan makanan tersebut dan kualitas bahan baku yang digunakan. Yang dapat kita amati hanyalah kondisi produk yang sudah jadi.
Pewarna yang boleh dan aman untuk makanan adalah pewarna alami atau pewarna sintetik yang diizinkan untuk makanan (food grade). Pewarna alami itu misalnya warna kuning dari kunyit, warna kuning dari telur, atau warna hijau dari daun pandan. Pewarna alami biasanya punya warna tidak cerah dan mudah pudar saat dipanaskan. Ketersediaan pewarna alami juga sangat terbatas dalam jenis warnanya. Akhirnya, pewarna alami ini semakin tergeser karena tersedia pewarna sintetik yang murah, mudah digunakan, jenis warnanya banyak dan cerah, dan tidak pudar jika dipanaskan.
Yang menjadi masalah adalah jika pewarna sintetik yang digunakan ternyata yang tidak diperbolehkan (nonfood grade) dan ini masih banyak terjadi. Dampak mengkonsumsi pewarna tidak aman ini memang tidak dapat langsung terlihat. Inilah yang mungkin menjadi salah satu sebab pewarna ini terus digunakan pada kue basah maupun makanan awet buatan pabrik meski peraturan pelarangannya sudah ada.
Bahan lain perlu diperhatikan adalah pengawet. Pengawet terutama digunakan pada kue basah agar tidak cepat basi. Jenis pengawet yang diperbolehkan sebenarnya banyak, misalnya propionat pada kue dan roti. Namun, sampai saat ini, ada produsen makanan yang menggunakan bahan kimia terlarang seperti boraks. Bahan kimia ini tidak aman dikonsumsi.
Penggunaan pengawet ini juga terkait dengan jumlah. Meski pengawet yang digunakan tergolong yang diperbolehkan, kalau penggunaannya melebihi batas yang diizinkan, dampaknya burukjuga terhadap kesehatan.
Bahan lain yang membuat khawatir orangtua adalah MSG atau vetsin sebagai penegas rasa gurih baik pada makanan yang awet maupun yang tidak. Ada kontroversi mengenai keamanan MSG; ada yang bilang aman, ada yang bilang tidak. Namun, sampai saat ini MSG masih diperbolehkan. Bahan semacam MSG juga banyak digunakan, antara lain inosinat dan guanilat yang juga memberi rasa gurih.
Berikutnya, pemanis sintetik. Ia digunakan untuk mengganti gula pasir karena harganya yang lebih murah dan tingkat kemanisannya yang tinggi. Beberapa jenis pemanis sintetik diragukan keamanannya.
Secara umum, makanan untuk anak yang dihasilkan oleh pabrik se-mestinya aman dikonsumsi. Namun, orangtua sebaiknya memilihkan makanan untuk anak yang tidak banyak menggunakan pewarna, pengawet, atau bahan perasa sintetik.
Untuk kue basah, orangtua harus lebih berhati-hati lagi. Pembuat kue basah terkadang tidak memperhatikan ketentuan penggunaan pewarna, pengawet, dan pemanis sintetik
Jumlah Konsumsi
Berapa banyak atau seberapa sering makanan tersebut aman dikonsumsi? Tidak ada ukuran pasti. Yang jelas, makanan untuk anak sebaiknya digunakan sebagai selingan, artinya tidak perlu dikonsumsi dalam jumlah banyak dan sering. Jadi, alangkah baiknya kalau orangtua berusaha memberi makanan pokok dengan jumlah dan kualitas yang memadai sehingga anak tidak terlalu memerlukan makanan selingan.
Kita tidak boleh terlalu mengandalkan gizi dari makanan selingan. Sebab, makanan tersebut memang bukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Yang dipentingkan pada makanan selingan adalah penampilan, bentuk, dan rasa yang disukai anak-anak, bukan zat gizi.
Karena fungsinya yang sebagai selingan, ia sebaiknya diberikan setelah makan utama, atau maksimum tiga kali sehari dengan jumlah wajar. Jangan memberikan makananselingan sebelum makan utama, karena rasa manis atau gurih dapat mengurangi nafsu makan anak terhadap makanan utama. Dan jika ini terjadi, konsumsi zat gizi menjadi berkurang.

v Kiat Memberikon Makanan Selingan
§ Berikan makanan utama dengan menu yang lengkap (nasi, lauk, sayur, buah, kalau bisa, susu) pada pagi, siang dan malam hari dalam jumlah cukup. Jangan sekali-kali memberi makanan selingan sebagai pengganti sarapan. Sarapan diperlukan anak untuk belajar dengan baik di sekolah.
§ Berikan makanan selingan yang bervariasi.
§ Pilih makanan selingan yang tidak banyak menggunakan pewarna, pengawet, gula, atau perasa gurih. Ini dapat diketahui dari jenis dan penampakan makanan atau daftar kandungan yang ada di kemasannya.
§ Tekankan pada anak untuk hanya beli makanan di kantin sekolah, dan tidak membelinya di luar sekolah. Makanan yang dijual di kantin sekolah tentu lebih terkontrol daripada yang dijual di luar pagar sekolah.
§ Jika memungkinkan, buatlah makanan ringan sendiri di rumah.
§ Pilih produk makanan yang belum kadaluwarsa dan mempunyai logo atau tulisan halal pada kemasannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar