Sabtu, 26 Desember 2009

Memperhatikan Kesehatan Mata


Mata merupakan organ yang teramat penting bagi kehidupan. Dengan mata kita bisa menjangkau berbagai kepentingan hidup, bisa melihat berbagai ciptaan Allah yang diharapkan berujung pada makrifat kepada-Nya.
Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menantang kita agar menggapaui makrifat dengan media mata. Terutama mengenai ayat-ayat kauniah yang terhampar di persada. Semua itu untuk dipikirkan, diambli iktibatnya, kemudian kelak pada akhirnya akan menambah ketebalan keimanan kita kepada-Nya.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan (Al-Ghsyiah: 17).

A. Komputer Merusak Mata
Sejak kita dibanjiri PC (personal computer) yang bisa dipakai di rumah, masyarakat jadi prihatin. Apa benar layar komputer berpengaruh buruk terhadap mata dan wanita hamil? Kalau hanya untuk main game saja, ya tidak!
Di masyarakat mulai dapat kita bedakan kelompok yang senang dengan komputer yang sampai berjam-jam "sibuk" duduk di depannya, dan kelompok yang enggan memakainya, karena khawatir mendapat pengaruh buruk. Memang bisa timbul ketidakenakan penglihatan, kalau seseorang mengoperasikan komputer secara tidak benar, tetapi berdasarkan penelitian WHO (World Health Organization) tahun 1985 yang dilaporkan dalam Visual Display Terminals and Workers' Health (WHO Offset Publication no. 99. Geneve. 1987) menyatakan lebih dari 40 juta orang Amerika tiap harinya bekerja di depan komputer. Di antara mereka ternyata banyak yang mengalami sakit kepala, penglihatan kabur, dan mata tegang. Para optometris menyatakan, 30 - 50% pasien mengeluh adanya ketegangan pada mata dan menuduh komputer sebagai biang keladinya.
Sebenarnya, menurut Alan Winkelstein, pakar optometri dari Southern California College of Optometry di Fullerton, Kalifornia, AS, masalah penglihatan sering kali bukan akibat kesalahan komputer, melainkan lebih banyak akibat lingkungan dan tuntutan kerja. Bekerja dengan komputer memunculkan masalah penglihatan yang tadinya tidak terasa. Malah menurut Brigs, staf dosen sekolah yang sama dan. psikolog yang mengkhususkan diri pada masalah-masalah penglihatan, kebanyakan keluhan tersebut sebenarnya disebabkan oleh stres.
Penelitian menunjukkan, pengguna komputer cenderung bekerja lebih lama tanpa istirahat. Akibatnya, tubuh mengalami stres yang kemudian dapat menimbulkan gejala sakit kepala,” jelas Alan.
Diperkirakan layar komputer memang membuat orang lebih peka terhadap masalah-masaiah yang berkaitan dengan penglihatan mereka. Kalau dulu orang datang ke dokter mata karena sukar membaca rambu lalu lintas. Sekarang, baru sulit membaca tulisan di layar komputer saja, mereka sudah merasakan ada yang tak beres.
Kendati penelitian menunjukkan bekerja dengan komputer pada jarak dekat tidak menyebabkan gangguan penglihatan yang permanen, komputer tetap dapat menimbulkan ketegangan pada mata yang menyebabkan kaburnya penglihatan dan sakit kepala. Meski begitu penggunaan komputer yang terus meningkat tak bisa dibendung. Demikian pula dengan industri media pandang berteknologi tinggi. Berdasarkan kondisi seperti itu para ahli menyarankan penggunaan kacamata khusus komputer yang mampu memperbaiki masalah penyimpangan perglihatan yang masih ringan. Ruang atau lingkungan kerja yang dipakai sebaiknya bisa mengurangi cahaya yang menyilaukan dan dapat disesuaikan dengan postur tubuh yang berbeda-beda untuk mengurangi stres pada tubuh.

v Bisa Dihindari
Ada juga rasa pegal pada otot lengan sesudah selesai mengetik dengan komputer, tetapi itu lebih disebabkan oleh salah duduk atau salah menempatkan keyboard (alat kendali komputer berupa tombol-tombol seperti mesin ketik) yang terlalu tinggi daripada siku tangan. Ini tidak berarti bahwa masalah yang merisaukan itu tidak perlu diperhatikan. Kelompok kerja WHO yang meneliti masalah ini malah ingin menekankan bahwa ketidakenakan penglihatan yang timbul pada para operator komputer harus dianggap sebagai masalah kesehatan.
Ketidakenakan itu dapat dihindari dengan memberi perhatian pada rancangan peralatan komputer (waktu kita beli barang itu), tempat kerja seperti meja kursi untuk mengoperasikan komputer, lingkungan kerja dan praktek pengoperasian komputer.
Letak keyboard misalnya, mempunyai pengaruh fisik terhadap operator. Grandjean dan kelompoknya dari Swiss Federal Institute of Technology yang mempelajari hubungan antara sikap operator dengan penempatan peralatan komputer, antara lain menemukan ada peningkatan ketidakenakan fisik, kalau rancangan keyboard terlalu tinggi, kalau keyboard ditaruh terlalu rendah, dan kalau lengan depan dan pergelangan tangan tidak dapat ditaruh pada sandaran penunjang (Behaviour and Information Technology 1984, Vol. 3 (4): 301 - 311). Juga WHO menyimpulkan bahwa luka-luka karena stres berulang kali pada otot dapat menimbulkan ketidakenakan otot. Namun, semuanya itu dapat dihindari.
Pengaruh negatif dari komputer terhadap tenaga kerja belum tampak secara jelas. Mungkin satu-satunya pengaruh negatif yang terasa ialah adanya tenaga kerja yang kemudian sangat tergantung (semacam kecanduan) pada komputernya, sampai ia tidak bergairah kerja lagi kalau tak ada komputer (listrik mati atau alat rusak). Pemimpin perusahaan tentunya perlu mencegah timbulnya tenaga kerja semacam ini:
Apakah PC di rumah itu baik untuk anak-anak? Kalau tujuannya untuk merangsang, mendorong, daya pikir anak memang baik, tapi kalau hanya untuk main game saja, ya tidak.

v Diatasi dengan ergonomi
Bagaimana menghindari ketidakenakan fisik pada operator komputer? Ini bisa disiasati dengan pendekatan ergonomi (norma atau aturan kerja) yang bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia dan pekerjaannya, sehingga ia merasa tetap nyaman dan sehat pada waktu menggunakan komputer.
Seorang operator komputer harus bekerja sambil duduk. Memang lebih enak daripada karyawan lain yang harus bekerja sambil berdiri. Namun, bekerja sambil duduk ini juga terasa berat, kalau duduknya di atas kursi yang salah, dengan pengaturan yang tidak baik pula. Otot perut jadi lembek, punggung melengkung dan organ tubuh bagian dalam (terutarna alat-alat pencernaan seperti perut, lever dan ginjal) kurang baik bekerjanya.
Sebelum ada komputer, masalah yang timbul gara-gara bekerja sambil duduk ini juga sudah lama ada. Banyak tenaga kerja yang mengeluh tentang low back pain atau secretary's syndrome. Badan kaku, leher sakit, pinggang nyeri. Untuk mengatasi keluhan itu, kita juga sudah lama menciptakan kursi dan meja kerja berdasarkan ergonomi. Kursi ini mempunyai sandaran yang menyokong punggung dan ke atas melengkung ke belakang; berlawanan dengan lengkungan badan. Mestinya begitu, tetapi nyatanya kursi kantor kita (termasuk kursi dokter yang disediakan pemerintah) tidak begitu? Sampai sekarang masih banyak kursi kerja yang dibuat demi estetika menuruti lengkungan badan, sehingga tidak ergonomis mendukung tulang belakang.

v Warna Huruf yang Nyaman
Ketidakenakan mata pada operator komputer pada lazimnya disebabkan oleh kerja otot mata yang harus cepat berubah-ubah berakomodasi, dari beberapa jarak. Dari naskah yang harus dimasukkan ke komputer pindah ke monitor, dari monitor ke keyboard dan dari keyboard ke naskah lagi. Begitu terus berulang kali sampai mata memang harus bekerja lebih keras daripada mata karyawan lain yang bukan operator komputer.
Menurut penelitian, mata yang minus akan bertambah minus, tetapi itu dibantah oleh hasil penelitian di Amerika. Bertambah minusnya mata tidak disebabkan oleh komputer, tetapi karena mata operatornya memang bekerja lebih keras daripada mata orang lain yang pandangan matanya tidak sering pindah dari monitor ke keyboard lalu ke naskah, yang semuanya berjarak dekat.
Kelelahan mata ini dapat dikurangi dengan memberi pencahayaan lingkungan kerja di sekitar komputer yang lebih memenuhi syarat ergonornik. Lingkungan harus cukup terang, sehingga mata tidak lekas capek. Akan tetapi pantulan cahaya yang menyilaukan harus dihindarkan. Terutama dari permukaan keyboard. Misalnya pantulan cahaya silau dari kaca jendela atau lampu yang tidak tepat letaknya, yang dapat menyebabkan kesulitan dalam melihat secara terinci, apa yang disajikan pada layar komputer.
Untuk mengatasi kesulitan ini kita harus mengatur penerangan yang seimbang antara sumber cahaya dan benda-benda di sekitar komputer. Dapat juga melengkapi layar dengan kaca yang tidak memantulkan cahaya. atau memberinya lapisan anti silau.
Untuk kenyamanan kerja, sebaiknya dipakai layar yang besar, jarak antara mata operator dan layar monitor tidak kurang dari 45 cm sedang besarnya huruf tidak kurang dari 4,5 mm. Warna yang nyaman yang mengurangi kelelahan mata ialah hijau tua sebagai dasar layar dan hijau muda atau kuning sebagai warna huruf dan angka. Warna hijau dianggap baik, karena p[aling fisiologis bagi mata.

v Dekat Punggung
Ada perkembangan baru dalam penelitian tentang risiko para operator komputer, Para peneliti pada Kaiser-Permanente Medical Care Program di Oakland menemukan bahwa wanita hamil pengguna komputer di bagian sekretariat lebih banyak menderita gangguan daripada para pakar dan manajer yang menggunakan komputer kadang-kadang saja. Robert Hiatt, salah seorang peneliti dalam program yang melibatkan 1.583 orang wanita hamil itu menduga bahwa kondisi kerja yang buruklah yang lebih bertanggung jawab atas pengaruh buruk itu. daripada unit komputernya.
Gangguan itu timbul gara-gara para operator dalam suatu ruangan sempit duduk dekat sekali dengan komputer di depan dan belakangnya. Mereka terkena pancaran elektrornagnetik dari VDT (visual display terminal) lebih banyak daripada mereka yang tidak duduk berderet-deret seperti itu. Pancaran paling banyak berasal dari punggung VDT yang dikeluarkan oleh flyback transformer. Pancaran ini mengenai punggung operator yang duduk dekat sekali di belakang punggung VDT itu.

v Radiasi sinar
Ada kekhawatiran bahwa layar monitor komputer mengeluarkan sinar radiasi yang mengganggu alat kelamin operator. Ini gara-gara hasil percobaan dengan tikus jantan yang ditempatkan di depan layar monitor. Bobot testisnya menjadi lebih ringan. Biang keladinya diduga pancaran elektromagnefik dan medan elektrostatik. Lalu timbul desas-desus bahwa alat reproduksi operator wanita juga bisa terganggu.
Apa benar wanita operator yang 'Rena radiasi" layar komputer akan terganggil kehamilannya? Penelitian yang dilakukan di Swedia dengan lima ratus orang ibu hamil mempertanyakan apa memang ada radiasi? Radiasi dikatakan ada, kalau mampu mengubah sel-sel tubuh menjadi sel-sel ganas.
Ternyata yang keluar dari layar monitor komputer ialah sinar ultra violet yang kecil sekali. Bukan sinar X. Akan tetapi banyaknya laporan tentang gangguan kehamilan pada wanita operator, membuat penelitian mengenai ini masih berlanjut terus. Apakah gangguan pada wanita hamil itu karena radiasi, atau karena duduk yang salah? Hasil studi di Swedia itu tidak mendukung anggapan bahwa bekerja dengan komputer akan menyebabkan abortus atau malformasi yang bermakna.
Namun demikian, disarankan agar wanita yang sedang hamil tidak bekerja dengan komputer dulu. Kalaupun mau bekerja dengan komputer, sebaiknya duduk yang enak di atas kursi yang dapat disesuaikan. Dianjurkan pula agar setiap jam bekerja dengan komputer, kita beristirahat 15 menit untuk melakukan latihan jasmani ringan. Ini untuk mengurangi stres yang timbul pada pekerjaan monoton seperti seharian kerja menjalankan komputer.
Di negara maju yang sudah banyak menjalankan komputer, jam kerja operator diatur secara khusus. Hanya 4 jam secara penuh, dengan 15 menit istirahat untuk setiap satu jamnya. Di samping itu masih diberi 30 menit untuk istirahat besar dan makan siang.
Setiap tahun mata operator komputer hendaknya diperiksa dan dikoreksi atas biaya perusahaan atau kantor, VUT (Visual display terminal)-nya sendiri juga harus diperiksa dan diperbaiki setiap enam bulan sekali, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

B. Agar tidak Berkacamata
Ini merupakan terapi seorang dokter mata di Moskwa.Bukan.hanya Anda yang mungkin agak skeptis mendengar laporan ini. Banyak rekan sejawat di luar Rusia yang kurang percaya.
Dokter mata Amerika Serikat menghadiahkan sebuah Mercedes yang besar kepadanya sebagai kenang-kenangan. Di dalam kongres internasional, ia dianggap sebagai penemu teknik operasi mata baru. Meskipun demikian banyak teman sejawatnya menganggapnya sebagai seorang yang terlalu berani karena ia tak pernah merasa ragu untuk membedah bagian rnata yang penting, yakni kornea mata.
Supaya orang yang cadok dapat melihat tanpa bantuan kacamata, dokter mata dari Moskwa itu, Profesor Swjatoslaw Fjodorow, meraih pisau intannya. Dengan enam belas sayatan radial, ia mengubah lengkungan kornea, termasuk lensanya. Lengkungan menjadi lebih datar, penglihatan tambah baik. Sebagian besar pasien dapat melepaskan kacamata mereka yang tebal dan jelek sesudah menjalani operasi tersebut di atas.
Sudah bertahun-tahun lamanya, Prof. Fjodorow (55), yang menjadi direktur lembaga penelitian bedah mikro mata di Moskwa, diundang oleh rekan sejawatnya dari seluruh dunia untuk memperkenalkan operasinya yang berani itu. Dalam sebuah kongres di Roma, ia menceritakan bahwa banyak pasien yang datang kepadanya dan memohon sebagai berikut, "Dokter, berilah saya penglihatan yang lebih baik. Kacamata tidak memuaskan, ia malah mengganggu saya."

v Judi Ala Rusia
Hampir satu dari empat orang penduduk dunia menderita kelainan pada matanya; ia mungkin tak bisa, melihat dekat atau jauh, penglihatannya kurang tajam atau agak tertarik seperti pada penderita astigmatis. "Apa yang disumbangkan dokter mata? Mereka membuat pasiennya jadi budak dari alat pembantu yang mempersempit ruang lingkup pandangannya dan memperburuk wajah," kata Fjodorow. Dengan bangga, ia memberitahukan, "Kami telah berhasil mengoperasi lima ribu orang cadok dengan operasi kecil selama 15 menit. Misalnya pembedahan yang dilakukan terhadap dua puluh orang penerbang. Pemerintah telah demikian banyak mengeluarkan uang untuk pendidikan para penerbang, baik pesawat penumpang maupun pesawat pemburu, lalu mereka harus berhenti terbang akibat harus mengenakan kacamata atau lensa kontak. Tapi kini, mereka bisa tetap terbang." Tepuk tangan pun terdengar di Roma.
Namun kemudian timbul pertanyaan dari orang-orang yang meragukan kemampuannya. Mereka ingin tahu cara membedah kornea. "Dalam melakukan pembedahan, pasti terjadi luka. Kornea bisa menjadi buram," kata mereka. Perubahan yang sedikit saja pada jaringan yang peka itu bisa merupakan risiko besar. Seorang dokter mata dari Itali berkata dalam ruang sidang itu, "Yang Anda lakukan itu adalah permainan judi Rusia."
Tapi laki-laki dari Moskwa itu tetap tenang. Bagaimana kornea dapat beregenerasi diperlihatkannya melalui foto-foto yang diperbesar tiga puluh ribu kali dengan bantuan mikroskop elektron kepada rekan sejawatnya. Menurut dia, tentu saja hal itu tergantung pada ahli bedahnya dan padakualitas alat-alat operasi. "Jika ia menggerakkan pisau seperti orang di kapal oleng, tentu saja sayatannya tidak mulus. Kadang-kadang sayatan itu terlalu panjang. Dalam hal itu menyemburlah pembuluh darah dari selaput mata ke dalam sayatan dan mengotori kornea. Sernua kesalahan yang dilakukan ahli bedah membuat hasil yang kurang baik."
Lima tahun lamanya, Fjodorow dan 833 orang pembantunya mengawasi pasien yang pernah mereka operasi. "Penglihatan mereka tetap stabil," demikian bunyi laporan yang ditulis berdasarkan neraca. Bahkan empat dokter, dua orang suster dan tiga orang supir lembaganya juga dioperasi oleh Fjodorow dan tidak pernah memerlukan kacamata lagi.
Pada saat para ahli di Roma masih mendiskusikan, apakah teknik Fjodorow bisa dipakai secara rutin atau tidak, saya pun mengajukan pertanyaan kepadanya, "Di mana Anda belajar bahasa Inggris dengan baik?" Dokter itu tertawa, "Saya belajar dari buku kanak-kanak. Selain dari itu, saya telah dua belas kali ke Amerika, kadang-kadang sampai beberapa minggu lamanya. Pada saat seperti itulah saya belajar."
Laki-laki dengan berat tubuh 90 kilogram, yang melakukan pekerjaan halus dengan tangannya yang kekar itu, penuh percaya diri. Waktu saya bertanya, apakah saya dapat mengunjunjgi lembaganya atau tidak, ia memberikan jawaban, "Tidak ada masalah. Kami hanya membutuhkan izin Kementerian Kesehatan."

v Prakteknya di bangsal
Empat minggu kemudian, wartawan foto Dieter Heggemann telah berada di muka gedung lembaganya, di Beskudnikowsky Boulevard 59 A, di pinggiran kota Moskwa. Tempat itu pada dua tahun yang lalu masih dihuni kelinci dan orang-orang masih suka piknik di bawah pohori birke pada hari Minggu. Kini telah berdiri sebuah bangunan terbuat dari beton ber-tingkatdelapanyangindah. Sayap kiri gedung diperluas dengan sebuah bangunan yang besar.
Gang menuju ruang tamu tanpa hiasan dan tidak menyenangkan. Pada kursi plastik yang jumlahnya tidak banyak tampak para pasien menunggu giliran. Sebagian besar, sebelah matanya dibalut. Di mana-mana tampak gambar Lenin, baik berupa patung dada maupun lukisan. Kantor direktur terletak di tingkat dua: berdinding kayu, berpermadani halus dengan bantal besar untuk istirahat.
Seorang sekretaris membuka sebuah pintu rangkap. Fjodorow bekerja di sebuah bangsal. Betapa kecilnya tampak klinik di negara Barat. Ahli bedah berprestasi besar, yang membuat sayatan besar, mempunyai ruangan besar. Pimpinan lembaga sedang menelepon di ruangan pojokan yang lain. Kami masih punya waktu untuk melihat-lihat,” lanjut Heggemann.
Pada dinding papan tergantung piagam, sertifikat, tanda kehormatan, tanda jasa seperti yang dimiliki dokter-dokter Amerika. Di tengah-tengah ruangan besar seluas 80 meter persegi terdapat sebuah meja konferensi yang panjang dengan kursi yang nyaman. Di sebelah kanan jalan masuk, terdapat tempat penyimpanan alat-alat untuk memeriksa mata, sebuah sudut tempat praktek Fjodorow. Segala hal yang dilihat Fjodorow di mata pasiennya, juga dapat dilihat para pembantunya di layar televisi berwarna.
Sebuah televisi lain menghubungkan pimpinan itu dengan ruangan operasi. Melalui sebuah alat komuriikasi dua arah, ia bisa berbicara dengan pembantunya. Bukankah tulisan pada foto Lenin di atasnya berbunyi: memberi kepercayaan memang baik, tapi mengawasi adalah hal yang lebih baik lagi.

v Mejanya bagai Komedi
Profesor Fjodorow senang bahwa kami mengagumi kamarnya yang langit-langitnya memakai lampu sorot. Kemudian ia bercerita tentang pekerjaannya, "Saya sedang berpikir, bagaimana kami dapat mengoperasi pasien lebih banyak lagi." Fjodorow tengah memikirkan meja operasi seperti "komedi putar" dan memperlihatkan sebuah gambar kepada kami, yang dapat memperjelas cara kerja meja itu. Tujuh pasien terletak dalam kotak di atas lempengan yang bisa berputar. Di belakang kepala setiap pasien berdiri seorang dokter yang menangani satu macam tugas. Misalnya, dokter yang pertama menyayat mata seseorang. Sesudah itu pasien diputar, dihadapkan pada dokter berikutnya yang akan mengambil lensa yang keruh dari mata. "Komedi putar" itu terus berjalan. Dokter yang ketiga meletakkan lensa mata palsu. Dokter berikutnya menjahit mata itu kembali.
"Kalau begitu Anda harus mempunyai beberapa dokter spesialis yang sama, jika tidak, komedi putar Anda tidak akan berjalan," ujar Heggemann. Fjodorow berkata, "Kami mempunyai cukup dokter, meskipun demikian saya berpendapat bahwa dokter sebaiknya mempergunakan lebih banyak jotaknya daripada tangannya. Ia harus menemukan penyebab suatu penyakit dan kemudian menentukan cara penyembuhan yang terbaik. Pekerjaan yang memakai keterampilan tangan bisa dilakukan juga oleh tenaga pembantu. Mereka pasti lebih murah daripada dokter dan dapat turut serta dalam 'komedi putar'." Profesor itu selalu berpikir mengenai efek-tivitas kerja. "Menunggu pasien berikutnya, membuat saya tak sabar. Sambil menunggu seorang pasien menjadi tak sadar, saya bisa menangani dua pasien. Lihat saja nanti, bagaimana komedi putar semacam itu bisa berfungsi. Jika awal tahun depan gedung baru kami telah selesai, kami mempunyai dua belas kamar operasi dan lima ratus ranjang. Saat itu, kami ingin .mengoperasi seratus pasien sehari," katanya.

v Pelopornya Dokter Jepang
Pembicaraan kami diputus. Sekretaris membimbing seorang wanita berambut hitam ke dalam kamar praktek. "Ia harus saya periksa. Ia datang dari Siria. Setahun yang lalu, saya telah mengambil lensa matanya yang keruh dan sebagai gantinya, saya memasang lensa sputnik saya," cerita Fjodorow. Lensa dengan alat pegangan seperti antena yang kecil sekali itu masih terletak tepat di tengah iris seperti lensa yang asli. Mata itu dalam keadaan baik.
"Bagaimana Anda sampai pada ide untuk memperbaiki mata cadok dengan jalan operasi?" tanya Heggemann. "Itu bukan penemuan saya, saya hanya membuatnya siap pakai. Beberapa tahun yang lalu ada seorang pemuda ke rumah sakit kami. Lensa dari kacamatanya telah melukai korneanya. Kornea itu jadi tidak terlalu cekung lagi dan cepat sekali sembuh. Hal yang tidak diduga pun terjadi. Sesudah kecelakaan, anak muda cadok itu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Saya kemudian teringat kepada dokter mata Jepang, Sato. Tahun 1953, dokter itu mencoba untuk memperlemah pembiasan yang kuat dari sinar mata pada orang cadok.
Kata profesor itu, "Mata orang cadok terlalu panjang. Saya tidak bisa mernperpendeknya. Saya hanya dapat mengubah media pembiasan, yakni kornea atau lensa. Sato menggores kornea dari luar dan dari dalam dengan mempergunakan pisau istimewa. Hal itu menyebabkan sel endotelium yang peka terganggu. Kornea cepat mengkerut dan menjadi keruh. Tapi kami hanya menyayat bagian luar. Karena itulah risikonya pun lebih kecil."
Kami pergi ke ruang operasi bersama-sama Fjodorow,” lanjut Heggemann, “Memang ruangan itu tidak semegah ruang operasi di rumah sakit Jerman Barat, namun ruangan itu lengkap. Di atas setiap kepala ketiga pasien yang berbaring di situ tergantung sebuah mikroskop modern buatan Zeiss. Suasana di situ tenang, meskipun saat itu sedang dijalankan operasi terhadap tiga orang pasien.

v Hitungan Komputer.
Di meja operasi pertama, lensa dari seorang pemuda sedang diambil. Lensa itu terluka akibat jatuh dari kuda. Fjodorow berkata, "Kami juga mempunyai alat dari Amerika. Dengan alat itu, kami mencabik-cabik lensa dalam mata, lalu potongan kecil-kecil lensa itu disedot. Tapi biasanya pekerjaan itu bisa juga dikerjakan dengan pinset yang ujungnya mempunyai dua buah sendok kecil. Saya menyuruh tukang membuatkan alat itu. Alat itu lebih murah daripada sebotol wodka."
Seorang insinyur wanita berusia 22 tahun, Ala Maschorschena, yang berbaring di meja operasi sebelah pasien pertama, kedua matanya cadok minus 8. Sampai saat dioperasi, ia harus mengenakan kacamata yang tebal. Ia ditolong dengan mengadakan pembedahan di kornea.
Hasil yang diharapkan dari apa yang disebut keratotomi itu bergantung kepada garis tengah kornea pusat yang tidak boleh dipotong, tetapi karena sayatan, di pinggir akan terbenam lebih dalam. Setiap mata akan diukur sebelum operasi: berapa berat cadoknya, berapa tebal korneanya, berapa derajat kecembungannya dan tekanan ke dalamnya. Sernua data itu akan diberikan kepada computer yang akan menghitung dalamnya sayatan dan garis tengah daerah optis, yang tak boleh disentuh.
Akhirnya, Fjodorow akan menandai daerah optis yang berbentuk lingkaran itu dengan corong berisi pewarna, yang ia letakkan pada kornea. Pada lingkaran itu ia memberikan "cap" kedua, yang akan memberi batas sayatan ter-hadap kornea. Sekarang Fjodorow masih harus menyetel pisau mikrometernya untuk membuat kedalaman sayatan yang tepat pada mata, yang sudah dibuat mati rasa dengan tetesan.
Di bawah mikroskop, Fjodorow menyayat pinggiran iris mata langsung ke tengah. Dalam waktu' sepuluh menit, permukaan kornea terbagi dalam 16 sektor seperti kue tar. Pasien wanita itu hanya diberi sebuah plester, tanpa salep, tanpa obat. Seringkali kornea sembuh dengan baik sampai-sampai bekas luka tidak akan dapat dikenali, meskipun diperbesar dua belas kali.
Pasien yang tinggal di Moskwa boleh pulang dan kembali dua hari lagi untuk kemudian diperiksa di lembaga. Pasien luar kota biasanya tinggal di rumah sakit selama lima hari. Kemudian baru tiba giliran operasi mata yang sebelahnya.
Yang cocok untuk operasi seperti di atas ialah penderita yang cadok, tetapi matanya masih sehat. Fjodorow masih dapat menyembuhkan penderita yang berkacamata berdioptri 14 dengan operasi.
Memang ada beberapa perubahan mata yang tidak bisa dilakukan dengan operasi, seperti misalnya mata minus yang cepat sekali bertambah dari tahun ke tahun, infeksi kornea, bentuk kornea yang seperti peluru, katarak, retina yang sudah rusak. Anak-anak baru bisa dioperasi, jika mereka telah berusia empat belas tahun. Sebelum usia itu, mereka mempunyai kornea yang lentur.
Di Amerika, dokter yang mengerjakan operasi seperti yang dilakukan Fjodorow meminta bayaran sebesar 2.000 dollar. Berapakah biaya yang harus dibayar orang Rusia? "Negara memberikan uang sebesar 10 rubel kepada lembaga bagi setiap operasi mata dan untuk tiap pasien yang tinggal di klinik, dibayar 25 rubel per hari," kata Fjodorow. "Bagaimana kalau orang asing yang datang pada Anda?" tanya saya. "Dia akan dioperasi dengan cuma-cuma, karena honorarium pribadi tidak ada dalam kamus kami. Tapi untuk tinggal di klinik, ia ditarik bayaran 40 dolar," jawabnya.
Selanjutnya, Fjodorow mengajak pergi. "Saya ingin berjalan-jalan dengan Anda," katanya. Supir mobil dinasnya (mobilnya bermerk Wolga, berwarna hitam, biasa dipakai para direktur), membunyikan sirene tanda bahaya dan mendahului mobil di depannya sambil berjalan di jalur sebelah kanan.
Setelah lima belas menit perjalanan, sampailah kami di pabrik yang ada hubungannya dengan lembaga yang dipimpin Fjodorow. Bangunan itu mirip rumah tinggal biasa, jika dilihat dari luar. Di situlah dibuat lensa mata buatan. "Ilmu pengetahuan baru kadang-kadang dimulai di kamar kecil. Soalnya tempat semacam itu adalah satu-satunya ruangan yang masih bisa diubah menjadi bengkel. Seperti itulah pula kami memulainya," kata Fjodorow sambil tertawa dan menyeruak masuk ke bengkel.
Di ruangan itu duduk beberapa wanita berbaju putih di depan mikroskop, menyerut lensa sebesar 5 milimeter, memasang pegangan dan akhirnya mengepak 35 jenis lensa dalam kotak ekspedisi secara steril. Satu lensa harganya 100 dolar. Jika pabrik berjalan lancar, maka 150.000 lensa bisa diproduksi di sana setiap tahunnya.
Di bengkel kedua, ahli mekanik halus membut alat-alat untuk memasang lensa dan untuk keratotomi. Setiap tahun, diproduksi 1.000 set untuk klinik di Uni Soviet, Eropa dan terutama sekali untuk Amerika. Uang sebesar 7 juta dolar merupakan hasil penjualan semua produksi tersebut. Setengah dari jumlah itu masuk ke lembaga dan sisanya masuk kas negara.

v Pamer kekuatan
Ketika kembali lagi ke kantor, profesor itu tiba-tiba meraih barbel seberat 32 kilogram dan dengan mudah mengangkatnya dengan satu tangan. "Dulu, saya melakukan ini untuk melatih otot. Di zaman saya muda, tubuh saya lemah. Waktu jatuh cinta pertama kali, gadis yang saya taksir memuja pemuda yang berbadan kekar. Karena itulah saya membaca buku renang dan berlatih setiap hari selama dua jam di sungai, di kekat Rostow. Tidak berapa lama kemudian saya pun telah berhasil menjuarai perlombaan renang resmi gaya katak jarak lebih dari 1.500 meter," ceritanya.
Setelah mendemonstrasikan kekuatan, Fjodorow mengajak kami ke ruang makan yang nyaman, di sebelah kantornya. Di mana-mana tampak souvenir. Di dinding tergantung piala berburu, pedang dan pisau belati dari Timur. Di atas sofa terletak senapan dengan lensa pembidik. "Untuk menembak beruang," tukasnya.
Nyonya Fjodorow datang. Ia seorang wanita berambut pirang yang bertubuh besar, yang pantas menjadi penyanyi Wagner. Tetapi sebelurn bertemu "Slava", ia adalah seorang ahli kandungan. "Istri ketiga saya; ia betul-betul hebat," demikian Fjodorow memperkenalkannya. Kami menikrriati sup itik liar. "Enam belas ekor itik telah saya tembak kemarin dan dua ekor telah saya berikan pada juru masak," katanya.
"Laki-laki berbaju seragam itti adalah ayah saya," katanya sambil memperlihatkan sebuah lukisan cat minyak. "Mulanya ia pemasang ladam kuda dan kemudian menjadi komandan pasukan berkuda. Stalin telah mengucilkannya selama dua puluh tahun. Saya baru sadar setelah berusia 51 tahun, bahwa saya mewarisi darah pengendara kuda darinya. Waktu itu, saya diajak orang Amerika di Detroit ke istal. Di sana, saya duduk di atas pelana. Sejak itu saya berlatih kuda tiap Rabu sore."
Sekretaris Fjodorow mengingatkan najikannya bahwa pengusaha-pengusaha dari Amerika sudah menantinya di ruang konperensi. Fjodorow berkata "Mereka menjual lensa saya ke Amerika." Di kantornya, semua lampu dinyalakan. Kamera dijepret. Para tamu membuat foto kenang-kenangan Fjodorow, yang tampak agak marah. Ia mengomentari iklan barangnya yang tidak menarik di majalah vak Amerika. "Tahun 1977, iklannya baik, tapi sekarang tidak. Waktu itu, orang-orang yang datang ke sini makan kavini kental, tapi yang sekarang tidak menghasilkan apa-apa. Di gudang, tiga ribu lensa kami masih menumpuk. Sekarang, saya harus terbang ke sana untuk membuat presentasi."
Rupanya ia sudah mirip orang Amerika yang tinggal di Moskwa.

C. Pencangkokan Kornea untuk Tuna Netra
Habis Gelap Terbitlah Terang. Judul buku karya RA Kartini ini ternyata bukan sekadar untaian kata biasa bagi beberapa resipien kornea. Kegelapan mereka yang bertahun-tahun menemani telah berubah menjadi terang, karena mata mereka bisa melihat kembali.
Kebutaan adalah kegelapan hidup. Tidak ada yang bisa dinikmati dari pandangan mata. Semuanya hitam, pekat dan gelap gulita. Orang yang buta sangat terbatas langkah dan gerakannya. Bahkan di Indonesia, orang buta masih menjadi kelompok sosial yang dikucilkan. Bukti pengucilan itu dirasakan sebagai suatu diskriminasi. Paling tidak begitu pendapat Otje Soedioto, seorang wartawan senior yang buta ke dua matanya.Tahun 1987, Otje yang masuk menjadi calon anggota legislatif dari salah satu Organisasi Peserta Pemilu (OPP) harus rela tersingkir karena persoalan kebutaan itu. Karena Otje dianggap tidak bisa menulis.
Kisah sedih lain, bisa disaksikan dalam banyak realitas. Orang buta sering terseok-seok di jalan, terhempas saat akan menetiki bis kota. Bahkan mereka sering kalah dalam setiap gerak kehidupan yang selama ini hanya memberi peluang dan kesempatan bagi mereka yang tidak buta.
“Lain halnya di negara-negara maju seperti di Eropa atau di Australia. Fasilitas umum yang ada, juga disediakan bagi mereka yang buta, baik di tempat penyeberangan jalan atau di tempat-tempat umum, seperti di shelter bus," kata Otje waktu itu. Tapi apakah mereka harus mengalah terus dan tetap tersisih dari kehidupan. Ini sebuah persoalan serius.
Sebetulnya, sejak 1967, pemerintah telah menempat kanmasalah kebutaan ini sebagai bencana nasional. Atas. dasar perhatian itu, maka lahir sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terpanggil untuk membantu mengatasi persoalan kebutaan. LSM itu bernama Perkumpulan Penyantun Mata Tuna Netra Indonesia (PPMTI) atau yang dikenal dengan istilah Bank Mata.
Selain itu, ada juga kegiatan sejenis yang dilakukan Lions Club. Kalau Bank Mata menangani kebutaan dari sisi'kornea mata, sedang Lions Club menyentuhnya dari sisi kebutaan yang disebabkan katarak. Dan masih banyak lagi LSM yang peduli dengan masalah ini. Harapannya tentu membantu kaum buta agar mereka bisa mengatasi persoalan hidupnya.

v Bencana Nasional
Kasus yang menimpa Otje Soedioto adalah bermuatan politis, yakni bagaimana memberi pengakuan kepada kaum tuna netra agar bisa mendapatkan hak yang sama dengan saudara-saudaranya yang bisa melihat. Tapi upaya lain yang lebih mendesak juga cukup banyak, misalnya mencegah kebutaan, atau kalau perlu membantu mereka yang buta agar bisa melihat kembali. Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VIII DPR RI dengan LSM Mata, muncul sebuah gambaran mengagetkan dari pemaparan para aktivis LSM Mata. Adalah Ir. Sulaeman Krisnandhi yang melontarkan data, bahwa kebutaan telah menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia. Kerugian dari bencana alam yang paling dahsyat sekalipun tidak sebanding dengan kerugian akibat kebutaan. Begitu kata Ir. Sulaeman Krisnandhi, salah seorang ketua Bank Mata.
Perhitungannya begini. Menurut data dari Bank Mata, 1, 2 persen penduduk Indonesia mengalami kebutaan kedua matanya. Bila saat ini penduduk Indonesia 300 juta, berarti sekitar 3,4 juta penduduk Indonesia yang buta. Angka ini tertinggi di dunia minus Afrika. Dengan asumsi kaum tunanetra ini tidak produktif. Sedang dalam perhitungan ekonomi, pendapatan perkapita bangsa Indonesia sebesar 1.000 USD per tahun, maka setiap tahun Indonesia kehilangan pendapatan sebesar USD 3,4 Miliar. "Tidak ada bencana dengan kerugian sebesar ini setiap tahunnya," kata Sulaernan.
Sebetulnya mereka yang buta kedua matanya bukan berarti harapannya telah pupus untuk bisa melihat kembali. Ini tergantung pada penyebab kebutaannya, apakah disebabkan karena katarak atau karena kerusakan kornea.
Dari 3;4 juta penduduk Indonesia yang buta, 75 persen buta karena katarak, 10 persennya orang buta karena kerusakan kornea. Kebutaan yang diakibatkan kerusakan kornea sebetulnya bisa disembuhkan dengan cara mencangkok kornea mata dari donor. Ini sudah dibuktikan ribuan orang yang telah tertolong, di antaranya Ny. Siti Hasanah dan Ny. Juaningsih. Kedua orang ini telah membuktikan kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga dunia yang gelap berubah menjadi terang kembali.

v Masih Terbatas
Upaya pencangkokan kornea yang dipelopori Bank Mata, bukan tidak ada kendala. Masalahnya, ketergantungan Indonesia pada negara-negara donor masih sangat tinggi. Selama 25 tahun terakhir, Indonesia selalu menerima kiriman kornea dari Sri Lanka. Sampai tahun 1995, kornea dari Sri Lanka mencapai 4.100 buah. Dan jumlah ini hanya 65 persen yang baik. Sedang pada kurun waktu yang sama, kornea dari dalam negeri hanya mencapai 400 buah dan semuanya baik. Ini berarti sejak 25 tahun terakhir, tercatat sekitar 3.065 ribu orang yang bisa dibantu pemulihan penglihatannya. Angka ini tentu masih sangat sedikit dibanding mereka yang membutuhkannya.
Meski resminya tidak ada pungutan biaya untuk mendatangkan kornea dari Sri Lanka, namun prakteknya Indonesia harus membayar USD 100 setiap kornea sebagai biaya perawatan. Belakangan, biayanya meningkat menjadi USD 200 per kornea. Biaya itu ditanggung oleh Belanda melalui Roterdamsche Ueriniging Blindenbelangen (RVB). Badan ini membayar 75 persen biaya pengadaan kornea. Lembaga ini pula yang membantu Sri Lanka mengawetkan kornea sehingga tahan disimpan sampai maksimal tiga minggu. Tanpa pengawetan, kornea hanya bisa ditransplantasi dalamwaktu 2X24 jam. Dengan teknologi pengawetan ini, secara leluasa kornea bisa didistribusikan ke daerah-daerah dalam kondisi baik.
Kini, pengiriman kornea dari Sri Lanka dihentikan atas permintaan indonesia. Kalaupun ada kiriman, lebih banyak dari Amerika Serikat. Sehingga upaya pengadaan kornea akan diperjuangkan melalui dalam negeri. Untuk itulah, upaya penyuluhan kepada calon donor secara intensif dilakukan Bank Mata dengan melibatkan tokoh-tokoh agama dan dokter-dokter puskesmas.
Ada anggapan, sedikitnya calon donor kornea terhalang ajaran agama. Itu jelas tidak beralasan. Semua agama tidak melarang perbuatan mulia ini, mendonorkan kornea matanya untuk membantu saudaranya yang membutuhkan. Ini terbukti, kalau pada 1989 baru 10 ribu calon donor, pada 1995 sudah mencapai 20 ribu calon donor.
Bank Mata memprioritaskan kepada mereka yang buta kedua matanya untuk dicangkokkan sebelah. Ini dilakukan mengingat masih terbatasnya cadangan kornea yang ada. Namun, untuk mendapatkan calon resipien juga bukan hal mudah. "Sejauh ini masih ada anggapan keliru, sehingga orang yang buta, yang sebetulnya bisa dibantu untuk dapat melihat kembali, merasa takut menerima cangkok kornea," kata Dr. Suheni Soedjatmiko. Untuk itu, kegiatan penyuluhan tidak hanya sebatas menyadarkan masyarakat untuk menjadi calon donor, tapi sebaliknya menyadarkan mereka yang tuna netra untuk siap menerima bantuan agar bisa melihat kembali.
Siti Hasanah, seorang ibu yang usianya sudah 51 tahun, kini boleh bersyukur. Karena sejak melakukan operasi pencangkokan kornea di RS Mata Aini, Jakarta, wanita asal Bandung ini bisa melihat kembali. Rasa syukurnya tidak hanya kepada dokter yang melakukan pencangkokan, tapi kepada seluruh alam dan panorama dunia ini, karena ia bisa menikmati indahnya ciptaan Allah ang menjadi nikmat tersendiri bagi penglihatannya.
Begitu juga yang dialami Ny. Juaningsih (31 tahun). Selama masih menjadi tunanetra, tidak bisa melihat apa-apa selain warna hitam pekat yang menutupi pandangannya. Tapi sejak bulan Mei lalu, ia boleh bersyukur atas pulihnya penglihatan matanya.
Kedua resipien mata ini tidak tahu, kornea mata siapa yang telah menempel di matanya dan membantunya untuk dapat melihat. Yang ia tahu, ia mendapat sumbangan donor dari Amerika melalui BankMata. Mungkin saja Anda yang selama ini tidak bisa melihat karena kerusakan kornea, akan bisa bernasib baik seperti yang dialami kedua wanita itu jika saja Anda adalah orang yang selama ini bisa menikmati indahnya penglihatan. Apakah Anda rela membiarkan kornea Anda menjadi busuk termakan tanah saat jasad Anda dikubur, atau Anda akan menyumbangkannya kepada saudara-saudara Anda yang buta, yang pasti sangat membutuhkan kornea itu?
Ini semua terpulang pada sejauh mana penghayatan seseorang pada penderitaan orang lain. Karena untuk menjadi calon donor, dan kemudian mendonorkan mata saat menutup hayat, tidak ada larangan dari agama mana pun. Karena ini adalah tindakan mulia. Maka Habis Gelap Terbitlah Terang.

D. Manfaat Lensa Kontak
Mata memberi sejuta makna. Dari sorotan mata kita bisa menebak apakah seseorang sedang bahagia atau murung. Dengan mata kita dapat menyaksikan indahnya dunia dengan segala peristiwanya. Dan tahukah Anda bahwa mata indah dan sehat itu memiliki daya tarik tersendiri?
Karena mata adalah modal utama yang tak ternilai harganya, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaganya, agar tetap indah dan sehat. Kemajuan teknologi membawa dampak positif bagi para pengguna kacamata. Khususnya bagi yang beraktivitas tinggi dan ingin tampil alami, kehadiran lensa kontak telah memberi solusi bagi mereka. Selain praktis juga tidak mengganggu faktor estetika. Maka tak heran, kalau keberadaan lensa kontak kini kian populer.
Namun ada yang perlu Anda ketahui sebelum Anda memutuskan untuk menggunakan soft contact tens (lensa kontak lunak) ini, mengingat banyaknya jenis pilihan yang ditawarkan. Ada jenis konvensional, ada pula jenis disposable (sekali pakai). Yang konvensional kini kurang disukai, karena bahannya kurang fleksibel, sehingga sering menyebabkan iritasi sewaktu pertama kali dipakai. Selanjutnya pemakainya tetap merasakan tidak nyaman, karena meskipun dibersihkan tiap hari, kotoran yang terlanjur menempel tidak akan hilang. Hal ini berbeda dengan yang disposable. Lensa kontak jenis ini banyak dipakai karena mempunyai beberapa kelebihan. Di antaranya, dibanding dengan lensa kontak yang penggantiannya setahun sekali, lensa kontak sekali pakai ini lebih praktis, dapat menekan proses timbulnya iritasi, sangat nyaman dan hampir tidak terasa. "Lensa kontak ini lebih higienis, serta terhindar dari penumpukan deposit protein, lemak, dan kotoran lain yang berpengaruh pada kesehatan mata", ujar Dr. John Ang. Ph.D, seorang doktor dibidang optometri lulusan University of Melbourne yang saat ini menjabat sebagai Senior Profesional Development Manager Asia Pasific dari Johnson & Johnson
Di antara produk-produk lensa kontak sekali pakai yang ada di pasaran, terdapat lensa kontak sekali pakai yang memiliki keunggulan-keunggulan tersebut. Penggantian lensanya dapat dilakukan setiap dua minggu, sehingga pembersihan dengan enzim setiap minggu tidak diperlukan. Selain itu, menjadikan mata tetap sehat dan terhindar dari masalah penumpukan deposit yang biasa terjadi pada lensa kontak biasa, serta mengurangi risiko dan iritasi dan rasa tidak nyaman.
Mata kita seperti halnya tubuh, perlu oksigen untuk bernapas. Semakin tinggi oksigen yang mengalir melalui lensa, semakin bebas mata kita bernapas. Aliran oksigen yang tinggi ini merupakan salah satu persyaratan penting yang harus dipenuhi agar mata senantiasa sehat dan nyaman sepanjang hari. Melalui proses Stabilized Soft Moulding, lensa mata dibuat melalui tahapan proses yang lunak dan lembab, sehingga hasilnya lebih akurat sehiongga memenuhi persyaratan sebagai lensa kontak sekali pakai yang sehat, nyaman, membuat mata bebas bernapas, serta memberi ketajaman visual.
Gelombang kuat sinar ultraviolet sinar matahari selain dituding sebagai penyebab penyakit kanker kulit, juga mengganggu kesehatan mata. Karena itu mata perlu mendapat perlindungan. Salah satu cara paling mudah untuk melindunginya adalah dengan menggunakan pelindung mata dari sinar matahari.
Sekarang sudah ada produk penemuan baru lensa kontak sekali pakai dua mingguan dengan tabir surya (UV Protection). "Ini kabar baik bagi mereka yang beraktivitas tinggi, dan ingin segalanya serba praktis. Lensa ini dapat melindungi mata Anda dari pengaruh buruk sinar ultraviolet," ujar John Ang.
Lensa kontak jenis mutakhir akan mampu memblokir sinar ultraviolet matahari maupun sinar yang berasal dari komputer, proyektor, maupun paparan sinar ultraviolet dari pencahayaan lainnya sampai 95 persen. "Dengan demikian, lensa kontak terbaru ini dapat berfungsi di dalam maupun luar ruangan" tambah John Ang. Menurutnya, dengan penambahan tanda AV (yang membedakan bagian luar dan dalam), pemakaian lensa tidak akan terbalik. Hal ini sangat memudahkan para pemula atau yang baru pertama kali menggunakan lensa kontak.
Komponen bahan dasarnya terdiri dari Etafilcon A, dan hanya ada penambahan anti ultraviolet ke dalam bahan monomer dari Etafilcon A. Sementara metode perawatannya seperti lensa sebelumnya, yaitu diganti setiap dua minggu. Dengan menggunakan lensa sekali pakai ini, Anda memiliki kenyamanan tambahan, yakni selalu tersedia lensa baru. Dan perlu diingat, makin sering Anda mengganti lensa kontak, makin sehat mata Anda.

v Kiat Memilih Lensa
Dunia perkacamataan sudah terlena selama puluhan tahun tanpa perkembangan yang berarti. Tetapi baru-baru ini telah terjadi suatu revolusi pada penggunaan lensa dengan ditemukannya bahan lensa yang lebih baik dari pada gelas yaitu bahan plastik berindeks bias tinggi yang memiliki sifat-sifat optik sama seperti gelas.
Mutu lensa ditentukan oleh 3 unsur utama, yaitu bahan, disain, dan pelapisannya.Bahan lensa harus jernih, tidak berwarna, dengan nilai indeks warna kuning (Yellowish Index, YI) sedekat mungkin dengan 0. Idealnya YI = 0, artinya sejernih air.
Untuk kenyamanan pemakaian, perhatikanlah berat jenis (BJ) bahan lensanya. Makin kecil BJ berarti makin ringan, nyaman dipakai. Lalu perhatikan nilai Abbe yang menentukan aberasi warna (chromatic aberation), yang mempengaruhi ketajaman penglihatan. Makin tinggi nilai Abbe, makin tajam penglihatan kita. Lensa yang baik harus memiliki nilai Abbe di atas 40, misalnya 42 atau bahkan di atas 50.
Dan yang lagi "trend" saat ini adalah lensa dengan indeks bias tinggi (high index). Sekedar indeks bias tinggi tidak selalu menguntungkan karena ada 2 kerugian yang selalu menyertai lensa dengan indeks bias tinggi, yaitu berat jenisnya makin tinggi dan nilai Abbe-nya makin rendah. Sebaiknya tidak mengorbankan ketajaman penglihatan Anda dengan sesuatu yang sekedar "trend". Dan bila Anda harus mengenakan lensa kombinasi untuk melihat jauh dan membaca, mintalah lensa progresif dengan disain yang sesuai dengan fisiologi mata, yang dikenal sebagai lensa Global Progressive. Berkat disainnya, lensa jenis ini nyaman untuk melihat obyek jarak jauh, sedang, maupun dekat.
Selanjutnya perhatikan informasi lapisannya. Lapisan yang sernpurna pada lensa plastik terdiri atas lapisan keras (hard coat), lapisan anti refleksi (multi-layered antireflective coating), dan lapisan hidrofobik (aqua coat). Dengan lapisan yang sempurna, lensa akan tarnpak jernih dan tidak memantulkan cahaya apa pun warnanya. Tanyakan spesifikasi setiap jenis lensa kepada pramuniaga yang melayani Anda karena Anda berhak tahu dan berhak memilih. Bila Anda teliti dalam memilih, akan Anda peroleh lensa yang nyaman dipakai, tajam untuk memandang obyek sejarak apa pun, tidak menyebabkan keluhan, mudah perawatannya, dan tahan lama.
Teknogi mutakhir menemulan lensa plastik yang mempunyai indeks bias tinggi (high-index) ini lebih tipis dari lensa standar (n = 1.5), lebih ringan dari lensa gelas dengan berat yang hanya kira-kira setengahnya, dengan daya tahan pecah yang jauh lebih baik. Lensa ini akan membuat kita lebih "tampan, nyaman, dan aman". Kelemahan bahan plastik maupun gelas berindeks bias tinggi adalah kecenderungannya yang besar untuk menguraikan warna (highly dispersive). Ini menyebabkan lensa yang terbuat dari bahan berindeks bias tinggi kurang baik untuk kaca mata karena benda-benda yang berwarna putih akan terlihat seperti pelangi pada tepitepinya. HOYA LENS (Jepang) baru-baru ini menemukan bahan plastik berindeks bias tinggi namun dengan tingkat dispersi warna yang rendah yang pertama di dunia. Dengan demikian lensa ini lebih tipis, lebih ringan, dan tidak mengganggu penglihatan. Sejak tahun lalu jenis lensa ini telah memasuki pasaran dunia dan akan segera hadir di Indonesia. Karena lensa-lensa ini di produksi di Asia, maka harga jualnya pun dapat ditekan hingga terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar