Minggu, 27 Desember 2009

Mempertahankan Keyakinan.

Mempertahankan Keyakinan.


Ketika Umar bin Khathab menjadi khalifah, Islam begitu gemilang. Agama hak ini telah menyebar ke Mesir, Syria, Baitul Muqaddas, sampai ke Antiokia hingga ekspansi diteruskan kepusat kekaisaran Romawi Timur, namun tampaknya benteng pertahanan musuh masih begitu kokoh hingga banyak tentara Islam yang tertawan. Ketika itulah panglima tentara Romawi memeriksa para tawanan Muslim, dimana dia menemukan seorang tentara Islam yang tampak begitu gagah. Dipanggilnya tentara itu guna menghadap sang kaisar untuk berdialog. Dalam kondisi seperti ini hanya ada dua alternatif, mati atau hidup. Namun setelah mendekati istana kaisar, dihadapannya ditaruh rantai yang berfungsi agar setiap orang yang menghadap kaisar, dengan sendirinya akan membongkokkan badan untuk menghormat sebagaimana orang yang sedang ruku’. Maka segera saja tentara Islam itu berkoar :
“ Aku akan sangat malu kepada Nabiku – Muhammad – jika saja aku menghadap orang kafir dengan membongkok sebagaimana sedang melakukan ruku’ dalam shalat menyembah Tuhan.”
Sang kaisar segera saja memerintahkan untuk memindah rantai itu, kemudian tentara Islam itu pun menghadap hingga terjadi dialog :
“ Sebaiknya kau memeluk agamaku saja dimana cincinku ini akan kusematkan pada jarimu dan setelah itu kau akan kuangkat sebagai penguasa yang ada dalam wilayahku, bagaimana ?.”
“ Berapa luas kekuasaan kaisar menurut perhitungan yang ada dipeta ?.” tentara itu balik bertanya.
“ Mungkin sepertiga atau seperempat luas dunia keseluruhan.” jawab kaisar tampak mantap.
“Padahal jika saja seluruh dunia ini berupa emas dan mutiara kemudian kaisar memberikannya padaku dengan catatan aku tidak diperkenankan lagi mendengar azan setelah itu, sekali-jkali aku tidak akan sudi.” jawab tentara itu dengan tegas.
“ Apa azan itu.” tanya kaisar.
“ Kalimat yang begitu mulia – Asyhadu anla ilaha illal’Lah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulul’Lah.” jawab tentara Islam.
Segera saja kaisar berkata pada panglimanya :
“ Keyakinan orang ini begitu kuat, kita tidak akan mungkin bisa mengikisnya.” begitu kaisar mengatakan.
Sesaat kemudiasn, panglima itu disuruh menyalakan api untuk merebus air dalam periuk besar dimana setelah mendidih, tentara itu dipaksa untuk masuk kedalamnya. Dengan sikap yang tenang dan membaca basmalah, dia pun menceburkan diri. Namun anehnya dia tidak merasakan sakit sedikit pun, malah keluar dari periuk itu layaknya orang yang baru mandi, badannya segar bugar. Melihat peristiwa ini kaisar begitu galau, murkanya bertambah mendidih dan merasa dihina hingga dia segera memerintahkan para prajurit untuk menyeret tentara itu dan dijebloskan dalam tahanan yang begitu pengap dan gelap.
Tentara itu pun dipenjara tanpa diberi makan dan minum. Setelah tiga hari berlalu beberapa potong daging babi dan botol-botol arak disodorkan begitu saja kemukanya, perlakuan seperti ini berjalan hingga empat puluh hari lamanya dimana setiap hari mendapat ransum satu botol arak dan sebungkus daging babi. Dan setelah itu mereka membuka pintu penjara tadi. Dengan begitu heran, daging-daging babi itu ternyata masih utuh dan botol-botol arak itu juga genap tiga puluh tujuh, berarti tentara itu tidak menelan makanan apapun selama ini.
“ Bagaimana kau tidak makan, padahal apa yang diharamkan akan diperbolehkan disantap jika dalam keadaan darurat.” tanya prajurit kaisar.
“ Jika saja aku memakannya, tentu saja kalian akan bergirang hati, padahal aku bermaksud agar hati kalian betul-betul marah besar kepadaku hingga kalian sendiri yang akan mati karena stres.” jawab tentara Islam itu tanpa beban.
“ Kalau begitu bersujudlah pada sang kaisar dimana saya akan segera melepasmu beserta kawan-kawanmu.” bujuk seorang panglima kaisar.
“ Dalam agama Muhammad Saw. tidaklah diperkenankan bersujud pada selain Allah.” jawab tentara itu sengkat.
“ Sudah begini saja, ciumlah tangan kaisar dimana kau akan bisa selamat.” bujuk panglima itu lagi.
“ Mencium tangan seseorang pun tidak etis kecuali terhadap tangan penguasa yang bersikap adil atau tangan ayah bunda atau tangan seorang guru.” jawab tentara itu dengan tegas.
“ Kalau begitu ciumlah kening kaisar dimana akan lebih ringan beban psikologisnya.” tawar panglima lagi.
“ Boleh, boleh dan akan segera kulakukan.” sahut tentara itu.
Maka dengan segera panglima itu mendekat pada sang kaisar untuk membisikkan bahwa keningnya akan dicium oleh seorang tentara Islam sebagai tanda hormat. Ternyata kaisar menyetujui alternatif ini.
Namun tentara Islam itu segera menyobek baju dalamnya sebesar sapu tangan kemudian maju dihadapan sang kaisar seraya menempelkan kain itu dikening kaisar, lalu cup – keningnya dicium sebentar dan segera ngeloyor mengundurkan diri. Padahal ketika mencium itu dia berniat mencium kain sobekan tadi, sekali-kali tidak sudi mencium atau menghormati kening orang kafir, apa lagi jikalau berbisul dan berjerawat.
Ternyata dengan perbuatan begitu saja, hati sang kaisar telah merasa tersanjung setinggi tugu monas hingga seluruh prajurit Islam yang tertawan itu dilepaskan dan malah dibekali harta yang cukup banyak. Maka segera saja tentara Islam itu berkirim surat memberitakan keselamatan mereka pada Umar bin Khathab Ra..
Ketika Umar membaca surat yang datang dari Romawi itu, dia begitu gembira, dimana sebagian prajurit Islam masih ada yang selamat ketika telah terperangkap ditangan musuh. Dan setelah beberapa bulan kemudian maka datanglah para prajurit itu menghadap khalifah dengan membawa harta berharga yang masih utuh. Dengan berseri-seri, Umar mengatakan :
“ Betapa bahagia hari ini, kalian telah datang dengan membawa oleh-oleh, disertai jasmani dan ruhani yang taidak kurang suatu apa pun. Untuk itu aku berharap hendaknya harta itu sebaiknya dibagikan saja keseluruh penduduk Madinah.” begitu Umar menyampaikan pendapatnya.
Maka segera saja seluruh prajurit menyetujui dengan senang hati hingga seluruh harta itu habis tuntas dalam beberapa saat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar