Minggu, 27 Desember 2009

Rasulullah Saw. didalam Taurat

Rasulullah Saw. didalam Taurat


Mereka yang menjadi keturunan Yahuda putera Nabi Ya’qub As. bin Ishaq bin Ibrahim As. itulah yang dinamakan Yahudi dengan menambah ya’ nisbat dibelakangnya hingga berarti bangsa Yahudi. Sedangkan Israel itu merupakan nama lain dari Nabiyullah Ya’qub As. hingga keturunannya disebut Bani Israel, namun pada akhirnya kalimat Yahudi itu malah lebih dominan dalam percaturan politik kendati sulit dibedakan antara keduanya hingga yang disebut Yahudi itu juga Isrel atau sebaliknya. Dengan demikian Rasulullah Saw. masih bertalian darah dengan mereka, bertemu pada Nabi Isma’il bin Ibrahim As. Namun perseteruan antara Islam dan Yahudi semenjak zaman Rasulullah sampai kini tampak belum berakhir hingga keluarnya Dajjal nanti. Permusuhan ini pada asalnya berpangkal dari masalah kenabian, dimana menurut prediksi kebanyakan kaum Yahudi, Nabi akhir zaman nanti akan diangkat Allah dari golongan mereka, namun tidak tahunya muncul dari Makkah, dari keturunan Nabi Ismail ( anak dari segala saudaranya ).
Yahudi atau Israel merupakan sebuah bangsa yang menurut sinyalemen Al-Qur’an telah berani sekali memperolok Allah SWT, Tuhan Semesta Alam dengan mengatakan bahwa Allah itu melarat, tangan Allah itu terbelenggu. Sebuah bangsa yang telah banyak membunuh para Nabi, sebagaimana Nabi Yahya dan Zakariya As. pemburu Nabi Isa As. yang gagal dibunuh dan lain-lain masih banyak lagi.
Konon Karl Marx pencipta paham anti tuhan itu juga Yahudi. Charles Darwin yang menyebarkan teori kunyuk dan lain-lain yang kebanyakan berlawanan dengan konsep yang disyari’atkan Allah. Mereka merupakan figur rentenir ulet yang bisa menciptakan uang beranak cucu, dimana kita telah diperingatkan Allah bahwa Yahudi dan Nasrani tidak akan bertopang dagu selagi kita belum mengikuti millah mereka, konsepsi hidup dan kehidupan mereka.
Dimasa Rasulullah Saw. hiduplah seorang Yahudi negeri Syam (Syria) yang sering membaca kitab Taurat. Pada hari sabtu, ia telah bersiap untuk membaca sebanyak-banyaknya, namun baru beberapa lembar dia membaca, sudah menemukan sifat dan ciri-ciri Rasulullah pada empat tempat. Betapa geram hatinya, kambuh dengkinya, maka segera saja dia sobek lembaran yang ia baca itu. Pada sabtu kedua dia membaca lagi, kali ini dia malah banyak menemukannya sampai di delapan tempat. Dengan tidak sabar lagi dia pun menyobek lembaran itu dan membakarnya. Kemudian pada sabtu ketiga dia menemukannya sampai pada dua belas tempat. Kali ini barulah dia berpikir :
“ Kalau saya sobek lagi, kitab Taurat ini akan betul-betul menjadi butut dan akan tinggal beberapa lembar saja.”.
Namun hatinya semakin galau ingin mengenal siapa itu Muhammad. Kegalauan itu semakin hari semakin mengental hingga sempat bertanya pada sanak saudara dan kawan-kawannya. Dimana pada umumnya mereka menjawab :
“ Mengapa kau ingin mendekati pendusta itu, pembohong ulung, akan lebih baik kamu tidak pernah melihatnya dan dia pun tidak pernah melihatmu, kuncilah hatimu serapat-rapatnya.”
Kendati telah dinasehati mereka begitu rupa namun hatinya tetap galau hingga pada suatu hari dia bertekad untuk datang ke Madinah ingin menemui Rasulullah Saw. Dengan tekad bulat akhirnya dia berangkat dengan menunggang kuda seraya mengatakan:
“ Demi kitab Taurat yang telah diturunkan pada Nabi Musa, kendati kalian menghalangiku dengan segala upaya, aku akan tetap menemui Muhammad.”
Siang dan malam dia menempuh perjalanan yang begitu jauh dan melelahkan dimana jika maksud itu tidak begitu kuat, tentulah dia akan segera kembali ditengah perjalanan.Pada suatu pagi dia telah sampai di Madinah, dimana orang yang ditemui pertama kali yaitu shahabat Salman Al-Farisi, seorang shahabat yang wajahnya begitu tampan hingga si Yahudi itu mengatakan :
“ Apakah anda yang bernama Muhammad ?.” tanya dia dengan napas yang masih memburu.
Mendengar ucapan ini, air mata Salman langsung bercucuran teringat lagi kepada Rasulullah yang telah wafat tiga hari yang lalu. Dan setelah tangisnya agak reda, Salman pun menjawab :
“ Saya ini hanya seorang abdi beliau.”
“ Kalau begitu saya mohon sudilah anda menunjukkan rumahnya.” desak Yahudi itu lagi.
Mendengan ucapan ini, Salman berpikir sesaat :
“ Jika saja aku mengatakan bahwa Rasulullah telah wafat, sudah barang tentu dia akan kembali kenegerinya dengan rasa kecewa. Namun jika kukatakan bahwa beliau masih hidup, tentu saja aku berbohong padanya.” begitu Salman bergumam.
Dengan bijaksana akhirnya Salman mengajaknya untuk memasuki masjid menemui para shahabat lainnya yang masih berduka cita. Namun tidak terduga, si Yahudi itu mengucapkan :
“ Assalamu ‘alaika ya Muhammad.” dengan sangkaan bahwa Rasulullah berada diantara mereka itu. Mendengar salam ini meledaklah tangis para shahabat dimana pada akhirnya ada seseorang yang bertanya :
“ Siapa anda ! sungguh anda telah memperbaharui duka kami, mungkin saja anda dari negeri yang jauh. Tidakkah anda tahu , beliau telah wafat tiga hari yang lalu.” begitu ucapan itu menjelaskan.
Si Yahudi itu pun terkejut lantas meratap :
“ Betapa sia-sia perjalananku, alangkah baiknya jika ibuku tidak pernah melahirkanku. Akan lebih baik jika saja aku tidak pernah memabaca kitab Taurat hingga penyesalanku tidak separah ini. Alangkah baiknya ketika aku membaca Taurat itu tidak pernah menemukan sifat-sifatnya. Dan jika saja menemukannya, alangkah indahnya jika saja aku bisa berjumpa dengannya.”
Selanjutnya dia mengatakan :
“ Apakah Ali ada disini.”
“ Ya, ada.” jawab Salman.
Dan setelah bertemu dengan Ali, dia masih bertanya juga :
“ Siapa nama anda.” tanya si Yahudi.
“ Aku Ali bin Abi Thalib.” jawab Ali.
“ Aku juga menemukan nama anda tercantum dalam Taurat.” sambung si Yahudi itu.
“ Bagaimana pula sifat-sifat Rasulullah ?.” si Yahudi itu memerlukan penjelasan.
Ali lansung menjawab :
“ Postur Rasulullah itu tidak terlalu tinggi juga tidak pendek, kepalanya bundar, pelipisnya begitu bersih, kedua belah matanya hitam pekat, alisnya begitu indah, berhidung mancung, jika tersenyum tampak begitu manis, dadanya berbulu, telapak tangannya agak tebal, berbadan kekar, cekung telapak kakinya dan diantara dua belikatnya ada tanda kenabian sebesar cincin.”
“ Engkau benar wahai Ali, memang demikian keterangan yang ada dalam kitab Taurat.” sahut si Yahudi itu.
“ Adakah baju yang tertinggal atau sehelai kain yang pernah dikenakan beliau, aku berkeinginan menciumnya.” lanjut si Yahudi pula.
“ Ya, ada.” jawab Ali seraya menyuruh Salman untuk mengambilnya dirumah Fathimah, dimana sebelum berangkat, Ali berpesan pada Salman :
“ Katakan pada Fathimah, hendaknya jubbah Rasulullah diantarkan ke masjid sebentar saja.”
Salman pun berangkat, dan ketyika sampai dipintu, dia mengetuk seraya mengatakan :
“ Wahai rumah penghulu para utusan, saya datang memerlukanmu.” kata salman.
“ Siapa yang didepan pintu.” tanya Fathimah.
Salman pun menjelaskan bahwa Ali – suaminya – memerlukan jubbah Rasulullah sebentar.
Dengan meratap Fathimah mengatakan : “ Siapa yang berkehendak memakai jubbah ayahku kali ini ?.”
Salman pun menjelaskan duduk persoalannya hingga Fathimah mau mengambilkan jubbah. Dan setelah diterima Salman, tampak pada jubbah itu terdapat tujuh tambalan dengan serat pelepah kurma. Segera saja Salman membawanya pergi untuk diserahkan pada Ali. Ketika Ali menerimanya, dia menciumnya lebih dahulu, baru diberikan pada si Yahudi. Ia betul-betul tertegun hingga mengatakan :
“ Betapa semerbaknya bau wangi jubbah ini.” Namun sesaat kemudian dia langsung minta diantarkan ke makam Rasulullah, disitu dia mendongakkan kepala seraya berdo’a :
“ Ya Allah, aku bersaksi, Engkau Maha Esa, sendiri, menjadi tempat bergantung. Aku bersaksi pula bahwa yang mendiami makam ini RasulMu, kekasihMu, dan Engkau sendiri telah membenarkan apa yang beliau ucapkan. Ya Allah, jika saja Engkau menerima Islamku, ambillah ruhku sekarang juga.
Belum lagi do’a itu diteruskan, tiba-tiba saja dia jatuh tertelungkup dan mati seketika. Kemudian para shahabat dengan cekatan merawat jenazahnya dan langsung dimandikan oleh Ali Kw. Sendiri kemudian dimakamkan dipemakaman Baqi’ Al-Gharqad Madinah.
Itulah sebuah usaha keras untuk menggali dan mencari kebenaran, kemudian setelah mengetahui kebenaran itu, dia berusaha mengikutinya. Allahumma arinal haqqa haqqa wa urzuqnat tibaa’ah. Semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka yang beramal shalih. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar