Selasa, 29 Desember 2009

Menanamkan Jiwa Dermawan

Menanamkan Jiwa Dermawan


Pada satu bulan penuh di Bulan Ramadhan Allah swt menawarkan pahala bersedekah yang berlipat ganda. Dalam suasana yang sangat mendukung ini, manfaatkan kesempatan emas untuk mengajarkan anak senang bersedekah. Sebenarnya semua anak bisa bersedekah. Hanya kadar empati setiap anak berbeda-beda. Ada anak yang cepat tersentuh, ada anak yang perlu proses lama untuk memunculkan empatinya. Namun, dengan pola asuh yang baik serta keyakinan orangtua, semua anak bisa dibentuk untuk senang bersedekah.

v Tentukan saat tepat asah empati
Empati adalah kemampuan untuk bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Turut berduka saat rekan mendapat musibah atau turut bahagia saat tetangga mendapat rezeki tak terduga.
Karena pentingnya kemampuan ini, anakpun seharusnya diasah rasa empatinya. Ramadhan adalah kesempatan emas mengasah empati anak. Banyak contoh empati dapat diajarkan pada bulan ini.
Bagi anak, merasakan perut yang keroncongan saat puasa adalah cara tepat mengasah empati terhadap orang miskin. Jika anak mengeluh, "Lapar, Bu." Gunakan kesempatan ini untuk mengajak anak merasakan apa yang dirasakan orang miskin. "Semua yang berpuasa merasakan lapar. Alhamdulillah, nanti saat berbuka kita bisa makan. Coba deh Kakak rasakan gimana ya orang miskin yang tidak punya uang untuk membeli makanan? Mereka kelaparan sepanjang hari." Dalam keadaan perut kenyang, sulit bagi anak untuk bisa merasakan rasa lapar.
Empati ini penting untuk ditumbuhkan sebelum mengajarkan anak bersedekah. Sebagai contoh, sebelum mengajarkan anak murid untuk berbagi, guru perlu mengkongkritkan hal-hal yang abstrak bagi anak-anak. Anak usia pra sekolah perlu mendapat rangsangan, misalnya dengan pancingan pertanyaan
"Orang miskin itu apa?" Mereka mungkin menjawab, "Orang miskin itu nggak punya uang." Bila ada jawaban ini, segera berikan lagi rangsangan, "Jadi, kalau nggak punya uang kita harus apa?" Mereka akan menjawab,"Kita bantu, Bu."
Bila sudah mengalir pemahaman ini barulah orangtua atau guru bisa menjelaskan, "Membantu orang itu namanya bersedekah. Sedekah itu bukan hanya dengan uang, bisa dengan baju atau makanan."
Bila empati telah ditumbuhkan dan diasah dalam keseharian, tentu dengan sendirinya muncul pula rasa sosial dan ingin beramal.

v Sentuh dan Kenali Perasaan Sendiri
Mengasah empati harus dimulai dengan mengajarkan anak untuk mengenali perasaan. Perasaan sedih, gembira, terharu, kecewa, marah, dan sebagainya. Latihan mengenali perasaan ini penting untuk melatih empati anak. Biasakanlah mengatakan "Kakak baik sekali deh, sudah membantu Ibu menenangkan Adek." Maka anak akan belajar dari reaksi lingkungannya bahwa yang dilakukannya diterima dan dirasakan oleh Ibu. Dia jadi memahami, ternyata reaksi merupakan sesuatu yang berarti.
Tentu saja, latihan empati tak hanya di bulan Ramadhan. Anak-anak perlu digali dan dilatih mengenali perasaannya setiap hari. Cobalah dengan latihan menggambar perasaan dan menempelkannya di tempat yang dekat dengannya. Misalnya, disamping tempat tidur. Warna hitam untuk marah, kuning untuk sedih, merah muda untuk senang, coklat bingung, merah untuk gembira sekali. Ajaklah anak untuk mengenali perasaan yang sedang dihadapi berdasarkan warna yang sudah disepakati. Misalnya, "Bagaimana perasaan Adek hari ini?" Karena, misalnya, hari ini ada acara pembagian makanan untuk berbuka kepada anak-anak di terminal, dia akan menjawab, "Aku senang Bu bisa puasa sampai Maghrib, tapi sedih deh tadi aku nggak bisa kasih makanan yang banyak ke anak-anak di terminal."
Akan lebih bagus lagi bila anak diajak memiliki 'buku perasaan'. Jadi, di buku perasaan, anak menempel warna merah muda untuk rasa senangnya bisa berpuasa sampai Maghrib dan warna kuning untuk perasaan sedihnya. Latihan ini penting sampai anak terbiasa mengenali dan mengungkapkan perasaannya. Setelah itu mengasah empati anak jadi lebih mudah.

v Peduli dan Berbagi
Kepedulian akan muncul bila anak memiliki rasa empati. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Paul D. Hastings, dari National Institute of Mental Health, pada jurnal Developmental Psychology, membuktikan bahwa gaya asuh Ibu yang hangat, yang menggunakan penjelasan dan tidak mengandalkan hukuman keras dalam mendisiplinkan anak, akan mempengaruhi kepedulian anak kepada sesama.
Momen Ramadhan adalah saat yang paling tepat untuk memberikan penjelasan dan memberikan contoh nyata untuk peduli sesama. Aturlah rencana untuk berbagi, misalnya dengan mengaturjadwal memberikan makanan berbuka kepada orangorang di dekat rumah atau yang membutuhkan. Ajaklah anak untuk secara langsung memberikannya kepada mereka. Jangan lupa, berikan penghargaan dan doakan mereka. "Subhanallah, pintarnya anak Ibu. Semoga Allah mencintai kita."

v Senang Bersedekah
Hendaknya dalam proses pengajaran ini orangtua tidak lupa untuk mengajak anak menyenangi apa yang dilakukannya. Mengajarkan anak senang bersedekah harus dimulai dari tahapan berikut ini.
Pertama, hadirkan kehangatan dalam keluarga. Kehangatan menandakan adanya kasih sayang dan cinta. Tanpa kehangatan, orangtua sulit berkomunikasi dengan anak. Penjelasan tentang manfaat dan arti bersedekah didapat anak dari komunikasi orangtua dan anak. Melalui penjelasan anak bisa mengerti tentang hubungan sedekah dan cinta terhadap Allah.
Anak-anak membutuhkan penjelasan yang sesederhana mungkin. Tentang surga misalnya, cukup dengan menjelaskan, "Allah menyukai orangorang yang bersedekah. Tempat orang-orang yang bersedekah, di surga." Anak mungkin akan bertanya, "Surga itu seperti apa?" Cobalah kembali bertanya, "Kamu pernah lihat tempat yang indah?" Misalnya. anak menjawab, "Pernah, waktu kita jalan jalan ke Puncak." Orangtua bisa menjelaskan, "Surga itu lebih indah dari Puncak, bahkan dari tempat paling indah di bagian dunia manapun."
Selain itu, motivasi untuk bersedekah juga bisa terus disampaikan dalam keluarga agar anak menyenangi pekerjaannya. Nanti, apa yang Adek berikan ada Iho balasannya di surga. Atau, di dunia juga ada balasannya. Kalau kita menolong orang, di suatu saat nanti kamu kesulitan, Allah pasti tolong kamu.
Kedua, keteladanan. Mengajarkan anak senang bersedekah akan sangat kuat bila dimulai dengan keteladanan. Mulailah dari meningkatkan empati, kepedulian orangtua terlebih dahulu, misalnya, suka memberi uang atau makanan kepada orang miskin, memiliki kotak infak rutin untuk sedekah di rumah, atau mengajak anak-anak menengok rumah yatimpiatu atau berkunjung ke tempattempat kumuh dan memberikan sumbangan. Insya Allah, bila orangtua memberikan contoh nyata, anak akan mudah tergerak melakukan hal yang sama. Apalagi, bila diiringi dengan pemberian pujian.
Ketiga, melalui cerita. Pesan-pesan akan cepat sampai dan meresap pada anak melalui cerita. Carilah cerita tentang bersedekah yang menarik buatanak. Cerita memberikan dampak yang luar biasa buat anak dan tidak menggurui.
Keempat, sediakan sarana bersedekah. Misalnya, kotak sedekah yang disediakan di tempat yang mudah dijangkau anak. Atau, rencanakan jadwal kunjungan atau pemberian sumbangan untuk makanan berbuka puasa bagi orang-orang di lingkungan rumah. Ajaklah anak untuk terlibat langsung dalam pembagian makanan itu.
Jadi, jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Kita ajak anak-anak kita untuk senang bersedekah!
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki Balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan (QS. Al-Insaan [76]: 8 – 10).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar