Senin, 28 Desember 2009

Mencermati dan Merawat Anak Berbakat

Mencermati dan Merawat Anak Berbakat




Sepintas, ciri khas perilaku fisik antara anak berbakat dengan bocah hiperaktif adalah mirip: lincah, aktif, tak sabaran, dan gemar bertanya. Namun kalau diperhatikan, anak hiperaktif tidak mudah berkonsentrasi, dan aktivitasnya tanpa tujuan. Sementara anak berbakat selalu penuh konsentrasi, menuntut jawaban rasional, dan bertujuan jelas. Sebagai orang tua kita perlu memperhatikan mereka, karena kedua jenis anak ini memerlukan perlakuan dan perhatian yang berbeda.
Sambil mengusap air matanya, Ibu Farida herjalan tergopoh-gopoh menuju ruang kepala sekolah. "Aduh Bu, saya bingung. Masa ada murid menanyakan, kenapa saya bisa hamil. Gimana harus menjawabnya?" Peristiwa itu terjadi ketika Ibu Ida datang terlambat di sekolah tempatnya mengajar, lantaran ia baru saja memeriksakan kandungan. Tiba-tiba seorang murid nyeletuk dengan pertanyaan yang mengagetkan tadi.
"Memang begitulah salah satu ciri khas anak berbakat. Mereka spontan dan berani sehingga sering keluar pertanyaan yang tak disangka-sangka seperti itu."
Itu baru salah satu dari beberapa ciri anak berbakat yang nampak nyata. Lebih lanjut ada juga orang tua murid kelas II SD-AB (anak berbakat) pernah mengeluh. Anaknya amat keranjingan semut. Setiap kali pulang sekolah tak lain yang dicari hanya semut. Ia gemar bermain dan memperhatikan gerak-gerik serta mengikuti apa saja kegiatan sang semut.
Acapkali kita rancu membedakan mana anak yang hiperaktif, mana yang dinamis -berbakat. Hiperaktif berkaitan dengan koordinasi alat tertentu yakni alat sensorisnya. Anak hiperaktif banyak yang suka bertanya tapi tidak berkonsentrasi pada jawabannya. Ada kumbang lewat atau tiba-tiba ada suara keras saja konsentrasinya buyar. Anak hiperaktif suka sekali berlari ke sana-kemari tanpa tujuan, duduk pun tidak pernah bisa diam. Lain dengan anak berbakat atau dinamis. Kalau bertanya ia selalu menanti ja-waban yang masuk akal. Kalau ia berlari ke sana-kemari pun, selalu dengan tujuan atau sasaran tertentu. Kalau menemukan sesuatu yang asyik dikerjakan atau ditonton, ia akan diam memperhatikan. Namun karena anak berbakat selalu ingin segalanya terlaksana dengan cepat, tidak sabaran, seringkali tampak seperti anak hiperaktif.
Anak berbakat seperti itu perlu sekali pengarahan yang benar secara berkesinambungan, karena kebutuhan, minat serta perilaku anak akan berubah-ubah seiring dengan waktu. Semakin banyak kesempatan yang diberikan, ia akan semakin berkembang Selain pelatihan untuk meningkatkan prestasinya, tidak kalah penting diperhatikan juga perkembangan.

v IQ dan CQ
Sebenarnya ada berbagai cara menghadapi anak-anak berbakat. Pada kasus pertama, sang guru. tidak seharusnya panik. Murid bisa dijanjikan akan dicarikan buku yang dapat menjawab pertanyaan tadi. Atau diajak mencari buku hiologi yang menjelaskan tentang reproduksi di perpustakaan. Sedangkan anak yang suka semut tadi sebaiknya justru diberi bimbingan untuk melakukan penelitian soal semut, antara lain dengan bantuan ensiklopedi. Kemudian ia diminta membuat laporan perihal kehidupan semut, lengkap dengan gambar dan hasilnya dinilai. Dengan demikian si anak merasa puas dan bangga terhadap hasil karyanya.
Anak gifted memang sangat kreatif, imajinatif, mempunyai keluasan gagasan, jangkauan pemikirannya ke masa depan, dan ingin terus helajar mencari sesuatu yang baru. "Mereka terkadang tidak puas atas jawaban suatu persoalan sehingga terus berusaha mencari jawaban-jawaban lain," kata Dr. David George, seorang pakar pendidikan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan, Neno College, Inggris, yang pernah memberikan seminar tentang anak berbakat di Jakarta. Mereka tak cuma pandai dalam satu atau dua bidang studi, tapi rata-rata di semua bidang. Kalau diukur, IQ (Inteligence Quotient) minimal 130, ditambah CQ (Creativity Quotient) paling fidak 250.
Itulah sebabnya, hendaklah SD-AB mensyaratkan para calon muridnya minimal punya IQ plus CQ 250, di samping harus lulus tes task commitment yang akan menilai bagaimana tanggung jawab si anak terhadap tugas-tugasnya. Apakah ia tekun dan cermat ataukah sembarangan dan ceroboh. Pada anak TK yang akan masuk SD-AB tes terakhir ini lebih banyak didasarkan pengamatan kepada si anak selama mengerjakan tugas daripada penilaian dengan skala. Kalau lulus, usia 5 tahun boleh masuk SD-AB.
Masing-masing kelas AB hanya berisi sekitar 8 - 10 anak. Sedangkan tingkat SMTP, anak berbakatnya masih berbaur dengan anak-anak ber-IQ normal. Hanya pada pelajaran tertentu, mereka diberi tugas tambahan.

v Otak kanan-kiri seimbang
Berbakat tidaknya seorang anak, terkait dengan spesialisasi kerja belahan otak kiri-kanan muka dan belakang. Otak kanan menguasai belahan kiri badan, sedangkan otak kiri menguasai helahan kanan badan. Respons, tugas dan fungsi belahan otak kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman belajar. Belahan otak kiri lebih berfungsi untuk berpikir rasional, analitis, berurutan, linear, dan saintifik (belajar membaca, aspek berhitung dari matematika). Sedangkan, otak kanan berfungsi untuk berpikir holistik, spasial, metaporik dan lebih banyak menyerap konsep matematik, sintesis, mengetahui sesuatu secara intuitif dan elaborasi, moral. Jadi, otak kanan sangat penting bagi perkembangan afektif seseorang.
Kedua belahan otak yang berisi ratusan miliar sel otak (neuron) ini walaupun tidak identik seyogianya bekerja seimbang. Jumlah tersebut mencakup beberapa triliun jenis informasi dalam hidup manusia (Sogan 1977 dan Clark 1986). Namun sayang, menurut penelitian Ferguson (1973) dan Clark (1986) hanya sekitar 5% dari kemampuan tersebut yang terpakai. Padahal penggunaan sistem yang kompleks dari proses pengelolaan otak ini sebenarnya sangat menentukan inteligensi maupun kepribadian seseorang.
Pada anak berbakat, kinerja ke empat belahan otak ini sama baiknya. Orang yang dianugerahi "kendi" besar seperti pada anak berbakat tadi, kalau lingkungannya menunjang dan mendapatkan bimbingan yang memadai akan sangat berguna.
Sebaliknya, jika kebutuhan mereka tidak terpenuhi, perilakunya bisa menjurus ke hal-hal yang negatif. Suatu penelitian di Inggris, menunjukkan bahwa 70% narapidana memiliki IQ rata-rata 135 ke atas (IQ normal di atas 90). Kesimpulannya, di masa kanak-kanak narapidana seperti itu tidak terpenuhi kebutuhan psikologisnya, tegasnya, agama mereka kering.
Kadang kala anak ber-lQ dan CQ tinggi tidak terlihat pandai di kelas, malah banyak di antaranya yang cukup puas dengan angka 6 saja. Mengapa? Karena minat yang dimiliki tidak pada anak-anaknya untuk tidak sombong. "Anak berbakat atau tidak sebenarnya sama, tidak perlu dipedulikan baik oleh sekolah maupun orang tuanya. Mereka lalu berkembang menjadi anak-anak yang underachieve!. Apalagi kalau si anak terlihat nakal, malah sering dianggap pengacau, pengganggu, dan sebagainya. Kasus ini acapkali terjadi di sekolah dengan murid terlalu banyak dan hanya mengutamakan pendidikan formal saja. Aspek moralitas diabaikan. Mereka hanya digenjot dengan pelajaran yang mengesampingkan moralitas. Iklim pendidikan formal bukan saja belum memberikan porsi memadai bagi pengembangan kreativitas anak, malah dalam hal-hal tertentu justru bersifat menghambat. Sehingga kreativitas anak kurang mendapat kesempatan secara optimal.
Pendidikan di sekolah lebih menuntut keseragaman. Pemikiran divergen, yang menghargai perbedaan-perbedaan dalam mengekspresikan pendapat terhadap suatu persoalan justru ditutup. Misalnya, ada anak yang mewarnai matahari dengan warna hijau dan laut dengan warna merah langsung dikoreksi, warna matahari harus kuning dan laut harus biru. Bahkan sering kali dalam pelajaran matematika, anak harus meniru persis cara memecahkan soal seperti yang diajarkan guru.

v Antre ikut prakarya
Keberbakatan anak muncul bukan karena faktor bawaan saja, tapi harus dirangsang serta ditunjang dengan pelatihan sejak dini, makanan yang cukup bergizi, kesehatan yang baik, orangtua yang harmonis dan berpendidikan cukup serta lingkungan yang menunjang.
Untuk itu, akan lebih bagus menerapkan metode revolving door class di sekolah. Tidak menutup kemungkinan bagi seorang anak kelas standar pindah ke kelas AB kalau ternyata ia berprestasi dan lulus tes IQ-CQ. Tujuannya tak lain agar si anak terpacu untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi. Sebaliknya, bila ada murid dengan IQ di atas 130 tapi belum lulus tes CQ, untuk sementara ia mengikuti kelas standar. Baru setelah sekian waktu ternyata CQ-nya meningkat, ia boleh pindah ke kelas AB.
Untuk meningkatkan CQ, sejak TK anak diberi berbagai macam kegiatan seperti kegiatan kreativitas, musik, menyanyi, olahraga, menari, qiraah, dan sebagainya. Hendaknya seorang pendidik kaya ide pemakaian bahan prakarya semisal, kerang, lilin, biji-bijian, kain perca, karton, kertas berwarna, sampai barang bekas. Mereka harus bisa menciptakan karya sendiri, tidak boleh meniru.
Sebelum prakarya dikerjakan, guru pembimbing akan memberikan penjelasan bahan yang akan digunakan. Penjelasan soal kerang, misalnya, bisa menyangkut tentang asal usul, jenis, dan kegunaannya. Selain melatih kreativitas, di sini mereka juga diharuskan mengenal lingkungan dan berlatih memecahkan masalah. Pertanyaan tidak umum seringkali mereka lontarkan. Anak berbakat memang terkesan cerewet, sebab itu guru harus sabar dan kreatif menjawabnya. Hendaknya mereka diberi kesempatan mengekspresikan serta mengembangkan kreativitasnya seperti itu. Konsep dan pengembangan kreativitas bisa dilakukan dengan bertitik tolak pada apa yang dinamakan pendekatan 4P yakni pribadi, pendorong, proses, serta produk.
Oleh karena itu guru yang bersangkutan harus bersedia menghargai bakat dan minat khas masing-masing anak. Mengingat bahwa rata-rata rasa ingin tahu (curiosity) mereka besar, hendaknya segala yang ingin diketahui jangan diabaikan, tapi justru dikembangkan. Pertama-tama diadakan penilaian khusus (assesment) pada si anak. Di mana letak kelemahan dan kekuatannya. Misalnya, apakah si Farid cerdas dalam semua bidang ataukah .hanya satu dua bidang saja? Apakah IQ-nya sama tinggi dengan CQ-nya? Apakah ia masuk dalam kriteria gifted ataukah biasa saja? Pengajaran pada anak berbakat sangat dianjurkan menggunakan kurikulum berdeferensiasi yang dirancang khusus, tapi tidak menyimpang dari yang sudah ditetapkan pemerintah. Kurikulum itu hanya digemukkan (compact) atau diperkaya (enriched). Karena minat anak berbakat berbeda, dengan rasa ingin tahu yang besar dan konsisten, proses belaiar seyogianya mengacu bukan semata-mata pada pencapaian tujuan instruksional saia, tapi sebaikriya juga membawa dampak tambahan.
Misalnya dalam pelaiaran IPA, selain teori, sisa waktu sebaiknya digunakan untuk membuat kliping yang membutuhkan gambar, penelitian, pencarian di ensiklopedi, wawancara, dan sebagainya. Semua pelajaran dibuat menarik melalui proses learning by doing dan learning by playing supaya anak tidak cepat bosan. Di sini anak tidak hanya duduk dan mendengar, tapi juga melakukan sesuatu sehingga mereka terlatih memilih alternatif tertentu dalam menghadapi masalah. Ia akan berpikir secara hipotetis, bisa meramalkan dan mengantisipasi apa yang belum dan bakal terjadi berdasarkan fakta.
Tentu metode ini tidak hanya tepat untuk anak berbakat, tapi juga anak normal lain. Pertanyaan yang diajukan jangan hanya menuntut jawaban "ya" atau "tidak", tapi juga meminta penjelasan. Sehabis membaca cerita, murid diminta menuliskan kesan cerita tersebut serta ditanya apa yang terjadi seandainya .... Acapkali tugas berupa kliping atau laporan kerja yang bersifat integrated, artinya laporan menyinggung beberapa mata pelajaran sekaligus. Misalnya tugas untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, yang juga menyinggung pelajaran PMP, sejarak geografi, dan sebagainya. Kegiatan out house (karya wisata) untuk semua kelas, seperti meninjau pabrik, museum, kebun binatang, kelurahan dan sebagainya bisa diadakan secara rutin.
Anak hendaknya dilatih berani bertanya serta sering diminta menceritakan apa yang baru dialami di depan kelas tanpa merasa malu atau takut. Sebagai contoh, siswa dilatih untuk tidak takut masuk ke ruang guru atau kepala sekolah untuk bertanya. Namun demikian harap diingat bahwa anak berbakat tidak selalu harus nomor satu. Ada juga pihak yang tidak setuju dengan sistem loncat kelas walaupun si anak selalu juara kelas. Pasalnya, dari segi usia si anak belum tentu siap berdampingan dengan rekan-rekan yang lebih tua. Dengan loncat kelas pasti ada pengetahuan tertentu yang terlewat, tidak secara berurutan diperoleh. Tegasnya, mereka kurang menyetujui sistem akselerasi (percepatan) bersekolah, tapi lebih cenderung ke sistem eskalasi, yakni penanjakan kehidupan mental dengan memperkaya atau memperdalam materi.

v Mnentukan Guru
Untuk melaksanakan metode seperti itu memang tidak mudah. Dibutuhkan suatu trial and error. Karena di Indonesia belum ada jurusan pendidikan guru khusus untuk anak berbakat. Guru harus aktif, kreatif, serta mempunyai wawasan yang luas yang antara lain bisa diperkaya dengan banyak membaca, ikut penataran, dan sebagainya sehingga pengetahuannya tidak kalah dengan murid. Yang penting, jangan sampai guru anak berbakat ini bersikap pura-pura tahu setiap pertanyaan yang diajukan murid. Lebih baik jawaban dijanjikan untuk dicarikan dulu. Sebab, anak pintar pada umumnya tidak menghendaki jawaban yang ngawur atau tidak masuk akal. Begitu pula cara menilai seorang anak, sebaiknya dari segi kelebihannya dulu, bukan kekurangannya. Guru juga hendaknya mempelajari latar belakang keluarga sang murid. Jika anak yang sehari-hari menggunakan kata-kata bahasa Belanda seperti jij atau you dalam bahasa Inggris di rumah, lalu menyapa guru dengan "kamu", bukan "bapak" atau "pak", janganlah guru langsung tersinggung.
Namun rangsangan dari sekolah saja, belum cukup. Di rumah peran orang tua sangat penting. Perhatian, kasih sayang, pendidikan spiritual serta sarana yang diperlukan hendaknya terpenuhi karena kesehatan mental dan fisik seorang anak juga tidak kalah pentingnya. "Anak merupakan sumber asset pahala yang paling berharga di dunia, sedangkan orang tua adalah guru yang paling berharga bagi seorang anak terutama pada usia diri. Sampai sampai Rasulullah Saw bersbda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Dari Abu Hurairah Ra bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: Tatkala manusia itu mati, maka amalnya terputus kecuali tiga. (1) Kecuali dari sedekah jariah. (2) Atau ilmu yang diambil manfaatnya. (3) Atau anak shalih yang mendoakan kepadanya.
(HR. Muslim, dalam Kutub al-Tis’ah, hadits nomor: 3084.
Orang tua hendaknya ikut aktif mengikuti apa yang diberikan di sekolah. George mengutip ucapan Abraham Harold Maslow, tokoh psikologi AS dalam teorinya tentang hierarki kebutuhan manusia (Motivation and Personality 1954 dan Toward a Psychology of Being 1962) yang mengatakan bahwa kebutuhan mendasar seseorang harus terlebih dahulu terpenuhi sebelum meningkat ke kebutuhan yang lebih tinggi. Emosi yang dimiliki seseorang mencerminkan tingkat kepuasan yang dialaminya. Tingkat kebutuhan seseorang memang dinamis. Itu semua tergantung bagaimana kemampuannya dalam menemukan rasa aman, memenuhi kebutuhan psikologis dan aktualisasi diri. Kebutuhan psikologis mestinya paling didahulukan, tapi dalam kenyataan justru sering diabaikan.
Pakar pendidikan ini menambahkan bila seseorang merasa bahwa dunia sekelilingnya serba teratur dan terencana, maka ia akan merasa aman dan stabil. Agar anak memiliki harga diri tinggi, cakap, dan mandin, ia butuh dihargai, diakui, dan dihormati. Bila semua ini terpenuhi, dengan sendirinya anak akan termotivasi untuk maju. Itulah sebabnya orang tua hendaknya menyadari, sebelum menguasai keahlian tertentu si anak berbakat harus mempelajari keahlian mendasar yang mantap, misalnya mulai helajar membaca sebelum masuk sekolah, cerita, dan sebagainya. Di sinilah perlunya kerja sama yang baik antara orang tua dan guru. Namun, kedewasaan anak laki-laki lebih lambat dibandingkan dengan anak perempuan. Sebab itu anak perempuan sering terlihat lebih siap masuk sekolah.
Hal lain yang perlu dilatih adalah keterampilan motorik halus seperti menggunting, mengelem, dan melipat. Sebab seorang anak yang motorik halusnya masih lemah, bila masuk sekolah, dikhawatirkan akan tertekan gara-gara belum mampu menggunting atau memegang krayon, misalnya. Tentu saja selain keterampilan mendasar, yang tak kalah pentingnya adalah pemberian gizi yang baik, serta tersedianya kesempatan bagi anak untuk melatih daya intelektual.
Seorang tokoh lain, Breirley 0 978) menyatakan bahwa pada usia 5 tahun perkembangan otak seorang anak sudah mencapai 95%. Paling tidak setengah dari kebutuhan perkembangan intelektualnya telah terpenuhi pada usia ini. Untuk itu dibutuhkan perhatian dari kedua orang tuanya. Kalau perlu sejak bayi dilahirkan, sang ibu sudah mulai mengajaknya bicara atau mendongenginya, walaupun sang bayi belum bisa berkomunikasi. Hipotesis ini sesuai dengan hasil penelitian di Harvard, AS, yang mengatakan pada usia 2 tahun anak telah berkembang kemampuan daya pikirnya. Ia sudah bisa menguasai 2/3 sampal 3/4 bahasa yang akan digunakan sepanjang hidupnya, termasuk elemen tata bahasa serta sekitar 1.000 kosa kata.
Untuk mengetes anak berbakat, guru atau psikolog dapat membantu memberikan pengarahan kepada orang tua dengan patokan pertanyaan sebagai berikut:
Apakah rasa ingin tahu putra Anda akan berbagai hal cukup besar?
− Apakah minatnya untuk bertanya segala sesuatu (mengapa, di mana, bagaimana) dan keinginannya mendapat jawaban cukup besar?
− Apakah kepandaiannya di atas rata-rata anak seusianya dan ia mempunyai kemampuan autodidak?
− Apakah ia kaya akan kosa kata?
− Dibandingkan dengan anak-anak sebaya, apakah kemampuan.berjalan dan berbicara putra Anda lebih cepat?
− Apakah putra Anda menunjukkan kemampuan khusus yang menonjol seperti dalam menyelesaikan masalah, dalam keterampilan seni atau musik, bahasa, berhitung?
− Apakah putra Anda memiliki perhatian besar terhadap sesuatu sampai mampu berkonsentrasi?
− Apakah kemampuan motorik dan aktivitas fisiknya menonjol?

v Jangan Sampai Ekslusif
Musthafa (11) siswa kelas 11 SMP, sejak SD hampir selalu menjadi juara kelas. Angka rapor terendahnya 7,5. Itu pun hanya pendidikan jasmani.
Ketika mengandung sang ibu banyak mengkonsumsi makanan berprotein tinggi khususnya ikan ditambah udang, telur, susu, kacang-kacangan serta tajin beras merah. Setelah Musthafa lahir, mulai usia 4 bulan sudah diajak berbicara dan diperkenalkan dengan benda- benda di sekelilingnya seperti lampu, jam, kursi, bunga, dan lain-lain. Sambil ditimang-timang, ia diperkenalkan dengan suara-suara binatang, seperti kucing, harimau, serta burung.
Usia 7-8 bulan saat bisa duduk, sang ibu sering mengajaknya melihat-lihat buku yang berisi gambar bermacam jenis hewan. Ternyata setelah beberapa kali diperkenalkan dengan buku bergambar tadi, si anak dapat menjawab pertanyaan dari ibunya dengan cara menunjuk dengan jari mungilnya.
Fasih berbicara pada usia 2 tahun, ia mampu menghafal abjad A - Z, Usia 4 tahun, karena hasil tes IQ di TK tinggi (141) ditambah pandai bernyanyi, Musthafa langsung masuk; kelas I SD. Setahun kemudian ia langsung masuk kelas anak? berbakat (AB). "Saat itu disarankan agar ia meloncat ke kelas IV karena selalu juara I. Tapi karena ibunya takut belum cukup umur (6 th), ia dicoba di kelas III AB selama 1 cawu sambil diberikan tambahan pelajaran kelas IV. Ternyata anak yang berminat besar dalam bidang studi IPA, biologi, dan matematika ini berhasil loncat kelas dan selalu juara kelas sampai lulus SD. Naufal, adiknya (9) yang kini duduk di kelas IV SD-AB walaupun IQ-nya hanya 128, tidak kalah jauh dari kakaknya. Selama ini ia masuk peringkat juara I atau II di kelasnya. Ia juga berprestasi di bidang musik dan menyanyi.
Huda, adik bungsunya, tidak kalah cerdas. "Tapi nakalnya bukan main, tidak bisa diam. Di kelas ia suka jalan ke sana-kemari mengganggu teman," komentar ibunya. Namun, IQ-nya tidak kalah dengan Musthafa, mencapai 146 dan sampai kelas II - AB selalu juara. Ia selalu asyik bermain dengan permainan macam lego, jigsaw puzzle, game, dan sebagainya. “Kalau bertanya, Huda harus mendapat jawaban yang masuk akal dan tuntas," tutur ibunya. Pertanyaan Huda memang ada-ada saja, misalnya ia pernah bertanya: "Kenapa orang bisa makan sambil bernapas, apakah organ untuk bernapas dan menelan makanan itu sama?" Meski prestasinya lebih tinggi dari anak-anak sebayanya, sang ibu selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk tidak sombong. Anak berbakat atau tidak sebenarnya sama, tidak perlu merasa lebih daripada yang lain.
Lain lagi cerita Nabila (9), ia yang agak pendiam ini kepandaiannya juga merata (IQ 129). Selain nilai rapornya gemilang (rata-rata 9), ia pernah menjuarai peragaan pakaian tradisional, juara III menyanyi, pintar main piano, serta terampil dalam prakarya. Sang ayah percaya kepandaian anak sulungnya karena bakat alam belaka, ditambah lagi motivasi dari lingkungan keluarga. Kebetulan prestasi sang ayah selama sekolah dulu juga selalu cemerlang.
"Kecerdasan Nabila nampak ketika diajari mengenal huruf pada usia 3 tahun, langsung bisa menangkap. Usia 3,5 tahun ia sudah pandai membaca. Usia 5,5 tahun ia masuk SD," cerita ibunya. "Tapi kami sebenarnya tidak pernah memaksakan ia masuk kelas AB, takut anak tertekan. Adanya kelas anak berbakat diakui sang ayah memang baik karena anak mendapat perhatian secara khusus. Tapi sebaiknya diusahakan agar jangan sampai menimbulkan kelompok eksklusif.
Di samping merangsang anak dengan bacaan, sang ayah selalu menyediakan berbagai permainan edukatif di rumah untuk merangsang kreativitas anak serta komputer untuk belajar bahasa Inggris. Untuk mengimbangi pelajaran formal, hampir setiap hari Nabila sibuk dengan les mengaji, berenang, menari, piano, dan sebagainya.
Ibunya pun sangat disiplin dalam mengatur waktu belajar bagi anak-anaknya. “Saya tidak membiarkan mereka terlalu banyak bermain di luar. Sepulang sekolah harus langsung belajar supaya malam hari bisa berbincang-bincang dengan orangtua. Memang dari segi pergaulan kurang baik sebab bisa membentuk kelompok eksklusif," aku sang ibu. Meskipun demikian ia menilai positif kalau anak berprestasi adakalanya dikelompokkan untuk diberikan tugas-tugas khusus guna memperluas ilmu pengetahuan melalui diskusi, kerja kelompok, dan sebagainya.

v Perhatikan Stimulasi
Untuk meningkatkan daya pikir serta kreativitas anak usia sekolah dasar, Dr. David George mengusulkan berbagai latihan dan simulasi menarik yang dapat diakukan selama waktu senggang di rumah misalnya:
§ Bermain scrabble dengan menggunakan kosa kata yang biasa didengar dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tentang jalan, kebun, binatang, lebaran, sekolah, cuaca.
§ Mengumpulkan nama-nama alat rumah tangga. Setelah itu anak diminta menggambarkannya serta menyebutkan 10 kegunaan alat rumah tangga tersebut. Misalnya, selain untuk membersihkan lantai, sapu bisa dipakai untuk apa saja?
§ Merencanakan suatu perjalanan dan menyebutkan masalah yang bisa terjadi. Anak diminta memecahkan masalah tersebut: Alat bantu yang dipakai antara lain bisa berupa koran, buku telepon, dan peta.
§ Mengundang sanak keluarga yang sudah lanjut usia untuk mendiskusikan kehidupan masa lalu (20 - 50 tahun lalu). Kemudian anak diminta menggambar pohon keluarga yang berisi silsilah atau sejarah keluarga.
§ Diskusikan acara-acara TV yang menarik: Hubungkan masing-masing watak tokoh dalam cerita TV dengan kepribadian orang yang sangat dikenalnya. Kalau memungkinkan mintalah anak untuk menyingkat cerita dalam film, TV. Cakup dalam 3 atau 4 kalimat.
§ Belajar membuat cerita kartun atau komik tentang kepahlawanan.
§ Ajaklah anak bermain catur untuk melatih logika.
§ Mempelajari tanaman mana yang musiman, mana yang terus tumbuh. Pelajari juga kapan bebunga. atau berbuah.
§ Berlatih dengan teka-teki silang atau mencoba membuatnya sendiri. Boleh juga merciptakan tebak-tebakan dan pantomim. Tentu saja masih banyak lagi pelatihan-pelatihan menarik yang dapat diberikan kepada anak; asalkan sesuai dengan usia kematangan anak.

v Gen, Gizi dan Lingkungan
Menurut ahli gizi, ada 3 faktor yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan seorang anak yakni genetik, lingkungan, dan gizi.
Kekurangan gizi bisa menghambat motivasi, daya konsentrasi dalam belajar, serta kurang bereaksi terhadap rangsangan luar. Mengingat bahwa fase cepat pertumbuhan otak terjadi pada sekitar masa kelahiran (jumlah sel otak yang dicapai pada waktu lahir sekitar 66%), maka kekurangan gizi pada saat pembelahan sel ini akan mengurangi jumlah sel permanen. Usia paling rentan terhadap kekurangan gizi pada masa pertumbuhan otak, yakni minggu ke 30 usia kehamilan sampai 18 bulan sesudah lahir.
Penelitian sesudah lahir pada hewan mengatakan bahwa kekurangan energi protein (KEP) akan mempengaruh perkembangan otak. Defisit perkembangan otak akan sulit terkejar karena fase cepat tumbuh hanya berlangsung selama 18 bulan. Dampak KEP ini juga menyebabkan pembentukan pembungkus lemak saraf otak (mielin) berkurang, IQ berkurang, kemampuan bentuk pengenalan geometrik serta konsentrasi rendah.
Itulah sebabnya konsumsi makanan bergizi tinggi harus diperhatikan, terutama pada ibu hamil. Antara lain asam lemak Omega 6 dan Omega 3 yang banyak terdapat pada ASI. Zat gizi ini juga terdapat dalam makanan sehari-hari seperti ikan laut dan produk olahannya, telur, kedelai, dan sebagainya. Bahkan minyak ikan yang sering diberikan oleh para ibu kepada anaknya merupakan salah satu sumber asam lemak esensial yang baik. Bersama kolesterol, asam lemak membentuk 75% pembungkus urat saraf otak yang mempercepat penghantaran impuls saraf. Ditambah lagi, asam linolenat (lemak tak jenuh) yang terdapat di dalamnya berpengaruh pada kemampuan belajar.
Setelah bayi lahir, konsumsi ASI dan makanan bergizi seimbang amat penting agar kecerdasan otak optimal. Gizi seimbang dapat dipenuhi dengan makanan yang bervariasi seperti nasi, susu, daging, ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan. Bila ASI gagal diberikan sampai 24 bulan, hendaknya dicari susu formula yang benar dan cocok. Namun sangat disayangkan bahwa rata-rata susu formula tidak mengandung asam lemak Omega 3 dan 6, tetapi hanya cikal-bakalnya saja (precursor). Diharapkan tubuh bayi kemudian mampu "mengolah" cikal-bakal tersebut menjadi kedua asam lemak Omega tersebut.
Sayuran berwarna hijau tua banyak mengandung zat besi. Sayur yang dimasak dengan minyak (tumis) sangat dianjurkan karena mempermudah penyerapan vitamin A, D, E, dan K. Protein hewani dikatakan lebih baik dari protein nabati karena mempunyai susunan asam amino lengkap. Yang diajurkan sekitar 5 g protein asal ternak ditambah 10 g protein ikan per hari.
Gula memang perlu untuk energi, tapi hendaknya tidak berlebihan. Sebab untuk mencerna dan memproses gula menjadi energi, diperlukan vitamin B. Kalau vitamin B ini terkuras untuk mencerna gula, metabolisme zat gizi lain dalam tubuh akan terganggu sehingga sistem saraf tidak bekerja optimal, timbul kelelahan, mudah terusik, dan depresi. Sebaiknya balita jangan diberi makanan yang mengandung kafein, karena selain meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, kafein akan menimbulkan iritasi lambung dan usus. Dampak psikologisnya banyak merugikan seperti cepat marah, cemas, lelah, pusing, dan sulit tidur. Kafein juga merangsang buang air kecil sehingga vitamin B yang diperlukan tubuh ikut keluar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar