Senin, 28 Desember 2009

Siasat Memecahkan Masalah

Siasat Memecahkan Masalah



Pernahkah kita membekali siasat memecahkan masalah kepada anak kita? Kalau balum, inilah leberapa saran, agar tidak kecewa melihat anak gagal memecahkan masalah.
Setiap orang, kapan saja dan di mana saja selalu menghadapi masalah yang harus dipecahkan, kalau kita mau maju terus. Tidak dibiarkan terkatung-katung, atau dihindari, agar orang lain saja yang repot. Untuk memecahkan masalah ini ada banyak cara. Ada yang tidak praktis sampai berlarut-larut, bahkan ada yang gagal, tapi ada juga yang efisien dan arif bijaksana, lagi sukses. Sudah tentu, setiap orang ingin melihat anak atau anggota keluarganya mampu memecahkan masalah dengan sukses.

v Belajar dari Pengalaman
Anak-anak yang sedang tumbuh dan belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya, juga dihadapkan pada rentetan masalah tata cara, tata krama dan tata nilai masyarakat, mulai dari yang sepele seperti bagaimana mengenakan baju yang rapi dan mengikat tali sepatu sebelum berangkai ke sekolah, sampai ke yang lebih sulit seperti bagaimana menyelesaikan pertikaian dengan saudara sendiri karena salah paham.
Sering kita mendengar cerita tentang anak yang setiap kali mau berangkat sekolah tidak mampu memasukkan mata kancing bajunya ke dalam lubang kancing. Ibunyalah yang harus menolong sambil mengomel, "Bodoh banget sih, kamu! Begini saja nggak bisa!"
Seorang ibu kadang-kadang juga tidak mengajari anaknya bagaimana cara mengancingkan baju. Maka anak itu tidak belajar memecahkan masalah sepelenya sendiri, tapi menyuruh orang lain. Kalau masalah yang kecil saja ia tidak bisa, apa lagi yang besar. Kebanyakan anak belajar mengatasi masalahnya karena petunjuk orang lain. Atau mencoba-coba sendiri. Lalu ada anak yang lebih banyak belajar (memecahkan masalah) dari pengalaman berbuat salah mengambil keputusan sendiri, daripada pengalaman berbuat benar karena orang tuanya mengatasinya untuk dia.

v Menebar Siasat
Bagi kita sebagai orang tua, yang lebih bermanfaat ialah bagaimana membekali anak dengan siasat memecahkan masalah, daripada menolongnya mengatasi masalah itu. Dengan bekal ini, anak nantinya mampu "jalan" sendiri.
Pemecahan masalah tidak lain sebuah proses menerima informasi dan menyimpannya dalam ingatan, lalu mengolahnya demikian rupa hingga membentuk skema (pola) bereaksi berupa tingkah laku tertentu. Dalam bentuk simpanan inilah, info yang sudah dipolakan itu siap sedia dan dapat langsung dipakai kalau sewaktu-waktu diperlukan.
Makin banyak seseorang dilatih menerima info dan menyediakan pola reaksi, makin berpengalaman ia bereaksi menghadapi masalah: Makin terlatih, makin otomatis reaksinya, terutama reaksi terhadap masalah kecil-kecil yang sepele.
Untuk melatih menerima informasi ini, sebaiknya kita sering bercerita tentang apa saja yang dihadapi anak itu dalam perjalanan hidupnya. Kalau kita bersama anak naik mobil misalnya, lebih bermanfaat kita memberi tahu dan menjelaskan kepadanya tentang gedung, pohon dan benda apa saja yang dijumpai dalam perjalanan itu, daripada hanya diam membiarkannya bengong, tidak menerima masukan data info. Ia akan terlatih mengolah info, itu dalam ingatan dan memberi kode dalam bentuk verbal (omongan) atau simbol (gambaran, tulisan, rumusan).
Agar proses pemecahan masalah berjalan mulus, anak masih harus dilatih mengatur (sendiri) cara kerja alat-alat pemahamannya. Ia harus mampu mengatur penginderaan, perhatian, kesan, pengenalan bentuk, ingatan, pemikiran dan pengutaraan pikiran ini dengan kata-kata. Cara kerja pemahaman ini bisa baik bisa buruk, tergantung pada bagaimana anak itu memperolehnya pada pengalaman-pengalaman yang sudah lalu. Bagaimana ia dulu belajar mendapatkan siasat pemahaman? Terbentuknya sangat di pengaruhi oleh proses belajar, latihan dan pengalaman yang diberikan oleh ibunya (atau pendidik awal yang paling dekat).
Dalam proses itu, yang paling penting ialah bagaimana anak itu menggunakan simbol bahasa dalam kegiatan mentalnya (misalnya mengkategorikan benda-benda) dan dalam menjalankan logika (seperti membandingkan benda dan membedakannya). Dalam pemecahan masalah pun ia memakai simbol. Karena itu, kita mesti mengajarkan anak itu belajar memakai representasi simbolik berupa gambaran. Melalui representasi simbolik ini anak akan mampu menggambarkan sesuatu dalam wawasan yang lebih luas. Tidak sekadar dalam bentuk kongkretnya saja. Dengan itu; ia akan mampu menemukan "aturan umum" yang tepat berupa rumus yang berlaku umum, untuk menjawab masalah-masalah yang sama.
Dengan latihan yang membuatnya terampil, kemampuan menemukan "aturan umium" ini akan diinternalisasikan oleh anak, sampai menjadi sesuatu yang otomatis dalam dirinya, sebagai perangkat pemecahan masalah.
Kalau masalah yang kecil-kecil sudah bisa dipecahkan secara otomatis, maka ia akan mampu memanfaatkan energinya bagi pemecahan masalah yang lebih besar. Ia akan lebih maju daripada kawannya yang masih berkutat dengan masalah-masalah kecil, hanya karena kawan ini tidak mempunyai siasat pemahaman yang efisien.

v Menentukan Sikap
Makin banyak seseorang memakai informasi untuk memecahkan masalah, makin berkembanglah kemampuan kognisinya. Makin banyak siasat pemecahan yang diperkenalkan pada anak, makin banyak alternatif pemecahan yang dapat dipilih. Ia makin yakin bahwa ia mampu menyelesaikan masalah. Makin yakin bahwa ia mampu, makin ingin ia memecahkan masalah. Sebaliknya, makin tidak yakin akan kemampuannya, makin enggan ia memecahkan masalah. Lalu kelihatan bahwa ia bodoh.
Karena pemecahan masalah itu sucitu proses, maka diperlukan waktu untuk menyelesaikannya. Anak perlu diberi kesempatan untuk berpikir (mengeksplorasi situasi, berkali-kali mengajukan pertanyaan, bereksperimen mengubah dan mengetes kembali siasat pemecahan yang dipilihnya), sebelum akhirnya mengambil keputusan memilih cara pemecahan masalah yang paling tepat. Dalam proses ini, kita sebagai orang tua lebih baik bersikap sebagai fasilitator daripada menggurui atau memberi pengarahan. Selain menciptakan suasana yang mendukung, kita diharapkan juga menjadi model teladan (bagaimana cara mengeksplorasi situasi dan bereksperimen dalam pemecahan masalah), lalu meminta kepada anak agar menerangkan jalan pikirannya pada setiap langkah pemecahan.
Pemecahan masalah bukan suatu resep, atau deretan petunjuk, tapi sekumpulan siasat yang tidak akan ada artinya kalau tidak dilatihkan pada anak sejak dini. Keberhasilannya bergantung pada kemampuan anak itu untuk memilih salah satu siasat, keberaniannya untuk mencoba (bereksperimen) cara pemecahan, dan kesempatan yang diberikan padanya untuk melakukan siasat yang dipilihnya itu.
Sikap orang tua atau guru ikut mendukung sebagai semacam "juru kunci."
v Membentuk Character Building
Membangun karakter itu yang paling efektif memang bila dilakukan sedini mungkin. Bila dilakukan pada masa dewasa sebenarnya masih bisa, tapi lebih sulit. Apalagi sejalan dengan perkembangan otak, anak di bawah 7 tahun itu begitu cepat dan mudah menyerap apa saja sebagaimana sebuah spons kering. Segalanya tergantung pada apa yang diserapnya pada masa-masa itu. Kalau airnya bersih, maka yang diserap bersih. Begitu juga bila air yang diserapnya air comberan, maka yang diserapnya juga yang jorok-jorok. Itulah yang kemudian menjadi sebuah pemikiran, perasaan dan perilaku mereka di masa selanjutnya. Anak menjadi cepat marah, penuh kecurigaan satu sama lain. Akar permasalahan ini adalah kemerosotan akhlak bangsa ini, juga karakter yang lemah. Lalu, ia berusaha mencari solusi untuk mengembalikan keluhuran budi pekerti anak dan menguatkan karakter mereka.
Yang paling mengesankan adalah apa yang disebur dengan Pendidikan Holistik Berbasis Karakter.
Konsep ini - sesuai dengan pengistilahan 'holistik'- lebih menyeluruh dibanding konsep pendidikan yang selama ini diterapkan di Indonesia. Selama ini tak kurang-kurangnya materi pendidikan tentang moral, semisal mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), dan pendidikan agama ada dalam kurikulum pendidikan kita. Namun sampai saat ini bangsa ini terus saja berkubang dalam berbagai persoalan kemerosotan moral yang tak kunjung usai, bahkan semakin parah dari segi kuantitas dan kualitasnya. Apa yang salah?
Ini karena metodenya yang salah. Selama ini hanya aspek kognitifnya saja yang diperhatikan. Anak diharapkan tahu dan bisa menghafal saja, tanpa diarahkan untuk bisa mencari alasannya dan memaknainya. Misalnya saja, siapa sih anak muslim yang tak bisa membaca bismillahirrahmanirrahim (dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang)? Ini sebenarnya doa paling pendek yang bermakna dahsyat. Namun, kenapa makna doa itu tak menjelma dalam kehidupan sehari-hari? Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim tampaknya tak berarti banyak bagi anak karena memang mereka tak dikenalkan pada makna ini. Akhirnya, contoh kecilnya, anak suka berlaku kasar pada pembantu, pada hewan peliharaan, atau seenaknya menginjak-injak tanaman. Bahkan yang lebih fatal, banyak guru yang ketika memulai pelajaran tanpa membaca bismillah. Ada juga yang memulainya dengan mengumpat seorang murid. Jika demikian parahnya, amat pantas hasil pendidikan kita semrawut.
Memperbaiki model pendidikan konvensional - yang ternyata memang tak banyak berhasil membentuk karakter dan moral yang baik - ini, model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter ini akan bisa mengembangkan pendidikan moral dan penguatan karakter ini agar bisa dirasakan dan dipraktekkan oleh anak. Di sini juga diperhatikan perkembangan aspek lainnya, bukan karakter saja. Hingga anak bisa berkembang secara sempurna seluruh dimensi yang ada dalam dirinya. Dengan begitu ia bisa menjadi bijak, emosinya berkembang, dia bisa sensitif terhadap perasaan orang lain, penderitaan orang lain, termasuk kesenangan orang lain.
Berdasar model pendidikan ini anak-anak dituntun untuk knowing the good, feeling and loving the good, hingga akhirnya bisa acting the good. "Misalkan kita mengajarkan arti kejujuran. Kita tuntun anak-anak agar paham kenapa kita harus jujur. Jadi tidak cuma bilang kita harus jujur, tapi mereka tak tahu artinya. Kita jelaskan dampak-dampak kejujuran, atau sebaliknya bila tak bersikap jujur. Itu yang kita tumbuhkan dan ini memang sulit. Lalu kita buat model pula bagaimana kejujuran ini harus dilakukan. Bila ini dilakukan terus, diharapkan anak-anak akan bisa addicted the good, kecanduan kebaikan.
Untuk mencapai tujuan tersebut model pendidikan ini mengembangkan modul pendidikan 9 Pilar Karakter yang merupakan nilai-nilai luhur yang bersifat universal, plus materi-materi kebersihan, kesehatan, kerapian dan keamanan (4K). Masing-masing tema tersebut diterapkan selama 2 atau 3 pekan, sampai anak-anak paham. Tentu saja disampaikan dalam suasana yang menyenangkan can interaktif, seperti diskusi, bercerita, drama, bernyanyi dan aktivitas lainnya.
Setelah berhasil mengembangkan konsep ini pada beberapa kelompok anak usia dini sebagai pilot project dan mendirikan TK Karakter sendiri, modul pendidikan ini pun diminati banyak pihak untuk digunakan di banyak pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak.
Selain mengatasi masalah moral, karakter yang kuat adalah juga modal utama agar anak-anak bisa bertahan di masa depan yang sarat dengan perkembangan di berbagai bidang yang amat cepat. Mereka harus tahu bagaimana bisa beradaptasi dengan cepat. Untuk itu mereka perlu skill dan skill-nya adalah karakter. Dengan karaktek kuat mereka tidak mudah stres, selalu fleksibel, ramah dan santun dengan teman agar mereka bisa menjalankan manuver ke mana-mana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar