Senin, 28 Desember 2009

Mencetak Anak Cerdas di Rumah

Mencetak Anak Cerdas di Rumah



Sering dikatakan mata dapat menipu kita, terutama kalau berhubungan dengan volume dan jarak benda. Bulan di cakrawala nampak lebih besar dibandingkan dengan ketika berada di langit. Padahal besarnya bulan yang sebenarnya adalah sama, baik ketika di ufuk timur, barat atau pun di tengah langit. Yang lebih aneh, bulan pun seperti selalu menguntit saat kita melakukan perjalanan dengan kendaraan bermotor di malam hari. Jajaran rel kereta api semakin jauh tampak menyatu, padahal tidak..
Sebaliknya dalam kecepatan tinggi, secara sepintas pepohonan dun rumah-rumah tampak "berlarian" di kiri-kanan jalan. Tak jarang kita merasa pusing bila memperhatikannya. Lain halnya bila kita melihat pohon dan rumah yang terletak di kejauhan, mereka seakan bergerak dengan lebih lambat, meski kendaraan dalam kecepatan yang sama. Perbedaan jarak inilah yang diduga mempengaruhi mata seseorang dalam menentukan besar ukuran benda-benda di sekelilingnya. Dan bila ada mendung yang lewat, seolah mendungnya yang berhenti, sedangkan bulannya berlari kencang. Kemudian bila berdekatan dengan gunung, akan menimbulkan perasaan kagum akan ukurannya yang bak raksasa sedang duduk diam. Begitu kita menjauhinya, gunung tersebut seakan mengecil.
Bila gunung yang tampak kecil saat dilihat dari jarak sekian puluh kilometer itu saja sebenarnya punya ukuran yang sangat besar, bisa dibayangkan ukuran sesungguhnya bulan. Dari jarak 384.000 km dari bumi, bulan masih tampak begitu besar. (Diameter sebenarnya ± 3.360 km)
Dalam keadaan seperti inilah mata kita sering tertipu. Hal itu dikuatkan oleh astronom Jeff Kanipe bahwa ilusi jarak itu berpengaruh pada jarak sebenarnya, dan jarak antara yang dilihat dengan yang melihat yang membuat bulan seakan selalu mengikuti.
Fenomena yang disebut parallax ini sering digunakan untuk menentukan pengaruh perubahan posisi suatu benda oleh perubahan letak sang peneliti. Dengan mengukur besarnya pengaruh parallax inilah para astronom dapat menentukan jarak antara sebuah benda luar angkasa dengan penelitinya.
Berbagai peristiwa alam seperti inilah yang sering bergelayut menjadi pertanyaan dalam benak seorang anak yang cerdas, sehingga acapkali membuat orangtua kelimpungan untuk menjawabnya.
Fondasi kecerdasan anak ternyata bisa direkayasa melalui terapi gizi dan stimulasi psikologi. Uniknya, semuanya bisa dilakukan sendiri di rumah! Banyak penelitian tentang gizi dan psikologi membuktikan, kecerdasan anak erat kaitannya dengan riwayat pertumbuhan fisik dan perkembangan psikomotorik mereka. Anak yang tumbuh-kembang dengan sehat, kecerdasannya dijamin lebih baik. Masalahnya, dapatkah tumbuh-kembang anak direkayasa, apalagi kalau itu menyangkut, kecerdasannya? Kalaupun bisa, sampai batas mana dapat dikendalikan? Lantas seperti apa bentuk rekayasa itu?

v Rekayasa asupan gizi
Kecerdasan anak bisa direkayasa! Cuma, Pengertian 'rekayasa' di sini bukanlah untuk menciptakan manusia super. Tapi, untuk menjamin agar setiap anak lahir sehat, baik fisik maupun mental. Hingga mereka berkesempatan untuk. mencapai potensi optimalnya. Sedikitnya ada dua hal yang sangat menentukan tumbuh-kembang anak, yaitu faktor keturunan (hereditas) dan lingkungan (milleau). Hanya saja, faktor keturunan sulit dikendalikan. Kalaupun bisa, misalnya lewat teknologi genetika, penerapannya pada manusia masih dihadang banyak tantangan, baik etika, moral, maupun religi.
Sebaliknya, sekalipun seorang anak lahir dari pasangan yang faktor hereditasnya baik, kalau lingkungannya kurang mendukung, tumbuh-kembangnya tetap tidak maksimal. Karenanya, rekayasa tumbuh-kembang anak paling aman dengan mengendalikan faktor lingkungan. Antara lain mengelola asupan gizinya. Dampak rekayasa gizi terhadap kecerdasan anak pernah diteliti di Guatemala, Amerika Latin, selama 20 tahun. Melibatkan banyak ahli gizi dan psikolog.
Setiap wanita hamil dan bayi kurang gizi yang diteliti diberi makanan yang kadar protein dan kalorinya berbeda-beda selama tiga tahun. Mereka dipilah dalam kelompok yang mendapatkan paket makanan (suplemen) berprotein dan berkalori rendah, sedang, dan tinggi. Sementar zat gizi lain, yakni vitamin dan mineral, diberikan dalam jumlah sama.
Setelah berusia 3, 15, dan 24 bulan, anak-anak - termasuk bayi yang kemudian dilahirkan para ibu hamil - diteliti perkembangan kecerdasan dan psikologisnya. Hasilnya, pada bayi usia 3 bulan yang mendapatkan suplemen kalori-protein lebih - tinggi, perkembangan motoriknya lebih baik. Setelah mereka berusia 15 dan 24 bulan, perkembangan motorik maupun mentalnya sama-sama semakin membaik sejalan dengan semakin tingginya suplemen kalori-protein. Penelitian ini kemudian dilanjutkan sampai mereka berusia 8 tahun. Pemantauan terhadap anak berusia 3, 4, dan 5 tahun hasilnya seperti dengan ketika mereka berusia 24 bulan. Meningkatnya jumlah suplemen kalori-protein meningkatkan pula perkembangan psikologis mereka, termasuk IQ. Begitu pun ketika mereka berusia 6 dan 8 tahun.

v Terkejar sampai Usia 5 Tahun
Perkembangan fisiologis manusia terdiri atas beberapa tahapan: janin, bayi, kanak-kanak, remaja, dan dewasa. Namun secara fisiologis, masa janin dan bayi merupakan tahapan tumbuhkembang paling rawan. Saat itulah sel tubuh sedang tumbuh sangat cepat, termasuk sel-sel pembentuk jaringan otak.
Bayangkan, berat bayi sehat usia 4,5 bulan kira-kira sudah dua kali beratnya waktu lahir." Sejak usia 3 bulan beratnya bertambah 750 - 1.000 g/bulan. Usia 1 tahun beratnya mencapai tiga kali berat lahir, usia 2 tahun empat kalinya, dan menginjak 5 tahun beratnya sudah lima kali berat lahir. Selama masa balita (1 - 5 tahun) laju pertumbuhannya rata-rata 200 - 250 g/bulan.
Semua sel otak, yang disebut neuron, sudah terbentuk saat bayi masih dalam kandungan. Jumlah dan ukurannya sangat ditentukan oleh konsumsi gizi sang ibu sewaktu hamil. Sampai anak berusia 2 tahun neuron berkembang pesat, untuk selanjutnya saling bertautan. Begitu pun dengan perkembangan kecerdasan anak. Selama masa kritis pertumbuhan otak ini, kebutuhan zat gizi per unit berat badan paling tinggi. Dalam tempo terbatas ini (sejak ibu dinyatakan hamil sampai anak berusia 2 tahun) suatu rangsangan tertentu akan memberikan dampak sangat nyata.
Makanya, Rekayasa gizi harus segera dimulai sejak janin. Begitu ketahuan hamil, si ibu mesti mengatur makan-minumnya agar memenuhi syarat gizi. Tentu, lebih baik lagi kalau sebelum hamil ibu sudah mempersiapkan diri. Kalau selama hamil konsumsi gizi ibu kurang tercukupi, asal segera diperbaiki sepanjang masa kritis per tumbuhan otak, dampaknya akan tetap sama baiknya terhadap kecerdasan anak. Tapi, bagaimana kalau anak sudah mendekati akhir usia balita atau lewat balita?
Soal ini pernah diteliti di Cali, Kolombia, pada anak-anak usia prasekolah (3,5 tahun) penderita kurang gizi tingkat sedang dan berat. Pada awal suplementasi dan 4 tahun sesudahnya perkembangan kognitif mereka diteliti. Hasilnya mengagetkan. Perkembangan kognitif mereka ternyata meningkat pesat, padahal usia mereka sudah melewati masa kritis pertumbuhan otak saat menjalani terapi gizi. Sementara selama ini diyakini kekurangsempurnaan perkembangan sel otak akibat kekurangan gizi selama masa kritis tidak dapat diperbaiki lagi. Kesimpulan penelitian ini setidaknya membersitkan harapan. Rekayasa gizi masih lumayan efektif dilakukan terhadap, anak-anak menjelang akhir usia balita.
Bagaimana kalau mereka sudah memasuki usia sekolah (7 tahun)? Sayangnya, belum pernah ada penelitian mengenai rekayasa gizi terhadap anak usia sekolah. Kalaupun dipaksakan, diperkirakan hampir tak akan ada hasilnya.

v Rekaman Konsumsi Gizi
Selain kalori dan zat gizi lain mesti mencukupi, protein terutama sangat dibutuhkan selama 3 bulan terakhir kehamilan sampai bayi berusia 12 bulan. Pemberian dan porsi makanan bayi sangat bergantung pada banyaknya ASI (air susu ibu). Bagi ibu yang tidak dapat menyusui bayinya dengan jumlah ASI yang cukup, perlu mempertimbangkan penggunaan PASI (pelengkap ASI) sebagai makanan tambahan untuk melengkapi AS1. Namun yang terbaik, bayi sepenuhnya diberi ASI sampai ia berusia 2 bulan.
Tidak bijaksana memastikan kapan hayi harus diberi makanan tambahan. Sebab bergantung pada jumlah ASI yang dihasilkan ibunya dan keperluan setiap bayi berbeda. Sebagai acuan, makanan padat diberikan bertahap, sejak bayi berusia 4 - 5 bulan hingga 6 - 7 bulan. Setiap bulan seporsi makanan padat menggantikan sekali pemberian ASI atau sebotol susu formula. Pada usia 7 bulan bayi sudah mendapatkan tiga kali makanan padat dan dua kali ASI atau formula lanjutan, ditambah buah atau sari buah. Jika bayi diberi nasi tim, sejak usia 10 bulan nasi tim tak perlu lagi disaring. Cukup diberikan lembek.
Bahan-bahan untuk makanan padat sebaiknya diberikan pada umur yang tepat. Serealia, seperti tepung beras, bisa diberikan pada usia kurang dari 2 bulan. Beberapa macam buah-buahan, seperti pisang, jeruk, apel, pear, pepaya, tomat, alpukat, mulai diberikan saat usia bayi sudah 2 - 3 bulan.
Sayuran seperti bayam, wortel, kacang-kacangan, kangkung, tomat, labu kuning bisa diberikan sejak bayi berusia 3 - 4 bulan. Paling lambat pada usia 6 bulan. Dicampurkan pula sumber utama protein, seperti daging sapi, daging ayam, hati, daging ikan, dan juga tempe. Telur cukup diberikan kuningnya saja, diberikan ketika bayi sudah berusia 6 bulan. Daging ikan mengandung asam lemak omega-3, yang sangat menunjang optimalisasi kecerdasan anak.
Bagaimana cara mengetahui anak kita tergolong sehat atau kurang gizi? Cara termudah dengan mengamati ukuran tubuhnya secara antropometris. Caranya, angka berat anak dibagi dengan nilai standar berat badan menurut umur, kemudian dikalikan 100%. Nilai standar dapat diperoleh dengan mencocokkan jenis kelamin dan umur anak.
Nilai berat badan di atas 80% berarti ia berstatus gizi baik. Pertanda selama ini ma kanan atau minumannya cukup gizi. Kalau 70 - 80%, status gizinya sedang. Artinya, konsumsi gizinya selama ini cukup memadai, tapi perlu ditingkatkan lagi. Anak yang berat antropometrisnya cuma 60 - 70% termasuk kurang gizi! Orangtua mesti segera merencanakan nilai gizi menu hariannya lebih serius. Kalau kurang dari 60%, tandanya ia penderita gizi buruk alias kurang makan.

v Rumah, Sekolah Intensif
Ada dua aspek yang mempengaruhi optimalisasi kecerdasan anak secara psikologis. Pertama, faktor dalam. Seperti kemampuan mental, kecakapan atau bakat tertentu, dan temperamen anak. Kedua, faktor luar, antara lain lingkungan keluarga.
Sebagai lingkungan terdekat, perilaku orang tua sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak. Seperti bagaimana pola asuh yang diterapkan orang tua, sikap orang tua, suasana dalam keluarga, hubungan antarsaudara, dan stimulasi psikologis yang diberikan.
Dalam keluarga, balita berkesempatan mendapatkan limpahan kasih sayang, yang dapat memupuk tumbuhnya rasa aman dan diterima. Keluarga memungkinkan anak memperoleh perlakuan secara pribadi dari orang tuanya, sehingga seluruh kebutuhannya terperhatikan. Setiap anak diperlakukan sebagai individu yang berbeda, karena masing-masing punya kekhasan dan keunikan. Tanpa perlu membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya.
Sebagai pusat tumbuhkembang balita, keluarga sangat penting karena di sanalah anak punya banyak kesempatan untuk mengamati, menuruti, meniru, belajar, dan mempraktekkan berbagai keterampilan. Baik yang ia lihat maupun dengar.
Dalam keluarga, balita berhubungan.dengan banyak orang beragam usia. Hingga ia punya banyak model sebagai figur anutan, untuk ditiru. Ia dapat belajar tentang tingkah laku yang tepat sesuai situasi dan usia pelakunya. Juga belajar aturan, disiplin, dan sikap menghormati. Kesempatan untuk berlatih bahasa dan berbicara serta berfantasi dan bermain peran terbentang luas pula dalam keluarga. Nah, orang tua mesti memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengasah kecerdasan balita.

v Keterampilan Gerak dan Bahasa
Dari segi perkembangan fisik-motorik, pada tahun pertama kehidupannya balita umumnya lebih mudah menguasai gerakan kasar. Semakin matang perkembangan otaknya semakin bagus penguasaannya terhadap gerakan halus. Ini bisa dijadikan patokan kapan saat yang tepat untuk melatihnya agar terampil melakukan sesuatu.
Prinsipnya, setelah anak menguasai gerakan tertentu ia dapat mulai dilatih agar terampil melakukan gerakan lain yang lebih kompleks. Misalnya, setelah bisa duduk sendiri dengan tegak anak bisa dilatih buang air besar di kloset atau pot. Latihan terutama diarahkan pada aspek ketepatan, kecepatan, dan keluwesan.
Banyak sekali benda, alat bermain, maupun permainan yang dapat dimanfaatkan sebagai media untuk merangsang kecerdasan anak. Misalnya, untuk merangsang gerakan kasarnya orangtua bisa memberinya bola, mainan yang dapat ditarik, didorong, atau dilempar; ataupun alat keseimbangan. Perkembangan gerakan halus dapat dirangsang dengan bermain benda yang dapat dironce ataupun puzzle.
Perkembangan lain bersifat kognitif, yang dibagi dalam tahap sensorik-motorik (0 - 2 tahun) dan tahap praoperasional (2 - 7 tahun). Selama tahap sensorik-motorik balita menggunakan gerakan dan panca inderanya untuk mengenali lingkungannya. Anak umumnya baru sampai pada tahap memahami objek. Seperti "ini bola."
Menginjak tahap praoperasional fungsi simboliknya mulai berperan. Anak tidak lagi melulu memahami sesuatu, tapi sudah mulai berlatih menanggapinya secara internal. Pada tahap ini anak sudah beranjak pada pemikiran "bola ini kalau dilemparkan ke dinding akan memantul."
Salah satu unsur penting dalam perkembangan kognitif adalah bahasa, karena merupakan alat berpikir dan berkomunikasi. Ada empat aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai anak: mengerti pembicaraan orang lain, menambah perbendaharaan kata, menyusun kalimat, dan mengucapkan dengan benar. Untuk mengasah keterampilannya berbahasa, orangtua bisa memberinya barang yang bergambar atau buku cerita. Tentu saja, kalau balita masih belum mampu memahami gambar atau tulisan, orangtua wajib membantu menceritakannya.

v Tumbuhkan Rasa Percaya Diri
Perkembangan sosial dan kepribadian merupakan aspek lain yang mesti diperhatikan. Balita sebaiknya terus dilatih agar memiliki sikap menyayangi, saling menolong, bekerja sama, berbagi, menghormati hak dan kebutuhan orang lain, mengambil inisiatif, dan percaya diri.
Ketika bayi, anak umumnya mengalami krisis emosi dalam hal rasa percaya dan rasa tidak mempercayai sekitarnya. Contohnya, ia bisa tiba-tiba menangis jika didekati orang yang tak dikenalnya, tapi begitu dibelai ibunya langsung diam. Jadi, orangtua adalah pihak yang paling dapat menumbuhkan rasa percaya itu.
Setelah bisa jalan balita tertarik untuk mengetahui banyak hal di sekitarnya. Sayangnya, perkembangan ini pun bisa memancing timbulnya krisis emosi baru. Di satu sisi ia merasa bebas, di sisi lain ada rasa malu dan ragu-ragu. Dorongan orang tua sangat berperan agar anak berani melakukan hal positif yang diinginkannya.
Meluasnya lingkungan mainnya membuat anak makin terampil berinteraksi dengan dunia luar. Ia dihadapkan pada tuntutan sosial dan susunan emosi baru. Krisis emosi yang terjadi pada masa ini adalah dorongan inisiatif sekaligus rasa bersalah. Ia butuh orang yang bisa diajak kerja sama dan memberinya tuntunan tentang mana benar mana salah.
Balita sebaiknya dilatih dengan memperkenalkan pengalaman pokok. Seperti bagian tubuhnya sendiri; pengenalan waktu, pengalaman dalam berbagai perasaan, seperti marah, takut, sedih, kasih; pengalaman tentang agama, disiplin, moralitas; serta belajar mandiri dan bertanggung jawab.
v Asah Kecerdasan sambil Bermain
Sebenarnya semua benda atau media bisa dimanfaatkan untuk menstimulasi kecerdasan anak, asal memperhatikan beberapa hal berikut.
Pertama, bisa menumbuhkan rasa dicintai. Seorang balita memang amat butuh untuk dicintai, mengingat ia belum mampu berbuat banyak sehingga segala sesuatunya masih bergantung pada kasih sayang orangtua dan orang-orang yang didekatnya.
Kedua, menumbuhkan rasa diterima dan dipandang sebagaimana adanya seorang balita, bukan diperlakukan sebagai orang dewasa kecil. Misalnya, bila anak berkali-kali luput menangkap bola, orang tua lantas gusar, “Gimana sih kamu ini?! Gitu aja nggak bisa.” Padahal, mestinya orang tua memahami tidak mudah bagi balita untuk menangkap bola sebagaimana orang dewasa.
Ketiga, memberinya perhatian dan perawatan secara kontinyu dan berkesinambungan. Yang tidak boleh terjadi, orang tua bersikap plin-plan. Misalnya, saat pikiran bapak lagi terang, anak diajak bermain. Tapi begitu otak keruh, anak baru nempel saja sudah diteriaki, Pergi sana! Bapak capek!
Keempat, memberi kesempatan pada anak untuk melakukan hal-hal yang disenanginya, dengan tetap mengindahkan batas waktu dan segi keamanan. Dengan memberinya kebebasan, namun ada batas, anak dapat bereksplorasi dan bereksperimen lebih banyak. Kelima, memberinya penghargaan dengan tepat dan tulus atas usaha, hasil karya, gagasan, maupun minat anak.
Pemahaman dan daya ingat balita bisa diasah dengan mengajaknya bermain APE (alat permainan edukatif), berbelanja, atau berbicara. Misalnya, saat belanja orang tua bisa bercerita tentang suatu barang. Tapi, dialog itu mesti timbal balik, anak dilibatkan.
Balita sebaiknya diberi. banyak kesempatan untuk bereksplorasi dan bereksperimen. Dengan memberinya lilin malam, misalnya, anak bisa mewujudkan apa yang dipikirkan dan diangankannya. Kalau perempuan, bisa dengan mengajak nya membuat kue, yang adonannya bisa dibentuk-bentuk. Sarana lainnya adalah besi berani dan kaca pembesar.
Bergaul, mengajaknya bertemu banyak orang, atau bermain boneka (kalau wanita) juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perkembangan sosial balita. Begitu pun dengan menyanyi dan menari. Selain itu, beri kelonggaran pada balita untuk memainkan miniatur kehidupan nyata. Seperti main dokter-dokteran. Pada masa prabaca anak dapat dirangsang dengan memberinya gambar kosong yang bisa diwarnai. Rasa seni dan estetikanya bisa dipupuk dengan mengajaknya bermain gerak dan lagu. Kalau ia ingin bermain sendirian, kita bisa memberinya alat musik, alat gambar, atau kertas dan gunting.

v Peran Bapak Meningkatkan IQ Anak
Kesimpulan sebuah penelitian yang menyebutkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan balita dapat membuat anak kelak lebih mandiri dan lebih cepat menjadi mandiri. Keikutsertaan ayah dalam pengasuhan memang menguntungkan perkembangan anak. Paling tidak, sebagaimana tersimpul dari hasil penelitian, dukungan ayah dapat membuat ibu lebih bergairah mengasuh dan mendidik anak di rumah. Keterlibatan secara budaya para ayah Indonesia dalam pengasuhan anak mencengangkan banyak peneliti Barat. Khususnya dalam masyarakat Jawa, sudah jamak kalau ayah ikut terjun mengasuh (menjaga dan mengajak bermain), menidurkan, bahkan menyuapi anak! Yang seperti ini saja sudah sangat bagus efeknya.
Karena ini sifatnya kultural, maka tak ditemui disharmoni antara ayah dengan ibu. Tak ada saling tuntut dalam pembagian tugas rumah tangga seperti keluarga Barat yang liberal. Hingga tak timbul ketegangan, keluarga pun jadi harmonis. Suasana begini sangat baik bagi berkembangnya rasa aman dalam diri anak. Kalau ia telah punya rasa aman sejak kecil, setelah besar kelak anak akan lebih percaya diri.
Kesimpulan serupa tercermin dari hasil penelitian bahwa anak yang sejak bayi juga mendapatkan perhatian ayahnya, di masa pertumbuhan selanjutnya ternyata memiliki tingkat IQ lebih baik, lebih punya rasa humor, dan keinginan belajarnya lebih besar. Tentu saja, semua ini akan memudahkan anak menyelesaikan pendidikan formalnya kelak.
Sekalipun demikian, hendaklah ibu tetap menjadi faktor penentu tumbuh-kembang anak. Terutama selama masa prasekolah peranan ibu menjadi sangat dominan. Kalau begitu, bagaimana dengan ibu bekerja yang curahan waktunya untuk anak terbatas? Benarkah kualitas asuhan lebih penting daripada kuantitas, sebagaimana yang sering dijadikan alasan sebagian ibu bekerja?
Tentang hal pertama, "Umumnya kualitas asuhan ibu bekerja lebih rendah daripada ibu rumah tangga, karena ia sudah capek dan cenderung terburu-buru, padahal kualitas dan kuantitasnya sangat penting. Soalnya, kalau orang tua kelewat sibuk di luar rumah akan semakin sedikit keinginan, masalah, dan pikiran anak yang terkomunikasikan.
Sayangnya, belum ada data perbandingan kuantitas waktu yang hams diberikan ibu guna mengimbangi kualitas, atau sebaliknya, agar perkembangan kecerdasan anak optimal. Namun, lebih banyak waktu bagi anak, terutama yang di bawah 7 tahun, lebih baik. Tentu saja, sejauh asuhannya bermutu.
Sehubungan dengan curahan waktu ibu terhadap anak, pemikiran Penelope Leach dalam buku terakhirnya Children First sebagaimana dimuat Time 9/5/1994. "Menurutnya, seorang ibu seharusnya 24 jam di rumah, karena mengasuh anak adalah fulltime job, yang nggak bisa disambi-sambi. "Leach berpendapat kalau seorang ibu sudah berniat punya anak mestinya dia berani ambil risiko untuk mengasuhnya sepenuhnya." Nah, Cuma pendapat ini memang masih kontroversial.
Tapi, agaknya Leach masih memberi sedikit toleransi pada ibu bekerja. Nasihatnya, kalau ibu pergi, anak sebaiknya ditinggal saja di rumah. Mungkin bersama nenek, pramusiwi, atau pramuwisma. Menurut hasil penelitiannya, itu lebih bogus daripada anak dititipkan di daycare center (TPA). Alasannya, karena di rumah anak mendapatkan suasana yang stabil dan kasih sayang yang kuat, sehingga ia merasa aman.
Balik lagi ke ayah, seberapa banyak sih curahan waktu yang afdol yang mesti disediakan ayah jika ia ingin berperanserta dalam pengasuhan anak? Sayang sekali belum ada penelitian soal itu. Tapi, setelah ditimbang-timbang saja opportunity cost-nya. Kalau itu lebih bernilai dan lebih penting bagi perkembangan anak, ya dilakukan saja.

v Eksplorasi Ala Gardner
Howard Gardner, setelah bertahun-tahun masa pengamatan dan penelitian menemukan bahwa kecerdasan manusia bersifat majemuk dan karena itu tidaklah cukup diukur berdasarkan skala IQ semata. Pada 1983 dia memetakan sedikitnya delapan jenis kecerdasan. Dari kesemua tipe, mana yang nampak menonjol pada diri anak Anda?
- Si cerdas bahasa ini menonjol kemampuannya dalam hal menggunakan bahasa untuk mendeskripsikan peristiwa, membangun kepercayaan dan kedekatan, mengembangkan argumen, memaparkan retorika, serta mengungkapkan ekspresi. Indikasi yang umum terlihat pada si cerdas bahasa antara lain: pintar mengolah kata, pandai bicara, gemar bercerita, juga "betah" membaca.
- Si cerdas logika dan matematika ini gemar berhitung, senang menggunakan angka dalam mendeskripsikan sesuatu, dan cenderung menjelaskan dan menganalisa berbagai hal dengan urutan logis. Anak-anak dengan kecerdasan ini punya minat yang besar terhadap kegiatan eksplorasi, juga eksperimen. Mereka sering bertanya tentang berbagai fenomena yang dilihatnya dan menuntut penjelasan logis dari setiap pertanyaan yang mereka ajukan itu.
- Si cerdas gambar dan ruang seringkali dikenali sebagai sosok yang kreatif imajinatif karena cenderung berpikir secara visual, yaitu membayangkan, merangkai dan menggambarkan sesuatu di dalam pikiran. Anak-anak dengan kecerdasan ini lebih tertarik pada penjelasan bergambar, suka menjelaskan sesuatu dengan gambar, dan mampu menelaah, menganalisa kejadian atau memecahkan masalah dengan membayangkan ruang, bentuk, pola, warna maupun sejumlah rangkaian di dalam khayalan internal mereka.
- Si cerdas musik punya kepekaan tinggi terhadap suara, nada, melodi, ritme dan irama. Anak-anak dengan kecerdasan musikal menonjol mudah mengenali dan mengingat nada, cepat merangkai kata-kata menjadi lagu, pandai memadukan lirik dengan nada can melodi, terampil menciptakan kreasi-kreasi musik dan cenderung cepat terampil menguasai alat musik. Anak cerdas musikal juga sering menggumam atau bersenandung saat berpikir, menganalisa dan memecahkan masalah.
- Si cerdas body kinetis ini dalam kesehariannya tampak dinamis, tangkas dan energik. Mereka terampil mengolah tubuh, mengkoordinasi gerakan serta cenderung mudah saja dalam mengontrol keseimbangan. Anak-anak dengan kecerdasan tubuh di atas rata-rata ini dalam kegiatan sehari-hari saat bermain, bersosialisasi, belajar bahkan berpikir cenderung menyukai kegiatan fisik, banyak bergerak, senang menyentuh, berjalan atau berpindah.
- Si cerdas sosial memang menonjol kemampuan bersosialisasinya. Mereka gampang menjadi dekat dengan orang lain, cepat memahami perasaan, pikiran dan tingkah laku orang lain, pandai berempati, senang menjalin hubungan sosial dan mampu menggunakan beragam cara berinteraksi untuk membina hubungan. Anak-anak yang menonjol kecerdasan sosialnya senang berteman dan mudah bekerjasama dengan temantemannya. Tak jarang mereka juga muncul sebagai pemimpin atau ketua kelompok karena senang dan mampu mengorganisasi orang lain.
- Si cerdas diri adalah sosok yang menonjol kemampuan penilaian akan diri sendirinya. Mereka nampak seperti si perenung. Itu dikarenakan mereka menyadari dan mengetahui dengan baik kekuatan dan kelemahan diri mereka dan karena itu mereka mengorganisasi kekuatan dan kelemahan diri mereka itu untuk menentukan tujuan, melakukan tindakan, serta mengekpresikan pandangan pribadi. Anak dengan kecerdasan intrapersonal yang menonjol memiliki kepekaan perasaan yang tinggi dalam berbagai situasi namun mampu mengendalikan diri dalam situasi konflik, sebab dia tahu bagaimana menempatkan dirinya di tengah lingkungan sosial.
- Si cerdas alam memang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap alam dan lingkungan. Anak-anak dengan kecerdasan naturalis yang menonjol ini sangat tertarik mengamati detil alam sekitar seperti bumi, ruang angkasa, tumbuhan, hewan bahkan keunikan manusia. Mereka juga nampak menikmati keadaan benda-benda, juga tertarik dengan cerita dan pembelajaran yang berkaitan dengan fenomena alam.
Selain delapan jenis kecerdasan ini, sejak 1999 Gardner juga mengenalkan beberapa bentuk kecerdasan lain, yaitu Cerdas Eksistensial dan Cerdas Spiritual. Orang dengan kecerdasan eksistensial menurut Gardner punya kecendrungan banyak memikirkan dan mempertanyakan segala sesuatu mengenai keberadaan manusia, arti kehidupan, arti kematian, serta segala realitas yang dihadapinya. Anak-anak dengan tingkat kecerdasan eksistensial tinggi penuh keingintahuan tentang bagaimana kehidupan bertahuntahun yang lalu, mengapa manusia ada di bumi, apakah ada kehidupan di planet lain, kemana mahluk hidup setelah mati, dan berbagai pertanyaan sejenis.
Sementara Cerdas Spiritual lebih berkaitan dengan pemaknaan seseorang pada kehidupan dan hubungannya dengan pencipta alam semesta. Namun khusus untuk dua tipe kecerdasan terakhir ini Gardner mengaku masih banyak pihak yang memperdebatkannya sebagai bagian dari tipe kecerdasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar