Senin, 28 Desember 2009

Perhatian untuk Anak Genius

Perhatian untuk Anak Genius

Cobalah akurkan dengan daftar di bawah ini. Sering anak pandai justru kelihatan malas dan sulit diatur. Namun, itu tidak selalu berlaku. Mungkin para ibu anak genius bisa berbagi pengalaman.
“Bu, mengapa air tidak bergerak kalau bakteri dikatakan bergerak?" tanya seorang anak berumur lima tahun. Si ibu jadi bingung menjawabnya. Anak itu terus bertanya sampai ia memperoleh jawaban yang masuk akal. Di taman kanak-kanak, waktu anak-anak lain menggambar atau main balok, ia malahan belajar berhitung.
Sesudah menjalani tes IQ, ternyata anak itu mempunyai IQ-138. Itu berarti, ia termasuk dalam kelompok kecil anak-anak yang dikategorikan sebagai "anak ajaib” yakni anak genius.

v Kuat "melek"
Anak genius jumlahnya cuma sedikit dari anak-anak biasa. Mereka tidak dapat diidentifikasi dari ciri-ciri lahiriah. Namun, ada beberapa tanda dan tingkah laku khusus yang bisa kita jadikan pegangan dalam menentukan genius tidaknya seorang anak. "Perkumpulan Kanak-kanak Genius Jerman" yang didirikan oleh para ilmuwan, guru, dan orang tua dari "Einsten-Einstein mini" membuat daftar untuk membantu para orang tua mengetahui bakat-bakat istimewa anak mereka.
Periksa berbagai ciri kanak-kanak genius:
- tidurnya lebih sedikit
- bisa berkonsentrasi lama pada suatu benda
- penuh rasa ingin tahu
- suka terhadap pemikiran logis
- mempunyai ingatan yang baik
- lebih menyukai permainan kombinasi dan konstruksi
- lebih cepat belajar berhitung.
Kalau tanda-tanda tersebut di atas kita temui pada seorang anak, maka itu merupakan sedikit bukti akan adanya kemampuan yang tirtinggi. Namun, anak-anak genius ada juga yang membutuhkan tidur yang banyak atau belajar membaca di sekolah seperti anak-anak biasa lainnya. Maka untuk lebih meyakinkan, para orang tua bisa meminta bantuan para ahli untuk memberikan saran. Itulah sebabnya ada baiknya kalau didirikan lembaga konsultasi.
Mempunyai anak genius tidak selalu menyenangkan. Soalnya, para orang tua anak-anak genius itu seringkali kecewa kalau melihat keadaan sehari-hari anak mereka. Setelah masuk sekolah selama beberapa bulan, anak-anak itu biasanya sudah mogok tidak mau sekolah. Anak-anak genius yang sering dihardik guru karena bertanya "kelewat jauh", akhirnya lebih suka tutup mulut dan bertindak pasif. Anak-anak genius biasanya lebih malas dalam pelajaran menghafal. Seorang ibu yang mempunyai dua orang anak genius sampai meminta bantuan seorang mahasiswi untuk menjadi teman belajar menghafal anak-anaknya. Katanya, sejak ia meminta bantuan sang mahasiswi, kedua orang anaknya itu mulai terpancing intelektualitasnya. Selain itu, anak-anak itu kelihatan agak tenang.

v Juara Kelasnya Anak Biasa
Apakah sekolah merupakan tempat yang tepat bagi terciptanya kecerdasan yang tinggi, atau apakah kecerdasan merupakan pembawaan dari lahir, atau merupakan suatu hal yang bangkit berdasarkan lingkungan, belumlah bisa dipastikan oleh para ilmuwan. Soalnya, tes inteligensia tidak menjamin bahwa seseorang itu mampu memecahkan masalah sehari-hari, mudah menyesuaikan diri, kreatif, menjadikan seseorang sebagai seorang orisinal, dan berbakat praktis.
Namun, pembatasan-pembatasan yang ada dalam tes inteligensia bisa dipakai untuk mengukur IQ. Kalau IQ kita 100, itu berarti normal. Kalau nilainya lebih dari 130 dianggap genius. Sebaliknya, anak yang ber-IQ tinggi tidak bisa dikenali lewat nilai pelajaran mereka yang bagus. Selain itu, juara kelas tidak selalu berasal dari anak berinteligensia tinggi. Juara kelas biasanya hanya seorang anak yang rajin dan mau belajar.
Contohnya adalah seorang anak berusia empat belas tahun yang belajar di sebuah sekolah menengah. Nilai-nilai mata pelajaran anak tersebut begitu buruk, sehingga ia hampir dikeluarkan. Biologinya 5, nilai bahasa Latinnya bahkan 4, dan di pelajaran matematika, nilainya berkisar antara 5 dan 6. Biarpun begitu, sang ibu yakin bahwa anaknya mampu mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Soalnya, pada saat anak itu berusia dua tahun, ia sudah bisa mengucapkan kalimat dengan lengkap. Pada usia tiga tahun, ia sudah ingin tahu mengapa air dapat menguap dan sudah melakukan pengamatan terhadap darah lewat mikroskop. Ketika berumur 4 tahun, ia sudah membaca buku kimia dan pada usia 11 tahun, ia sudah bisa main catur dengan baik, sehingga ia tidak mempunyai lawan yang sebaya. Catur computer pun bisa dikalahkannya.
Hasil dari tes inteligensianya IQ-nya 140 dan ia berbakat matematika. Hasil buruk anak itu di sekolah disebabkan terlalu mudahnya bahan-bahan pelajaran di kelas satu, namun di sekolah lanjutan ia justru dituntut banyak. Padahal, ia bukan seorang anak yang tekun. Selain itu, anak tersebut tergolong pendiam, suka melamun dan tidak bisa ikut bergabung dengan teman-temannya.

v Tidak Feminin
Atas saran seorang psikolog, ia pindah sekolah. Di kelas barunya, anak itu merasa lebih diterima. Lagi pula, di situ ada seorang murid wanita yang genius juga, yang memberikan dorongan baginya. Kini, nilai-nilai mata pelajarannya baik. Hanya dalam bahasa Latin, yakni sebuah mata pelajaran yang harus dihafal, ia masih membutuhkan bantuan.
Biarpun kini anak itu mempunyai nilai baik sekali di sekolah ia tampaknya tidak mau dianggap istimewa. Perasaan "tidak ingin menonjol" seringkah kita temui pada anak-anak genius, lebih-lebih kalau anak tersebut wanita. Menurut sebagian besar psikolog dan pedagog, hal itu akibat tekanan lingkungan. Lingkungan sering menganggap gadis genius tidak feminin.
Untungnya, para orang tua zaman kini tidak lagi berpikir seperti di atas. Mereka malah akan menawarkan segala macam pendidikan dan fasilitas bagi anak-anak genius. Namun demikian, para orangtua dari anak-anak genius juga mulai mengekang diri untuk tidak terlalu memaksanya berprestasi. Soalnya, seringkali para ibu terombang-ambing antara rasa bangga dan rasa takut bahwa anak-anak mereka akan gagal dalam hidup. Seandainya anak-anak itu menolak rutinitas dan aktivitas normal. Lalu, tanpa mereka sadari, para orang itu terlalu menekan anak-anak mereka.
Anak-anak genius yang luar biasa, cepat, rajin, dan belajar amat efektif, sebenarnya terdiri atas berbagai macam tipe seperti halnya anak biasa. Tidak ada orang disebut genius universal, yang kehebatannya tampak sekaligus dalam bidang olah raga, musik, seni, berpikir logis, mampu menggubah syair, dan hebat dalam bergaul. Kemampuan yang istimewa pada seorang hanya kelihatan dalam beberapa hal saja.
Walaupun kemampuan yang istimewa itu hanya pada beberapa hal saja, para orang tua sebaiknya memberi dorongan bagi semua mata pelajaran. Soalnya, semua pelajaran di sekolah itu penting bagi perkembangan pribadi anak.
Atas dasar tulisan di atas, kini kita bisa menilai genius tidaknya anak kita. Namun demikian, dari semua hal yang disebutkan di atas, hal yang paling penting adalah kita sebagai orang tua harus bisa memotivasi anak dan memberikan dorongan bagi semua bidang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar