Senin, 28 Desember 2009

Mendongkrak Prestasi Belajar Anak

Mendongkrak Prestasi Belajar Anak

Mendidik anak dapat diibaratkan bagai bermain layang-layang. Ditarik terlalu kuat, putus. Diulur terus, nyangkut. Itu belum lagi dalam menyiasati layang-layang yang eror. Acapkali layang-layang model begini, kendati angin bertiup normal, terrbangnya pun masih miring-miring kayak kepiting. Apalagi kalau anginnya kencang. Dengan demikian seseorang memerlukan pengetahuan lebih dalam, kapan waktu menarik atau mengulur sehingga layang-layang tetap mengudara dan enak dipandang mata. Dan kapan harus ditambah buntutan atau pemberat syap sebelah.
Mendampingi anak menjalani pendidikan di sekolah orang tua harus menyelami keadaan anak. Anak yang sudah wajar prestasi studinya, kalau digenjot terus-menerus malah bisa menantang ibunya untuk tidak berhasil.

v Berpacu dalam Pendidikan
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut kualitas individu yang baik untuk tiga puluh tahun mendatang. Peran sekolah sebagai lembaga untuk meneruskan ilmu dan kecakapan kepada anak didik semakin tidak tergantikan. Dulu anak petani akan dididik sendiri oleh bapaknya untuk menjadi petani pula. Hal itu sekarang jelas tidak mungkin. Untuk menjadi 'orang' di masa depan, anak tidak cukup kalau hanya berguru pada orang tuanya. Anak harus menempuh pendidikan formal.
Sementara itu keadaan dunia persekolahan di Indonesia mendorong orang tua untuk berlomba-lomba memilih sekolah terbaik untuk anaknya. Langkah berikut ialah mendorong anak menjadi juara kelas, supaya orang tua tidak pusing mencari jenjang pendidikan lanjutan yang baik pula. Sekarang ini ada gejala bahwa arang tua jadi ikut berpacu dalam pendidikan. Menjadi orangtua zaman sekarang terasa lebih tegang daripada lima puluh tahun yang lalu. Sampai-sampai terkadang patut dipertanyakan, siapa yang sekolah sebenarnya? Orangtua atau anaknya? Tidak sedikit orang tua langsung maju ke sekolah untuk protes kepada guru kalau anaknya mendapat nilai kurang. Bahkan ada yang ikut demo melempari sekolahan ketika sang anak di akhir tahun ajaran dinyatakan melempem alias tak lulus.

v Dari Mana harus Memulai?
Ambisi orang tua untuk memacu prestasi belajar anak kalau tidak proporsional dan melampaui batas kewajaran bisa menimbulkan efek yang kurang baik. Tetapi yang sering menjadi masalah bagi orang tua ialah, kalau mau membantu anak belajar harus mulai dari mana dan bagaimana? Seorang pakar psikologi anak menandaskan bahwa bimbingan orang tua terhadap anak sudah harus mulai sejak saat kelahirannya, jadi jauh sebelum masa sekolahnya. Orang tua, terutama ibu, sudah bertindak sebagai perantara bagi anak dan lingkungannya. Sebagai langkah pertama, ibu harus berusaha membangkitkan perhatian dan keinginan anak untuk bereaksi. Secara kongkret, dalam melayani kebutuhan anak untuk pertumbuhan fisiknya, ibu harus berbicara kepada anak. Jadi dalam melayani kebutuhan fisik anaknya yang masih bayi, ibu harus melakukannya sambil bercakap-cakap seperti lazimnya kalau menghadapi anak atau orang dewasa.
Setelah anak meningkat lebih besar (sekalipun belum sekolah), orang tua harus bisa menggiring anak berpikir ke masa depan, dengan menunjukkan kaitannya dengan masa kini dan masa lalu. Setiap pertanyaan anak yang menyangkut barang atau orang di lingkungannya, sebaiknya dijawab disertai penjelasan tentang latar belakang dan diproyeksikan ke depan.
Langkah ketiga adalah memberi makna yang afektif terhadap pengalaman yang diperoleh anak, dengan mengikutsertakan unsur perasaan. "Ini baju siapa?" -"Oh ini baju ibu, Ibu senang sekali dengan baju ini, karena enak dipakai dan dingin," Jawaban seperti itu memberi makna tertentu, dan penting untuk merangsang anak berpikir.
Yang tak kalah penting pula adalah memberikan pujian dan membangkitkan perasaan mampu serta kompeten pada anak. Dari berbagai penelitiannya, harus diakui bahwa ibu-ibu Indonesia pelit sekali memberikan pujian kepada anak. Kalau anak berhasil mencatat prestasi dianggap semestinya, kalau kalah dalam persaingan dimarahi habis-habisan. Sikap seperti ini perlu diperbaiki. Kalau anak berbuat baik dan menunjukkan prestasi yang baik, orang tua harus siap memberi pujian. Sebaliknya, kalau anak nakal, atau melakukan kesalahan, jangan dimarahi, tetapi diberi tahu kesalahannya. Apalagi dalam hal anak mengalami kegagalan, orang tua justru diperlukan untuk membantu memikirkan dan menunjukkan lalan keluar.
Yang terakhir ialah membiasakan anak merencanakan segala kegiatannya, dengan menunjukkan bahwa segala kegiatan harus berjalan menurut pola dan waktu yang tetap. Dalam hal ini orang tua harus memberi contoh dengan mengatur bahwa kegiatan kehidupan keluarga di dalam rumah tangga, seperti bangun pagi, shalat, membaca Al-Qur’an, makan, bekerja dan belajar, bermain, makan malam, tidur malam, juga berlangsung menurut pola yang tetap. Konsep seperti itu tidak hanya perlu diterapkan pada anak-anak usia sekolah, tetapi sudah bisa dimulai pada anak-anak balita, bahkan pada usia berapa pun. Hanya saja bentuk dan cara penerapannya memang berbeda-beda untuk setiap tahap usia anak.

v Tak Perlu Mengumumkan Peringkat Anak
Salah satu pernyataan ahli pendidikan mengatakan bahwa penentuan peringkat prestasi untuk anak-anak tingkat SD sebetulnya tidak begitu baik. Berdasarkan pengalaman, anak yang sejak awal didorong-dorong untuk bisa mencapai peringkat atas, pada akhirnya bisa kehilangan minat belajar karena beban pelajaran juga terus meningkat. Sementara itu orang tua akan tetap menuntut anak terus menduduki peringkat atas. Kelalalian akibat tuntutan mempertahankan peringkat ini tidak jarang baru muncul dalam waktu belakangan, artinya di jenjang pendidikan yang jauh lebih tinggi, yang justru sangat merugikan banyak pihak, terutama anak itu sendiri.
Dengan demikian akan lebih baik jika peringkat itu hanya diketahui guru saja untuk menentukan program belajar bagi anak bersangkutan, sehingga anak yang pandai bisa diberi materi pelajaran lebih banyak, agar tidak mengganggu kawan sekelas karena kelebihan energi dan waktu.

v Keistimewaan Anak
Pada dasarnya setiap anak memiliki keunikan dan keistimewaan. Mempersiapkan anak dalam hidup sekarang ini makin lama makin sulit. Orang tua menghadapi tantangan untuk mencarikan jalan, menempuh cara-cara untuk mempersiapkan anak dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup. Dalam hal ini peran orang tua tidak ternilai besarnya.
Kebiasaan orang tua membacakan cerita bagi anak ini sangat penting. Dari orang tua seperti itu akan tumbuh anak-anak yang memiliki penguasaan bahasa, tata bahasa, dan struktur bahasa yang penting untuk membentuk penalaran berpikir pada anak. Orang tua sudah bisa memulai kebiasaan ini sejak anak berumur setahun. Meskipun pada umur itu anak belum bisa bicara, tetapi dari kebiasaan mendengarkan orang tuanya membacakan cerita, baik mengenai tokoh-tokoh Muslim dahulu ataupun sekarang, pahlawan nasional, kisah nabi-nabi, dia akan ikut-ikutan mengeluarkan suara-suara yang merupakan dasar penguasaan berbahasa.
Selain membacakan cerita, bimbingan terhadap anak juga bisa diberikan melalui permainan-permainan yang mengandung konsep pendidikan. Dengan berbagai kegiatan sederhana di rumah seperti menghitung sendok, garpu, piring, orang tua bisa menanamkan pengertian statistik dan berhitung, yang kelak bermanfaat untuk menghilangkan fobi matematika yang kini banyak melanda anak-anak (bahkan di tingkat SD atau MI).
Tanggung jawab terbesar untuk mengurusi pendidikan anak terletak pada orang tua. Dari pengalaman, sebaiknya ayah dan ibu bersama-sama menghadapi guru untuk membicarakan kemajuan anak di sekolah. Dengan demikian jika guru buka kartu, kedua orang tua tidak saling menyalahkan.

v Motivasi adalah Motor
Belajar adalah kemampuan mengatur pikiran dan membuat hipotesis untuk memecahkan masalah. Proses belajar ini berasal dari luar diri anak. Guru yang terlalu banyak menerangkan sebenarnya malah tidak menciptakan proses belajar pada anak. Keterangan cukup sekadarnya, kemudian beri kesempatan sebanyak mungkin kepada anak untuk memecahkan masalah lewat soal-soal sebagai latihan. Proses ini juga harus dipahami orang tua, kalau anak mengalami kesulitan menyelesaikan tugas pekerjaan rumah. Biasakan anak untuk mencari jalan sendiri dulu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh guru. Proses belajar dipengaruhi oleh bahasa, perhatian, cara belajar, dan kemampuan berpikir. Anak yang tidak bisa menyatakan pikirannya dalam bahasa yang baik, juga tidak bisa mengatur pikirannya. Demikian pula guru harus bisa mengajar dengan menggunakan bahasa yang baik pula. Anak yang tidak mau memperhatikan, sulit untuk belajar. Guru harus bisa menarik perhatian anak pada masalah yang diajarkannya. Di rumah orang tua harus bisa menciptakan suasana agar anak bisa memusatkan perhatian dan konsentrasi pada tugas-tugas belajar.
Setiap orang mempunyai cara belajar yang cocok untuk diri masing-masing. Ada yang cukup memakai mata, tanpa memakai telinganya, membaca dengan diam. Ada yang harus membaca dengan keras, memakai mata dan telinga. Ada yang membaca, mulutnya bersuara, dan tangannya menulis. Cara terakhir ini memang paling baik, karena ketiga modulitas dipakai.
Proses belajar tidak terlepas dari kemampuan berpikir, yang terbentuk setengah karena dibawa dari keturunan, setengah lagi didapat dari pendidikan dan pengalaman dari lingkungan, dan interaksi sosial. Tidak semua orang cerdas terutama secara keturunan. Faktor di luar keturunan yang berperan dalam menumbuhkan kecerdasan dan kemampuan berpikir ialah gizi. Gizi yang baik pada usia pertumbuhan memang sangat membantu, karena otak manusia berhenti membesar pada usia tiga tahun. Jadi seorang anak yang tidak mendapatkan gizi yang baik antara umur 0-3 tahun sulit menjadi pandai. Potensi belajar seorang anak sudah dibawa sejak lahir, tetapi kalau tidak dikembangkan dalam hidup anak mulai sejak masa prasekolahnya, hal itu akan sangat merugikan. Terutama lagi, hendaklah orangtua mencarikan rezeki yang halal. Ini betul-betul besar pengaruhnya terhadap kejiwaan seorang anak. Jangan heran jika acapkali kita temukan anak yang cerdas, namun sejak kecil moralnya sudah tampak mulai miring, sulit dikendalikan dan bersikap aneh.
Dalam hal ini dalam syari’at telah ditentukan. Ada barang yang halal karena zatnya, seperti darah, babi, khamr, bangkai, binatang bertaring, binantang bercakar kuat, dan sebagainya. Ada pula yang haram tersebab cara memperolehnya, seperti hasil curian, korupsi, manipulasi, sogok, semir, menipu dan kawan-kawannya. Dalam mencermati dan menyayangi para hamba-Nya, sampai-sampai Allah sendiri memberikan firman untuk menekankan penting mensuplay tubuh dengan barang halal, setelah itu barulah kita diperintahkan untuk beraktivitas dan beramal shalih, inya Allah dampaknya akan bagus, baik untuk diri sendiri atau keluarga. Sebab mengkonsumsi barang halal merupakan motivator dan motor penggerak utama sebuah pribadi menjadi bagus.
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah (QS. Al-Baqarah [2]:172).
Motivasi merupakan motor dari proses belajar. Dengan motivasi yang besar segalanya bisa tercapai, sedang tanpa motivasi anak akan acuh tak acuh. Maka kunci membimbing anak belajar adalah membina motivasi. Dalam membina motivasi belajar anak perlu diperhatikan sikap anak terhadap apa yang dia pelajari, rasa kebutuhannya untuk belajar, dan perasaan berhasil.
Agar anak berminat belajar, dia harus senang terhadap pelajaran, senang terhadap guru. Untuk menumbuhkan sikap itu, guru dan orang tua yang bijaksana harus dapat mengusahakan pendekatan dan mencari latar belakang sifat anak,
Orang tua harus mengarahkan agar anak merasakan belajar sebagai suatu kebutuhan untuk masa depannya. Anak yang semua kebutuhannya disediakan lingkungan dan orang tuanya, tidak akan merasa ada kebutuhan, dan menjadi anak yang pasif.

v Prestasi Belajar
Agar orang tua tahu langkah-langkah yang tepat untuk mendukung prestasi belajar anaknya, lebih jelasnya bahwa prestasi belajar selain ditentukan oleh faktor kecerdasan anak, cara belajarnya, juga dipengaruhi oleh motivasi yang tak lain adalah arahan yang menentukan intensitas suatu tingkah laku. Dari motivasi inilah timbul semangat. Kurikulum pelajaran harus sesuai dengan perkembangan anak. Faktor guru juga bisa mempengaruhi prestasi belajar anak. Guru harus menguasai materi pelajaran dan idealnya memiliki kecakapan mengajar. Untuk mencapai prestasi belajar yang baik juga diharapkan ada kerja sama antara guru dan anak.
v Anak Bertangan Kidal
Bagaimana mengatasi anak yang kidal? Memiliki anak yang bertangan kidal, yang penting orang tua maupun guru jangan mencoba mengubah pembawaan anak yang kidal. Usaha melatih anak kidal untuk mengerjakan tugas-tugas dengan tangan kanan lebih lebih dengan kekerasan dan paksaan, bisa membawa guncangan psikologis, seperti mengompol gagap menumbuhkan rasa rendah diri dan sebagainya.
Kalau seorang anak memang kidal, sebaiknya dibenahi dengan telaten, sabar dan hati-hati.. Untuk menulis dari kiri ke kanan bisa dilatih. Sikap dan cara meletakkan kertas pada waktu menulis antara seorang anak kidal dengan anak normal biasanya berbeda. Pada waktu anak pertama kali masuk sekolah, orang tua sebaiknya memberi tahu guru kelas kalau anaknya kidal. Guru yang bijaksana selalu memperhatikan keberadaannya sehingga kelak akan bisa terbenahi dengan kebijaksanaannya.
Yang perlu diperhatikan, tanamkan sedikit demi sedikit mengenai ajaran tayamun, yakni selalu mendahulukan anggota tubuh yang kanan dalam segala aktivitas yang positif, sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw, baik ketika menulis, memasuki masjid, makan, minum, mengenakan baju, memakai sandal atau sepatu dan lain sebagainya. Ajarkan pula bahwa anggota tubuh yang kiri hendaklah digunakan untuk perihal yang kuang utama, sebagaima cebok dengan tangan kiri, memasuki WC, melepas baju atau sepatu, dan sebagainya. Tanamkan pula bahwa dengan usaha seperti itu, anak yang kidal akan mendapat dua pahala, yakni dari usaha itba’ dan mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Pahala kedua adalah tersebab memerangi nafsunya yang selalu meprioritaskan dalam menggunakan tangan kiri. Dengan begitu insya Allah, dalam jiwa seorang anak akan tumbuh kecintaannya terhadap agama yang hanif ini.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَامُنَ يَأْخُذُ بِيَمِينِهِ وَيُعْطِي بِيَمِينِهِ وَيُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ
Dari Aisyah Ra mengatakan bahwasannya adalah Rasulullah Saw amat menyintai tayamun. Beliau mengambil dengan tangan kanan, memberi juga dengan tangan kanan, pokoknya amat menyintai tayamun dalam berbagai hal.
(HR. Nasa’i dalam Kutub Al-Tis’ah, hadits nomor: 4973).

v Perhatikan Pendidikan Islami
Anak dapat menjadi permata hati, tapi juga bisa menjadii musuh. Bimbing anak miliki karakter shalih, agar menjadi pembuka jalan surga. Ada enam kewajiban orangtua terhadap anak. Pertama, mengharapkan kehadiran anak dalam konteks normal, halal dan Islami. Artinya, orangtua harus benar-benar menyiapkan diri, baik secara mentalitas, intelektual, fisik dan materi untuk menyambut kelahiran anak-anaknya. Kedua, memberi nafkah dengan harta yang halal dan nafkah tersebut bermanfaat untuk perkembangan jiwa anak. Orangtua tidak boleh memberikan sesuatu yang berlebihan pada anak, meski pun ia mampu. Ketiga, mendidik contoh, nilai, dan memberikan pembiasaan, proporsional hukuman dan Keempat, menunjukkan kasih sayang dengan cara yang tepat. Kelima, memperlakukan setiap anak dengan adil. Keenam, selalu mendoakan anak dengan doa yang baik melalui penanaman secara islami Ada beberapa kiat-kiat mendidik mereka untuk mengantarkan pada kebahagiaan dunia dan akhirat:
§ Ajari anak bersyukurlah kepada Allah, karena hakikatnya syukur itu untuk diri sendiri.
§ Ajari anak menjauhi syirik karena itu adalah kezaliman besar.
§ Ajari anak menghormat ibunya yang telah mengandung dengan susah payah, lemah, dan bertambah-tambah selama 9 bulan.
§ Ajari anak menghormati kedua orangtua karena keridhaan Allah ada pada keridhaan kedua orang tua.
§ Ajari anak untuk menolak perintah orangtua yang salah dengan cara yang bijak.
§ Ajari anak untuk mendirikan shalat dan berdakwah serta bersabar terhadap penderitaan di medan dakwah.
§ Ajari anak untuk menjauhi sikap sombong, angkuh, meremehkan orang lain, memalingkan muka, memandang rendah orang lain, dan tidak mau bertegur sapa.
§ Ajari anak sifat kesederhanaan; tampil dengan wajar, tidak membuat keresahan orang lain, tidak menyebabkan orang lain menjadi sakit hati.
§ Ajari anak melunakkan suara dan pandai berkomunikasi, namun jangan banyak bicara yang tidak bermakna dan jangan menjadi pembual.
Lukman al-Hakim memberi nasihat kepada anaknya; "Anakku, pilihlah majelis-majelis. Bila engkau lihat majelis dzikir kepada Allah, duduklah bersama mereka. Bila engkau seorang alim, maka ilmumu itu akan bermanfaat bagimu. Bila Engkau bodoh, maka mereka akan mengajarmu. Dan bila Allah berkehendak mencurahkan rahmat atas mereka, engkau akan terkena rahmat-Nya bersama mereka."

v Jauhi Sikap yang Membonsai Jiwa Anak
Untuk menjaga fitrah anak, jauhilah hal-hal yang dapat mengerdilkan jiwanya, misalnya:
§ Melarang anak mengekspressikan emosinya (protes, menangis, gembira, menyanggah dan sebagainya).
§ Melarang anak mempertanyakan keputusan orang tua.
§ Melarang anak bermain dengan anak dari keluarga yang mempunyai pandangan dan nilai berbeda.
§ Melarang anak berisik.
§ Terlalu ketat mengawasi dan mendeteksi kegiatan anak.
§ Terlalu intervensi dan menekan saran spesifik dalam penyelesaian tugas anak .
§ Menolak gagasan anak.
§ Terlalu menekan dan anak untuk menyelesaikan tugas.
Di samping itu, anak memiliki karakter emosi yang belum stabil, karena mereka masih dalam tahap pertumbuhan emosi. Karena itu, pengaruhilah jiwa anak dengan cara:
§ Jadilah sahabat dan teladan baginya
§ Tumbuhkan rasa percaya diri pada anak dengan memperkuat kemauan anak, menumbuhkan kepercayaan sosial, kepercayaan ekonomi, dan bisnis.
§ Perhatikan kecenderungannya, angkatlah potensinya, dan perbaiki kelemahannya.
§ Latih mereka dengan memberi tugas sesuai dengan usianya, bertahap, dan tidak mencercanya ketika salah.
§ Dengarkan anak secara reflektif: hargai perasaannya dan tunjukkan bahwa kita memahami perasaan anak, tampakkan bahwa kita benar-benar menyimak apa yang dikatakan, ulangi apa yang dia ucapkan, dan ekspresikan bahwa kita sedang memikirkan perasannya, berikan respon positif, berikan umpan balik dengan nasihat.
§ Perbanyak kegiatan yang mengembangkan permainan, cerita dan buku-buku fiksi ilmiah, lukisan dan hiasan, drama anak-anak seusianya, kegiatan ekstrakurikuler, membaca buku, dan menyalurkan hobinya.
§ Ciptakan keluarga Al-Qur’an dengan sering membaca bareng-bareng dalam keluarga. Dengan begitu rumah akan menuai ketenteraman.
§ Laksanakan shalat berjamaah, dengan ayah sebagai imam (bila tidak sempat pergi ke masjid).
§ Ajaklah mereka melaksanakan shalat sunnah di rumah, baik qabliah, ba’diah, dhuha, bahkan tahajud. Dengan begitu rumah akan memiliki nur dan keteduhan.
Jika orangtua mampu menghadirkan nuansa Islami dalam proses pendidikan anak, yakinlah, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi berjiwa besar dan berkarakter insan kamil. Mereka tidak rentan terhadap pengaruh buruk lingkungan, bahkan mereka dapat menjadi generasi pendobrak kemaksiatan di muka bumi. Wallahu a'lam.




Menyiasati dan Mencegah Konflik


Paling tidak sekali dalam hidup, seorang anak pernah mengalami konflik dengan orang lain. Apakah mereka teman, atasan, bawahan, atau bahkan orang-orang yang dicintai. Penyebabnya seringkali bermuara pada perbedaan sikap, pendapat, dan cara pandang satu persoalan. Mengapa sampai muncul perbedaan sikap antara seseorang dengan yang lain terhadap satu hal yang sama? Mengapa karakter atau watak setiap orang berlainan? Bagaimana cara menghadapi setiap perbedaan tanpa harus terlibat perseteruan?
Enneagram menyediakan jawaban sekaligus penjelasan untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Ennea (bahasa Yunani) yang artinya sembilan, merupakan penjabaran sembilan tipe energi alam yang masing-masing menyimpan watak dan karakter orang. Kesembilan tipe tersebut membedakan cara seseorang dalam menentukan pilihan, bertingkah laku, dan menumbuhkembangkan sifat-sifat asli dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Enneagram bukan berarti menerka, mempredsiksi, apalagi membaca nasib, namun membaca sifat dan sikap seorang anak sesuai dengan karakter yang ada padanya.
Bukti sejarah menunjukkan enneagram sudah dikenal dalam peradaban Asia Tengah pada tahun 2500 SM. Para psikolog Mesopotamia tempo doeloe sudah memakai prinsip-prinsip enneagram untuk menggeluti masalah perbedaan karakter manusia. Pengetahuan ini berkembang dan dipraktikkan, meski masih secara lisan dan belum ilmiah, oleh kalangan Sufi untuk mengelola anggota-anggota organisasi kemasyarakatan setempat. Dengan enneagram mereka berusaha memahami perbedaan watak masing-masing serta mengelola perbedaan tersebut untuk kemudian diolah agar semua potensi para anggota bisa dimanfaatkan secara optimal. Pemahaman atas kelebihan dan kelemahan masing-masing, membantu mereka bekerja sama dan menjalin relasi interpersonal yang bagus.
Pada akhirnya, rahasia kekuatan enneagram yang tersimpan bak misteri ini terkuak juga pada awal abad ke-20. Penemuan ini berdasarkan pada beberapa studi ilmiah yang sebagian besar dilakukan oleh kalangan pakar psikologi Universitas Stanford, Amerika Serikat. Tahun 1960 seorang ahli pendidikan dari Amerika Latin, Oscar Ichazo memperkenalkan metode pengajaran enneagram di Bolivia, lalu menyebarkan pengetahuan ini melalui Institut Arica di New York. Seorang psikiater dari Cile, Claudio Naranjo memadukan enneagram ke dalam disiplin ilmu psikologi yang menangani gangguan kepribadian berdasarkan American Psychiatrists Association. Sejak itu enneagram dipelajari dan diajarkan oleh banyak ahli dengan latar belakang yang beragam.
Belakangan, metode enneagram ini juga dipadukan dengan program rekrutmen dan pelatihan pada lembaga pengembangan sumber daya manusia di beberapa perusahaan. Selain beberapa perusahaan besar Jepang, raksasa General Motors dan AT & T pun memakainya.
Berbagai karakter yang sudah menjadi ketentuan manusia sejak lahir, ini juga telah diuraikan Rasulullah Saw melalui hadits:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا صَلَاةَ الْعَصْرِ بِنَهَارٍ ثُمَّ قَامَ خَطِيبًا فَلَمْ يَدَعْ شَيْئًا يَكُونُ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ إِلَّا أَخْبَرَنَا بِهِ حَفِظَهُ مَنْ حَفِظَهُ وَنَسِيَهُ مَنْ نَسِيَهُ وَكَانَ فِيمَا قَالَ فِيمَا حَفِظْنَا يَوْمَئِذٍ أَلَا إِنَّ بَنِي آدَمَ خُلِقُوا عَلَى طَبَقَاتٍ شَتَّى فَمِنْهُمْ مَنْ يُولَدُ مُؤْمِنًا وَيَحْيَا مُؤْمِنًا وَيَمُوتُ مُؤْمِنًا وَمِنْهُمْ مَنْ يُولَدُ كَافِرًا وَيَحْيَا كَافِرًا وَيَمُوتُ كَافِرًا وَمِنْهُمْ مَنْ يُولَدُ مُؤْمِنًا وَيَحْيَا مُؤْمِنًا وَيَمُوتُ كَافِرًا وَمِنْهُمْ مَنْ يُولَدُ كَافِرًا وَيَحْيَا كَافِرًا وَيَمُوتُ مُؤْمِنًا أَلَا وَإِنَّ مِنْهُمُ الْبَطِيءَ الْغَضَبِ سَرِيعَ الْفَيْءِ وَمِنْهُمْ سَرِيعُ الْغَضَبِ سَرِيعُ الْفَيْءِ فَتِلْكَ بِتِلْكَ أَلَا وَإِنَّ مِنْهُمْ سَرِيعَ الْغَضَبِ بَطِيءَ الْفَيْءِ أَلَا وَخَيْرُهُمْ بَطِيءُ الْغَضَبِ سَرِيعُ الْفَيْءِ أَلَا وَشَرُّهُمْ سَرِيعُ الْغَضَبِ بَطِيءُ الْفَيْءِ أَلَا وَإِنَّ مِنْهُمْ حَسَنَ الْقَضَاءِ حَسَنَ الطَّلَبِ وَمِنْهُمْ سَيِّئُ الْقَضَاءِ حَسَنُ الطَّلَبِ وَمِنْهُمْ حَسَنُ الْقَضَاءِ سَيِّئُ الطَّلَبِ فَتِلْكَ بِتِلْكَ أَلَا وَإِنَّ مِنْهُمُ السَّيِّئَ الْقَضَاءِ السَّيِّئَ الطَّلَبِ أَلَا وَخَيْرُهُمُ الْحَسَنُ الْقَضَاءِ الْحَسَنُ الطَّلَبِ أَلَا وَشَرُّهُمْ سَيِّئُ الْقَضَاءِ سَيِّئُ الطَّلَبِ
Dari Abu Sa’id Al-Khudri mengatakan: Pada suatu hari Rasulullah Saw melaksanakan shalat Ashar nersama kami, kemudian beliau berdiri seraya berkhutbah. Pada kesempatan itu beliau tidaklah meninggalkan sebuah peristiwa yangh bakal terjadi sampai Kiamat nanti, melainkan beliau mengutarakannya kepada kami. Diantara kami banyak yang hapal, juga banyak yang lupa.
Termasuk apa yang disampaikan beliau yang kami hapal, ingatlah, bahwa anak Adam itu diciptakan menjadi berbagai strata dan golongan. Di antara mereka ada yang dilahirkan dalam kondisi mukmin, hidupnya pun dalam keadaan mukmin, kemudian mati dalam keadaan mukmin. Ada pula yang terlahir dalam kondisi kafir, hidupnya pun kafuir, dan matinya juga dalam kondisi kafir. Adalagi yang terlahir dalam kondisi mukmin, hidupnya juga mukmin, namun mati dalam kondisi kafir. Ada pula yang terlahir dalam kondisi kafir, hidupnya juga kafir, namun mati dalam kondisi mukmin.
Ingatlah, dari mereka ada yang lambat marah, namun cepat reda. Ada pula yang cepat marah dan cepat reda. Dengan demikian temperamentalnya itu terimbangi dengan cepatnya reda. Ingatlah, dari mereka ada juga yang cepat marah, namun lambat redanya. Ingatlah, yang terbaik adalah mereka yang lambat marahnya, namun cepat redanya. Ingatlah, yang terburuk adalah mereka yang cepat marah namun lambat redanya.
Ingatlah, dari mereka ada yang sangat bagus dalam cara membayar hutang, juga bagus cara menagihnya. Ada pula yang jelek cara membayarnya, namun bagus cara menagihnya. Ada pula yang bagus membayarnya, namun jelek cara menagihnya. Maka yang pertama itu sebagai imbangan yang kedua. Ingatlah, dari mereka ada juga yang jelek pembayarannya, juga jelek menagihnya. Ingatlah, yang terbaik adalah mereka yang bagus pembayarannya, juga bagus penagihannya. Ingatlah, yang paling jelek adalah mereka yang paling jeek pembayarannya, juga jelek penagihannya.
(HR. Tirmidzi dalam Kutub al-Tis’ah, hadits nomor: 2117).

v Sembilan jenis karakter manusia
Karakter seorang anak (manusia) dapat dipilah menjadi sembilan tipe dasar kepribadian serta hubungan antarpribadi yang kompleks. Kesembilan tipe itu antara lain:

1. Tipe Pekerja
Menggambarkan anak yang selalu mengejar kesempurnaan. Mereka biasanya memperhatikan segala sesuatu sampai sedetail-detailnya. Tak mudah menyerah meski harus menanggung beban berat. Namun karena menuntut setiap orang juga harus sempurna, mereka cenderung mencari-cari kesalahan. Di tempat permainannya mereka amat sensitif terhadap berbagai kesalahan atau perlakuan tidak adil dari saghabatnya.
Untuk membebaskan diri dari obsesi kesempurnaan, mereka perlu mempelajari konsep pertumbuhan. Tujuannya, agar sementara mengejar kesempurnaan mereka bisa tumbuh dan mendekati sempurna secara perlahan-lahan. Melalui proses pertumbuhan itu, mereka bisa memperlakukan diri sendiri maupun kawan-kawan di sekitarnya dengan lebih baik.

2. Tipe Penolong
Adalah orang yang amat bersahabat, penuh perhatian, dan rela melayani sesama. Mereka selalu berusaha keras untuk berbuat baik pada sesama. Namun bila sampai dikecewakan atau dikritik lantaran terlalu mencampuri urusan orang lain, mereka akan marah. Bawah sadarnya selalu dihantui ketakutan terbuang dari lingkungannya. Itulah sebabnya, mereka berusaha agar hidupnya berarti bagi orang lain. Meskipun secara nyata tidak menuntut balas jasa, sebenarnya mereka mengharapkan perhatian atau setidaknya pengakuan atas apa yang mereka lakukan untuk orang lain.
Tipe orang macam ini sebaiknya disadarkan bahwa membantu orang lain toh bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan kepentingan diri. Kepada mereka harus ditanamkan pengertian, usaha mencapai tujuan harus dilakukan dengan caranya sendiri tanpa perlu memanipulasi pihak lain, dengan bermacam-macam bantuan.

3. Tipe Motivator
Bisa ditemukan pada posisi manajemen puncak perusahaan-perusahaan Amerika dan Jepang. Orang tipe ini biasanya para workaholic yang amat terobsesi dengan efisiensi. Mereka cenderung menentukan target yang tinggi dan bekerja amat efisien guna mencapai sukses. Kalau perlu tak segan-segan mengesampingkan kepentingan keluarga dan bahkan kesehatannya. Tak jarang, ini yang menimbulkan dampak pada lingkungan kerjanya, mereka menuntut kadar komitmen yang sama terhadap para bawahannya. Padahal dengan tuntutannya yang terkadang."menyiksa" orang-orang di sekitarnya, mereka justru sering menderita stres.
Pribadi tipe ini sebaiknya memiliki standar untuk mengukur kapasitas kerja tanpa harus dihubungkan dengan tujuan, efisiensi, atau sukses perusahaan. Akan lebih bagus, dalam berperilaku kerja menyertakan unsur kejujuran diri dan rasa belas kasih terhadap sesama. Bila sudah mampu melihat kehebatan dirinya, mereka tidak akan menganggap bawahan hanyalah sekadar alat mencapai tujuan.

4. Tipe Individualis
Adalah orang yang selalu menempatkan keunikan diri, kreativitas, dan emosi pada tingkat yang paling tinggi. Karena melihat dirinya sebagai insan yang berbeda dengan orang lain, mereka tidak senang pada hal-hal yang bersifat biasa-biasa saja. Baginya setiap orang harus punya keunikan yang menonjol. Mereka terobsesi bekerja dengan caranya sendiri yang unik, sehingga lebih suka menutup pintu untuk kerjasama dengan orang lain. Orang seperti ini kalau diberi kebebasan akan cenderung soliter dan bahkan terisolasi dari lingkungan sekitar.
Nah, agar bisa terbebas dari "dunianya" yang sempit, selain memanfaatkan keunikannya secara optimal, mereka juga harus belajar menerima keragaman. Dunia ini penuh perbedaan. Kalau hidup setiap orang hanya berporos pada dirinya sendiri dan melupakan pergaulan dengan orang di sekitarnya, nantinya justru akan terasa sepi.

5. Tipe Pemikir
Biasanya pintar, berpikir analitis, dan tegas dalam mengambil keputusan, namun miskin dalam pergaulan. Boro-horo harus meluangkan waktu untuk bertukar pikiran atau perasaan dengan orang lain; perhatiannya melulu hanya pada bidangnya dan terlalu ngoyo dalam mengejar ilmu. Sayangnya, meski intelektualitasnya tak diragukan, mereka malas kerja. Bahasa sononya no action, talking only, atau NATO. Orang bilang, ngomong doang, kerja kagak.
Cara mengatasi kelemahan ini, mereka harus mengambil inisiatif tindakan nyata. ini logis. Untuk bisa mengetahui apa yang telah terjadi, seseorang harus terlibat di dalamnya. Bagaimanapun juga realitas kehidupan tak akan bisa dimengerti dengan pengamatan saja.
Orang tipe ini perlu belajar mengambil inisiatif untuk mengenal, berinteraksi dengan orang lain, serta mampu mengendalikan emosi. Dengan demikian mereka akan mene-mukan kebijaksanaan dan ke-kuatan yang sebelumnya selalu dihindari.

5. Tipe Loyalis
Umumnya bisa dipercaya, jujur, dan bertindak sesuai hukum dan norma yang berlaku. Pembawaannya cenderung hati-hati dan selalu cemas. Perasaan ini terbawa terus dalam pekerjaan. Biasanya mereka dihantui ketakutan dan kecemasan, jangan-jangan berbuat kesalahan. Kalau kecemasan itu tak terkontrol, biasanya mereka tidak mampu membuat keputusan atau bertindak sesuai kehendak.
Orang yang berkepribadian seperti ini perlu memiliki rasa percaya diri yang besar dalam lingkungannya. Kalau bisa diyakinkan bahwa mereka memiliki relasi yang dapat dipercaya, pelan-pelan kecemasan itu akan hilang dan mereka mampu meraih prestasi yang lebih dari biasanya.

6. Tipe Entusiastis
Selalu bersikap optimistis akan masa depan meski dalam kondisi buruk sekalipun. Mereka akan berusaha sebaik-baiknya untuk menghindari stres. Tapi bila situasi semakin memburuk, dengan gampang banting stir, memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih baik. Meskipun hidupnya tidak selalu berhasil, mereka susah menerima kegagalan atau penderitaan.
Orang macam ini harus dilatih untuk bisa menerima penderitaan atau kegagalan, sehingga mereka tidak akan jatuh ke dalam obsesi keberhasilan terus. Keberanian menghadapi tantangan perlu terus dipupuk. Yang jelas, ia harus pernah mengalami kegagalan dalam dunia nyata. Peribahasa Jawa, jer basuki mawa Bea (kesejahteraan perlu pengorbanan), cocok dijadikan pegangan hidup. Dengan kesadaran seperti itu mereka bisa menjadi pekerja yang bergund dan berprestasi lebih.

8. Tipe Pemimpin
Adalah orang yang dikaruniai kekuatan dan kemampuan mempengaruhi orang, namun cenderung tampil . "kejam" terhadap dunia sekitarnya. Mereka tidak mau kompromi dengan apa yang telah diyakininya. Kalau memegang kekuasaan, bisa berbahaya, karena cenderung otoriter.
Di satu sisi, mereka terobsesi oleh keadilan. Mereka membanggakan dirinya sebagai yang "empunya" keadilan. Berpegang pada kebenaran yang diyakininya, mereka berjuang untuk memperbaiki ketidakadilan yang ada di lingkungannya. Di lain sisi, kegigihannya menanamkan keadilan kepada pihak lain menutup telinganya sendiri untuk mendengarkan pendapat orang lain yang berbeda. Alhasil, sering terjerat dalam banyak konflik.
Agar tidak menjadi korban dari "jebakan" yang diciptakannya sendiri, mereka harus belajar memahami dan memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama. Mereka yang menyadari kelemahannya sendiri justru secara alami akan menjadi kuat, tanpa harus menindas atau menakuti orang lain dengan kekuatan.

9. Tipe Cinta Damai
: Watak ini terlihat dari kepribadiannya yang tidak menyukai persaingan. Mereka selalu berusaha agar lingkungannya menjadi tenang dan damai. Namun lantaran selalu menghindari konflik, sikapnya menjadi ewuh-pakewuh terhadap siapa pun. Mereka tidak mampu mengutarakan pendapatnya secara jelas dan transparan. Akibatnya, orang lain sering tak bisa menangkap maksud-nya. Padahal perilaku terse-but justru akan memicu ma-salah.
Dengan pembawaan yang terlalu rendah hati, mereka merasa dirinya tidak begitu berarti dan tidak penting bagi orang lain. Ketiadaan rasa percaya diri yang kuat cenderung membuatnya mengharapkan orang lain untuk me-motivasi dirinya.
Pribadi macam ini perlu didorong untuk menyadari bahwa dirinya manusia yang berharga. Mata hatinya harus terbuka ke dunia luar yang lebih luas. Selain itu perlu juga ditumbuhkan suatu keberanian menghadapi konflik. Dengan demikian mereka be

rani mengatakan apa yang diinginkan meski terkadang menyebabkan timbulnya konflik.

v Manfaat yang didapat
Masing-masing karakter tentu memiliki kelebihan (energi positif) dan kelemahannya (energi negatif). Namun tak berarti enneagram merupakan perangkat untuk menilai apakah tipe yang satu lebih baik dibandingkan dengan tipe yang lain. Sebaliknya, dengan mengetahui kelebihan maupun kelemahan yang ada, metode ini justru membantu orang memahami karakter diri.
"Enneagram memberi gambaran lebih jelas bahwa sebagai manusia, kita berbeda dengan orang lain. Jangan coba-coba mengubah atau mengharuskan orang lain bertindak sesuai dengan keinginan kita. Kalau dipaksa, pasti akan muncul ketegangan atau konflik. Lebih baik kita melihat perbedaan itu sebagai sesuatu kekayaan.
Setelah memahami enneagram kita tak lagi terjebak menilai .orang lain secara hitam-putih, melainkan dengan landasan pengertian dan sikap menerima setiap keunikan atau kekhasan orang lain. Toh, pada akhirnya masing-masing tipe karakter akan saling memberi kontribusi dalam hubungan antarpersonal. Allah berfirman:
$tBur t,n=y{ tx.©%!$# #Ós\RW{$#ur ÇÌÈ ¨bÎ) ö/ä3u‹÷èy™ 4Ó®Lt±s9 ÇÍÈ $¨Br'sù ô`tB 4‘sÜôãr& 4’s+¨?$#ur ÇÎÈ s-£‰|¹ur 4Óo_ó¡çtø:$$Î/ ÇÏÈ ¼çnçŽÅc£uãY|¡sù 3“uŽô£ãù=Ï9 ÇÐÈ
Dan penciptaan laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (QS. Al-Lail [92]: 3 – 7).
Prinsip enneagram cocok diterapkan oleh bagian personalia sebuah perusahaan untuk program perekrutan calon karyawan; asal terlebih dulu mempertimbangkan implikasi dari masing-masing tipe. Kenyataannya, sebuah organisasi perusahaan perlu memiliki sebanyak mungkin tipe karakter para karyawannya. Dengan demikian masing-masing kelebihan dari para karyawannya bisa dimanfaatkan secara optimal. Sementara itu kelemahannya bisa saling dilengkapi.
Perusahaan yang hanya memiliki karyawan dari satu jenis karakter akan cepat "runtuh" bila suatu saat mengalami kesalahan. Dengan kata lain, kemampuan untuk me-manfaatkan kekuatan-kekuatan dari berbagai tipe karakter ini menjadi kunci pertumbuhan dan kekuatan perusahaan.
Termasuk kebijaksanaan Allah,” tulis Syekh Izzuddin Ibnu Abdis Salam As-Salami, “Dia menciptakan manusia dalam berbagai ragam derajat dan profesi. Ada yang dalam martabat tinggi dan banyak pula yang menjadi rakyat jelata. Semua itu dimaksudkan agar roda kemaslahatan dunia bisa berjalan dengan lancar. Taruh saja jika manusia dalam satu strata, kaya semua atau miskin semua, ini jelas akan memandulkan roda kemaslahatan hidup. Sehingga tidak mungkin ada pihak yang mau menjadi buruh atau bisa diupah. Akibatnya, dalam memenuhi hajat hidup, setiap orang harus memiliki tanah, panen sendiri, membuat kain sendiri, menyiapkan makanan sendiri, membuat kendaraan sendiri. Namun Dia telah menciptakan mereka dengan keahlian masing-masing, dan setiap orang diciptakan mencintai profesinya sendiri-sendiri. Inilah kebijaksanaan-Nya, sehingga setiap pihak menciptakan produk yang kompetitif untuk memenuhi hajat hidup. Keharmonisan seperti ini tiada lain dimaksudkan agar kemaslahatan ummat tercipta, di samping untuk menguji mereka. Adakah mereka sanggup menerobos ujian tersebut dan bersabar?

v Kompromi Ala Enneagram
Tiga remaja putri ditunjuk menjadi anggota panitia tabligh. Laila (tipe 3) bekerja keras dan selalu memfokuskan upayanya secara maksimal demi suksesnya program tersebut. Itulah sebabnya ia berusaha cepat-cepat menyelesaikan porsi tugasnya, agar bisa segera melaksanakan tugas berikutnya.. Untuk mencapai tujuan, gadis cantik ini sepertinya menghalalkan segala cara. Aturan, hukum, dan etika seringkali diterjang begitu saja.
Tentu saja sepak terjang Laila, lama kelamaan mengganggu Latifah (Tipe 1) yang dengan sifat perfeksionisnya selalu menaati hukum dan aturan yang berlaku di komunitas itu. Latifah tidak percaya, tindakan menerabas koleganya itu akan menghasilkan sukses. Baginya hanya ada satu jalan untuk meraih kesempurnaan, yakni dengan cara yang baik dan benar.
Sementara itu, Rasyidah (Tipe 9) merasa tidak nyaman melihat ulah Laila yang seradak-seruduk. Di lain pihak, juga amat terganggu dengan cara kerja Latifah yang dinilainya lamban. Merasa terjepit di tengah ritme kerja dua rekannya tersebut, gadis sederhana ini mencoba menenangkan langkah Laila dan Latifah. Karena tidak suka melihat konflik di perhelatan itu. Rasyidah berharap kedua rekannya itu akan segera saling memahami dan berbaikan. Dengan demikian ia mampu menyelesaikan tugasnya dalam suasana tenang, tanpa kekacauan.
Dengan prinsip enneagram, kepala panitia yang bersangkutan akan bisa menyelesaikan ketegangan yang terjadi di antara ketiga anggotanya itu. Tanpa harus ribut-ribut, apalagi mengundang campur tangan pihak luar.
Seperti diketahui, baik Laila (Tipe 3) maupun Latifah (Tipe 1) sama-sama commited akan keberhasilan tabligh. Nah, dengan cara memfokuskan perhatian pada aspek kualitas hasil akhir, keduanya pasti bisa dipacu dalam mencapai tujuan yang sama. Laila menitikberatkan perhatiannya pada keberhasilan dan gengsi pribadi. Sementara dalam upaya mencapai hasil sempurna, Latifah merasa harus menaati dan melewati semua prosedur yang sudah ditentukan sesuai rencana.
Apabila Latifah bisa meyakinkan Laila, bahwa mengikuti rencana semula akan lebih menguntungkan dan efisien sehingga dengan demikian citra dirinya juga akan meningkat, tentu Laila akan bersedia bekerjasama. Sementara itu biarkan Rasyidah menikmati pekerjaannya dengan tenang dan tenteram. Dalam kondisi demikian, apapun agenda yang diputuskan baik oleh Laila dan Latifah, pasti akan didukung Rasyidah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar