Minggu, 27 Desember 2009

Nutrisi Enteral Pada Penderita Kanker

Nutrisi Enteral Pada Penderita Kanker
Kekurangan kalori protein merupakan suatu masalah umum pasien kanker. Dalam suatu penelitian terhadap sejumlah pasien kanker dewasa, 65% mengalami penurunan berat badan sebesar 10-20%. Starvasi yang berhubungan dengan tumor merupakan sebab utama kematian banyak pasien kanker, sementara kekurangan kalori protein dihubungkan dengan resiko pembedahan yang lebih tinggi.
Kekurangan kalori protein pada pasien umumnya disebabkan oleh menurunnya intake nutrisi, kebutuhan nutrien yang berubah dan pengaruh terapi anti kanker. Faktor-faktor tersebut menunjukkan adanya kebutuhan sokongan nutrisi. Jika saluran pencernaan pasien masih berfungsi, sokongan ini harus diberikan melalui jalur enteral.
Tujuan sokongan nutrisi enteral adalah untuk menyediakan kalori, protein dan mikronutrien yang cukup melalui jalur enteral untuk mempertahankan atau meningkatkan status nutrisi seorang pasien sebelum, setelah dan sesudah terapi suatu penyakit, termasuk kanker.
Tentu saja, perlakuan terhadap malnutrisi umumnya menghasilkan kekuatan fisik dan kapasitas fungsional yang lebih baik serta perasaan (subyektif) sehat. Status nutrisi yang baik juga dapat memperbaiki status immune dan hipoalbuminemia, yang menghasilkan prognosis pembedahan yang lebih baik, dan meningkatkan toleransi pasien terhadap radiasi dan kemoterapi.

C. Kanker Limfe
Ketika Jacqueline Kennedy, istri mendiang Presiden AS J.F Kennedy, diberitakan menderita kanker limfe, banyak media menulis ia menderita kanker limpa. Istilah limfe dan limpa memang sering rancu, padahal kedua organ tubuh ini berbeda. Bagaimana mengatasi derita kanker limfe atau kelenjar getah bening ini?
Akhir-akhir ini Pak Farhan (64) tampak pucat, nafsu makannya merosot dan sering demam. Berat badannya dalam waktu dua minggu turun sekitar 4 kg. Dokter semula mendiagnosis ia terkena tifus. Namun setelah 3 minggu penyakitnya tidak juga kunjung sembuh, dokter memeriksanya kembali lebih teliti. Ternyata pada ginjal kanannya ditemukan benjolan sebesar telur ayam. Dugaan dokter, pasti menurunnya kondisi Pak Farhan gara-gara benjolan tersebut. Ia harus secepat mungkin menjalani pembedahan. Satu ginjalnya yang ditumbuhi tumor itu terpaksa dibuang. Hasil pemeriksaan patologi menyatakan, ia terserang kanker getah bening stadium II. Cara pengobatan satu-satunya dengan kemoterapi selama beberapa bulan.

v Pasiennya 50 Tahun ke Atas
Kanker kelenjar getah bening atau limfe memang termasuk jenis kanker yang cukup banyak penderitanya. Gejala umum pada dua pertiga penderitanya berupa benjolan pada kelenjar getah bening di ketiak, leher, atau selangkangan. Tapi pada sepertiga sisanya, penyakit ini dimulai pada jaringan getah bening organ tubuh bagian dalam seperti lambung, paru-paru, kelenjar gondok atau ginjal seperti Pak Farhan tadi, sehingga acap kali lebih sulit terdeteksi. Lewat pembuluh getah bening dan darah, sel kanker ini mudah menyebar ke seluruh tubuh. Ada beberapa macam kanker kelenjar getah bening, di antaranya limfoma (pembengkakan pada jaringan getah bening) Hodgkin dan nonHodgkin. Keduanya hampir sama keganasan maupun gejalanya. Hanya pada limfoma Hodgkin yang ditemukan dokter Inggris Thomas Hodgkin pada tahun 1932, jenis sel kankernya lebih besar (sel Reed-Steinberg).
Dibandingkan dengan jenis Hodgkin, jenis nonHodgkin memakan jauh lebih banyak korban. Salah satunya almarhum Jacqueline Kennedy.
Penyakit kanker kelenjar getah bening timbul akibat sel yang membagi diri tanpa kendali atau tanpa aturan sehingga menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening. Membengkaknya sejumlah sel getah bening ini menyebabkan limfosit yang dihasilkan sel getah bening (memproduksi leukosit mononuklear) tidak bisa berfungsi optimal. Akibatnya, tubuh kehilangan sebagian dari daya tahannya terhadap virus dan bakteri sehingga mudah sekali terinfeksi.
Di Negeri Belanda menurut hasil penelitian, dari sekitar 50.000 penderita kanker, seribu di antaranya menderita limfoma non-Hodgkin. Di Inggris, dalam satu tahun ada 4.000 kasus limfoma nonHodgkin ini. Rata-rata penderitanya berusia 50 ke atas. Di Indonesia, menurut data terakhir RS Kanker Dharmais, penyakit kanker kelenjar getah bening jenis non-Hodgkin termasuk dalam urutan ke-3 (9,06%) setelah kanker leher rahim dan payudara. Pada pria kanker kelenjar getah bening masuk dalam urutan ke-3 (7,94%) setelah kanker kulit dan nasofaring (batang hidung). Sedangkan pada wanita masuk dalam urutan ke-7 (3,24%) setelah kanker leher rahim, payudara, ovarium, kulit, tiroid, dan rektum. Rata-rata penderita berusia di atas 50 tahun. Perbandingan antara penderita pria dan wanita 6 : 5.

v Limfe Pusat Getah Bening
Limfe yang berupa cairan bening, sedikit kekuningan dan bereaksi alkali (basa dan dapat menyapu lemak) ini ditemukan dalam pembuluh limfe yang berasal dari cairan jaringan. Ada kalanya getah bening berwarna kemerahan akibat tercampur butir darah merah dan ada kalanya berwarna seperti susu karena tercampur butir lemak.
Getah bening terdiri atas cairan dan sel, sebagian besar lagi berupa limfosit yang memproduksi antibodi sehingga mempunyai peranan penting pada kekebalan tubuh. Cairan bening ini dikumpulkan dari semua bagian tubuh dan kembali ke darah melalui sistem limfatik. Sedangkan sistem getah bening terdiri atas pembuluh getah bening dan jaringan kelenjar getah bening. Pada gambar tampak jelas mana pembuluh getah bening utama dan mana jaringan kelenjar getah bening. Pembuluh getah bening berupa saluran jaringan kelenjar getah bening yang menyalurkan cairan ini masuk ke dalam saluran darah.
Pusat kelenjar getah bening yang terletak di beberapa tempat seperti leher (daerah amandel), ketiak, sepanjang saluran pernapasan, paru-paru, di atas usus dan bagian belakang rongga perut, daerah pinggul dan selangkangan, merupakan stasiun pembersih, pembasmi virus, bakteri, serta penyaring kotoran dalam getah bening.
Jadi jelas betapa pentingnya fungsi organ getah bening dalam tubuh kita ini. Dengan sendirinya kalau sampai terkena kanker kelenjar getah bening, kita mudah terinfeksi karena daya tahan tubuh sangat menurun.

v Mudah Lelah dan Berkeringat Dingin
Gejala utama kanker kelenjar getah bening Hodgkin maupun non-Hodgkin, berupa pembengkakan atau benjolan jelas pada salah satu atau beberapa kelenjar getah bening pada leher, ketiak, atau salah satu selangkangan. Umumnya benjolan tidak terasa sakit, tapi agak peka kalau dipijat. Gejala selanjutnya, demam dengan suhu turun naik, berat badan turun drastis dan tidak ada nafsu makan. Mudah merasa lelah nan lemas tanpa alasan jelas, keluar keringat dingin terutama pada malam hari. Jumlah butir darah merah (hemoglohin) adakalanya menurun. Hati dan limpa acapkali ikut membengkak. Pada jenis Hodgkin, gejala yang khas adalah sehabis minum minuman beralkohol, badan terasa sakit.
Namun perlu diamati, pembengkakan kelenjar getah bening tidak selalu merupakan gejala kanker. Ada kalanya hanya peradangan biasa yang akan sembuh dengan sendirinya. Namun waspadalah, apakah dalam waktu lebih dari 1 bulan pembengkakan tidak hilang.
Untuk memastikan apakah pembengkakan tersebut merupaikan penyakit ganas atau tidak, biasanya dilakukan pemeriksaan darah dan urine. Lebih pasti lagi bila dilakukan penelitian sel dengan menyedot sedikit sel kelenjar getah bening yang membengkak dengan jarum panjang yang sangat kecil (punctie). Sel yang telah disedot ini dioleskan pada kaca, kemudian diteliti di bawah mikroskop. Kalau timbul kecurigaan, penelitian yang lebih saksama bisa dengan biopsi (pengambilan jaringan), entah dari kelenjar getah bening yang membengkak atau dari sebagian jaringan getah bening dari bagian tubuh yang diduga terkena penyakit ini.
Ada beberapa derajat keganasan penyakit limfoma non-Hodgkin yang antara lain berdasarkan jenis selnya:
- Limfoma dengan derajat keganasan rendah terdiri atas sel yang keganasannya rendah dan lambat perkembangannya.
- Limfoma dengan derajat keganasan sedang bila sel limfoma mempunyai derajat keganasan antara tinggi dan rendah.
- Limfoma dengan derajat keganasan tinggi bila derajat keganasannya tinggi.
- Sepertiga penderita limfoma non-Hodgkin, derajat keganasannya rendah, namun bisa berubah sitar menjadi tinggi.
Untuk mengetahui sampai di mana stadium penyakitnya, antara lain bisa dengan foto thorax untuk memeriksa paruparu penderita apakah penjalaran sudah sampai ke situ dan apakah terdapat pembengkakan getah bening di sekitar jantung-paru-paru. Ada lagi pemeriksaan dengan komputertomografi atau CT scan. Dengan alat ini bisa dilihat pembengkakan kelenjar getah bening pada organ lain seperti hati, limpa, dan sebagainya. Dengan bantuan sinar rontgen dan komputer, alat ini dapat membuat foto mendetail dalam tubuh kita. Caranya, pasien dengan posisi tidur dimasukkan ke dalam semacam terowongan melalui meja bergerak. Setiap kali meja diajukan, dibuatlah satu seri foto.
Sebelum dilakukan pemeriksaan ini, pasien harus minum cairan kontras sehingga organ-organ tertentu akan tampak lebih jelas. Selama penelitian, pasien diinjeksi dengan cairan kontras lewat pembuluh darah lengan yang sering kali menyebabkan panas dan mual.
Bila CT scan masih belum memberikan informasi yang memuaskan, bisa ditambah dengan pemeriksaan limfografi. Di sini sejmnlah cairan biru dimasukkan ke bawah kulit kaki lewat paha untuk melihat keadaan jaringan getah bening pada kaki. Melalui pembiusan lokal pada kaki, dokter membuat irisan kecil pada setiap kaki. Cairan kontras biru tadi dimasukkan ke pembuluh getah bening. Selama beberapa jam cairan ini dimasukkan, pasien harus berbaring diam. Lewat pembuluh getah bening kaki, cairan ini akan mengalir menuju kelenjar getah bening dan pembuluh getah bening perut.
Dengan foto rontgen, ahli radiologi dapat mempelajari apakah terdapat penyimpangan pada ukuran serta struktur getah bening. Pemeriksaan ini membutuhkan waktu sampai 2 hari. Selama itu, pasien akan merasa sedikit mual, demam, dan urinenya kehijauan. Sumsum tulang belakang adakalanya juga diperiksa dengan menyedot sedikit sumsum tulang dengan jarum yang kemudian akan diteliti di bawah mikroskop.
Belakangan pemeriksaan juga dilakukan dengan alat echografi dengan bantuan gelombang suara (mirip ultrasonografi). Pantulan gelombang suara akan tampak di layar. Sebelum pemeriksaan, perut pasien diolesi semacam jeli, lalu alat yang mirip mikrofon digeser-geser di seputar perut. Dengan alat ini dapat dilihat kelainan pada hati, kelenjar getah bening, dan sebagainya.
v Penentuan Stadium
Berat tidaknya suatu penyakit umumnya disebutkan dengan istilah stadium. Dikatakan masih dalam taraf kanker stadium I bila penyakitnya baru sebatas satu daerah kelenjar getah bening, misalnya hanya pada leher atau ketiak. Stadium II apabila penyakit itu sudah pada dua atau lebih daerah kelenjar getah bening, pada satu sisi dari diagfragma (kanan atau kiri saja). Atau pada satu organ tubuh ditambah satu atau lebih daerah kelenjar getah bening pada satu sisi diagfragma. Stadium III berarti penyakit ini berada di daerah kelenjar pada kedua sisi diagfragma, adakalanya sampai ke limpa dan atau organ lain. Stadium IV berarti penyakit ini sudah menyebar ke organ-organ lain seperti paru-paru, hati, sumsum, kulit, dan sebagainya. Tentu saja semakin tinggi stadiumnya, semakin sulit diobati. Penyebab kanker getah bening sulit dijelaskan. Namun ada ahli yang mengatakan kemungkinan akibat virus ganas tertentu.
Pengobatan kanker im bisa dengan dua cara yakm radioterapi dan kemoterapi. Acap kali dokter melakukan kombinasi kedua perawatan tersebut berdasarkan derajat keganasan serta stadiumnya, usia serta kondisi umum penderita.
Dengan bantuan sinar radioterapi, sel ganas diharapkan dapat diberantas sebagian atau seluruhnya. Tidak seperti sel normal, sel kanker yang telah rusak tidak atau hampir tidak akan pulih kembali. Radioterapi biasanya dilakukan terhadap pasien yang masih pada stadium I atau II dengan derajat keganasan rendah. Namun pada pasien usia lanjut bertaraf stadium I, walaupun derajat keganasannya tinggi, pengobatan biasanya dengan radioterapi saja. Bagian yang disinari adalah organ tubuh yang ditumbuhi sel kanker entah leher, ketiak, selangkangan, perut, dan sebagainya. Penyinaran pada umumnya dilakukan 5 kali seminggu selama 4 minggu. Yang repot kalau yang disinari bagian leher atau rongga mulut, sebab produksi ludah pasien dengan sendirinya akan berkurang, mulut terasa sakit dan kering. Kalau bagian perut yang disinari biasanya penderita akan mual, diare, atau muntah-muntah.
Pengobatan dengan kemoterapi biasanya dilakukan pada pasien limfoma non-Hodgkin stadium II dengan derajat keganasan menengah atau tinggi serta pada stadium III dan IV dengan derajat keganasan yang mana pun. Kemoterapi atau sitostatika yang langsung masuk ke dalam darah ini gunanya untuk menghambat pertumbuhan sel yang tak terkendali itu. Lewat darah obat ini disebarkan ke seluruh tubuh sehingga mengenai semua sel kanker dalam tubuh penderita. Karena obat sitostatika selain menggempur sel kanker juga mengganggu sel yang masih sehat, terjadi efek sampingan yang kurang menyenangkan dan sulit dihindari yaitu rambut rontok, mual, kulit kering, muntah-muntah, daya rasa lidah hilang, dan sebagainya. Namun setelah pengobatan selesai, efek sampingan tersebut bisa pulih kembali.
Apabila tidak juga sembuh dengan obat biasa, pengobatan dilanjutkan dengan yang lebih bersifat agresif. Namun dikhawatirkan pengobatan ini akan merusak sel sumsum tulang belakang.

v Cangkok Sumsum
Untuk mengganti sel sumsum yang rusak bisa dilakukan pencangkokan sumsum, sendiri (autolog). Caranya, sumsum pasien diiambil pada saat terdapat sedikit mungkin sel kanker. Sumsum diambil dari pinggul, kemudian disimpan dengan cara dibekukan. Pengambilan sumsum ini biasanya dilakukan 2 atau 3 minggu sebelum pencangkokan. Sebelum diakukan pencangkokan, pasien dirawat secara mtensif dengan bantuan obat sitostatika atau penyinaran seluruh tubuh, untuk memusnahkan sisa-sisa sel kanker. Dalam masa perawatan intensif ini pasien biasanya dimasukkan ke sebuah ruang isolasi agar tidak mudah terinfeksi. Pasien kemudian mendapatkan sumsum sehat lewat infus yang memakan waktu sekitar 1 jam. Kemudian diperlukan beberapa minggu untuk memastikan apakah sumsum bisa memproduksi sel darah.
Karena proses pencangkokan ini dinilai cukup berat maka hanya dianjurkan untuk pasien di bawah usia 60 tahun. Efek sampingan yang mungkin terjadi berupa reaksi penolakan dalam bentuk kelainan kulit, diare hebat, atau sakit kuning. Namun kini telah diusahakan obat khusus untuk mencegah reaksi penolakan tersebut, walaupun hasilnya belum maksimal.
Perawatan setelah pencangkokan bisa memakan waktu 5 - 8 minggu. Setelah darah pulih pun masih diperlukan beberapa bulan istirahat sebelum daya tahannya kembali normal. Sebab itu pasien selama 1 tahun akan mengalami banyak hambatan. Setelah masa perawatan selesai entah dengan radiasi, kemoterapi, atau pencangkokan sumsum, kemungkinan sembuh lebih tergantung dari derajat keganasan penyakitnya daripada derajat stadium penyakit tersebut saat dibuat diagnosis. Sulit meramalkan kemungkinan sembuh seorang penderita kanker kelenjar getah bening. Pada umumnya dokter memberi batas 5 tahun. Kalau dalam 5 tahun penyakit tidak kambuh, berarti sudah semakin jauh dari penyakit tersebut.
Menurut penelitian dokter di Belanda, 70% - 90% penderita yang dirawat untak penyakit limfoma non-Hodgkin pada stadium I penyakitnya tidak kambuh dalam 5 tahun. Jumlah yang sembuh pada stadium II atau lebih tentu lebih rendah (sekitar 40% 50%), sangat tergantung dari derajat keganasannya.
Penderita penyakit kanker getah bening harus memperhatikan menu makanan sehari-hari. Pada umumnya tidak perlu diet khusus, yang penting makanan bervariasi, cukup protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan banya minum. Diet makanan yang terlalu ketat dikhawatirkan malah akan menurunkan daya tahan tubuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar