Kamis, 24 Desember 2009

Pare sebagai Jamu

Pare sebagai Jamu


Kita mengenal pare karena buahnya yang jerawatan bisa dioseng-oseng. Ternyata sudah sejak dulu daunnya dimanfaatkan sebagai jamu cacingan dan anti demam. Akhir-akhir ini ia disalah tafsirkan sebagai jamu kencing manis.
Pare atau paria, Momordica charantia, berupa tanaman perambat semusim yang berumur pendek. Tiga bulan sesudah ditanam, buahnya sudah bisa dipanen. Batangnya yang langsing dan bisa sampai 5 m panjangnya itu aneh sekali. Bukannya bulat, tapi bersegi lima. Di sana-sini mencuat sulurnya untuk menggaetkan diri pada sesuatu yang dipanjati.
Daunnya yang selebar 15 cm juga aneh, berwarna ganda. Hijau tua di sisi atas dan hijau muda di sisi bawah. Daun ini beranak daun 5, tapi kalau tua bertambah lagi anak-nya menjadi 7. Yang lebih aneh lagi ialah buahnya. Bentuknya lonjong seperti mentimun yang hanya 15 cm panjangnya dan 5 cm garis tengahnya, penuh diliputi kutil. Mula-mula hijau, tapi sesudah masak berubah menjadi kuning terang. Bila pecah, dagingnya yang merah merjan tersembul keluar. Rasanya empuk dan manis sebetulnya, tapi sayang sudah tidak bisa dimasak lagi karena lembek.

Tapi mengapa orang suka makan buah pare? Karena selain lezat, ada kepercayaan bahwa ia bisa "membersihkan darah kotor". Yang benar ialah, buah itu hanya bisa memperlancar peredaran darah, karena bersifat tonik (mendorong denyut jantung kembali normal). Dengan lancarnya peredaran darah, pembakaran timbunan lemak jadi lancar pula, sehingga jerawat, bisul dan lain produk "kelebihan lemak" hilang.

v Jenis mana yang berkhasiat
Rasa buah itu pahit dan kadar kepahitannya tergantung pada varietasnya. Yang paling tidak pahit ialah pare gajih atau paria bodas. Menyusul paria ijo yang hijau warnanya dan lebih kecil buahnya. Varietas yang lebih kecil lagi buahnya ialah pare kodok, yang memang buntek-buntek buahnya sampai diibaratkan kodok. Ia masih lumayan tidak pahitnya. Sedangkan pare alas atau paria leuweung bukan main pahitnya, sampai tidak dimakan. Pare inilah yang paling berkhasiat sebagai obat.
Daun parai mengandung zat pahit yang tidak jelas struktur molekulnya. Bukan alkaloid, tapi juga bukan glukosid. Untuk gampangnya disebut momordisin saja (diambil dari nama genus Momordica). Ada pula yang menyebutnya charantin (dari nama species charantia). Kalau dicari dalam Merck Index (ensiklopedia bahan kimia dan obat-obatan), nama-nama itu tidak ada. Zatnya tidak terdaftar, karena memang tidak ada yang men-deskripsinya secara ilmiah kimiawi. Namun demikian, zat itu toh sudah sejak lama dimanfaatkan para tabib dan dukun jamu tradisional untuk mengobati anak yang terkena cacing keremi.

Satu genggam daun pare segar dipipis (dilumatkan di atas batu pipisan), dibungkus dengan kain mori lalu diperas sarinya, kemudian ditampung dalam gelas bersih. Sesudah dibubuhi garam sedikit untuk mengurangi rasa pahitnya, dan diberi air secukupnya untuk mengencer-larutkannya menjadi minuman jamu satu gelas, ia diaduk rata sebelum diminum. Sehari hanya minum satu gelas, ia diaduk rata sebelum diminum. Sehari hanya minum satu kali saja, dan tiap kali mesti dibuat ramuan baru. Diminumnya sebelum sarapan.

v Anti demam
Zat pahit itu juga mampu meredakan suhu tinggi dari bagian tubuh yang sedang sakit. Sifat antipiretikum (menurunkan panas) ini sudah sejak dulu dimanfaatkan oleh para tabib Cina, untuk mendinginkan bagian tubuh yang sedang panas seperti mata bengkak atau hati yang meradang. Tumbukan daun pare dikompreskan pada bagian yang sedang naik suhunya itu. Kompresan diperbarui 3 kali sehari, sampai panasnya te-rasa turun.
Yang sering dilupakan ialah, bahwa yang diredakan itu sebenarnya hanya gejalanya saja. Biang keladinya sendiri, yang menimbulkan radang (sampai suhu naik) itu tidak. Seringkali memang berhasil, kalau sementara itu lever yang bersangkutan sudah pulih kem-bali karena daya penyembuhannya sendiri. Setiap organ tubuh kalau mengalami gangguan pada dasarnya memang sudah berusaha sendiri memulihkan keadaan. Sementara sibuk memulihkan diri ini, akibat gangguan berupa demam, nyeri, dan lain gejala sakit itu bisa ditanggulangi dengan jamu, yang sifatnya hanya simtomatik.

v Bukan Anti Kencing Manis
Kesalah tafsiran lainnya ialah pemakaian sari daun pare untuk mengobati kencing manis. Umumnya keluhan penderita kencing manis adalah kurang bertenaga. Sari daun pare tadi memang mampu meredakan demam. Karena demam turun, badan merasa segar, tidak cepat kekurangan tenaga lagi. Pasien kencing manis merasa sehat, lalu melaporkan bahwa ia sudah sem-buh gara-gara minum air perasan daun pare.

Laporan-laporan seperti ini menyebab-kan sementara tabib India dan Pakistan per-caya, bahwa pare (mereka menyebutnya karela) berkhasiat menurunkan glukosa darah. Kepercayaan ini begitu besar, sampai para perantau mereka di Inggris menggu-nakan sari daun pare yang sudah dikeringkan menjadi bubuk sebagai obat kencing manis. Mereka percaya bahwa bubuk itu mengandung insulin.
Memang sejak zaman nenek moyang, pare dikenal ampuh menurunkan kadar gula darah, panas dalam, sariawan, demam, disentri, exim basah, batuk rejam, dan wasir. Ia biasa tersaji sebagai sayur penambah nafsu makan di Jawa Barat. Tak hanya di Indonesia, pare dikenal sebagai panasea di berbagai belahan bumi.
Di Filipina Mormodica charantia digunakan untuk mengobati penderita diabetes. Buah mudanya sering digunakan untuk mengobati luka di Turki. Sedangkan masyarakat India mengenalnya sebagai obat malaria, peluruh batu ginjal, psoriasis, dan skabies. Itu bukan tanpa bukti. Tengoklah penelitian BAS Reyes dari department of neurosurgery, Thomas Jefferson University, AS. la meminumkan jus buah pare pada tikus yang diinduksi alloxan penyebab diabetes sehingga kadar gula darahnya di atas 300 mg/dl. Dosisnya 20 ml/kg bobot tubuh. Selang 2 minggu, kadar gula darah tikus menurun signifikan dibanding kontrol.

Uji klinis terhadap 100 pasien penderita diabetes tipe II yang dilakukan departemen patologi, Sher-e-Bangla Medical College, Bangladesh, membuktikan karollasebutannya di Bangladesh mampu menurunkan kadar gula darah secara signifikan pada 86 di antaranya.
Bagaimana mekanisme pare mengatasi diabetes? Kandungan steroid saponin yang dikenal sebagai karantin, peptida menyerupai insulin, dan alkaloid memegang peranan penting. Senyawa aktif itu diduga meningkatkan pembentukan sel-sel beta atau memulihkan sel-sel beta yang rusak sebagian. la juga diduga menstimulasi sekresi insulin pankreas. Tak hanya itu, M. charantia dapat menstimulasi penyimpanan glikogen oleh lever, dan memperbaiki pengambilan glukosa peripheral.

v Uji Toksisitas
Bitter melon - sebutannya di Amerika - juga dikenal moncer sebagai antibakteri, antivirus, anti-HIV, antiherpes, dan antipoliovirus. Hasil uji sitotoksik yang dilakukan oleh Martini dkk dari Universitas Diponegoro pada 2006, menunjukkan inkubasi ekstrak pare selama 24 jam memiliki efek antikanker terhadap sel hela, mieloma, dan sel B958. Itu berarti pare dapat dijadikan alternatif pengobatan kanker.
Pepare - sebutannya di Sumatera - kaya senyawa aktif dan antioksidan glikosida, saponin, alkaloid, triterpen, protein, asam lemak oleat, lineat, stearat, dan steroic Buah mudanya kaya vitamin C, vitamin :1 fosfor, dan zat besi. Tak heran ia mampu menangkal radikal bebas penyebab penyakit degeneratif.
Uji histologi yang dilakukan M Wier Winarno dan Dian Sundari dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Indonesia, menyimpulkan daging buah pare tidak menunjukkan efek toksik terhadap kelenjar pankreas tikus putih.
Pemberian infus daging buah pare dosis 625 mg, 1.250 mg, 2.500 mg dan 5.000 mg per kilogram bobot tubuh, memperlihatkan jaringan eksokrin di sekitar pulau langerhans dan morfologi sel-sel dalam pulau langerhans tampak normal. la juga terbukti aman bagi organ hati dan ginjal. Ekstrak etanol famili Cucurbitaceae itu terbukti dapat menurunkan kadar hormon testosteron tikus jantan. Artinya, pare potensial sebagai kontrasepsi pria.

Sayang rasanya yang pahit membuat orang enggan mengkonsumsi pare. Padahal, menyiasatinya mudah saja. Cukup tambahkan daun jambu mete muda dan daun salam muda. "Dijamin, rasa pahit tak terasa;" kata Dra Emma S Wirakusumah, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor. Untuk menjaga kesehatan, Emma menyarankan konsumsi 100 gram per hari pare tak berbintil. Jika berbintil cukup 50-60 gram per hari. Itu karena poya-namanya di Sulawesi-berbintil memiliki kandungan karentin lebih tinggi. Kalau sudah begitu, siapa pun sayang si pahit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar