Kamis, 24 Desember 2009

Variasi dan Kegunaan Pepaya

Variasi dan Kegunaan Pepaya



Daun pepaya muda rebus sering dimakan sebagai urap, dimasukkan dalam buntil, atau dihidangkan sebagai anggota konsorsium lalapan sambal terasi. Daun itu menggencarkan pengeluaran ASI bagi kaum ibu yang sedang merawat bayi. Ini karena daun mengandung alkaloida carpain yang mendorong pengeluaran empedu pencerna lemak. Akibatnya, pencernaan makanan jadi lancar, nafsu makan meningkat, dan pengeluaran ASI gencar.
Akan tetapi ternyata tidak setiap orang boleh makan pepaya. Para penderita eksim dan wanita yang terganggu keputihan harus pantang makan pepaya, karena pecahnya protein yang beredar ke seluruh tubuh (bersama peredaran darah) membuat gangguan itu tidak kunjung sembuh. Juga penderita sakit ginjal bisa gatal-gatal alergis kalau nekat makan buah pepaya. Penjelasan ilmiahnya belum ada, tetapi faktanya sudah sejak dulu ada.

v Pepaya semangka
Agaknya, setiap orang sudah pernah mengenal tanaman pepaya yang tegak batangnya dan penuh takik bekas tangkai daun gugur. Tanaman herba ini luar biasa pesat tumbuhnya, sampai dalam enam bulan saja sudah mencapai 2 m batangnya, dan mulai berbuah. Kita menyebutnya salah kaprah "pohon" pepaya, meskipun sebagai herba, tanaman itu tidak memenuhi syarat untuk definisi pohon (tanaman berkayu berbatang tunggal yang bagian atasnya bercabang).
Walaupun asal-usulnya agak gelap, tetapi diduga jenis Carica papaya yang di budidayakan sekarang ini hasil perkawinan silang antara beberapa jenis Carica dari Meksiko dan Amerika tengah. Bukti bahwa ia hasil persilangan berabad-abad yang lalu ialah bentuk bunga, buah, dan rasanya sangat beragam. Ada Carica papaya yang menghasilkan satu macam bunga saja, yaitu bunga betina. Sepanjang tahun ia dapat berbuah. Ada yang berbuah bulat telur saja, dan ada yang berbuah bulat bola saja. Tetapi ada juga Carica papaya yang hanya menghasilkan bunga jantan. Ia mudah dikenal karena tangkai bulir (tandan) bunganya panjang. Bunga pada ujung tangkai berupa bunga sempurna, berisi putik (sel kelamin) betina di bagian bawah dan kepala sari (sel kelamin) jantan di bagian atas. Kalau menjadi buah, buahnya bertangkai panjang sampai harus berayun-ayun karena menggantung. Papaya gantung ini tidak pernah dimakan sebagai buah meja pencuci mulut, tetapi disayur rebus seperti labu siam ketika masih muda.

Untuk menambah kebingungan, ada pula Carica papaya yang banci. Bunganya sempurna, terdiri atas putik betina di bawah dan kepala sari jantan di atas. Pada musim hujan ia berbuah lonjong dan pada musim mareng (antara hujan dan kemarau) ia berbuah kecil memanjang seperti pisang. Tetapi pada musim kemarau, ia berbuah bulat telur. Orang kadang bertanya, "Cem mana papaya ini, bah!"
Supaya tidak ikut larut dalam kebingungan, para pedagang dan konsumen pepaya mengelompokkan buah pepaya menjadi dua kelompok saja, yaitu pepaya semangka dan pepaya burung. Pepaya semangka disebut begitu karena daging buahnya merah seperti buah semangka. Bentuknya panjang lonjong, dengan ujung yang berputing. Kelompok initah yang disukai lidah Indonesia karena manis legit rasanya kalau sudah matang. Varietasnya yang terkenal antara lain pepaya semangka dari Pasarminggu, pepaya cibinong dari Bogor, pepaya jinggo (yang daging buahnya memang jingga) dari Yogyakarta, dan pepaya bangkok yang buahnya lebih gembrot, dengan ujung tetap berputing seperti pepaya cibinong. Pepaya asal Thailand ini sekarang sudah banyak yang made in Indonesia dan beredar di pasar-pasar becek.

v Pepaya burung
Kelompok pepaya burung tidak begitu disukai lidah Indonesia karena daging huahnya lembek, tidak kencang seperti semangka. Karena itu, ia direlakan kepada kaum burung saja. Varietasnya yang terkenal ialah pepaya emas yang daging buahnya kuning dan agak manis seperti mangga; pepaya item panjang yang sama sekali tidak ada bagiannya yang hitam tetapi ungu pada tangkai buahnya; dan pepaya solo yang sebenarnya pepaya item juga, tetapi tidak panjang melainkan bulat telur dan kecil. Kadang disebut pepaya item bunder, juga disebut solo bukan karena berasal dari Solo (atau banyak ditanam di kota itu), tetapi karena kecilnya buah hanya pas untuk dihahiskan sendirian. Misalnya, oleh seorang penyanyi solo. Burung burung kebanyakan juga menyanyi sendirian.

Di Australia dan Amerika justru pepaya burung ini yang disukai karena aromanya yang enak. Buah pepaya masak mereka pakai untuk sarapan. Buah yang panjang besar seperti pepaya semangka tidak mereka sukai karena selalu banyak yang menyisa kalau dimakan sendirian. Dipandang dari segi ekonomi rumah tangga, ini suatu pemborosan yang tidak perlu. Karena itu, mereka lehih senang menyantap pepaya burung yang kecil dan bulat. Pas untuk disantap habis sendirian.
Pepaya burung solo mereka dikenal sebagai pepaya hawaii. Varietas mutakhir yang mereka kembangkan dan banyak diusahakan di Indonesia juga akhir-akhir ini ialah Sunrise. Di Indonesia, pepaya yang diminta masyarakat justru pepaya yang panjang besar. Memang banyak yang menyisa kalau dimakan sendiri. Tetapi itu bisa diatasi dengan dimakan beramai-ramai bersama seluruh keluarga. Atau rekan-rekan sekantor yang diajak mampir. Dihidangkannya sebagai buah meja pencuci mulut sesudah makan. Tidak untuk sarapan. Kalau dimakan bersama keluarga sendiri, buah cukup dibelah, lalu belahannya disantap langsung atau disendoki sedikit demi sedikit. Katau dimakan bersama tamu kehormatan, buah dihidangkan sebagai bulatan sebesar kelereng (hasil penyendokan dengan sendok khusus) yang diterjunkan ke dalam fruit bowl, lalu dikeceri jeruk sitrun. Rasanya manis berbau segar jeruk. Tetapi di perjamuan makan di gedung pertemuan, pepaya dihidangkan sebagai irisan berbentuk dadu yang ditusuk dengan tusuk gigi.

v Jeruk pepaya
Di antara jeruk yang dibudidayakan di Indonesia ada yang menyimpang menjadi strain jeruk yang buahnya mirip buah pepaya lonjong, tetapi ukurannya tidak sebesar pepaya semangka. Paling-paling hanya 20 - 25 cm, bergaris tengah 10 cm. Ia perlu diperbincangkan, karena akhir-akhir ini ada yang salah kira bahwa ia hasil perkawinan silang antara jeruk dan pepaya. Bibitnya disiarkan sebagai tanaman eksklusif dan dijual mahal.

Walaupun bentuknya seperti pepaya, namun ia bukan Carica papaya, tetapi suatu varietas dari jeruk Citrus medica varietas proper yang di kalangan perjerukan dikenal sebagai sukade citroen (jeruk sukade).
Kulitnya begitu tebal sampai isinya jadi tidak berarti. Sari buahnya sedikit dan rasanya asam. Karena itu, ia hanya bermanfaat sebagai penghasil kulit yang dapat dinikmati sebagai manisan kering. Iris-irisannya juga banyak dipakai sebagai pengisi selai jeruk sukade basah, untuk dijepit di antara dua belahan roti panggang. Citrus medica var. proper sudah sejak dulu muncul secara berkala di Jawa Tengah dan Jawa Barat sebagai jeruk kates, jeruk pepaya, dan jeruk sukade.

v Papain pelunak daging
Sejak ditemukannya papain oleh Balls dan Lineweaver pada tahun 1937, dalam getah buah pepaya mentah, pepaya meningkat derajatnya dari tanaman pangan hortikultura menjadi tanaman dustri. Buah mentah di perkebunan pepaya ditoreh dengan pisau gading (kini plastik) agar keluar getahnya, seperti kita menoreh batang pohon karet untuk disadap lateksnya. Setelah dikeringkan dan dimurnikan menjadi kristal putih, papain dijual sebagai serbuk pelunak daging. Sifatnya memang seperti enzim protease yang memecah protein daging dan pepsin lambung yang memecah makanan berprotein. Daging kerbau yang alot misalnya, setelah diberi serbuk papain dan dibiarkan sebentar, dapat menjadi empuk karena jaringan ikat (yang berupa protein juga) dari daging alot itu sudah dihancurkan.
Membaca berita seperti ini di koran, kita jadi ingat nenek kita yang sudah sejak dulu melunakkan daging dengan daun pepaya, tetapi tidak memberi penjelasan bagaimana duduknya perkara. Daging alot nenek dibungkus selama dua jam dalam. daun pepaya yang sudah diremas-remas agar keluar getahnya. Daging jadi empuk setelah dimasak sebagaimana mestinya.
Kini serbuk papain juga dipakai sebagai campuran obat pelancar pencernaan pada penderita sembelit dan kembung perut. Oleh Kalbe Farma misalnya, telah dipasarkan kaplet Fortizym berisi papain, temulawak, empedu sapi, pankreatin, dan simetikon untuk mengobati perut kembung dan sembelit akibat gangguan pencernaan.

v Pepaya dan Usia Tua
Penyakit yang menyerang manusia kebanyakan disebabkan oleh bak beracun yang menyebar dalam usus besar. Demikian kesimpulan pa zoologi dan mikrobiologi Rusia, Prof. Metchnikoff, setelah melakukan berbagai penelitian. Peristiwa autointoksikasi (peracunan sendiri) ini juga merupakan salah satu sebab dari penyakit lansia.
Prof. Metchnikoff meraih hadiah-Nobel tahun 1908 bersama Dr. Paul Ehrlich untuk fisiologi/kedokteran, karena menemukan sejumlah sel mirip amuba dalam tubuh binatang. Sel ini melumpuhkan makhluk asing seperti bakteri beracun dalam tubuh. Penemuan fenomena yang dikena! sebagai phagocytosis ini kemudian menjadi dasar cabang ilmu imunologi dari ilmu kedokteran. Sedangkan Dr. Paul Ehrlich seorang pakar kedokteran Jerman yang waktu itu berjasa memelopori penelitian dan pengembangan teknik uji imunologi.
Autointoksikasi itu akan dibereskan sendiri oleh badan dengan proses phagocytosis: Tetapi kalau penyebabnya timbul lagi timbul lagi terus-menerus, badan akan kewalahan. Karena itu, sebaiknya kita secara sadar turut membantu phagocytosis itu agar autointoksikasi tercegah. Pencegahan ini tidak hanya menolong manusia menghindari berbagai penyakit, tetapi juga menolong memelihara (dan kemudian) memperpanjang usia sampai melampaui rentang hidup rata-rata orang sebangsanya. Bagaimana caranya?
Usus besar kita bertugas membuang makanan sisa bersama bakteri pembusukan pembongkar bahan organik. Kalau sampai ada bahan sisa yang tak berguna ini tersimpan lebih lama dalam usus melebihi jangka waktu yang normal, misalnya karena kita tidak teratur membuang air besar, maka massa yang membusuk lebih lanjut dalam usus itu menjadi tempat pembiakan berbagai kuman yang berbahaya. Kotoran yang membusuk akan memanas, kemudian menimbulkan ketidaknyamanan dan ketegangan.
Buah pepaya dapat menjadi penyelamat dalam mengatasi autointoksikasi yang karena ketidakteraturan "pergi ke belakang" ini. Kalau dalam menu sehari-hari ada buah pepaya matang yang dihidangkan sebagai penutup acara makan, maka acara "pergi ke belakang" akan terselenggara dengan teratur, dan mencegah autointoksikasi.
Ini gara-gara buah pepaya mengandung papain yang mirip enzim pepsin dalam lambung, pencerna bahan makanan berprotein. Makin lancar pencernaan terselenggara, makin lancar pula pembuangan kotoran dari tubuh. Oleh industri farmasi, papain dipakai sebagai ramuan obat pelancar pencernaan bagi mereka yang sulit membongkar muatan lewat pintu belakang.
Tetapi, daripada membeli obat di apotek, masih lebih murah dan alamiah, yaitu makan buah pepaya segar saja secara teratur. Selain berkhasiat memperlancar pencernaan, buah itu juga jelas mengandung berbagai vitamin, di antaranya yang terpenting ialah vitamin B kompleks yang berperan membangkitkan selera makan pada orang lansia.
Vitamin penting yang kedua dalam buah pepaya ialah vitamin A yang merangsang pertumbuhan sel epitel baru dalam tubuh. Ini berarti sel-sel tubuh yang sudah usang karena menua akan dapat diganti dengan yang baru secara teratur terus-menerus, dan kita juga terus-menerus dibuat awet tua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar