Kamis, 24 Desember 2009

Kecantikan Bunga Edelweis

Kecantikan Bunga Edelweis



Bunga edelweis ternyata ada dua. Edelweis (satu s) jawa dan edelweiss (dua s) Swiss. Keduanya pernah menjadi bunga pujaan, sampai ada lagu yang diciptakan untuknya. Sama indahnya dengan nama bunga itu.
Bunga dari Swis itu sudah sejak sebelum PD I dulu terkenal ke seluruh dunia. Ia diwartakan hanya mau tumbuh di pegunungan tinggi saja dan tumbuhnya pun di tempat-tempat yang sulit, seperti lereng terjal dinding batu, misalnya. Atau celah-celah batu gunung. Kalau ada yang bisa memetik dan membawanya pulang, wah, bukan main bangganya. Itu bukti nyata, bahwa ia sudah betul-betul mendaki gunung paling tinggi dan berbahaya.
Tanaman itu makin ngepop, setelah Rogers dan Hammerstein mempopulerkan lagu Edelweiss ke seluruh penjuru dunia. Benar-benar lagu yang mengharukan, sampai dipakai dalam Film The Sound of Music. Filmnya juga bagus, sehingga diputar berbulan-bulan lamanya di bioskop-bioskop Jakarta tahun 70-an dulu.

v Si Putih yang mulia
Sebenarnya, bunga itu tidak begitu bagus, hanya putih saja. Akan tetapi karena ia tumbuh di antara batu-batu gunung yang hitam, maka putihnya (weiss) lalu kelihatan mencolok sekali, setelah menampakkan edel (mulia)nya. Tanaman yang di kalangan ilmuwan beredar sebagai Leontopodium alpinum ini berupa terna tegak, yang hanya 15 cm aaja rendahnya. Batangnya lunak tak berkayu dan kalau mati tidak ada yang tersisa. Ia disebut alpinum karena tumbuh asli di Pegunungan Alps (kata orang Inggris) atau Alpen (istilah Jerman Tinggi).
Aneh sekali, daunnya yang hijau berbulu pendek. Begitu pula bunganya yang majemuk kecil-kecil kuning yang dikelilingi kerah dari kelopak bunga yang putih seperti perak. Semuanya berbulu pendek seperti felt (kain laken), tapi kadang-kadang juga ada yang diwut-diwut seperti beledu.
Setelah makin ngetop popnya dan makin banyak turis asing mengunjungi, bunga itu seperti dirampok habis-habisan. Beberapa perkumpulan pelestari alam lalu menarik bayaran di pintu keluar daerah edelweiss, dengan maksud agar peminatnya bisa direm, jangan sampai menggebu-gebu. Hasil punglinya akan dipakai untuk biaya pembibitan bunga itu. Jadi tidak akan punah kalau dipungut terus-menerus.
Di beberapa daerah yang masih menyangsikan keberhasilan pelestarian melalui pungli itu, mencoba melestarikan bunga. dengan melarang sama sekali pengambilannya dari lingkungan hidupnya. Banyak juga yang kecewa. Untunglah dunia luar Swiss kemudian tahu, bahwa bunga yang dikomersialkan itu juga tumbuh di lereng selatan Pegunungan Alpen, di wilayah Italia. Tumbuhnya mbludak, lagi, sampai membentuk karpet putih di tengah hijaunya lapangan berumput yang luas sekali. Ah! Untuk apa bersusah payah mencari edelweiss dari lereng Pegunungan Alpen Swiss, kalau begitu, sudan sulit dilarang lagi!

Ternyata kemudian, di Pegunungan Himalaya Asia daratan dan Cordilleras de los Andes Amerika Selatan pun ada edelweiss Leontopodium, meski agak berbeda. Edelweiss Himalaya, Leontopodium alpinum stracheyi misalnya, seakan-akan berbunga besar, karena kelopak yang mengelilingi mahkota panjang lebar dan kasar. Diduga bahwa itu karena penyesuaian diri tanaman itu dengan curah hujan yang luar biasa di Himalaya. Untuk bertahan di tengah alam yang hujannya lebih kejam daripada di Eropa itu, kelopak bunganya berbulu lebih kasar daripada edelweiss Swiss. Seperti mantel penolak dingin orang-orang Nepal saja.

v Edelweis Satu S
Tahu-tahu beredar pula berita "sungguh mati", bahwa di Indonesia juga ada edelweis. Tumbuhnya di daerah dinginnya pegunungan, yang paling sedikit setinggi 2.000 m di atas permukaan laut, seperti puncak G. Gede (yang tingginya 2.958 m) di Jawa Barat, misalnya. G. Dempo (3.159 m) di perbatasan Bengkulu dan Sumatra Selatan, Sindoro (3.135 m) di Jawa Tengah dan Arjuno (3.239 m) di Jawa Timur. Akan tetapi edelweis Jawa (pakai satu s) itu ternyata berbeda sekali dengan edelwiess (dua s) Swiss. Sebelum edelweis Jawa, Anaphalis Javanica, disebut "edelweis," Ia sudah lama beredar dengan nama sembung langu (di G. Gede), capo gunung (di Dempo), widodaren (di Arjuno) dan sindoro (di Jawa Tengah). G. Sindoro di daerah itu disebut begitu karena banyaknya pohon itu.
Tanamannya memang berupa pohon. Batangnya berkayu, sebesar pergelangan tangan. Tingginya bisa 4 m. Akan tetapi, meskipun jauh sekali berbeda dengan edelweiss Swiss yang berupa terna kecil mungil itu, ia masih sesuku (Compositae) dengan Leontopodium. Seperti kerabat-kerabat Compositae lainnya, (bunga matahari, serum dan dahlia), bunga widodaren itu juga majemuk, membentuk karangan bunga yang berkumpul di ujung tangkai. Warnanya tidak weiss lagi, tapi kuning gading.

Mungkin karena hanya tumbuh di pegunungan tinggi saja dan tahan lama disimpan kering, maka ia mengingatkan seorang Belanda dari zaman voor de oorlog dulu pada bunga edelweiss dari Swiss, lalu menyebutnya "edelweis" juga. Orang Indonesia tidak mungkin menyebutnya begitu, karena sudah menyediakan nama daerah sendiri masing-masing.
Di alun-alun yang terbentang di antara tepi kawah G. Gede dan Gemuruh, Kabupaten Cianjur, dapat kita nikmati pemandangan yang menakjubkan dari hamparan bunga edelweis Jawa ini. Sejauh mata memandang, hanya kuningnya bunga dan hijaunya daun diliputi bulu pendek seperti kain laken saja yang terlihat. Dari jauh tampak putih abu-abu seperti diliputi salju.
Mungkin karena terpesona melihat keindahan bunga yang menakjubkan itu, para pengunjung puncak G. Gede dulu selalu memetik bunga itu sebagai cendera mata. Bunga itu memang tahan lama disimpan kering, sampai berbulan-bulan tetap mengkilat cerah, lalu lama pula dijadikan kenang-kenangan di rumah, berikut "sahibul hikayat" seperlunya.
Setiap tamu yang bertandang akan diceritai betapa langkanya bunga itu. "Tidak ada yang tumbuh di Jakarta!" Kalau dipetik masih kuncup, bisa mekar kemudian sambil mengeluarkan bau harum. Sayang, berbunganya hanya di musim kemarau, antara bulan April dan Agustus. Benar-benar langka.
v Yang Merusak
Pengambilan terus-menerus jelas merusak keindahan pemandangan yang menakjubkan di alun-alun puncak G. Gede itu. Para petinggi negara tahun 30-an menjadi khawatir, kalau sembung "edelweis" langu di tempat itu jadi punah. Maka, dikeluarkanlah semacam permen (peraturan menteri) yang disebut Natuurbeschermingsor donantie tahun 1941, untuk menyatakan puncak G. Gede sebagai cagar alam, termasuk alun-alun tempat tumbuh "edelweis".
Cagar alam ialah daerah yang dianggap mempunyai keindahan alam yang nilai budayanya tinggi, sedangkan dari segi sains pun "tak ternilai" hartanya. Sayang bukan, kalau pelestariannya untuk kepentingan umum (rakyat banyak) tidak diurus baik-baik?
Dalam ordonansi perlindungan alam itu memang tidak disebut secara khusus "dilarang memetik bunga edelweis", tapi dalam pasal 5 butir 2 dinyatakan dengan jelas, "dilarang melakukan sesuatu yang .berakibat mengubah keadaan tanah dan pertumbuhan flora (dan fauna) sampai mengganggu keaslian cagar alam". Memetik edelweis di alun-alun puncak G. Gede termasuk mengganggu keaslian cagar alam, karena kalau yang wemetik itu beramai-ramai, (kalau satu dibolehkan, semua minta dibolehkan juga), pohonnya jelas gundul.
Kemudian ada perang dengan Jepang dan revolusi kemerdekaan. Ordonansi itu tidak jalan. Baru sesudah kita mempunyai Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup-lah, ordonansi itu jalan lagi. (Sem) barang siapa melanggar larangan dalam pasal 5 di atas dihukum kurungan setinggi-tingginya 3 bulan atau setinggi-tingginya 500 gulden. Pada tahun 1941, denda sebesar itu memang bukan main mencekik leher, tapi pada tahun 1990, nilai rupiahnya bergantung pada tafsiran hakim pengadilan negeri masing-masing. Biasanya kurang mencekik.

v Kane yang Dibakar
Dalam praktek, jarang sekali ada yang dimejahijaukan, hanya karena memetik bunga itu. Orang yang ketahuan membawanya ke luar pagar akan disita bunganya, dicatat KTP-nya dan dibuat malu di depan khalayak ramai. Mudah-mudahan orang itu masih mempunyai budaya malu, lalu menyebarkan berita hangat: "Wah! Satpamnya galak! Jangan coba mengambil edelweis!"

Diam-diam ia menjadi penyambung lidah para petugas pelestarian alam. Ternyata kemudian, Anaphalis javanica itu juga tumbuh di lereng G. Agung (3.124 m) di Pulau Bali. Di sana pun, dulu ada semacam pengurasan bunga itu oleh para turis, sampai para petani Besakih di lereng selatan mempunyai gagasan untuk bertanam pohon itu, lalu menjual bunganya kepada turis. Mereka berhasil menanamnya di pekarangan rumah, karena tanah mereka kebetulan tanah vulkanik, yang tingginya lebih dari 2.000 m di atas permukaan laut. Tempat tumbuh yang memang disukai oleh bunga itu.
Orang Bali sendiri memakai ranting kane (Balinya edelweis) sebagai semacam dupa dalam acara keagamaan. Ranting yang sudah kering, kalau dibakar bisa mengeluarkan asap putih yang tebal bagus dan tahan lama.

v Tersesat di Padang Edelweis
“Ajakan kawan-kawan untuk mendaki Pegunungan yang di daerah Besuki saya terima dengan senang hati,” begitu kata Fuad mengawali ceritanmya. Mereka berpesan dengan sangat, agar saya tidak memetik bunga edelweis yang tumbuh di puncak Argopuro setmggi 3.080 m di pegunungan itu. Sebab, tanaman yang indah itu termasuk langka, khas flora gunung.
Jalan yang menanjak ke puncak gunung itu membuat napas ngos-ngosan. Biarpun berat, namun setapak demi setapak jalan itu kami lalui juga dan akhirnya kami sampai di puncak.
Selesai menikmati pemandangan alam yang bukan main indahnya dari puncak yang sepi itu, kami turun. Kawan-kawan tidak ada yang berhenti, waktu mendekati daerah yang ditumbuhi edelweis. Kelihatannya mereka tidak tertarik dengan bunga itu. Mungkin sudah bosan, tapi saya yang berjalan paling belakang, sengaja menyimpang jalan untuk menuju ke tempat tumbuh edelweis.
Sampai di tengah kerumunan tanaman itu, saya benar-benar takjub. Bunganya yang putih bergoyang-goyang indah sekali, kalau ada angin bertiup. Sepanjang mata memandang, hanya edelweis yang terlihat. Begitu banyak bunga itu, sampai saya tergoda ingin tahu lebih dekat. Saya menerobos sela-sela tanaman itu dan tak tahu lagi berapa lama berada di situ untuk menikmati keindahannya.
Ketika hendak kembali ke tempat pertama, saya bingung. Celaka! Betul-betul saya kehilangan arah, lalu ngawur saja jalannya. Namun, sampai lama sekali jalan semula itu tak dapat saya temukan. Kemudian hari jadi gelap, tapi saya masih saja terjebak di tengah hutan. Karena amat lelah, terjerembablah saya di bawah pohon pinus yang besar. Di mana-mana gelap dan saya memeluk dahan pohon, untuk menghalau ketakutan. Kadang tubuh saya hampir jatuh ketika kantuk menyerang. Mata saya lalu berkunang-kunang, kepala pening, perut lapar dan kaki terasa berat. Rasanya, hari terakhir saya sudah datang. Tak tahulah apa yang terjadi malam itu. Baru pagi harinya saya merasa diangkat orang dan mulut saya diberi air. Ah! Ada orang yang menolong saya.
Gara-gara terpikat oleh keindahan edelweis, saya menyimpang dari jalan yang benar, lalu mengalami "mimpi" buruk.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar