Kamis, 24 Desember 2009

Menikmati Bau Kembang Gaceng?

Menikmati Bau Kembang Gaceng?

Waktu kita menyebut tanaman itu selalu ereksi, Kembang gaceng, Badul dan iles-iles, tidak ada orang yang tertarik. Tapi setelah kita menyebutnya Amorphophallus variabilis banyak orang memanjangkan leher dan menaruh perhatian. Sehubungan dengan pemakaian Amorphophallus sebagai penghias uang kertas lima .ratusan, orang ingin tahu pula, benarkah si Badul kita mempunyai bunga begitu besar? Mungkin cerita tentang si "Badul di bawah ini bisa menyadarkan.kita, betapa pentingnya tanaman itu. Tidak saja sebagai bahan ekspor, tapi juga sebagai bahan studi.
Bukan Amorphophallus variabilis, melainkan Amorphophallus titanum, yang ditemukan untuk pertama kalinya di hutan belantara, Sumatra dulu, tapi sampai sekarang belum juga ada nama Indonesianya yang resmi. Mungkin bisa dipakai nama 'Badul Sumatra', sebelum ada nama lain yang lebih pantas.
Bunganya memang berukuran raksasa (ada yang setinggi 3 meter) sampai ia ditempeli nama titanum, Anehnya, bunga itu muncul secara bergantian dengan daun, dari umbi batang yang terbenam dalam tanah. Hanya saja pergilirannya tidak adil. Setelah bunga layu, memang giliran daun yang muncul, tapi kemudian giliran daun lagi, daun lagi beberapa kali dulu, sebelum tiba giliran bunga lagi. Lebih banyak giliran daunnya daripada bunganya.
Diduga, bahwa bunganya baru muncul pada musim hujan, kalau cahaya matahari dalam hutan sudah amat berkurang, sampai fotosintesis daun menurun banyak sekali, sehingga tanamannya merana. Pada saat hampir mati itu, tanaman berumbi semacam Amorphophallus berkembang biak secara generatif (berbunga dan berbuah), untuk mempertahankan jenisnya jangan sampai punah dari muka bumi. Kalau sudah mekar, bunga itu berharap diserbuki oleh serangga. Untuk menarik perhatian serangga, ia menyebar bau busuk, sampai disebut juga Kembang Bangkai. Setelah diserbuki, ia tidak berbau lagi. Seluruh bunga itu layu, rontok berantakan menjadi massa yang amorf.

Setelah cahaya matahari cukup lagi untuk menjalankan fotosintesis (kalau hujan lebat musim hujan mulai berkurang), maka giliran daun lagilah yang muncul, pada bekas tempat pemunculan bunga itu. Daunnya mempunyai tangkai bulat yang lumayan panjangnya, sampai dikira 'batang'.
Dalam hutan Sumatra, pernah ditemukan tangkai daun titanun (yang sudah tua sekali umur umbinya) setinggi 5 meter. Pada umbi muda yang baru saja ditanam di pekarangan, tangkai itu biasanya hanya serendah 2 meter.
Tanaman raksasa ini sampai sekarang belum dimanfaatkan, kecuali sebagai aneh-anehan di kebun, atau sebagai obyek lukisan uang, perangko, majalah. Itu sih masih terhormat sekali. Yang paling apes bila tiba-tiba datang orang membawa sabit membabatnya, karena baunya itu yang membuat orang waras muntah-muntah.

v Suweg yang tidak Gatal
Tidak demikian dengan orang Jawa, Amorphophallus Campanulatus, yang umbinya sudah sejak dulu dimakan seperti umbi talas, disayur, dikolak atau digoreng sebagai jajanan. Para petani Jawa Timur mempunyai kepercayaan bahwa suweg yang ditanam di tempat yang bersih selalu tidak apa-apa (kalau dimakan), tapi yang ditanam di tempat yang kotor, mestinya gatal. Tapi di samping varietas kebun yang bisa dimakan dengan aman ini (Amorphophallus Campanulatus varietas hortensis), memang ada varietas hutan, (Amorphophallus campanulatus varietas silvestris), yang gatal.
Tanda perbedaannya? Tangkai daun varietas hutan itu tidak licin, tapi berbintil-bintil. Kalau diraba, terasa kasar seperti parut. Untuk mencegah jangan sampai anak-anak salah pilih, varietas hutan, silvestris, ini disebut Walur. Umbinya tidak boleh dimakan langsung, tapi diamankan dulu, dengan jalan diiris-iris. Bibit. Ganong ini muncul pada umbi induk yang sudah susut. Lalu karena dikuras persediaan bahan bagi pembentukan buah. Kira-kira lima bulan sesudah ditanam, Suweg bisa dipanen dan dijemur. Kemudian ditumbuk menjadi tepung, setelah direndam dalam air panas, kemudian dijemur lagi. Dalam bentuk tepung kering inilah, walur baru bisa dimakan dengan aman, setelah diolah menjadi bentuk makanan pengganti nasi.

Sayang, rasa gatal di tenggorokan masih saja mengganggu, karena cara. menyarikan zat pati yang akan disantap itu dari sisa bagiannya yang lain tidak sempurna. Kalau saja pemisahan ini bisa dilakukan dengan saksama, mungkin kita bisa menikmati suweg seperti orang Jepang menikmati konyaku dari iles-iles.. Untuk bertanam suweg varietas kebun, hortensis, digunakan ganong (umbi anakan)-nya sebagai modal awal.
Menanam umbi Suweg tidak boleh melumah, menghadapkan bagian atasnya ke atas, melainkan harus terbalik. Maksudnya, agar tanaman nanti jangan tergesa-gesa berbunga, sebelum umbinya cukup besar untuk dipungut.. Dengan ditanam terbalik itu, pembentukan bunga memang bisa dihambat.

v Mainan Ular
Jenis yang lebih aman dimakan ialah iles-iles, Acung, atau Badul, Amorphophallus variabilis Tangkal daunnya yang juga lebih licin daripada walur mempunyai gambaran belan-belang seperti tubuh ular, sampai sering disebut orang ular yang mengira berhadapan dengan ular lain yang mau menyainginya di medan perburuan. Para petani Perahyangan yang melihat serangan salah paham itu kemudian menyebutnya Cocooan oray, (mainan ular) disamping sebutan Acung.
Sudah sejak tentara Jepang melanda pulau-pulau kelapa kita zaman Perang Dunia II dulu, iles-iles yang menjadi Cocooan oray ini membuat cerita. Tidak hanya Petani saja yang dikerahkan untuk mengumpulkan umbi iles-iles, tapi para pelajar SMP dari kota juga. Dengan menyandang bedil kayu buatan narapidana, para pelajar yang berlatih perang-perangan itu lebih banyak dimanfaatkan untuk mencari iles-iles,
daripada diajar berhitung.
Iles-1les zaman itu resminya dikumpulkan dan diekspor ke jepang untuk dIpakai sebagai bahan perekat dalam industri pesawat terbang Asia Timur Raya. Malahan ada yang menjelaskan bahwa yang dilem itu kain terpal, yang dipasang sebagai dinding tubuh dan sayap pesawat pemburu berani mati. Tapi niscaya semuanya itu hanya isapan jempol untuk mengelabui mata saja, karena kapal laut pengangkut iles-iles boleh dikata tidak ada. Yang lebih masuk akal ialah iles-iles itu dimakan sendiri oleh tentara pendudukan jepang di Pulau jawa, yang mengajar perang-perangan dengan bedil kayu.

Mengapa iles-iles dimakan? Ternyata ia mengandung glukomanan, sejenis karbohidrat yang sudah berabad-abad lamanya merupakan bahan makanan khas rakyat Jepang, yang memang lezat. Lebih lezat daripada amylum (karbohidrat)-nya umbi tales, singkong atau kentang. Antara lain dipakai sebagai bahan pembuatan Sukiyaki yang amat terkenal, tapi baru kita dengar nyanyiannya setelah orang Amerika melanda Jepang sesudah perang dunia usai.

v Serbaguna
Di jepang sendiri, glukomanan diperoleh dari Amorphophallus konjac, berasal dari India, yang kemudian dibudidayakan di Jepang sebagai konyaku. Jenis ini memang lebih tinggi kadar glukomanannya (sampai 65%), dibanding dengan iles-iles kita yang hanya berkadar 35%. Sayangnya jenis yang sudah lama dibudayakan sejak seribu tahun lalu di daerah Gumma, Nagasaki dan Fukushima itu makan waktu empat tahun, sebelum dapat dipanen. Sesudah Perang Dunia ladang konyaku yang kurang efektif bisa dipanen itu kemudian terpaksa mengalah terhadap pembangunan industri yang lebih menghasilkan uang. Glukoma dicari dari negara lain saja, terutama dari Pulau jawa yang klewat murah segala-galanya.
Timbullah gerakan ekspor komanan dari Indonesia ke Jepang dalam bentuk keripik iles-iles setipis 2 mm. Sebagai bahan ekspor non minyak, ia digalang dengan penuh semangat, lengkap dengan Forum konsultasi pemanfaatan iles-iles sebagai barang industri di Semarang tahun 1979 dan standar ekspor dari Departemen Perdagangan Koperasi, untuk menjaga mutu.
Glukomanan, selain dipakai bagai tepung konyaku pembuat Sukiyaki, juga dipakai sebagai bahan pengental krim dalam industri kosmetik. Dalam industri cat, ia dipakai untuk memperkilat dan meningkatkan daya rekat cat. Sebagai bahan perekat, glukomanan memang lebih bermutu daripada embalau Arab, karena tidak tembus air, sehingga awet. Meskipun kena lembab, daya rekatnya masih tetap kuat. Mungkin sifat yang bagus milah yang dulu dibesar-besarkan sebagai bahan untuk merekat dinding pesawat terbang Kamikaze yang berani mati itu.

Untuk memenuhi keperluan ekspor ini, sudah tentu timbul gerakan pengumpulan iles-iles lagi seperti pada zaman jepang dulu. Kebanyakan dipungut dari hutan dataran rendah (sampai setinggi 700 meter di atas muka laut), terutama dari Jawa Timur dan Sumatra Barat. Para petani mula-mula memang bersemangat mengumpulkan iles-iles, karena pembayaran dari tengkulak lancar dan cukup.
Tapi kemudian, (sebagaimana lazimnya pada gerakan pengumpulan semacam itu), pembayaran tidak lancar. Pengumpulan seret dan gerakan ekspor ikut melempem. Eksportir di kota pelabuhan, yang ingin mendapat iles-iles sesuai kontrak, dan mantap mutunya; kemudian tidak mungkin mengandalkan jasa tengkulak saja, tapi juga membangun perkebunan iles-iles sendiri, di samping aktif membagi-bagikan bibit kepada para petani sekitarnya yang mau menanaminya di sela-sela tanaman pekarangan masing-masing.
Hasilnya kelak akan dibeli dalam bentuk umbi segar, untuk diolah menjadi keripik kering dulu, sebelum diekspor. Kerja sama seperti itu, yang sudah berjalan antara pabrik karet dan petani kebun karet di sekitarnya dengan nama PIR (Perkebunan Inti Rakyat), atau antara pabrik gula dan petani tebu sekitarnya dengan nama TRI (Tebu Rakya Intensifikasi) mestinya bisa juga dilakukan dengan iles-iles. Tinggal memecahkan soal kecil saja: siapakah vang akan melakukan IRI (Iles-iles Rakyat Intensifikasi) secara teratur, cukup jumlahnya atau PIR si Badul?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar