Kamis, 24 Desember 2009

Teratai, Penghias Kolam

Teratai, Penghias Kolam



Indahnya bukan main bunga itu kalau mekar di permukaan air. Semuanya serba mini. Daunnya hanya selebar 12 cm, dan bunganya sekecil 7 cm. Kalau teratai normal biasa ditanam dalam kolam kebun pekarangan, teratai mini bisa ditanam dalam pot di serambi rumah. Keindahannya bisa dinikmati sambil tiduran di kursi malas.
Teratai mini yang beredar di Indonesia kebanyakan dibawa masuk dari Jepang dan Amerika oleh para pencinta tanaman hias. Sampai sekarang masih belum jelas benar, itu merupakan jenis khusus, ataukah cuma bentuk yang menyimpang dari suatu jenis tertentu. Salah satunya yang agak jelas hanya hibrida Nymphaea 'Dorothy Lamour' hasil rekayasa orang Amerika, yang bunganya kuning. Dorothy Lamour itu bintang film tahun 40-an yang cantik. Tapi kini niscaya sudah lama berpengalaman menjadi oma. Teratai mini yang mendemamkan kita ada yang ungu, putih keungu-unguan, merah lembayung, dan kuning langsat seperti Dorothy Lamour. Tapi yang paling digemari para pencinta tanaman hanya yang ungu dan putih keungu-unguan. Kalau keduanya dikombinasikan dalam satu pot, wuih! Bukan main menariknya!

v Peri yang Imut
Semula kita memakai istilah "teratai" kalau yang dimaksud itu jenis Nymphaea alba dari Eropa. Ia pernah beredar di Indonesia sebagai tulisan dan foto dalam buku-buku dan majalah penggemar alam. Keistimewaannya sebagai, teratai ialah kemampuannya mengatasi musim dingin.
Sebenarnya hanya akar tinggalnya yang masih hidup dan bernapas dalam lumpur. Di dasar rawa atau sungai tempatnya bermukim, airnya masih cair, walaupun di permukaan sudah beku. Kalau musim dingin sudah hampir berakhir, ia menumbuhkan daun baru dalam air yang masih cair itu. Kalau sinar matahari kemudian mulai melelehkan es di permukaan, tangkai daunnya cepat-cepat memanjang untuk mencapai permukaan. Berpuluh-puluh helai daun semacam itu muncul mendatar di permukaan air, seperti nampan hijau yang terapung-apung. Di sela-selanya ada beberapa kuncup bunga yang ikut naik, dan akhirnya mekar mepet di permukaan air pada pagi hari.

Mahkota bunga itu putih bersih dan luar biasa cantiknya, sampai orang Yunam kuno menyebutnya nymphe (peri imut-imut). Dari nama itu orang lain kemudian memberi nama Latin: Nymphaea kepadanya.

v Lotus yang bukan Teratai
Di Mesir kuno ada jenis Nymphaea lain yang bunganya juga putih, tapi mekarnya pada waktu malam. Kalau kita sempat menikmati keindahannya pada malam bulan purnama, waduh, romantisnya bukan main. Sinar bulan yang keemasan memantul pada bunga putih yang agak ros, dan air yang biru kelam.
Tidak mengherankan bahwa bunga itu menggetarkan kalbu orang-orang yang peka terhadap keindahan. Ribuan tahun sebelum Masehi dulu ia sudah menjadi sumber inspirasi bagi para seniman pemahat kayu dan pernatung batu. Lukisan reliefnya menghiasi monumen nasional dan kuil-kuil keramat, seperti keramat raya, keramat jati, keramat buntu.
Ternyata, teratai dari Mesir ini bukan teratai Eropa, sehingga kemudian disebut "Lotus putih dari Mesir" pada umumnya, dan "Lotus dari Sungai Nil" pada khususnya. Linnaeus dari Swedia memberi nama: Latin Nymphaea lows. Sepintas, ia memang serupa dengan teratai putih Nymphaea alba sampai nenek moyang kita di Indonesia menganggap lotus itu teratai, dan teratai tempo hari itu ya lotus.
Akan tetapi kalau diamati benar, jelas ada perbedaannya. Lotus Mesir bertangkai panjang sampai bunganya mencuat ke luar dari air waktu malam, sedangkan tercitai Eropa bertangkai pendek sehingga mepet banget di permukaan air. Mekarnya pada siang hari. Sial sekali, nama lotus kemudian diberikan juga kepada jenis tanaman serupa asal Asia, yang dimasukkan ke Mesir sekitar tahun 525 SM, ketika negeri itu diserbu oleh tentara Persia.

Bunganya tidak putih, tapi merah jambu. Mekarnya tidak malam, tapi siang. Tangkainya panjang sekali sampai bunga itu mencuat jauh di atas permukaan air. Mestinya tanaman yang kemudian ternyata Nelumbo nucifera itu tidak disebut lotus lagi, supaya tidak rancu. Tapi orang Mesir agaknya tidak risau menghadapi kerancuan lotus. Lotus asli asal Mesir mereka sebut "Lotus of the Nile" dan lotus asal Asia mereka sebut "Sacred Indian Lotus". Nama sacred diberikan, karena bunga itu dipakai sebagai sesaii oleh para pemeluk agama Hindu di India.
Di antara anak buah bapak tentara yang menyerbu Mesir, ada yang membawa Ibiji lotus itu dari Asia Tengah sebagai bekal untuk ditanam di daerah jajahan. Sebab, daunnya yang muda bisa disayur di asrama tentara, sedangkan bijinya bisa dimakan sebagai jajanan, baik mentah maupun sudah diolah. Kalau biji itu ditumbuk menjadi tepung, ia bisa dibanting menjadi martabak medan perang.

v Seperti Saninten
Di kampung Melayu, "Sacred Indian Lotus" tidak kita sebut lotus, tapi seroja. Tanaman ini serba besar. Bunganya hisa sampai 20 cm kalau mekar, dengan tangkai yang kaku dan jelek. Walaupun begitu, warna bunganya yang merah jambu dimanfaatkan oleh orang Hindu sebagai sesaji bagi dewa Brahma dari India.
Seroja yang tumbuh liar di rawa dataran rendah pantai utara Jawa lebih banyak dimanfaatkan oleh penduduk Jakarta sebagai santapan jasmani daripada rohani. Mereka memungutnya dari rawa-rawa yang masih berupa rawa waktu itu, seperti rawa teratai, rawa belong, rawa mangun, rawa gatal.
Tangkai daunnya yang muda memang bisa disayur setelah dikerok kulit arinya yang kasar. Apalagi pucuk daun mudanya yang belum terbuka. Ini lumayan lezatnya kalau diurap atau dipecel. Daun yang sudah besar sampai bergaris tengah 30 Cm, dikumpulkan oleh penduduk tepi rawa untuk membungkus apa saja yang perlii dibungkus. Itu bisa mengganti daun pisang yang memang agak sulit ditanam di tepi rawa.

Bunga yang sudah diserbuki membentuk buah yang berbiji. Penampilannya tidak cantik lagi setelah mahkotanya luruh. Yang kini tampak hanya buahnya yang seperti penyemprot gembor. Mula mula menghadap ke atas, tapi kemudian merunduk karena tangkainya menyerah, keberatan muatan. Agaknya merunduk ini perlu, supaya kalau bijinya sewaktu-waku lepas karena sudah besar dan masak, jatuhnya ke tanah bisa mulus, tidak salah tingkah.
Biji ini biasanya hanya direbus dan dimakan sebagai kudapan, seperti biji lotus tentara Persia yang menyerbu Mesir dulu itu. Rasanya seperti kastanje, kata orang Belanda. Atau seperti biji saninten, kata mereka yang makan seroja, tapi belum pernah makan kastanje. Biji kastanje, Eropa Castanea sativa, kira-kira memang tidak beda jauh dari biji saninten Indonesia Castanea argentea.

v Tunjung Plin-plan
Di India dan Asia tenggara juga ada sejenis Nymphaea yang berbunga putih seperti teratai Eropa, tapi plin-plan. Kadang bunga itu mepet di permukaan air, kadang mencuat di atasnya. Kalau air tempat tumbuhnya dalam, ia tumbuh mepet, tapi kalau airnya dangkal, ia mencuat. Seharusnya ia tidak boleh disebut teratai lagi, supaya tidak rancu. Dalam hal ini, bapak-ibu kita dari kampung Melayu dulu sudah memberi nama khusus: tunjung putih, Nymphaea nouchali.
Di India, bunganya yang putih dipakai sebagai sesaji kepada Dewa Siwa. Karena itu, tanamannya banyak yang sengaja dibudidayakan di berbagai kolam dekat candi supaya mudah dipungut kalau tiba-tiba diperlukan.
Ada sejenis Nymphaea dari India" dan Asia Tenggara juga yang bunganya biru lembayung. Kadang merah ungu. Berbunganya juga waktu siang seperti tunjung, dan oleh orang Hindu dipersembahkan kepada Dewa Wisnu, yang warna keramatnya biru lembayung. Tanaman yang lebih kecil daripada teratai dan lotus ini terkenal sebagai seroja biru, Nymphaea stellata. Terkadang masih disebut "teratai" biru, tapi sebaiknya dipanggil seroja biru saja, karena bunganya bertangkai panjang mencuat jauh di atas permukaan air seperti seroja-seroja pada umumnya.

v Untuk Ratu Victoria
Di Eropa dan Amerika, teratai yang tahan bernapas dalam lumpur musim dingin seperti teratai putih dikelompokkan sebagai hardy waterlily sedangkan jenis-jenis yang hidup di daerah tropis seperti Asia Tenggara dan Amerika Selatan, dikelompokkan sebagai tropical waterlily.


Seroja Nelumbo kita sebenarnya hidup asli di daerah tropis Indo-Australia, tapi sampai sekarang belum dimasukkan ke kelompok tropis ini. Mungkin sedang menunggu. Sejenis teratai tropis yang pernah menarik perhatian dunia ada yang dimasukkan ke Kebun Raya Bogor dari Sungai Amazonnya Brasil via London, kira-kira pada abad XIX, ketika Inggris mendapat giliran menjajah Pulau Jawa. Ini boleh dikatakan raksasanya bunga teratai. Daunnya bisa sampai 1,5 m garis tengahnya, sehingga sebagai penghias taman ia hanya cocok untuk kolam besar yang paling sedikit satu lapangan sepakbola luasnya.
Bertahun-tahun lamanya para peneliti botani Inggris mencoba menangkarkannya di Kebun Raya Kew, London, tapi selalu gagal memperoleh bibitnya. Baru pada tahun 1849 akhirnya mereka berhasil. Dari Kew ini, teratai raksasa itu disebar ke seluruh penjuru dunia yang berminat, termasuk Kebun Raya Bogor kita.
Bunganya yang putih agak kuning gading hanya mau mekar pada waktu senja. Sekalipun siang esok harinya agak layu, namun pada malam berikutnya ia masih bisa mekar lagi dengan semangat baru. Bunga yang berbau nanas ini dipersembahkan kepada Ratu Victoria yang berkuasa di Inggris waktu itu. Tanamannya dinobatkan sebagai Victoria regia. Ratu itu niscaya tidak pernah bermimpi bahwa namanya dipakai untuk memanggil tanaman yang bernapas dalam lumpur. Bunganya tidak setiap hari muncul, sehingga bagian yang selalu tampak hanya daun raksasanya yang menakjubkan, bulat pipih seperti tampah. Daya dukungnya begitu kuat, sampai ia dapat diduduki oleh seorang anak. Terutama anak kurang gizi. Nah!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar